FEELING SO BLUE
Cerpen F1do - Feeling So Blue ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi May 31st 2000 Usiaku sekitar 30 tahunan, tetapi aku benar-benar merasakan kesepian yang mendalam. Di dalam kamar yang sempit ini, aliran udara yang tidak lancar semakin menambah sesak rasa kesepian yang mendalam ini. Aku tidak dapat berjalan ke luar atau bagaimana lagi, aku tak tahu. Tubuhku hanyalah seonggok daging belaka yang tercampak dalam sebuah ranjang yang tidak terurus lagi. Ya, benar. Tidak terurus lagi, buang air kecil dan buang air besar di ranjang itu. Karena aku sudah tidak memiliki kedua tangan dan kedua kaki lagi akibat penyakit kusta yang kutanggung. Tetangga-tetangga sekitar tidak ada yang memperdulikan aku. Mereka takut akan penyakitku yang menular ini. Ibuku saja sudah tidak mau tahu lagi bagaimana keadaan aku. Ia hanya memberiku makanan dalam piring dari balik jendela. I'M FEELING SO BLUE !!! teriakku dalam hati. Tidak ada seorangpun lagi di dunia ini yang perduli akan nasibku. Am i alone in the universe ? Begitu selalu kutanyakan jauh dalam lubuk hatiku. Hidup ini benar-benar membosankan. Kadang aku menjerit-jerit karena akal dan pikiran sehatku sudah tidak bisa menerima keadaanku lagi. Kadang aku ingin mengakhiri kehidupanku yang sepi ini. Namun aku takut karena apabila bunuh diri, aku pasti binasa. Jadi aku tahan-tahan saja hidupku yang menjijikkan ini. Memang, aku orang Kristen. Tapi apa tahan hidup seperti ini ? Apalagi jemaat-jemaat di gereja itu tidak menunjukkan sebagaimana mereka ada seperti orang Kristen. Mereka hanya berkata kasih di mulut saja. Tapi apa yang mereka lakukan ??? Tidak sekalipun mereka melawat aku. Apalagi pendeta gereja di lingkunganku itu. Mereka tidak memperhatikanku lagi. Aku hanya seorang diri. Begitu kejamnya Tuhan menjalankan rencanaNya dalam hidupku. Kadang pikiranku yang negatif itu melintas dalam benak kepalaku. Terbaring, terbaring dalam ranjang, itu saja yang dapat kulakukan. Aku tidak dapat ingat lagi telah berapa lama ini telah kulalui dan tidak tahu lagi berapa lama ini harus kulalui. Aku hanya ingin lekas meninggalkan dunia ini saja. "Tuhan... cabut nyawaku !" seruku. Hingga suatu ketika... Aku terbangun dari tidurku karena suara-suara berisik dari balik jendela. Tidak tahu apakah hari ini siang atau sore atau mungkin pagi. Karena telah berpuluh-puluh tahun, mungkin, aku terbaring saja di ranjang. Ada kepala-kepala yang mengintipku dari balik jendela. Aku hanya mengintip dari mataku yang masih menahan kantuk ke arah luar jendela. Kira-kira ada tiga orang dari balik jendela yang berdebu itu mencoba melihat ke arah dalam. Terdengar bisik-bisik mereka. "... iya bener, disini si orang kusta itu tinggal " "Loe yakin bener ?" "Iya yakin, emangnya loe mao ngapain sih ?" "Enggak, gua mau lihat aja" "Loe berani loe ? Kusta nular tahu nggak !" "Gua mau tahu aja kaya apa penyakit kusta itu. " "Ih loe mah bandel loe ya, ya udah Nit, kita cauw aja yuk " "Iya, ayo..." Tak terdengar lagi bisik-bisik mereka. Kurasa mereka hanya ingin iseng saja melihatku dari balik jendela dan mungkin mereka sudah pergi. Tetapi sebuah ketukan pintu mengagetkanku. "Si... siapa ?" tanyaku dengan suara parau. "Maaf.. saya Irene..." terdengar bunyi derit pintu yang sudah karatan sambil kepalanya melongok ke dalam. "Mau apa ?" tanyaku ketus. Sinar matahari yang terang menyilaukan mataku. Hanya nampak bayangan tubuhnya saja yang membelakangi matahari yang menembus masuk langsung ke kamarku. "Hanya ingin melihat keadaan anda..." katanya dengan suara polos. Kalimatnya benar-benar terasa menyejukkan hati ini. "Jangan dekat-dekat.." pintaku "Penyakitku menular, nanti kau bisa terkena juga..." Tapi aku kaget ketika dia tambah mendekatkan dirinya padaku. Jarakku dengannya hanya beberapa inci saja. Dan aku semakin kaget ketika dia