BIDADARI BADUNG
Cerpen F1do - Bidadari Badung ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi May 30th 2000 Usiaku sekitar 60 tahunan, mataku pun sudah mulai rabun. Ya... beginilah orang sudah tua, udah nggak bisa apa-apa lagi. Namun aku memutuskan tinggal sendirian di sebuah rumah yang jauh terpencil dari keramaian kota. Aku membeli tanah yang luas dan di belakang rumahku ada sebuah taman yang kecil dan sebuah pohon tinggi sekali. Kadang-kadang setiap sore, tanpa diundang, anak-anak sekitar sering bermain di sana. Tetapi aku mengijinkan mereka bermain. Aku senang melihat mereka. Mendengar jerit riang mereka. Ya... walaupun hidup sendiri, namun dengan keberadaan mereka, aku tidak kesepian lagi. Aku memperhatikan mereka di kursi goyangku setiap sore kecuali hari Minggu karena biasanya mereka pergi kebaktian gereja. Namun ada satu anak yang selalu menarik perhatianku di antara anak-anak sebaya mereka. Namanya Maureen. Usianya sekitar 7 tahunan. Walaupun dia anak perempuan, namun sangat gesit dan badung. Dia berani memanjat sampai atas pohon mengalahkan anak-anak lelaki sebaya mereka. Kadang ia meninju hidung anak-anak lelaki yang menantangnya dan meledeknya muka cacar. Hahaha... Hidungnya yang besar dan mukanya yang taucho-an memang kontras sekali dengan tubuhnya yang bulat dan badannya yang pendek. Tetapi senyuman nakalnya bagaikan bidadari. Bidadari badung, kujuluki begitu. Seperti biasanya, apabila dia telah memanjat ke dahan pohon yang paling atas, dia berteriak-teriak mencari perhatianku agar menoleh ke arahnya. "KAKEK MARK ! KAKEK MARK !" teriaknya. Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah lakunya. Dan biasanya, apabila ibunya memergoki kelakuannya yang badung itu, ibunya menyuruh dia turun dan memukul pantatnya dengan rotan. Namun memang dasarnya badung, besok dia ulangi lagi kelakuan itu. Tetangga-tetangga sih tidak mengusikku untuk menebang pohon tinggi itu, karena mereka sudah tahu kelakuan Maureen yang badung itu. Namun walau badung, Maureen sangat baik hatinya. Dia selalu menyapaku ramah dan memberiku sepotong kue coklat pemberian ibunya. Walau aku sering menolak karena penyakit kencing manisku, ia tetap memaksanya. Ia juga menghiburku ketika aku sedang berduka. Seperti suatu saat, aku mendapat telegram bahwa anakku satu-satunya di luar kota sana mengalami kecelakaan dan meninggal. Jadi aku tinggal sebatang kara saja. Tetapi Maureen tetap menyalakan api semangatku. "Nggak papa, kek. Kan Maureen masih ada nemenin kakek, " katanya polos. Aku hanya tersenyum saja. Tetapi kelakuannya memanjat pohon itu sering membuatku tidak enak hati pada ibunya. Aku pernah menasehatinya bahwa perbuatannya itu berbahaya sekali. Tapi dasar badung. Dia cuek aja. Jawabnya juga sekenanya saja. "Nggak papa, kek. Maureen kan pemanjat ulung. Maureen mau kakek senang, teriak-teriak dari atas, " Ya, dia selalu ingin menarik perhatianku, tapi jangan dengan cara begitu kan ya ? Bidadari badung ini selalu saja nggak mau dengar nasehatku. Hingga suatu ketika... Sore itu, seperti biasanya, aku duduk di kursi goyangku sambil menatap anak-anak menjerit-jerit kesenangan menjahili Maureen. Dan Maureen membalas mereka, meninju mereka. Anak-anak lelaki itu mulai menangis. Maureen kemudian memanjat pohon itu seperti biasa. Tetapi seketika bunyi dering telpon dari dalam rumah. Aku bergegas bangkit dan meraih tongkatku menuju ke dalam. Dan ketika sampai atas, suaranya terdengar jelas dari balik jendela, dia memanggilku ,"KAKEK MARK ! KAKEK MARK !" Aku tidak menghiraukannya karena pembicaraan di telpon itu. Terus dia memanggilku agar aku menoleh ke arah dia. Tiba-tiba KRAK ! BUM ! Lalu aku menoleh dari dalam ke arah jendela, terlihat di sana dia tergeletak dengan kepala yang berdarah. Aku terkejut, dan buru-buru keluar seraya memanggil-manggil tetangga yang tak lama kemudian berdatangan. Buru-buru Maureen dilarikan ke rumah sakit. Malamnya aku tidak bisa tidur sama sekali memikirkan nasib malang Maureen. Aku hanya berdoa pada Tuhan agar menolong Maureen. Tapi paginya, harapan tidak sesuai dengan rencanaNya. Dia dipanggil pulang ke rumah Tuhan. Aku hanya bisa bersedih saja, tidak bisa menerima kenyataan ini. Maureen yang sudah kuanggap cucu sendiri telah meninggalkan aku. Tetangga-tetangga mulai menyalahkan aku dan melarang anak-anaknya main di tamanku lagi. Akhirnya dengan rasa penyesalan yang mendalam, kugaji orang agar menebang pohon tinggi itu. Dan seperti biasanya, setiap sore aku duduk di kursi goyangku memperhatikan tamanku. Tapi tidak ada lagi jeritan riang anak-anak lagi. Tidak ada lagi tangisan anak-anak. Tidak ada lagi tawa canda anak-anak. Dan tidak ada panggilan 'Kakek Mark' lagi. Yang hanya kulihat sekarang, hanyalah sebuah taman yang kosong... Selamat jalan Maureen, bidadari badung... -----(END)-----