THE SERVANT OF GOD - Aku Ingin Tidur Panjang -------------------------------------------- Disajikan oleh : Freedi Djajadi (December 27th '2000) Korespodensi Email : freedattaq@yahoo.com ----------------------------------------- Prolog : THE SERVANT OF GOD adalah kisah cerita seorang pelayan di dalam sebuah gereja. Sesuai nama jabatannya, "THE SERVANT", maka pelayan ini benar-benarlah seorang pelayan yang tidak mencari popularitas. Kerjaannya benar-benar mengabdi pada pelayanan Tuhan. Dimana Tuhan membentuknya dan menginginkannya, ia siap melaksanakannya. Sifatnya low profile dan tidak ada seorang jemaat pun menganggapnya. Ia memang tidak layak di hadapan manusia. Namun, hasil jerih payahnya justru berharga sekali di mata Tuhan. Semakin THE SERVANT ini dipakai oleh pelayanan pekerjaan Tuhan, semakin juga THE SERVANT harus menjadi tidak layak di hadapan manusia. Biarlah Tuhan yang menilai... Upahmu besar di surga... (Lukas 6:23) + [THE SERVANT OF GOD] + Malam makin larut ketika tubuhku mulai diserang lagi oleh flu yang berkepanjangan. Antibodiku sudah hilang, digerogoti oleh virus yang kuidap ini. Kepalaku entah sudah pusing sekali. Dunia rasanya sudah terbalik. Apalagi ditambah oleh kepalaku yang serasa diketuk oleh tumbukan palu berkali-kali. Di tepian ranjang yang kusam ini, aku tidur seorang diri. Tiada seorang pun yang menemani. Saudara-saudaraku menjauhiku. Begitu juga istriku yang katanya mencintaiku sampai setia mati, katanya... janjinya... saat aku dan dia bertunangan di mimbar gereja. Satu dua orang gereja terus mengunjungiku. Memberiku secercah harapan. Walaupun semuanya kuanggap omong kosong belaka. Sekarang aku tidak memperdulikan lagi mereka... Yang kutunggu hanyalah waktuku saja. Ya, tinggal menunggu waktu ketika malaikat maut mencabut nyawaku. Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan berkecamuk di dalam dada ini... Masa muda yang sia-sia... Masa muda yang terkuburkan oleh virus yang tak dapat disembuhkan. Pagi yang cerah namun kuanggap kelabu itu, seseorang dari gereja, seperti biasanya, kembali melawatku. Aku sudah muak mendengar celotehannya. Muak dengan segala tetek bengek khotbahnya. Tapi kali ini, yang mendatangiku, belum pernah kulihat sama sekali. Pakaiannya rapi, bersih, titisan dari surga kali, pikirku. Matanya berkilat-kilat ketika dia memandangku. "Shalom !" sapanya. Aku tidak menjawabnya. "Bagaimana keadaan anda ? Sudah baikan sajakah ?" tanyanya penuh bersahabat yang kurasa cuma basa-basi saja. "Anda jangan menyindir !" makiku. "Lekas pulang saja ! Aku sudah bosan dengan semua khotbah-khotbah kalian ! Apaan dengan kata kalian ! Bahwa Tuhan selalu besertaku, katanya Ia menopang diriku ! Tapi diriku dibiarkan saja tergeletak tanpa aturan di ranjang sialan ini !" Dia tersenyum. "Tuhan masih besertamu..." "Ah, omong kosong ! Aku sudah muak dengan Tuhan kalian ! Jangan pikir aku mau mendengarkan khotbah kalian yang semuanya omong kosong itu !" emosiku melemparkan gelas ke lantai. Dia memungut gelas yang retak itu dan duduk di sampingku. "Tidakkah anda tahu, gelas yang retak ini seperti dirimu. Tapi Tuhan tidak membiarkan engkau hancur berantakan. Dia tetap memungut gelas ini..." "Apa maksudmu !" amarahku. "Ya. Dia tidak membuang gelas ini ke tempat sampah, tempat yang paling kelam. Ia memungut gelas ini dan mengangkat pecahan-pecahan gelas ini kemudian merekatnya satu demi satu lagi." "Omong kosong !" Dia berdiam diri, membiarkanku memaki-makinya. Detik-detik berdiam diri, dipakainya untuk merekat kembali gelas yang retak itu. Lama... ketika aku kecapaian sendiri akan emosiku. "Maaf," kataku tidak enak hati ketika sadar bahwa hujatanku kepadanya sungguh tidak beralasan. "Maafkan aku, kalau anda jadi pelampiasan kemarahanku..." "Nak, walau engkau berada dalam lembah sekalipun, tapi Tuhan tetap bersamamu. Ketika engkau hancur sekalipun... Tuhan tetap merenda karyaNya... Ia merekat pecahan gelas ini..." "Aku capek..." Dia lalu meletakkan gelas yang terekat itu ke dalam tanganku dan berbisik,"Pikirkanlah Tuhan... Dia sekarang di hatimu... Ketika engkau telah menerimaNya, yakinlah engkau yang sudah tak berharapan ini, akan tiba di rumahNya yang kekal. Istananya yang indah dan megah yang belum pernah kaulihat dimanapun..." katanya menguatkanku. Aku menutup mata. Aku ingin tidur panjang..... Dan bila kuterbangun, kuingin ada disana... Di rumah yang dijanjikan indah itu... Kupegang janjiMu... + [THE SERVANT OF GOD] + Matius 11:28 -> "Marilah kepadaKu, semua orang yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." + [END] + freedattaq@yahoo.com