MENULIS ARTIKEL DAN KARYA ILMIAH
Oleh: Dr. H. Endang Komara, Drs., M.Si dan Drs. H. Subarkah
Artikel merupakan sebuah
karangan faktual (non fiksi), tentang suatu masalah secara lengkap yang
panjangnya tidak ditentukan, untuk dimuat di surat kabar, majalah, bulletin dan
sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan,
mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Artikel termasuk
termasuk tulisan kategori views (pandangan),
yaitu tulisan yang berisi pandangan, ide, opini, penilaian penulisannya tentang
suatu masalah atau peristiwa. Sedang karya ilmiah adalah berbagai macam tulisan
yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah
yakni sistem penulisan yang didasarkan pada sistem, masalah, tujuan, teori dan
data untuk memberikan alternatif pemecahan masalah tertentu.
Menulis artikel dan karya ilmiah, kini bukan lagi sekedar hobi tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi kaum intelektual, terutama mereka yang menduduki jabatan fungsional, seperti guru, dosen, peneliti, dan sebagainya. Bagi mereka, menulis artikel di media massa, dan karya ilmiah pada jurnal penelitian, merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan angka kredit untuk menaikan jenjang jabatan fungsionalnya. Bagi mahasiswa, menulis karya ilmiah merupakan kewajiban, sebelum mereka menyelesaikan masa studinya dan diwisuda menjadi seorang sarjana.
Namun demikian menulis
artikel atau karya ilmiah tidaklah semudah membuat karangan biasa. Ide-ide atau
gagasan-gagasan yang ada dalam benak kita, tidak bisa begitu saja kita tuangkan
menjadi suatu tulisan artikel atau karya ilmiah. Karena untuk menjadi artikel
atau karya ilmiah, apalagi yang dipublikasikan melalui media cetak, ide atau
gagasan itu, terlebih dulu harus disesuaikan dengan visi dan misi media cetak
yang akan memuatnya, atau harus mematuhi kaidah-kaidah ilmiah dalam prosedur
karya tulis ilmiah. Inilah kendala yang selama ini dihadapi oleh para dosen,
guru, peneliti dan pejabat fungsional lainnya. Ditambah lagi belum banyak buku
panduan atau contoh tulisan yang dapat mereka jadikan rujukan.
Menulis artikel pada media
massa, dan karya ilmiah pada jurnal ilmiah bagi para guru, dosen, peneliti,
mahasiswa dan siapa saja yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan, memang
sangat penting dan dibutuhkan. Ini karena, dengan menulis artikel dan karya
ilmiah, mereka akan terus berlatih untuk memecahkan permasalahan-permasalahan
yang timbul baik dalam kancah keilmuan, maupun permasalahan sosial yang
dihadapi pada kehidupan sosial sehari-hari. Dengan upaya memecahkan
permasalahan itulah, daya pikir para guru, dosen, peneliti maupun mahasiswa
terus terasah, sementara pemikiran kritis mereka semakin tajam. Ini sangat
diperlukan bagi kalangan intelektual untuk terus mengembangkan ilmu
pengetahuan.
Sebenarnya, seiring dengan
menjamurnya bisnis media cetak, kesempatan untuk menulis artikel terbuka
semakin lebar. Inilah lahan subur bagi guru, dosen, peneliti, dan sebagainya,
untuk berkarya memenuhi angka kredit bagi jenjang jabatan fungsionalnya. Jika
karya tulisnya dimuat, selain karya tulisnya memperoleh angka kredit (credit point), juga mendapat honorium
dari surat kabar atau majalah yang memuatnya. Ini merupakan penghargaan
tambahan yang punya nilai tersendiri. Sayangnya tidak semua artikel bisa
menembus media massa. Karena selain gaya penulisan yang harus komunikatif,
artikelnya pun harus sesuai dengan misi, visi dan policy media cetak tersebut.
Tulisan ini mencoba untuk
memberi bekal, terutama bagi para dosen, guru, peneliti dan mahasiswa untuk
lebih mengerti dan memahami tentang jenis-jenis artikel, kegunaannya, tata cara
penulisan dan yang lebih penting bagaimana memahami policy redaktur media massa, sehingga tulisan artikelnya menjadi
layak muat. Ini sangat penting mengingat kebanyakan penulis artikel gagal
dimuat hanya karena tulisannya tidak sesuai dengan policy redaktur surat kabar atau majalah yang ditujunya.
