Salah satu perangai jahiliyah adalah mengaku mencintai Allah tetapi meninggalkan syariat-Nya. Firman Allah: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31).
Diriwayatkan oleh Al hasan dan Ibnu Juraij, bahwa segolongan orang pada zaman Nabi SAW menganggap bahwa mereka mencintai Allah SWT dan mereka mengatakan, "Hai Muhammad, saya mencintai Allah", maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan oleh Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, "Bahwa Nabi SAW berdiri di tengah-tengah kaum Quraisy di Masjidil Haram, sementara mereka telah menyiapkan patung-patung dan berhala yang dikalungi dengan telur-telur ternak, kupingnya diberi anting yang menggantung dan mereka sujud bersimpuh di hadapan patung-patung itu. Maka Rasullullah menyeru kepada mereka,"Wahai kaum Quraisy, kalian telah menyalahi agama bapak kalian yaitu Ibrahim dan Ismail, karena keduanya adalah beragama Islam. " Mereka menjawab " Hai Muhammad, kami menyembah patung-patung ini karena kecintaan kami kepada Allah SWT dan dalam rangka mendekatkan diri kami kepada Allah" maka turunlah ayat tersebut diatas.
Kesimpulannya adalah, bahwa setiap yang mengandung maksiat tidak bisa disandarkan sebagai rasa kecintaan kepada Allah. Seorang penyair menulis syair yang berkaitan dengan maslah ini: Kalian bermaksiat kepada Allah, tetapi kalian menganggapnya sebagai kecintaan kepada-Nya.
Jika kecintaan kita adalah benar, maka kita pasti mentaati-Nya, karena orang yang mencintai sesuatu akan taat kepada orang yang dicintainya.
Jika demikian, masihkah kita yang menjadikan Allah sebagai seorang kekasih untuk mengabaikan syariat-Nya?
Sumber: Fenomena Jahiliyah yang Dibenci Rasullullah, Iman Muhammad bin Abdul Wahab