PENDEKATAN POST-MODERN DALAM NPENELITIAN
ILMU SOSIAL
Oleh:
Dr. H. Endang Komara, M.Si.
I. Abstract.
Postmodern in contemporary society with
high technological media (high tech), transformation process and change that
happened yield a new postmodern society arranged contradiction thinking,
controversy, paradox, and dilematics. Hereinafter postmodern represent
postmodernity era have attended new history phase and new sociocultural
notching which need new theory and concept. Modernity in the form of technology
like media and computer, new form of knowledge, and change of socio-economcs
system yield materialization of postmodern society.
Research represent effort
to look for and comprehend a number of information which in its gathering
through research of field not always use just one technique. Information which
will look for immeasurable also, many, special or sometime have to be selected
by various researcher consideration and its research scope. Research method (
method field) consist of participation observation, informan interview and
enumerate and sample.
Keyword: Postmodern knit
poststructuralist implication in three core, that is clarification of science (
truth), aesthetics ( beauty), and morality ( kindness)
Karakteristik posmo dalam pengembangan ilmu adalah karakteristik sikap ilmiah dalam memaknai perubahan sosial masyarakat. Untuk memahami laju percepatan perubahan sosial yang luar biasa membuat kita perlu mencari terus filsafat, teori, dan metodologi pengembangan ilmu yang tepat. Di samping itu mengenai karakteristik posmo tidak hanya untuk mengubah sikap ilmiah, melainkan juga dimasudkan agar substansi telaahannya dikenal baik, dan selanjutnya diolah dengan lebih baik.
Studi
Geertz di Pare yang disamarkan dengan nama Mojokuto membagi masyarakat menjadi
priyayi, abangan, dan santri mendapat kritik para fungsionalis (yang positif
modern), sebagai sinkretis, dengan kesimpulan mengarah ke marginalisasi peran
Islam, dan dimaknai bahwa Islam itu tidak berbahaya. Tetapi interpreti Geertz
tentang priyayi, abangan, dan santri juga mendapat kritik dari ilmuwan Muslim
sekarang, dengan mendekontruk paradigma yang dipakai Geertz, menampilkan peran
aktif dan signifikan Islam.
Konsep
Posmo pertama kali muncul di lingkungan gerakan arsitektur. Arsitektur modern
berorientasi pada fungsi struktur; sedangkan arsitektur posmo berupaya
menampilkan makna simbolik dari konstruksi dan ruang. Sepeti dikemukakan oleh
Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif (
Sejumlah
ahli mendeskripsikan posmo sebagai menolak rasionalitas yang digunakan oleh
fungsionalis, rasionalis, interpretif, dan teori kritis. Namun Muhadjir (
Rasionalitas
modernist yang ”mengejar” grandtheory dan
jabarannya, ditolak oleh posmo. Posmo menggantinya dengan perbedaan (differences), pertentangan (opposites), paradoks, dan penuh misteri
(enigma). Dalam pola pikir era modern,
kontradiksi intern merupakan indikator lemahnya suatu konsep atau teori. Dalam
era posmo kontradiksi baik intern maupun ekstern menjadi suatu pola fikir yang
dapat diterima. Untuk mengembangkan pola fikir spesifik posmo adalah
Postpositivistik Phenomenologik-Interpretif Logik dan Etik, misalnya berupa
model Interpretif Geertz, Grounded
Research, Ethnographik-Etnometodologik,
Paradigma Naturalistik, Interaksionisme Simbolik dan Model Kontruktivist.
Tata fikir
spesifik posmo adalah: kontradiksi, kontroversi, paradoks, dan dilematis. Posmo
lebih melihat realitas sebagai problematis, sebagai yang selalu perlu di-inquired, yang selalu perlu di-discovered, sebagai yang kontroversial.