Demikian juga dengan
penulisan karya ilmiah. Banyak para guru, dosen, peneliti yang jenjang jabatan
fungsionalnya menjadi macet gara-gara tidak memenuhi KUM, misal jabatan fungsional dosen dari tenaga pengajar ke asisten
ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar
dari unsur penulisan karya
ilmiah, terutama dari hasil penelitian memerlukan ketekunan dan kejelian
tersendiri, serta panduan orang-orang yang memang sudah sering melakukannya.
Bagi mahasiswa, terutama
dalam menyelesaikan tugasnya, baik tugas akhir mata kuliah maupun karya dalam
mengakhiri studinya seperti skripsi, tesis maupun disertasi. Baik dalam etika
penulisannya (aspek metodologi penelitian) maupun pemaparan urgensi masalahnya
(teori yang dijadikan acuan pembahasan).
1.
Artikel
Artikel dalam bahasa Inggris
ditulis “article”, sedang menurut
kamus lengkap Inggris-Indonesia karangan Prof. Drs. S. Wojowasito dan W.J.S.
Poerwodarminto, article berarti
“karangan”. Sedangkan “artikel” dalam bahasa Indonesia, menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia berarti karangan di surat kabar, majalah dan sebagainya.
Dalam lingkup jurnalistik,
para pakar komunikasi menerjemahkan artikel, berdasarkan sudut pandang
masing-masing. Menurut R. Amak Syarifudin (Djuroto dan Bambang,
Berdasarkan beberapa
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semua tulisan di surat kabar atau
majalah yang bukan berbentuk berita, bisa disebut artikel. Yang membedakan
salah satunya adalah pemuatan artikel tersebut. Jika artikel itu dimuat pada
halaman opini, disebut artikel umum. Bila diletakkan di halaman seni dan
hiburan dikatakan esai, dan jika
dimuat di kolom khusus redaksi, diberi nama tajuk rencana dan sebagainya.
Menulis artikel berbeda
dengan menulis berita. Kalau berita, apa yang ditulisnya itu harus berdasarkan
fakta atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Boleh juga penulisan berita
ditambah dengan interpretasi, sepanjang itu diperuntukkan bagi penjelasan
fakta. Tetapi menulis berita, sama sekali tidak diperbolehkan memasukkan opini.
Untuk mewadahi penyampaian opini masyarakat pada surat kabar atau majalah,
disediakan kolom khusus yaitu halaman opini (opinion page).
Lantas apakah penulisan
artikel harus full opinion? Jawabnya
tidak juga. Menulis artikel boleh dimulai dengan pemaparan fakta sebagai data
dari apa yang akan ditulisnya. Dari data yang ada itulah penulis bisa
memberikan pendapat, pandangan, gagasan, atau bahkan interpretasi dari fakta
yang ada pada data tersebut. Agar tidak dibingungkan oleh istilah fakta,
interpretasi dan opini, berikut perbedaan ketiga istilah tersebut.
Fakta adalah
kenyataan yang ada sesuai dengan data yang sebenarnya. Fakta bukan buah pikiran
atau pernyataan. Namun demikian, buah pikiran atau pernyataan bisa menjadi
fakta asalkan dilatarbelakangi oleh peristiwa yang sebenarnya. Ini disebut
dengan fact in idea. Contoh Majelis
Ulama Indonesia menyatakan. Bahwa bumbu masak Ajinomoto adalah haram.
Pernyataan ini didasarkan pada penelitian mereka, yang menemukan bahan baku
pembuatan Ajinomoto terakumulasi
lemak babi (kasus Ajinomoto
Interpretasi
adalah hasil pemikiran berupa penafsiran, pengertian atau pemahaman. Boleh
jadi penafsiran, pemikiran atau pemahaman seseorang dengan orang lain akan
berbeda. Contoh: Presiden Abdurrahman Wahid, ternyata menyatakan bumbu masak Ajinomoto adalah halal. Meurutnya, lemak
babi yang digunakan pada proses pembuatan Ajinomoto
tidak menyentuh langsung bahan baku bumbu masak tersebut. Lemak babi hanya
berfungsi memisahkan sel-sel pada tetes tebu sebagai bahan baku utama, sehingga
tidak langsung menyentuh apalagi bercampur dengan bahan baku Ajinomoto tersebut.
