HAPPY BIRTHDAY TO OPIE
Cerpen F1do - Happy Birthday To Opie ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi July 1st 2000 (Selamat ulang tahun bagi Opie, semoga makin dewasa...) ---- Dipersembahkan untuk Lovriyanti yang berbahagia merayakan ulang tahunnya... ---- Aku telah mengenal Opie sekian lama. Anaknya manja bukan kepalang. Dia sudah kuanggap adik sendiri. Adik yang menyayangi kakaknya. Adik yang selalu curhat pada diriku. "Opie.... sudah besar mau jadi apa ?" ledekku suatu ketika. "Ingin menjadi dokter," serunya semangat. "Lalu kalo jadi dokter mau apa ?" tanyaku. "Mau suntik orang yang lewat. Njus... njus... njus..." balas ledeknya. Kami tertawa terbahak-bahak. Sifatnya yang periang dan lucu melupakan kesusahan diriku. Ya, aku telah menghidap penyakit leukimia. Kadang-kadang penyakit itu datang begitu saja di saat-saat tak terduga. Namun kebahagiaan Opie melupakan semuanya itu. "Ko Freediiiii ! Ko Freediiiiii !!!" teriaknya semangat mengetuk pintu rumahku. Aku membukakan pintu baginya. "Ada apa, Pie ?" tanyaku tersenyum melihatnya yang betul-betul energik. "Besok malam dateng ya ke rumah Opie... Opie merayakan ultah Opie. Dan yang lebih penting, ko..." Dia memberi surat undangan. Dia tidak meneruskan, sepertinya dia ingin membuatku penasaran. "Apa yang penting ?" tanyaku. Sambil tersenyum lebar dia mendekatkan mukanya ke telingaku dan berbisik, "Vendy dateng, ko." "Ooooooo..." Aku hanya menggeleng-geleng kepala saja mendengar dia. "Dateng ya, ko....." "Iya, nanti koko usahakan." "Jangan usahain donk... Musti dateng..." serunya lalu meninggalkan diriku yang hanya bisa tersenyum. Kuperhatikan surat undangan darinya. "Ada-ada aja deh si Opie ini..." pikirku. Malam itu, setelah berpakaian rapi untuk menghadiri undangan ultahnya si Opie, aku menyisir rambutku. Mungkin malam itu malam yang spesial bagi Opie. Malam dimana dia tambah dewasa. Tapi tiba-tiba aku terjatuh, badanku sakit sekali. Penyakit leukimia yang telah lama kumiliki menyerangku lagi. Aduh... aku bingung, mengapa di hari yang penting ini, dia menyerangku. Aku berguling-guling di lantai menahan rasa sakitku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Berteriak minta tolong kepada tetangga juga percuma, karena rasa sakit pada tubuhku sedemikian besar. Apalagi bunyi dering telepon yang berbunyi terus menerus. Aku tidak bisa bangun. Sakit..... Tuhan.... tolong aku... Lama aku tergeletak di lantai. Kupikir mungkin sudah berjam-jam aku terpuruk di sana. Terdengar bunyi bel pintu yang dibunyikan. Mau menuju pintu saja, rasanya susah. Tubuhku sangat sakit sekali. Terdengar suara-suara. Aku tahu itu suara Opie. "Gimana ya, Vendy... Ini si ko Freedi diundang tapi nggak dateng. Tadi Opie telponin nggak diangkat-angkat. Ih, sebel deh... Padahal Opie sangat ingin ko Freedi dateng..." "Dia mungkin ada urusan kali, Pie..." "Ah... Opie nggak mau ngerti. Opie benciiiiiii ko Freediiiii...." "Opie jangan begitu donk. Vendy tahu kok ko Freedi selalu tepatin janji." Lalu suara itu tidak terdengar lagi. Aku harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk berteriak kepada mereka. Tidak tahu bagaimana, suaraku muncul kembali. "Tolonggg...." Vendy mendobrak pintu rumah. "Ko Freediiiiii.... kenapa ????" jerit Opie histeris melihatku yang tidak berdaya tergeletak di lantai. Vendy memapahku ke atas ranjang. Opie buru-buru mengambilkan segelas air putih untukku. "Ko Freedi... Ini Opie... Ko Freedi nggak kenapa-napa ?" Aku tidak bisa menjawab. Rasa sakit pada tubuhku masih menyiksaku. "Telponin ambulans, Pie..." seru Vendy. Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, dan ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit. Vendy dan Opie sedang menungguiku. "Ko Freedi udah sadar ?" tanya Opie begitu dia melihatku tersadar. Aku mengangguk pelan. "Fred, kata dokter, penyakit leukimia loe kambuh..." kata Vendy. "Pie... koko minta maaf, nggak bisa dateng ke pesta ultahmu," kataku dengan suara terbata-bata dan pelan. "Koko..." Opie menghampiriku dan memelukku. "Opie juga minta maaf... Opie telah memikirkan hal-hal yang jahat pada koko... Opie telah marah kepada koko tanpa alasan karena koko tidak dateng... Maafin Opie ya, ko..." "Iya... Koko udah dengar tadi pembicaraan kamu di depan pintu dengan Vendy. Tapi nggak papa..." Aku menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Selamat ulang tahun ya, Pie... Semoga kamu makin dewasa..." kataku pelan. "Opie janji, nggak mau membenci koko lagi. Koko adalah koko Opie yang paling baik di seluruh dunia..." Lalu ia merangkulku erat. Rangkulan sayang adik kepada kokonya. Happy Birthday to u... Happy Birthday to u... Happy Birthday .... Happy Birthday .... Happy Birthday, Opie... ---- Kiranya dengan ultahmu ini, Pie... Kamu tambah maju dan giat lagi melayani Tuhan di dalam setiap pekerjaanmu. Dan dalam setiap tindakanmu, selalu melayani Tuhan. Met ultah sekali lagi, Pie... Dari kokomu dan teman-temanmu yang menyayangimu... ---- -----(END)-----