IS TOMORROW WILL SHINE AGAIN ?
Cerpen F1do - Is Tomorrow Will Shine Again ? ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi July 1st 2000 Seperti Dikisahkan kembali oleh someone... Hujan malam ini tidak henti-hentinya. Terus mengalirkan air dari langit. Semakin deras, semakin deras. Tidak putus-putusnya aliran air yang menusuk-nusuk wajahku ini. Aku berlari menerobos hujan malam itu. Dengan mengenakan hanya sejaket kulit saja, mungkin kurasa aku nanti masuk angin. Yang menimbulkan pertanyaan dalam benakku, apakah besok akan bersinar lagi ? Bersinar menampakkan cerahnya sinar matahari. Bersinar memanaskan hati yang dingin. Hati yang telah beku. Hati yang telah hancur remuk redam. Kuingat lagu tentang hati yang hancur remuk redam itu. Kunyanyikan sambil menerobos hujan malam itu. Malam ini keadaannya sama dengan keadaan hatiku sekarang. Hanya bisa menangis... Dari mataku ini hanya bisa menumpahkan air mata saja, sama seperti langit yang hanya bisa menumpahkan air hujan. Beberapa langkah lagi, aku sampai ke rumah. Kupercepat langkahku. Terbayang dalam pikiranku, aku akan santai, menghirup secangkir kopi yang hangat di tengah dinginnya malam dan hujan ini. Menerobos hujan sungguh tidak mengenakkan. Aku berlari kecil. Melalui jalan-jalan yang becek dan sebuah gang yang sempit. Tak sengaja, kakiku terantuk sesuatu ketika melewati gang itu. Aku terjatuh. Aku mengumpat dan menendang benda yang menyandung kakiku itu. "Aduh... !" Aku terkejut ketika akhirnya aku menyadari menendang kaki seseorang. Ia sedang dalam keadaan tidur dan berselimutkan koran. "Maaf... aku tidak tahu itu kaki anda. Siapa anda ?" tanyaku. Ia tidak menjawabku. Pandangan dari tatapan matanya hanya kosong. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tampangnya yang kumal mengisyaratkan bahwa dia telah lama teronggok dalam gang yang sumpek itu. Teronggok bagaikan sebuah sampah, jauh dari keramaian. Terbuang dari keadaan orang-orang yang tidak mau perduli. Ya,... tidak perduli bahwa dia kedinginan oleh dahsyatnya hujan ini. Lebih kedinginan dari diriku, kurasa. Aku menjadi iba melihatnya. Kulepaskan jaket kulit yang melekat hangat di tubuhku. Kuhampiri dirinya. Kukenakan jaketku padanya. Ia tersenyum padaku. "Maaf... aku tidak bisa berbuat banyak," kataku. "Hanya hal ini saja yang bisa kulakukan." Lalu aku bergegas menuju rumahku, kali ini tetes air hujan langsung menerjang bajuku yang tak berselimutkan jaket. Sesampai di rumah, pikiranku tidak bisa lepas dari gembel yang kutemui di gang itu. Aku menyesal, seharusnya aku bisa berbuat lebih dari sekedar memberikan jaketku. Seharusnya, aku mengajaknya tinggal di rumahku untuk sementara. Seharusnya, aku mengobrol bersamanya berduaan menghirup secangkir kopi panas di ruang tamuku yang hangat. Seharusnya... Ya, seandainya waktu itu berulang kembali... Esok pagi, matahari belum menampakkan keperkasaannya sebagai sumber terang. Awan masih mendung. Aku tak tahu Is Tomorrow Will Shine Again ? Yang pasti, aku ingin menemui gembel yang kutemui itu semalaman. Menyusuri jalan yang kulalui kemarin. Melewati gang yang kulewati. Ternyata tidak ada dia, yang kemarin itu. Tampak seorang pemulung sedang mengais-ngais tong sampah untuk makanan hari ini. Kuhampiri pemulung itu. "Maaf, pak. Numpang tanya... Anda kenal orang yang biasa tidur di sini ?" Dia berpaling menatapku. Wajahnya yang tak terurus rapi dan nafasnya yang bau menunjukkan bahwa dia sudah benar-benar terasing dari dunia ini. "Oh, iya. Aku juga tak kenal namanya. Tapi yang pasti sih, tadi pagi ada ambulans datang kemari mengangkut dia. Katanya sih dia udah meninggal, ya... tapi siapa yang perduli ?" Lalu ia meneruskan pekerjaannya mengais-ngais kebutuhan hidupnya itu. Aku hanya bisa menyesal. Ternyata masih banyak hidup seseorang yang keadannya benar-benar lebih hancur remuk redam dari keadaan diriku. Seharusnya aku tidak egoistis, mementingkan diriku sendiri. Ya, aku semestinya berbuat banyak untuk dunia ini. Berbuat banyak untuk mengubah dunia. Menjadi garam dunia, seperti yang telah diajarkan setiap minggu di tempat ibadah. Sehingga pertanyaan Is Tomorrow Will Shine Again ? bisa terjawab. Seharusnya aku yang melakukan sesuatu agar tomorrow will shine again... -----(END)-----