Opini adalah
pendapat atau pandangan seseorang atau kelompok terhadap masalah atau peristiwa
yang terjadi. Contoh pada kasus Ajinomoto
tersebut, muncul berbagai pendapat (opini) yang di antaranya menyatakan,
bahwa Presiden Abdurarrahman Wahid meng-halal-kan
Ajinomoto tersebut karena khawatir
kehilangan investasi dari Jepang yang menanamkan modalnya pada perusahaan Ajinomoto tersebut. Dan banyak lagi
contoh opini lainnya.
Kesimpulannya, menulis berita bida gabungan antara
fakta dan interpretasi. Sedangkan ertikel bisa terdiri dari ketiganya, yaitu
fakta, interpretasi, dan opini. Penulisan artikel berbeda dengan komentar. Jika
komentar tulisannya terfokus untuk menanggapi, atau mengomentari nuansa atau
fenomena dari suatu permasalahan yang terjadi. Sedangkan artikel, penulisannya
tidak sekadar mengomentari masalah, tetapi bisa juga mengajukan pandangan,
pendapat atau pemikiran lain, baik yang sudah banyak diketahui masyarakat
maupun yang belum diketahui.
Bagi
pembaca surat kabar atau majalah, halam artikel atau opinion page, dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pandangan,
gagasan serta argumentasi dari berita-berita atau situasi yang terjadi dan
terekam dalam banaknya. Artikel tidak sekadar sebagai penyampaian tanggapan
atas suatu peristiwa yang termuat dalam suatu penerbitan surat kabar atau
majalah, tetapi juga untuk kepentingan penulisannya sendiri. Bagi pegawai
negeri atau karyawan swasta yang mempunyai jabatan fungsional seperti peneliti,
dosen, guru dan sebagainya, artikel di media massa digunakan untuk memenuhi angka
kredit bagi kenaikan jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional bagi pegawai
negeri atau perusahaan swasta, salah satu persyaratannya adalah dengan menulis
artikel di media massa.
Dalam
menulis artikel, memilih judul memerlukan perhatian khusus. Jika judul itu pas
dan menarik, redaktur media massa tertarik pula untuk memuatnya. Itulah
sebabnya memilih judul dalam penulisan artikel, memerlukan pemikiran,
pertimbangan dan penyesuian secara khusus. Ada sebagian penulis yang menentukan
judul artikelnya pada akhir dari proses penulisannya. Artinya, setelah semua
permasalahan diungkapkan dalam bentuk artikel, baru ia menentukan judulnya.
Tetapi ada juga justru sebaliknya, judul ditentukan terlebih dulu baru menulis
isinya.
Pengalaman
saya sebagai penulis, yang pertama dilakukan adalah menentukan topik lebih
dulu, kemudian mencari literatur, mengungkapkan permasalahan, baru memilih
judul yang tepat. Karena kadang-kadang, dari isi tulisan itulah justru muncul
kata-kata yang tepat untuk sebuah judul. Judul sebuah artikel sebaiknya
memenuhi kriteria berikut: (
Redaktur
media massa biasanya mengelompokkan artikel, menjadi beberapa jenis berdasarkan
sudut pandang penulis, dalam memaparkan ide atau gagasannya. Pengelompokan ini
oleh redaktur dipakai untuk memudahkan penempatan pemuatannya, pada halam yang
sesuai dengan misi dan visi penerbitannya. Ada lima jenis artikel antara lain:
(
2.
Karya Ilmiah
Menurut Dr. H. Endang Danial AR., M.Pd. (
Pemikiran ilmiah pada
lingkup keilmuan, terdiri dari dua tingkatan yaitu, tingkat abstrak dan tingkat
empiris. Pemikiran ilmiah tingkat abstrak berkaitan dengan penalaran. Pada
tingkatan ini, pemikirannya bebas tetapi sedikit terikat dengan waktu atau
ruangan. Sedangkan pemikiran empiris berkaitan dengan pengamatan. Kerena
berkaitan dengan pengamatan, maka pemikiran empiris ini sangat terkait dengan
waktu dan ruangan. Boleh jadi pemikiran empiris ini dilakukan dalam waktu dan
ruangan tertentu.