menyibakkan rambutku yang tak terurus dengan tangannya. "Nona, jangan..." kataku meminta. Lalu dia tersenyum dan mukanya kini sudah terlihat jelas. Dia muda. Usianya mungkin sekitar 10 tahunan di bawah umurku. Rambutnya yang dikuncir dua menunjukkan sifat kanak-kanaknya pada wajahnya. "Nggak papa..." balasnya dengan tidak meninggalkan senyumnya. "Nama kakak siapa ?" "Martin..." jawabku pelan. "Saya sangat kasihan kepada kakak. Saya tahu semua orang di sekitar sini menjauhi kakak, tetapi saya telah belajar kasih yang nyata dari Yesus Kristus, makanya saya datang kemari untuk menengok kakak." "Nona, aku sudah biasa hidup sendiri dan kesepian. Nggak usah begitu repot-repot," kataku menutup-nutupi perasaanku yang sebenarnya, padahal aku sesungguhnya sangat ingin teman berbicara bagiku. Lalu kami terlibat dalam percakapan yang lebih dalam. Hari itu, aku merasakan hidup yang berarti. Aku tidak tahu darimana asalnya, tetapi mungkin Tuhan telah mengirim seorang malaikatNya untuk menemaniku ? Ketika hari sudah hampir gelap, ia minta ijin untuk pulang. Ia berjanji akan datang lagi esok hari. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku bergairah menantikan hari esok. Perasaan kesepian ini terpendam untuk sementara. Hari-hari esok yang biasanya kubenci, kini kunanti-nanti dengan penuh pengharapan. Dia menepati janjinya esok hari. Begitu seterusnya hingga kunjungan dia sudah berjalan selama dua bulan. Dia juga merapikan kamarku dan ranjangku, memandikanku, bernyanyi lagu-lagu rohani yang menguatkan imanku, membacakanku ayat-ayat Alkitab kesukaannya. Kadang-kadang kami tertawa bersama-sama, menangis bersama-sama, hubungan kami seperti kakak dan adik saja. Dan yang terpenting hidupku tidak seperti dahulu lagi. Aku semakin bergairah. Hingga suatu ketika... Dia ingin memberitahukan sesuatu yang jujur kepadaku. Aku bingung. "Irene.... selama ini kau selalu jujur kepadaku. Kenapa kau minta maaf karena kau tidak berkata jujur ?" "Tin," suaranya terasa pelan hampir-hampir aku tidak dapat mendengar ,"Selama ini aku tidak seratus persen berterus terang kepadamu. Kumohon Martin jangan marah yaaaa..." ??? aku semakin bingung ??? "Ya, aku tidak takut akan penyakit kustamu, karena aku juga menghidap sesuatu penyakit yang lebih ganas darimu. Aku positif HIV, aku juga takut menghadapi semua ini. Masa remajaku dulu kulampiaskan dengan nakal. Aku bergonta-ganti pasangan. Namun suatu ketika Tuhan menghukumku sehingga aku menghidap AIDS, tapi Tuhan tidak pernah membiarkan semuanya terlambat. Ia mengijinkanku mewujudkan kasihku dulu kepada sesama. Jadi selama ini, aku curahkan waktuku kepada kamu, Tin..." Bagai disambar petir di siang bolong, aku hanya terperangah. Tetapi aku berhati bijak menerima kenyataan dia. "Irene... kamu tahu. Kamulah yang membikin hidupku bergairah setelah sekian puluh tahun aku seorang diri dan kesepian. Masakan aku marah kepadamu. Aku tetap menerimamu sebagaimana adanya kamu, sama seperti kamu menerima aku sebagaimana adanya aku." Lalu ia membisu sekian lama, dan mulai terisak-isak sedih. Aku juga tidak dapat menahan laju air mataku. "Aku mencintaimu, Tin..." bisiknya. Ya, dia dicampakkan oleh pasangannya begitu saja setelah dia menderita penyakit itu. Tidak ada yang dapat menerima keadaan kami berdua. "Aku juga..." lirihku. Sebulan kemudian, dia meninggal akibat penyakitnya yang ganas itu. Aku hanya bisa meratapi kepergiannya. Am I Feeling So Blue Again ? Tidak ! Hidupku kini menyala-nyala untuk tabah menghadapi segala sesuatunya sama seperti Irene tabah menghadapi segala sesuatunya. Walau kehadiran dan penghiburannya hanya sebentar, tapi aku mulai menghargai Tuhan karena Dia telah menyalakan api semangat melalui Irene dalam hatiku yang mulai padam. Semoga kalian dapat mewujudkan kasih yang nyata dari Irene kepada sesama kalian... -----(END)-----