BROKEN HOME KIDS
Cerpen F1do - Broken Home Kids ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi June 3rd 2000 Seperti dikisahkan kembali oleh seseorang... (---Based on a True Story---) Aku terlahir sebagai putra tertua dan menjadi anak broken home. Aku tidak mau tahu lagi siapa ayahku atau bagaimana dia. Aku membencinya ! Ia meninggalkan ibu dan adik perempuanku ketika kami masih kecil. Masih membutuhkan kasih sayang dari seorang bapak. Ingin aku membunuhnya, apabila aku bertemu dengannya ! Kemarahan ini sangat mendidih. Ibuku kerepotan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Untuk menghilangkan rasa kesepianku, aku bergabung dengan anak-anak berandalan di sekitar rumah. Kadang kami mengutil dalam sebuah toko. Dan itu merupakan kesenangan bagiku. Pulang ke rumah, adik perempuanku entah ke mana, ia juga keluyuran dengan teman-temannya. Aku tidak tahu mengapa aku dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Ibu juga belum pulang. Akhirnya aku membawa teman-teman berandalan untuk mengadakan pesta ganja di rumahku. Rumahku benar-benar menjadi sarang penyamun. Tetapi aku merasakan kesepian yang sangat. Ya... beginilah nasib anak-anak broken home. Tiada orang yang mau perduli akan kami. Hanya teman-teman berandalanku saja. Itu juga mereka menjerumuskanku lebih dalam lagi ke jurang dunia hitam. Narkotika dan tindakan kriminal tidak jauh dari hidupku. Semua sudah kualaminya, walau kuakui bahwa kunikmati itu, tapi membuat hidupku kosong. ! Benar-benar BT total ! Suatu saat, Axel, teman berandalanku yang paling dekat denganku, mengajakku untuk menikmati bagaimana melampiaskan nafsu sex yang jahat. Kami berdua pergi ke tempat pelacuran. Ternyata Axel sudah berulang kali ke tempat itu. Tapi aku baru hari itu juga, ingin mencoba sesuatu yang baru. Axel ternyata telah mengenal orang-orang di sana. Dan kulihat gadis-gadis di bawah umur menjajakan dirinya. Rokok terselip di antara bibir mereka. Sedangkan tangan mereka memegang minuman keras yang memabukkan. Di sinilah dunia hitam yang paling parah yang pernah kukenal. Walau kuakui bahwa mereka tidak seharusnya berada di sini, namun keadaan memaksa mereka berbuat begini. Ini semua salah Tuhan ! makiku. Aku membenci Tuhan sebenci aku membenci ayahku sendiri. Aku disuruh menunggu oleh Axel di ruang tamu. Sementara, ia ingin mengobrol dengan germo di situ. Aku ditemani oleh teman-teman perempuan Axel di situ, tentunya sambil mengisap ganja. Tak lama kemudian, aku dijumpai Axel. "Hei, Did... Hari ini spesial buat loe. Gua mao loe nikmati malam ini dengan enak. Loe gua pilihin perek paling cakep di sini. Gua sih sering main ama dia. Wah, servisnya bener2x muasin deh, Did. Loe coba aja." Aku tersenyum. "Iya deh, Xel. Gua kan baru di sini. Loe pakarnya... " timpalku menerima kebaikan hatinya. Aku kemudian masuk kamar menunggu cewek yang dipilihkan Axel. Sambil menunggu, aku menatap keluar jendela di kamar itu. Seseorang membuka pintu, berkata, "Loe temannya Axel ? Hari ini gua disuruh ngelayanin loe. " Aku terkejut mendengar suara yang sudah kukenal itu. Aku menoleh ke belakang. Astaga ! Ternyata dia adik perempuanku sendiri ! Dia juga terkejut melihatku. "Jane ! Sedang apa kau disini ?" "Kak, kakak ngapain juga disini ?" Aku sedih melihatnya. Dia sudah semakin dewasa dari raut mukanya dan cara berpakaiannya. Aku tidak ingin dia turut menikmati dunia hitam ini. Aku kemudian lari keluar sambil menangis. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Oh, Tuhan ! Begitu kejamnyakah rencanamu ? Hari itu aku sendirian saja di taman yang semakin kelam. Benar-benar hari yang kelam. Mengapa semuanya tidak ada yang beres satupun di keluargaku ? Tapi beruntung, aku masih mempunyai akal dan pikiran yang sehat. Tidak memilih jalan bunuh diri, seperti yang orang-orang lakukan. Tatapan mataku menerawang jauh. Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. Hati mereka sangat gembira. Mereka tertawa-tawa, seakan-akan tidak ada persoalan. Aku sangat iri dengan mereka. Kuikuti langkah mereka, ingin tahu kemana mereka pergi. Mereka pergi ke sebuah bangunan yang kecil. Aku tidak tahu apa bangunan itu. Aku duduk paling belakang. Tiba-tiba mereka bernyanyi memuji-muji siapa, aku tidak tahu. Di tengah acara, aku mendengarkan suatu khotbah yang benar-benar menggugah hatiku. Dari situ, aku baru tahu ternyata ada seorang yang memperdulikan aku, namanya Yesus. Kebaktian yang kualami ini sungguh indah. Aku pulang membawa kesejukan hati yang belum pernah kualami seumur hidupku. Setahun kemudian, aku berhasil membawa jiwa adik perempuanku menerima Yesus dan bertobat. Dan hatiku kini sudah bisa memaafkan kelakuan ayah yang tampangnya tak kukenal itu. Ayah, dimanapun kamu berada, kembalilah... Anak-anakmu ini rindu akan engkau... Tuhan, satukan kami... Itu doaku sepanjang malam. Notes : Aku ingin kalian yang bernasib sama, menerima Yesus sebagai kesejukan hati kalian. Dia masih memperdulikan kalian... Aku akan berdoa bagi kalian dalam nama Yesus. -----(END)-----