Dalam proses pemikiran
ilmiah seseorang selalu memulai dengan apa yang disebut pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah, merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan
induktif dan pendekatan deduktif. Pemahaman terhadap pendekatan induktif dan
deduktif ini perlu dilakukan secara bersama, karena hasil yang dicapai dari
kedua pendekatan itu berbeda.
Pendekatan induktif adalah
pengalaman atau pengamatan seseorang pada tingkat empiris, menghasilkan konsep,
memodifikasi model hipotesis menjadi teori, dan bermuara di tingkat abstrak.
Pendekatan deduktif merupakan titik tolak penalaran serta perenungan di tingkat
abstrak, yang menghasilkan pengukuran konsep serta pengujian hipotesis.
Karya tulis ilmiah merupakan
serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis
berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap
permasalahan yang muncul sebelumnya. Banyak cara untuk menemukan jawaban dari
penelitian tersebut. Untuk memperjelas jawaban ilmiah terhadap permasalahan
atau pertanyaan yang ada dalam penelitian, penulisan karya ilmiah harus
menggali khazanah pustaka, guna melengkapi teori-teori atau konsep-konsep yang
relevan dengan permasalahan yang ingin dijawabnya. Untuk itu penulisan karya
ilmiah harus rajin dan teliti dalam hal membaca dan mencatat konsep-konsep serta
teori-teori yang mendukung karya tulis ilmiahnya.
Dalam memberikan jawaban
terhadap permasalahan yang timbul pada suatu penelitian, penulisan karya ilmiah
harus bisa membuktikan melalui dua cara. Pertama,
jawaban itu merupakan jawaban final terhadap permasalahan penelitian. Kedua, jawaban tersebut harus menjadi
jawaban yang paling benar, meskipun masih akan dibuktikan lagi pada tahap
lainnya. Jawaban pertama erupakan konklusi
yang nantinya sangat diperlukan sebagai suatu thesis. Sedangkan jawaban kedua,
merupakan konklusi sementara yang
nantinya diperlukan sebagai hipotesis.
Meskipun jawaban penelitian
tersebut sudah didapatkan, penulisan karya ilmiah masih harus membuktikan,
apakah jawaban tersebut memang bisa dirasakan kebenarannya. Untuk itu diperlukan
sumber informasi lainnya yang mendukung jawaban yang telah didapatkan. Jawaban
permasalahan yang ada pada penelitian, bisa mendukung dan juga bisa menolak
hipotesis yang ada. Jika jawaban itu mendukung hipotesis maka bisa dikatakan
hipotesis diterima, tetapi jika jawabannya tidak mendukung hipotesis, maka
disebut hipotesis dalam penelitian ini ditolak.
Dengan demikian, penulisan
karya ilmiah, hanya bisa dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian
dibahas (dijawab) melalui kegiatan penelitian. Karena berdasarkan hasil
penelitian, maka pada akhirnya penulisan karya ilmiah, selalu dikemukakan suatu
kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan dimaksudkan sebagai pemikiran terakhir
dari proses telaah melalui penelitian, sedangkan rekomendasi diperuntukkan bagi
langkah selanjutnya dalam menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan.
Kesimpulan atau temuan
penelitian, tidak selalu berupa sesuatu halyang baru. Bisa jadi kesimpulan atau
temuan dari hasil penelitian itu, merupakan kelanjutan dari kesimpulan atau temuan
pada penelitian yang dilakukan sebelumnya. Karena penelitian merupakan suatu
proses, maka hasil penelitian itu tidak bisa dikatakan baik atau jelek. Jadi
jika ada seseorang menyebut bahwa hasil penelitiannya itu baik atau tidak baik,
atau juga menyebut benar atau tidak benar, maka sebutan itu tidak tepat. Yang
tepat, sebutan untuk hasil penelitian adalah ukuran signifikansinya (significance) atau meyakinkan.
Pada dasarnya semua ilmu
ataupun teknologi yang ada di dunia ini, perlu diteliti, ditingkatkan dan
dikembangkan fungsi dan peranannya untuk melahirkan perubahan. Karena yang
kekal di dunia ini hanya satu, yaitu perubahan. Perubahan yang positif
melahirkan kemajuan dan kemajuan inilah yang dituntut oleh ilmu pengetahuan.
