APA YANG MEMBUATMU BERTAHAN DI JALAN INI ?
Apa yang membuatmu bertahan di jalan ini, saudaraku? Ketahuilah, bahwa ini bukanlah jalan yang mudah kau lalui. Bukan pula jalan yang bisa dibilang ringan ditapaki. Ini bukan jalan yang indah, karena tak ada taburan bebungaan warna-warni di kanan-kirinya. Ini bukan jalan yang menyenangkan, sobat. Karena di sini, di jalan ini, kau kan menjumpai banyak kesakitan, banyak penolakan, banyak kekecewaan, banyak kegelisahan, dan tentu saja berlipat perlawanan dari mereka yang tidak berada di jalan ini.
Saudaraku, ini bukan pula jalan yang lapang. Dimana kau dapat bebas berjalan dalam lengangnya. Karena di jalan ini, kau kan temui banyak kesempitan. Banyak himpitan kehidupan. Dadamu kan terasa sesak. Dan nafasmu serasa henti berdetak. Ini bukan jalan yang nikmat, sobat.
Lalu, mengapa kau masih di sini? Adakah yang kau cari di jalan ini? Apakah itu? Bolehkah aku tahu?
Apa yang mendorongmu bertahan di sini saudaraku?
Apa yang membuatmu serasa begitu nyaman di sini?
Padahal tak banyak orang yang berjalan bersamamu. Kalaupun banyak, mereka bukanlah orang yang kuat secara materi. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lemah. Meski dalam kelemahannya mereka menyimpan kekuatan yang dahsyat.
Saudaraku, tak banyak orang yang bergabung bersamamu di jalan ini. Bahkan tak jarang, hanya kesepian yang akrab menyertai orang-orang di jalan ini. Saat kau menoleh ke kanan kirimu, depan belakangmu, kau hanya melihat orang-orang yang tengah asyik bersantai. Orang-orang yang tengah bergembira dan bercengkerama dengan begitu bebasnya. Orang-orang yang dapat berbuat sekehendaknya tanpa batas. Tidakkah kau iri dengan mereka, saudaraku, orang-orang yang tidak berada di jalan ini itu?
Lalu kenapa kau masih di sini saudaraku?
Kau masih muda. Masih banyak kesempatan yang terhampar luas di depan sana. Usahlah kau persulit dirimu dengan pekerjaan-pekerjaan berat yang mungkin akan merampas segala waktu, pikir, jiwa, harta dan yang kau punya, yang terdapat di jalan ini. Apa alasanmu bertahan di sini, saudaraku?
Apakah karena sangka baik orang-orang, bahwa mereka yang berada di jalan ini adalah orang-orang, yang dianggap, alim? Apakah karena kau gengsi karena saat kau menoleh ke sekelilingmu, kau menyaksikan teman-temanmu tengah melakukannya sedangkan kau tidak. Atau mungkin kau ingin menghidupi dirimu di sini? Menjadikannya sebuah lahan penghidupan dan bukan malah menghidupkannya? Atau mungkin kau begitu dahaga akan kuasa yang mampu menggerakkan manusia dengan jemarimu di jalan ini?
Saudaraku, jujurlah kepada dirimu. Tanyakanlah relung nuranimu yang terdalam. Apa yang membuatmu bertahan di jalan ini? Bukankah di jalan ini kau harus menundukkan dirimu serendah-rendahnya dan sepatuh-patuhnya kepada Pemilik jalan ini? Tapi hei, bukankah jiwa mudamu itu ingin lepas, ingin bebas. Bukankah semangat mudamu itu mendorong dirimu untuk melayang ke langit tinggi dan mencari kesenangan di sana?
Lalu, sebenarnya, apa yang membuatmu bertahan di sini? Jujurlah saudaraku, kumohon. Jujurlah kepada Allah. Tanyakan kepada nuranimu sekali lagi.
Seseorang bertanya kepadaku, “Saudaraku, apa yang membuatmu bertahan di jalan ini?”.
Dan aku pun menjawab, “Karena hidayahNya yang nikmat dan penuh berkah, karena balasannya yang teramat melimpah ruah, karena tidak di jalan ini kecuali orang-orang yang mulia lagi perkasa, dan terakhir”, lanjutku, “karena aku memiliki dirimu, saudaraku…”