“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34.)
Dulu sewaktu kecil, saya sering merasa tidak percaya diri dengan orang lain, sering pula bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa terlalu banyak kekurangan dalam hidup saya. Melihat anak-anak lain yang begitu bahagia dengan keharmonisan keluarganya, saya berfikir barangkali tak pernah ada air mata di sana, kalaupun ada mungkin air mata kebahagiaan. Masih di masa kecil pula, saya sering minder jika bergabung dengan orang-orang “hebat”. Hebat? Ya, dulu saya menganggap orang hebat itu adalah anak-anak yang cantik, berkecukupan, cara berbicaranya lancar dan punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Sementara saya? Hanya seorang anak kecil yang sering berwajah sedih bila bersama-sama mereka. Seakan-akan takut setiap kali bertemu orang lain. Tapi kesendirian akhirnya mengantarkan saya kepada sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan, melukis. Dari sanalah akhirnya saya sering diajak ikut perlombaan. Di kelas juga sering mendapatkan peringkat lima besar. Walau demikian, tetap saja kurang percaya diri itu masih melekat sampai usia remaja. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hingga si anak tumbuh menjadi gadis remaja. Kemudian ketika mendapatkan hidayah itu, saya merasa begitu percaya diri, karena saya yakin bukan penilaian luar yang dilihat Allah, melainkan keimanan dan ketaqwaan kia yang akan Allah lihat. Sekarang, saya bahkan sering berfikir, betapa enaknya mereka-mereka yang bisa tidur nyenyak tanpa harus terganggu dengan beban fikiran. Betapa enaknya mereka yang sehat dan jarang sakit. Betapa bahagianya mereka yang hari-harinya jarang dibasahi dengan air mata. Betapa bahagianya mereka yang senantiasa berada dalam keramaian tanpa harus merasakan kesepian yang sangat. Jika dikaji-kaji lagi, banyak sekali hal yang menurut kita tidak cukup di dunia ini sehingga selalu saja merasa kurang di mana pun dan kapan pun kita berpijak. Selalu keluh dan kesah yang terucap dari bibir dan hati kita. Ibarat air laut, semakin banyak kita minum maka semakin hauslah kita.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim : 7)
Terlepas dari itu semua, masih jauh lebih banyak hal yang selayaknya kita syukuri. Saya harusnya bersyukur, masih diberi fisik yang sempurna tanpa cacat, walaupun sering sekali lemah dan diserang penyakit. Saya pun harusnya masih bisa bersyukur kala tertidur lewat tengah malam, setidaknya walaupun sulit tetap masih bisa memejamkan mata dan berbaring nyaman di kasur yang empuk.
Seharusnya lagi saya tetap bersyukur karena fasilitas kehidupan yang cukup memadai sehingga memudahkan aktivitas sehari-hari. Seharusnya lagi pun saya tetap dan tetap bisa bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan. Bagaimana pula dengan mereka yang cacat, atau mereka yang tidur di emperan toko dan jalan dengan udara dingin yang menusuk tulang? Atau mereka yang setiap harinya harus mengais rezeki dengan bersusah payah membongkar tempat pembuangan sampah? Atau juga mereka yang selalu kesusahan dalam hal materi, hingga harus mempekerjakan anak di bawah umur untuk mengamen dan meninggalkan sekolahnya? Pun mereka memang harus tetap bersyukur karena masih diberikan nikmat lain yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Hatta seorang yang lumpuh total dan cacat tak bisa berbuat apa-apa, mereka pun tetap harus bersyukur. Setidaknya dengan keberadaan mereka, orang lain ingat akan Pencipta-Nya, dan itu adalah sebaik-baik orang beriman, bermanfaat bagi orang lain. Aahh…terlalu banyak nikmat yang tanpa kita cermati ternyata lebih banyak dari kekurangan yang kita miliki. Terlalu banyak pemberian Allah yang terkadang kita ingkari hanya karena secuil kepahitan atau kesulitan. Layakkah? Terlepas dari semuanya, bersyukurlah. Bersyukur dengan seikhlas mungkin, ridho dengan apa yang Allah karuniakan. Bersyukur dengan tetap berusaha semaksimal mungkin dalam hidup. Ketika sesuatu masih tak bisa kita capai, maka berlapangdadalah karena Allah memiliki rahasia lain yang lebih baik. Wallahua’lam.
NB : Yah, terlepas dari semuanya, bersyukurlah, karena Allah menyukai orang-orang yang bersyukur, dan adalah sebuah kemuliaan ketika Allah menyukai aktivitas kita.
Yuk kita belajar bersyukur....