Ahlan wa sahlan fii Putri PerSoNaL BLoG
Assalamu'alaikum WeLcOmE To My UkHTi BLoggER
Apakah kita sudah jujur???
Tadi siang, saya sempat menikmati semangkuk mie bakso, makanan yang pernah menjadi favorit saya. Dan karena memang sudah cukup lama saya tidak menikmatinya sejak asma saya kambuh beberapa bulan lalu, sehingga saat ada kesempatan saya tidak menyia-nyiakannya.

Mie bakso ini bukan langganan saya. Saya memesannya bersama temen2 kuliah saya setelah saya pulang ujian akuntansi tadi dari kampus. Maka jadilah, semangkuk mie bakso yang dari penampilannya sangat menggiurkan itu, menjadi santapan saya siang itu.

Tetapi, penampilan dan rasa sungguh jauh berbeda. Saat saya cicipi, alamak…. Ga enak bo! Rasanya engga karu-karuan, asem seperti makanan basi. Alhasil, saya cuma memakan sayuran dan baksonya saja. Saat mangkuknya dikembalikan, tidak disangka, bapak penjual mie bakso bertanya, “kok ga diabisin, Neng?”

Saya kaget ditodong begitu, belum sempat menjawab, si bapak sudah melanjutkan, “ayo abisin, tak suapin nih!” spontan saya menjawab, “engga pak, udah kenyang.” Melihat wajahnya, sepertinya si Bapak kecewa.

Ngek! Saya kaget campur bingung. Dan berharap, mudah-mudahan si bapak engga marah. Saat saya cerita ke temen, dengan entengnya dia bilang, “kok kamu engga bilang aja kalo mienya ga enak?” saya tertegun, “mestikah?” kata temanku, “iya, kalo kamu gha bilang, mana dia tau kalo mienya ga enak. Kasian orang2 yang beli mienya, dan juga dia sendiri.” saya terdiam.

Terkadang bahkan mungkin sering kita berlaku tidak jujur, menutup-nutupi, bahkan menyampaikan hal yang bertolak belakang kepada orang lain, sekedar untuk menyenangkan hati orang itu, menghindari konflik, atau untuk melepaskan diri dari tanggung jawab saat melakukan kesalahan.
Saya memang merasa sudah kenyang, sebab makanan yang tidak enak membuat kita cepat kenyang, sebab kita sudah kehilangan selera untuk menikmatinya. Tetapi, saya tidak jujur untuk mengatakan bahwa mienya si bapak tidak enak. Itu memang membuat saya aman terhadap konflik yang mungkin timbul. Tetapi, itu tidak membawa perubahan kebaikan terhadap orang lain. Si Bapak ga sadar kalo mienya ga enak, tidak mendapatkan masukan yang positif agar besok hari dia meningkatkan kualitas mie jualannya. Sehingga, konsumen2nya bukannya bertambah tetapi berkurang, yang lebih fatal lagi, akhirnya mienya ga laku dan bangkrut.

Itu hanya sebuah contoh sederhana. Bagaimana dengan interaksi kita yang lain di kehidupan kita sehari-hari? Berapa kali kita berbohong kepada orang tua, istri/suami (untuk yang berkeluarga), atau bahkan kepada anak-anak, sekedar untuk menyenangkan hatinya???Jangan-jangan kita sudah tidak mampu menghitung, karena sudah teramat sering dan terbiasa melakukannya.

Jika kebohongan sudah menjadi lazim, maka kepercayaan dan rasa aman hanyalah tinggal kenangan. Padahal berkata dusta adalah ciri-ciri orang yang munafik

Astaghfirullah….. Ampuni hamba ya Allah…..

2007-04-18 21:13:05 GMT
Comments (2 total)
Author:tisa_putrinda
jujur lebih baik, walo kadang menyakitkan
berbohong akan menjerumuskan kita ke kebohongan berikutnya
terkadang, kejujuran tidak selalu baik, dan kadang kebaikan tidak lah harus selalu jujur.

atau belajar jadi politisi neng

kayak rasulullah waktu duduk2 ada sahabat yang lari minta perlindungan dari kafir quraisy, lalu beliau menyuruh sahabat itu masuk kerumah beliau..beberapa saat kemudian datanglah kafir quraisy dan bertanya pada rasulullah yang sedang duduk2: wahai muhammad apakah engkau melihat si fulan lewat sini? rasulullah berdiri lalu menjawab: Sejak saya berdiri disini saya tidak pernah melihat si fulan. para kafir quraisy pun pergi karena rasulullah memang tidak pernah berdusta.

apakah rasulullah dusta? kan beliau melihat tapi saat ditanya kok bilang ga liat? karena saat sahabat lewat rasulullah duduk, dan saat menjawab pertanyaan kafir quraisy rasulullah berdiri ga bohong kan? moga-moga bisa merangsang ide
2007-04-18 21:50:51 GMT
Author:bonos_ansy
Kita harus melihat dari segi kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak.

Jika seandainya harus jujur, katakanlah baik-baik. Misalkan, "Sayurnya enak mas, tp kok rasa ini kurang ya? Apa mungkin bla..bla.." Jadi dua belah pihak bisa tenang, tidak sakit hati dan memperoleh manfaat.

Bisa juga dengan menghindar -tidak berbohong-, seperti komentar Ukh. Tisa diatas.

Ini nasihat terutama untuk saya pribadi.
2007-04-19 06:03:37 GMT
 
Hosted by www.Geocities.ws

1