Bukannya harus tampil ragu, melainkan harus memaknai dan selanjutnya in action. In action-nya kemana? Ber-action
sesuai dengan indikator jalan benar. Yang benar absolut dimana? Bagi
sekuler: benar absolut adalah benar universal, benar berdasarkan keteraturan
semesta. Keteraturan semesta sampai millenium ketiga pun masih banyak yang
belum terungkap. Baru saja teramati bagaimana suatu galaksi terbentuk, baru
saja teridentifikasi DNA sebagai intinya gen yang diturunkan, dengan
diketemukannya struktur setiap sesuatu dapat dikembangkan tiruan berupa
polimer, dan banyak lagi. Bagi yang religius, benar absolut hanya diketahui
Allah. Manusia berupaya mengungkap dan memanfaatkan keteraturan semesta untuk
kemaslahatan manusia. Posmo dengan logika dan rasionalitas berupaya untuk in action berkelanjutan. Segala yang
problematis, yang beragam, yang kontradiksi perlu dipecahkan secara cerdas
untuk menemukan jalan menuju kebenaran. Ilmiah, bagi era modern akan bergerak
dari tesis atau ke tesis lain, dan dari teori satu ke teori lain.
Ilmiah,
bagi era posmo dengan logic of discovery dan
logic of inquiry bergerak dari innnovation dan invention
satu ke innovation dan invention lain. Kebenaran semesta dapat dipilahkan
menjadi dua, yaitu kebenaran keteraturan substantif dan kebenaran keteraturan
esensial. Invensi berbagai keteraturan esensial dapat dikreasikan oleh manusia
berbagai rekayasa teknologi. Hasilnya dapat luar biasa dan tak terduga,
sebagaimana temuan di bidang komputer, temuan DNA, polimer dan lain-lain.
Karena itu, inovasi hasil rekayasa teknologi memang tak tergambarkan
sebelumnya, dan substansu kebenarannya pun memang belum ada. Meskipun demikian
bertolak dari invensi-invensi esensial, imajinasi manusia dapat memprediksikan inovasi masa
depan, seperti cerita ilmiah imajinatif pistol laser dari Prins Barin di planet
Mars, pesawat ruang angkasa dari Flash Gordon, pembiakan lewat sel, ternyata
terbukti dapat direalisasikan. Berbeda dengan rekayasa sosial. Banyak futurolog
menampilkan struktur masyarakat atau dinamika masyarakat masa depan, seperti
Toffler, Daniel Bell, Naisbitt, atau lainnya. Meskipun menggunakan indikator
tertentu, tetap saja akan lebih banyak salahnya daripada benarnya.
Dari
penjelasan di atas, dapat dijelaskan bahwa ilmu menjadi empat yaitu: pertama, temuan basic and advanced research yang umumnya lewat eksperimen laboratori
(seperti listrik, sinar gamma, struktur polimer, DNA); kedua, temuan fikir cerdas manusia, umumnya secara deduktif
(seperti temuan angka arab, angka
Apakah
posmo hanya menyangkut rakayasa sosial? Tidak. Dengan mengkonstruksi paradigma
genetik jantan-betina, menjadi paradigma lain, ditemukan DNA. Dengan
mendekonstruk sistem desimal menjadi sistem digital berkembang software ilmu komputer. Dekonstruksi
paradigma sosial, berkembang berbagai teori para futurolog. Dekonstruksi sosial
paling banyak, tetapi nampaknya juga yang paling banyak membuat kesalahan
prediksi. Makna poststruktural, postparadigmatik akan menjadi semakin menonjol
dalam peran berfikir postmodern. Pada era modern, baik positivist maupun
postpositivist, para ahli terpusat pada upaya membangun kebenaran dengan
mencari tata hubungan rasional-logis, baik secara linier pada positivist,
maupun secara kreatif (divergen, lateral, holographik, dan lain-lain) pada
postpositivistik. Pada era Postmodern para ahli tidak mencari hubungan
rasional-integratif, melainkan menemukan secara kreatif kekuatan momental dari
berbagai sesuatu yang saling independen dan dapat dimanfaatkan. Akhir era
postposivist menampilkan pemikiran sistematik, sedang awal berfikir postmodern
perlu mulai mengembangkan pemikiran sinergik. Berfikir sistemik sekaligus
sinergik dapat dilakukan dalam paradigma postmodern.