Tanpa kemajuan, kehidupan di dunia tidak ada artinya sama sekali.
Salah satu cara untuk
mencapai kemajuan adalah dengan melakukan pengamatan, pengkajian, dan
penelitian dari sumber ilmu tersebut yang dituangkan dalam bentuk karya tulis
ilmiah. Salah satu tugas para ilmuwan (scientists) atau para pandit (scolars) adalah memaparkan hasil kajian,
pengamatan atau penelitiannya kepada masyarakat luas.
Penulisan karya ilmiah
diharapkan dapat membantu para cendekiawan untuk menemukan sesuatu yang baru,
guna menunjang peningkatan taraf kehidupan masyarakat secara luas. Pada
lingkungan perguruan tinggi karya ilmiah berupa skripsi digunakan untuk meraih
gelar sarjana (S
Sebenarnya kegunaan
penulisan karya ilmiah bukan hanya sekadar untuk mendapatkan gelar atau
memperoleh kredit pont untuk kenaikan jabatan, tetapi tujuan utama dibuatnya karya
tulis ilmiah adalah untuk mendokumentasikan hasil-hasil penelitian yang
berhasil mendapatkan atau membuktikan kebenaran ilmiah. Mungkin yang tidak sama
adalah gradasi kebenaran ilmiah yang ingin atau berhasil dicapai oleh
seseorang. Bagi seorang peneliti profesional, keuntungan yang paling besar dan
berharga dari semua karyanya adalah jika ia menemukan kebenaran ilmiah yang
kemudian dibukukan. Penemuan kebenaran ilmiah yang kemudian dibukukan dalam
karya tulis ilmiah ini bertujuan adalah (
Judul adalah kepala karya
tulis ilmiah, sedangkan topik adalah pokok-pokok permasalahan yang akan
dijadikan objek dalam penelitian sebagai bahan utama penulisan karya ilmiah.
Jadi topik bisa diangkat menjadi judul, tetapi sebaliknya judul bukan merupakan
topik bahasan. Judul dalam suatu karya tulis ilmiah adalah ciri atau identitas
yang menjiwai seluruh karya tulis ilmiah. Judul pada hakikatnya merupakan
gambaran konseptual dari kerangka kerja suatu karya tulis ilmiah. Itu sebabnya,
dalam penulisan karya tulis ilmiah tidak bisa memaparkan begitu saja dari apa
yang akan ditulis, tetapi harus runtut mengikuti kerangka kerja (framework) dari konsep yang akan
dipaparkannya.
Judul merupakan kalimat yang
terdiri dari kata-kata yang jelas, tidak kabur, singkat, tidak bertele-tele.
Pemilihan kata-kata untuk judul sebaiknya saling terkait atau runtut,
menggunakan kalimat yang tidak puitis apalagi sampai sensasional. Menurut
Sutrisno Hadi (
Memilih judul untuk suatu
karya tulis ilmiah tidak sebebas membuat judul pada penulisan artikel. Judul
karya tulis ilmiah harus disesuaikan dengan topik bahasan yang sudah ditentukan
sebelumnya. Jelasnya pada penulisan karya ilmiah tidak bisa langsung menulis
baru menentukan judulnya. Ini karena penulisan karya ilmiah terkait dengan
kegiatan ilmiah, sementara kegiatan ilmiah sudah dibuat desainnya terlebih
dahulu, di mana judul termasuk di dalamnya.
Seperti halnya artikel,
judul karya tulis ilmiah, sebaiknya tidak terlalu panjang dan jangan juga
terlalu pendek. Jika judul terlalu panjang, orang yang membacanya akan
kesulitan memahami apa sebenarnya yang ada dalam karya tulis ilmiah tersebut.
Itu sebabnya judul yang panjang menjadi tidak menarik. Judul karya tulis ilmiah
sebaiknya terdiri dari delapan sampai dua belas kata yang merupakan hubungan
dua variabel atau lebih.
Pada prinsipnya semua karya
tulis ilmiah itu sama yaitu hasil dari suatu kegiatan ilmiah. Yang membedakan
hanyalah materi, susunan, tujuan serta panjang pendeknya karya tulis ilmiah
tersebut. Untuk membedakan jenis atau macam karya tulis ilmiah dipakai beberapa
sebutan, seperti laporan praktikum, naskah berkala, laporan hasil studi
lapangan, texbook, hand out, paper,
pra skripsi, tesis dan disertasi.
