Mie bakso ini bukan langganan saya. Saya memesannya bersama temen2 kuliah saya setelah saya pulang ujian akuntansi tadi dari kampus. Maka jadilah, semangkuk mie bakso yang dari penampilannya sangat menggiurkan itu, menjadi santapan saya siang itu.
Tetapi, penampilan dan rasa sungguh jauh berbeda. Saat saya cicipi, alamak…. Ga enak bo! Rasanya engga karu-karuan, asem seperti makanan basi. Alhasil, saya cuma memakan sayuran dan baksonya saja. Saat mangkuknya dikembalikan, tidak disangka, bapak penjual mie bakso bertanya, “kok ga diabisin, Neng?”
Saya kaget ditodong begitu, belum sempat menjawab, si bapak sudah melanjutkan, “ayo abisin, tak suapin nih!” spontan saya menjawab, “engga pak, udah kenyang.” Melihat wajahnya, sepertinya si Bapak kecewa.
Ngek! Saya kaget campur bingung. Dan berharap, mudah-mudahan si bapak engga marah. Saat saya cerita ke temen, dengan entengnya dia bilang, “kok kamu engga bilang aja kalo mienya ga enak?” saya tertegun, “mestikah?” kata temanku, “iya, kalo kamu gha bilang, mana dia tau kalo mienya ga enak. Kasian orang2 yang beli mienya, dan juga dia sendiri.” saya terdiam.
Terkadang bahkan mungkin sering kita berlaku tidak jujur, menutup-nutupi, bahkan menyampaikan hal yang bertolak belakang kepada orang lain, sekedar untuk menyenangkan hati orang itu, menghindari konflik, atau untuk melepaskan diri dari tanggung jawab saat melakukan kesalahan.
Saya memang merasa sudah kenyang, sebab makanan yang tidak enak membuat kita cepat kenyang, sebab kita sudah kehilangan selera untuk menikmatinya. Tetapi, saya tidak jujur untuk mengatakan bahwa mienya si bapak tidak enak. Itu memang membuat saya aman terhadap konflik yang mungkin timbul. Tetapi, itu tidak membawa perubahan kebaikan terhadap orang lain. Si Bapak ga sadar kalo mienya ga enak, tidak mendapatkan masukan yang positif agar besok hari dia meningkatkan kualitas mie jualannya. Sehingga, konsumen2nya bukannya bertambah tetapi berkurang, yang lebih fatal lagi, akhirnya mienya ga laku dan bangkrut.
Itu hanya sebuah contoh sederhana. Bagaimana dengan interaksi kita yang lain di kehidupan kita sehari-hari? Berapa kali kita berbohong kepada orang tua, istri/suami (untuk yang berkeluarga), atau bahkan kepada anak-anak, sekedar untuk menyenangkan hatinya???Jangan-jangan kita sudah tidak mampu menghitung, karena sudah teramat sering dan terbiasa melakukannya.
Jika kebohongan sudah menjadi lazim, maka kepercayaan dan rasa aman hanyalah tinggal kenangan. Padahal berkata dusta adalah ciri-ciri orang yang munafik
Astaghfirullah….. Ampuni hamba ya Allah…..



