Ahlan wa sahlan fii Putri PerSoNaL BLoG
Assalamu'alaikum WeLcOmE To My UkHTi BLoggER
Apakah Engkau Lelah?

“Ketahuilah bahwa dien ini hanya tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki ‘azzam (kemauan) yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah!” (Al-Hikmah)

Hari ini saya dan seorang saudara seperjuangan saling bercerita tentang kondisi diri masing-masing. Tentang apa yang telah terjadi pada diri kami saat ini. Tentang geliat dakwah yang sedang kami garap di arena pergerakan. Entah apa yang terjadi pada diri kami, hingga saya pun terkejut, dan dia pun terkejut, tatkala mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam diri kami adalah hal yang sama. Jika suara hati ini diperturutkan dengan bisikan-bisikan syaitan di dalamnya, ia akan berkisah :

—Aku lelah. Aku jenuh. Semangatku tidak sedahsyat dahulu lagi. Mengapa seakan-akan aku ingin beristirahat dari ini semua. Melupakan semua masalah yang terjadi, melupakan sebuah jalan yang banyak sekali batu terjal dan tajam. Aku ingin, sekali saja, bisa tertidur dengan lelapnya, nyenyak tanpa beban. Mengapa mereka begitu enaknya hidup tanpa memikirkan bahwa orang lain perlu untuk didakwahi. Mereka dengan mudahnya tidak terlibat dalam kafilah ini. Mengapa mereka bisa dengan entengnya berkata untuk menikmati masa muda dengan segala kesenangan hidup? Sudahlah, lupakan saja, engkau pun memiliki batas kapasitas. Mana bisa kau sentuh semua itu, berlagak seakan-akan engkau adalah aktivis yang super sibuk? Padahal nyatanya, engkau tak menyelesaikan masalah siapa pun. Engkau pun belum mampu mencapai tujuan itu. Untuk apa lagi? Lihatlah, saudaramu itu mengalami hal yang sama denganmu. Bukankah kalian termasuk generasi pelopor dan penggerak? Sudahlah, fikirkan saja pendidikan kalian yang sebentar lagi akan selesai, fikirkan saja bahwa masih ada generasi penerus kalian yang akan meneruskan perjuangan itu. Walaupun militansinya belum sesuai dengan generasi kalian, tapi mereka juga bisa dipercepat kan? Bukankah regenerasi itu mutlak adanya? Bukankah engkau lelah dengan ini semua?—

Sesaat saya tersadar. Apa yang terjadi? Mengapa suara itu terbersit di hati ini? Benarkah saya lelah? Benarkah saya jenuh? Ketika berfikir ulang, saya tabulasi beberapa persoalannya. Jika ditinjau dari segi amalan harian, ternyata masih sama seperti biasa, tetap terjaga. Tapi mengapa hati itu bisa berbicara sampai sejauh itu? Bukankah hati adalah cermin diri? Mungkin benar adanya saya jenuh, bukankah keimanan seseorang itu akan selalu naik dan turun? Setiap orang hampir pasti akan pernah mengalami sebuah kondisi dimana ia berada pada sebuah titik puncak kejenuhan. Hal itu bisa saja terjadi dengan berbagai macam alasan. Banyak pula aktivis dakwah yang mengalami kefuturan dan akhirnya ia keluar dari barisan para kafilah dakwah. Aktivis juga manusia, bukan malaikat.

Ditambah lagi arena perjuangan kami adalah sebuah ladang dakwah yang sangat subur namun sangat banyak hambatannya. Belum lagi ketika kita harus membagi hak kita untuk amanah dakwah yang lain yang juga menuntut skala prioritas utama. Belum lagi memikirkan tentang bagaimana generasi di bawah kita memiliki militansi dan kapasitas yang bisa dipercepat sesuai tuntutan lapangan. Ada juga hak rekan kita dalam akademis yang menuntut percepatan. Belum lagi hak orang tua kita yang memang menginginkan yang terbaik dari anaknya. Semua masalah seakan-akan menumpuk menjadi satu, dan akhirnya jiwa ini mencapai titik kulminasinya. Lelah dan jenuh, hingga akhirnya suatu saat ia hanya terdiam dan terduduk di dalam sebuah ruangan kecil dan gelap. Meninggalkan semua permasalahan yang ada. Hanya sekali saja ingin beristirahat dengan tenang. Lalu ada suara hati yang lain lagi sedang berdialog :

—Layakkah? Oh, tidak jiwaku. Tak layak itu terjadi. Apakah engkau ingin menguapkan semua yang sudah engkau perjuangkan? Menguapkannya hingga menjadi sesuatu yang sia-sia? Ingat jiwa, diin islam ini hanya akan tegak di atas pundak orang-orang yang kuat tekadnya dan tidak lemah. Jika engkau lelah dan pergi darinya, maka ia tidak akan pernah rugi. Tidak akan pernah rugi!! Karena akan ada lebih banyak lagi orang-orang yang bertekad baja dan membara yang akan mengejar jalan itu, memperjuangkan seluruh jiwa dan raganya untuk kemuliaan islam, mencapai puncak keindahan tiada tara, yang sebelumnya telah engkau tinggalkan. Tidak akan pernah rugi mereka. Justru engkaulah yang rugi karena telah kehilangan sesuatu yang teramat berharga—

Ah, betapa lemahnya jiwa ini jika berfikir untuk lelah dan jenuh lagi. Lelah dan jenuh adalah hal yang wajar terjadi, namun ketika itu terjadi, hal pertama yang kita lakukan adalah berusaha untuk bangkit kembali. Berdialog dengan seorang sahabat, atau meminta nasihat kepada orang-orang shalih lainnya, atau mungkin perlu sekali-kali kita rihlah sejenak menikmati alam yang Allah ciptakan. Dengannya jiwa kita bisa menemukan kesegaran kembali. Setelah kembali dari sana, maka terjunkanlah lagi dirimu ke dalam kancah itu. Dan tersenyumlah, karena ada bidadari surga yang cemburu kepadamu. :)

NB : Saat kata demi kata dari tulisan ini saya ketik, saya benar-benar sedang jenuh dan lelah. Namun ketika tulisan ini selesai saya ketik, kejenuhan itu seakan-akan lenyap tak berbekas. MasyaAllah, segala puji hanya milik Allah. Tulisan ini telah menyisakan senyum dan semangat baru untuk menuai kembali ridho Allah di setiap langkah kita. Lalu saya bertanya kembali pada diri ini, “apakah engkau lelah?”..jawabannya, TIDAK !!

2007-05-01 08:24:44 GMT
 
Hosted by www.Geocities.ws

1