Penentuan jenis atau macam
karya ilmiah biasanya disesuaikan dengan keperuntukan karya ilmiah tersebut.
Secara garis besar, karya ilmiah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu karya
ilmiah pendidikan dan karya ilmiah penelitian. Karya ilmiah pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume
pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan yang
meliputi (
Berbeda dengan penulisan
skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data dan pustaka saja. Disertasi
harus lebih lengkap lagi dengan tiga sumber sekaligus yaitu data lapangan,
penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Dalam mengungkapkan teori untuk
memecahkan permasalahan, disertasi wajib menyatakan dalil-dalil atau
teori-teori baru secara ilmiah yang diperolehnya, serta sanggahan terhadap
teori lama dan sebagainya. Penemuan teori atau dalil baru inilah sebenarnya
yang menunjukkan ciri khas suatu karya tulis ilmiah berupa disertasi.
Temuan baru atau teori baru
yang dihasilakan oleh suatu disertasi dapat berasal dari disiplin ilmu arau
spesialisasi dari penulisnya sendiri atau berasal dari disiplin ilmu lainnya
yang dapat menunjang atau membenarkan dalil atau teori baru yang
diungkapkannya. Itu sebabnya penulisan disertasi membutuhkan waktu yang
panjang, karena harus dapat menemukan dalil atau teori baru.
Mahasiswa yang menulis
disertasi disebut promovendus, dimana
dalam pembuatan karya tulis ilmiah disertasinya itu di bawah bimbingan seorang
atau beberapa orang guru besar (profesor) yang mempromotorinya. Para pembimbing
inilah yang nantinya harus mempertahankan disertasi promovendus terhadap sanggahan yang akan diberikan oleh para
penguji atau guru besar universitas di mana promosi seorang doktor itu
dilaksanakan.
Karya ilmiah
panduan,
meliputi: (
Karya ilmiah referensi, meliputi: (
Karya ilmiah penelitian, yang meliputi:
(
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Karya ilmiah
harus mengandung kebenaran ilmiah, yakni kebenaran yang tidak hanya didasarkan
atas rasio, tetapi juga dapat dibuktikan secara empiris.
2. Prose berpikir
ilmiah terdiri atas pengajuan masalah, perumusan hipotesis dan verifikasi data.
Sedangkan hasilnya (hasil berpikir ilmiah) disajikan dan ditulis secara
sistematis menurut aturan metode ilmiah.
3. Karya ilmiah
biasanya ditampilkan dalam bentuk makalah ilmiah, skripsi, tesis, disertasi dan
hasil penelitian. Penelitian ilmiah lebih ditujukan untuk pengembangan ilmu dan
menguji kebenaran ilmu. Sedangkan makalah ilmiah dapat juga dibuat para
mahasiswa di perguruan tinggi dalam rangka penyelesaian studinya. Proses
berpikir ilmiah dapat dilakukan melalui pola berpikir deduktif dan berpikir
induktif.
Danial AR,
Endang.
Darmoto &
Ani M..Hasan.
Djuroto,
Totok dan Bambang Suprijadi.
Sudjana,
Nana.
RIWAYAT
HIDUP PENULIS
Nama Lengkap : Dr. H. Endang Komara, Drs., M.Si.
Drs. H. Subarkan
Tempat
dan tanggal lahir : Purwakarta,
Pekerjaan : Dosen PNS Kopertis Wilayah IV Dpk pada STKIP
Pasundan Cimahi
Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a
Jabatan fungsional : Lektor Kepala
Riwayat Pendidikan :
S
S
Publikasi Ilmiah Penulis Tetap pada :
Majalah Tridharma Kopertis
Wilayah IV mulai
JPIPS UPI Bandung mulai
Majalah Suara Daerah Jawa
Barat mulai
Jurnal Nasional Historia UPI
Bandung mulai
Civicus UPI Bandung mulai
Jurnal Nasional Fakultar
Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Jati mulai
Bandung,
Penulis
Tahun Akademik
Kamis,
Oleh:
Dr. H. Endang Komara, M.Si.
Drs. H. Subarkah
(STKIP) PASUNDAN CIMAHI