RAMADHAN MEMBENTUK BUDI LUHUR

Oleh : H. Endang Komara

 

Bulan Ramadhan yang kita jalani tinggal beberapa hari lagi akan meninggalkan kita dan di bulan Ramadhan seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Karena ibadah puasa merupakan latihan jasmani dan rohani yang menghendaki kesadaran dan ketaatan kaum muslimin; sadar akan hikmat yang terkandung di dalamnya serta taat akan semua ketentuannya. Sebab kenyataan yang kita jumpai dalam melakukan ibadah puasa banyak penderitaan yang kita rasakan, baik jasmani maupun rohani; penderitaan jasmani yang kita rasakan ialah lemahnya tenaga karena lapar dan haus, yang kesemuanya itu dapat menyebabkan kurangnya gairah kerja. Begitu pula rohani kita melaksanakan penderitaan karena terpaksa harus menekan syahwat yang tiba-tiba menyelinap dalam hati di saat berhadapan dengan sang istri pada saat kita berpuasa, yakni pada waktu siang.

Padahal yang demikian adalah tuntunan jiwa yang wajar bagi setiap makhluk hidup serta normal. Akan tetapi penderitaan itu bukanlah beban yang berat manakala seseorang telah benar-benar tumbuh kesadaran serta ketaatannya. Jika sudah merasakan seperti ini maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 183 yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Allah swt adalah Maha Bijaksana, sehingga betapapun beratnya suatu kewajiban atas hamba-Nya sudah barang tentu Allah memberikan keringanan/rukhshah bagi orang-orang tertentu seperti musafir, orang tua yang sudah tidak kuat melakukannya, orang yang sakit dan membahayaka terhadap keselamatan dirinya dan lain-lain yang telah ditetapkan oleh syar’a.

Rukhshah itupun berlaku bagi orang yang melakukan puasa, yakni bagi mereka yang tidak sengaja melakukan sesuatu perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Rasulullah saw bersabda yang artinya: Barang siapa berbuka (makan/minum) padahal itu puasa Ramadhan, karena lupa, maka tiada qadha dan kifarat baginya. Yang demikian menunjukkan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah sirri yang hanya Allah-lah yang berhak menilai kebenaran puasa seseorang.

Keistimewaan lain bagi orang yang berpuasa sebagai disabdakan Rasulullah saw dari Riwayat Abu Hurairah, yang artinya: Barangsiapa yang melakukan puasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Jelaslah bahwa puasa Ramadhan penuh keutamaan bagi mereka yang melakukannya, terutama pahala yang diperoleh. Oleh sebab itu berbahagialah kita yang saat ini berada di bulan Ramadhan dan mengerjakan puasa.

Kita melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah semata, kita tingkatkan ibadah, shadaqah dan amaliah shaleh lainnya agar kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Keuntungan pahala seorang hamba yang melakukan ibadah puasa Ramadhan sangat besar, melebihi pahala amal kebajikan yang lain. Allah berfirman dalam Hadist Qudsi yang artinya: Semua kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan pahalanya antara sepuluh sampai tujuh ratus kali kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu adalah hak-Ku dan Aku akan memberinya pahala menurut kehendak-Ku. Maka lebih dari itu, puasa oleh Rasulullah saw dianggap sebagai perisai yang dapat membentengi seseorang dari api neraka selama puasa itu tidak dirusak dengan perkataan dusta dan menggunjing. Rasulullah bersabda yang artinya: Berapa banyak orang-orang yang berpuasa, akan tetapi tiadalah ia menerima pahala dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga.

Adapun hal-hal yang dapat merusak puasa Rasulullah bersabda, yang artinya: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan palsu, maka Allah tidak membutuhkan puasanya, yakni meninggalkan makan dan minumnya.

Akhirnya marilah kita isi bulan Ramdhan ini yang tinggal beberapa hari lagi dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih, sebagai pembuktian iman dan takwa kepada Allah swt. Semoga dengan iman dan takwa Allah memberikan pahala sebagai balasan yang dijanjikan kepada para hamba-Nya, baik yang dapat kita rasakan di dunia maupun kelak di akhirat. Allah berfirman dalam Surat Al Ar’raf ayat 96, yang artinya: apabila penduduk kota-kota beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi merka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Mudah-mudahan ibadah puasa kita diterima oleh Allah swt dan menjadikan puasa kita mabrur. Yang berarti pasca Ramdhan keimanan dan ketakwaannya mengalami peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas. Amin

Penulis:

Dr. H. Endang Komara, M.Si. (Pembantu Ketua Bidang Akademik dan Ketua Program Magister (S2) Pendidikan IPS di STKIP Pasundan Cimahi.     

 

Hosted by www.Geocities.ws

1