A. Pendekatan Post-Modern
Jean-Francois Lyotard (
Menyaksikan
penindasan kolonial di Aljazair tempat dia bekerja sebagai guru filsafat,
setelah kembali ke Perancis dan meraih doktor
Posmo
menolak ide otonomi aesthetik dari modernis. Kita tidak dapat memisahkan seni
dari lingkungan politik dan sosial, dan menolak pemisahan antara legitimate art dengan popular culture. Posmo
menolak hirarkhi, geneologik, menolak kontinuitas, dan perkembangan. Posmo
berupaya mempersentasikan yang tidak dapat dipersentasikan oleh modernisme,
demikian Lyotard. Mengapa modernisme tidak dapat mempresentasikan, karena
logikanya masih terikat pada standard
logic, sedangkan posmo mengembangkan kemampuan kreatif membuat makna baru,
menggunakan unstandard logic.
Baik teori
peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial
dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa
psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori
posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori
Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual
seseorang akan kehilangan individualitas-nya-kemandiriannya, konsep diri, atau
jati diri. Menurut Denzin,
Berdasarkan
pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan
terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya
hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme,
menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa
diperdagangkan-nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa
dihasilkannya.
Setelah
Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai
prodesun. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang
mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup.
Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi seberapa besar
kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai “pilihan
kita sendiri” dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya
merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok
dengan tempat kita dan struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan
remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah disebabkan karena
setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio,
televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik “rap” menjadi gaya hidup
remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap” menjadi gaya hidup remaja.
Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di
sekelilingnya, bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang
individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan
penganut “posmo”.
Intinya,
teori peran, pernyataan-harapan, dan posmodernisme memberikan ilustrasi
perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat
mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur
sosial-pola interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat-sebagian besarnya
pembentuk dan sekaligus juga penghambat perilaku individual. Dalam pandangan
ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu
bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya.
Menurut
Pauline Rosenau (
Akhirnya,
postmodern bukannya memfokuskan pada inti (core)
masyarakat modern, namun teoritisi postmodern mengkhususkan perhatian mereka
pada bagian tepi (periphery). Seperti
dijelaskan oleh Rosenau (
Dari
beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi postmodern
menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity),
perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi.
Secara
lebih umum, Bauman (
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernitas mengkhawatirkan namun demikian
masih menggembirakan. Atau dengan kata lain, postmodernitas penuh dengan sebuah
inomic-tercerabut antara kesempatan
yang ia buka dan ancaman-ancaman yang bersembunyi dibalik setiap kesempatan.
Juga kebanyakan kaum postmodernis memiliki, sebagaimana kita akan ketahui,
sebuah pandangan yang jauh lebih pesimistis atas masyarakat postmodern. Hal
tersebut sesuai dengan pemikiran Jameson (
B. Penelitian Ilmu Sosial
Setiap
pendekatan dalam penelitian merupakan cara untuk memahami sesuatu, yang dalam
ilmu sosial dan humaniora menurut Prof. H. Judistira K. Garna, Ph.D. (
Positivisme menekankan akan pentingnya mencari
fakta dan penyebab dari gejala-gejala sosial dengan kurang memperhatikan
tingkah laku subyektif individu yang dapat dimasukkan dalam kategori tertentu,
yang dari anggapan itu tampak bahwa positivisme melatarbalakangi pendekatan
kuantitatif. Pendekatan kualitatif menekankan akan pentingnya pemahaman tingkah
laku menurut pola berpikir dan bertindak subyek kajian, karena itu paradigma
alamiah atau naturalistik, mewarnai pendekatan kualitatif. Positivisme ialah pandangan filosofis yang dicirikan oleh suatu
evaluasi yang positif dari ilmu dan metoda ilmiah, yang dengan demikian telah
memberi dampak pada etika, agama, politik, dan filsafat serta metoda ilmiah,
sehingga mempersiapkan suatu rasionalitas baru untuk melaksanakan atau
operasional ilmu.
Penelitian
yang kualitatif berakar dari data, dan teori berkaitan dengan pendekatan
tersebut diartikan sebagai aturan dan kaidah untuk menjelaskan proporsisi atau
perangkat proposisi yang dapat diformalisasikan secara deskriptif atau secara
proporsional. Dua kepentingan akan terpenuhi, yaitu teori substantif disusun
bagi keperluan empirik, dan teori formal bagi keperluan pengembangan.
Penyusunan teori itu dilakukan melalui upaya kategorisasi dan relasi logik
antara unsur-unsur dalam membina integrasi yang berlaku: analisis banding dapat
dilakukan antara unsur satu dengan unsur lainnya, dan teori formal selain
menguji teori formal lainnya, juga untuk analisis hasil penelitian.
Unsur-unsur
berkaitan satu sama lainnya dalam melakukan fungsi menurut pola kebudayaan dari
masyarakat yang diteliti, karena itu pendekatan emik dianggap penting dan tak perlu ditarik suatu generalisasi
sebelum keseluruhan analisis itu selesai. Data uraian tentang data akan tampak,
yang bukan sebaliknya berupa bangunan analisis yang diterapkan pada data. Atas
asumsi bahwasanya tingkah laku yang terpolakan itu adalah menurut runtutan
tindakan warga masyarakat yang menjadi obyek kajian, maka gaya analisis
struktural memberikan keleluasan uraian dari kajian empirik. Ilmu-ilmu sosial
tidak berubah bentuk, karena yang berubah adalah paradigma-paradigmanya, selain
itu dilihat dari epistemologinya masih mengacu kepada peningkatan ilmu-ilmu
sosial, meneliti fakta sosial dalam semua bentuk, dan mencari asal perjalanan
institusi sosial dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Penggunaan
metode kuantitatif, positivistik dan asumsi telah ditolak oleh peneliti
kualitatif generasi yang terikat dan mendukung aliran poststruktural,
postmodern yang sensitif. Para peneliti berargumentasi bahwa metode
positivistik bukan jalan menceritakan kisah tentang masyarakat atau dunia
sosial. Mereka juga bukan yang utama atau tidak lebih buruk dari metode yang
lain, merka hanya dikatakan sebagai suatu perbedaan dari semacam kisah yang
dimiliki.
Para ahli
dari kelompok critical theory,
constructivist dan aliran postmodern
menolak kriteria positivis dan postpositivist sebagai pekerjaan yang layak.
Mereka melihat bahwa kriteria itu tidak sesuai untuk kegiatan lapangan dan
isinya merupakan reproduksi kriteria yang selalu memiliki macam kepastian dari
sains, padahal sains itu bisu dan penuh kekerasan. Peneliti justru melihat
bahwa kegiatan evaluasi kerja mengandung emosi, tanggapan pribadi, kebusukan
pada etika, political praxis, teks
kekerasan dan dialog dengan subjek. Sebaliknya positivistik menggunakan
kelemahan di atas untuk bertahan diri dengan argumentasi bahwa mereka adalah
sains yang baik, bebas dari bias individual dan subjektivitas; sebagai catatan
bebas mereka melihat postmodern sebagai suatu serangan terhadap pikiran dan
kebenaran.
Menurut
Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir (
Ethnography bersifat idiographik
“mendeskripsikan” budaya dan tradisi yang ada, dilawankan dengan studi
nomothetik yang mengeneralisasikan temuan-temuan (dalam hal ini sosiologi). Era
ethnography ini berada pada era
positivisme. Kerangka teoritik dan kriteria pola budaya yang dipakai untuk
“mendeskripsikan” budaya satuan minoritas dalam studi ethnography adalah teori dan kriteria budaya Barat. Akibatnya
“deskripsinya” banyak bias; masyarakat minoritas dan masyarakat negara
berkembang dilihat sebagai terbelakang, budayanya masih rendah, dan seterusnya.
Ethnomethologi termasuk era postpositivistik. Perintisnya adalah Garfinkel. Keyakinan, budaya, dan tradisi dideskripsikan sebagai masyarakat itu sendiri meyakini dan menyadarinya. Tidak lagi menggunakan kerangka teori atau kriteria Barat, melainkan diangkat dari grass root sebagaimana masyarakat itu sendiri menjelaskan. Dengan demikian studi ethnomethologi berkembang pada lingkungan masyarakat lebih luas. Studi ini menjadi overlap atau tumpang tindih dengan studi antropologi dan studi sosiologi; atau dalam visi menyatukan sering pula dikatakan ethnometologi merupakan salah satu model atau cara untuk mempelajari sosiologi atau antropologi.
Critical Ethnography merupakan hasil proses dialektik; pada satu sisi tumbuh dari ketidakpuasan dengan struktur masyarakat berupa kelas sosial, patriarkhat, dan rasialis, sehingga manusia sebagai pelaku sosial human tidak dapat tampil. Yang tampil hanyalah representasi kelas, ras dan gender. Pada sisi lain demokratisasi tanpa pembedaan kelas, ras dan gender pernah dapat muncul. Entah sadar entah tidak, telenovela dari Meksiko yang ditayangkan pada berbagai televisi di Indonesia telah dan sedang menanamkan struktur masyarakat berkelas.
Dalam perkembangannya ilmu sosial sejak tahun
Penganut teori kritis dalam ethnography mencermati bahwa studi ethnographi sudah terlalu
bersifat teoritis dan bersikap netral atas struktur sosial yang ada. Critical ethnography mencermati bahwa
struktur sosial seperti sistem kelas, patriarkhat, dan rasisme bertentangan
dengan humanisme. Pemikiran ilmu sosial pada tahun
IV.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Teori postmodern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi.
2. Postmodern menanyakan bagaimana setiap orang dapat percaya bahwa modernitas telah membawa kemajuan dan harapan bagi masa depan yang lebih cemerlang. Juga cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas. Pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi, teori, image dan realitas. Serta postmodern menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar.
3. Pendekatan kualitatif dicirikan oleh tujuan penelitian yang berupaya guna memahami gejala-gejala yang sedemikian rupa tak memerlukan kuantifikasi, atau karena gejal-gejala tersebut tak memungkinkan diukur secara tepat. Yang termasuk pendekatan penelitian kualitatif; penelitian kualitatif naturalistik atau penelitian alamiah, etnografi atau ethnometodologi, studi kasus, perspektif dalaman, penafsiran dan istilah lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Baudrillard, Jean.
Bauman, A.T.,
Best, Steven & Dauglas Kellner.
Borgherts, Donald M.
Conrad, C., et al.
Garna, Judistira K.
Geertz, Clifford.
______________
Jameson, Fredric.
Lyotard, Jean Francois.
Muhadjir, Noeng.
______________
Mustafa, Hasan.
Nuyen, A.T.
Rosenan, Pauline Morie.
Salim, Agus. (ed).
Nama Lengkap : Dr. H. Endang Komara, Drs. , M.Si.
Tempat tanggal lahir :
Purwakarta,
Pekerjaan :
Dosen PNS Kopertis Wilayah IV
Dpk pada STKIP Pasundan Cimahi
Pangkat/golongan :
Pembina Tingkat I, IV/b
Jabatan fungsional :
Lektor Kepala IVc
Alamat
Kantor : STKIP Pasundan Cimahi Jl.
Permana No.
Hp.
Riwayat Pendidikan :
S
S
S
Judul
Disertasi :
Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Agraris ke
Masyarakat Industri (Studi Kasus pada Wilayah
Industri Campaka Kabupaten Purwakarta)
Bandung,
Penulis,
Dr. H. Endang Komara, M.Si.
NIP.