ABSTRACT
This
research is carried out in subdistrict Jatiluhur, Purwakarta District. The aim
of the research is about the description of the industrialization impact on the
soacial life symbolized by the changes in the work field, education, and social
life patterns.
The type of research is a
descriptive survey by using stratified random sampling sample. The technique of
analysing data yielded from the research is a cross sectional analysis through
comparing the stratified people in the vallages with textile industries such as
Kembangkuning and Cibinong villages and those who live in the vallages without
the industries such as Jatiluhur and Cikaobandung villages.
The description is based on the
measurement of variables: (1) Change of the work field
pattern which is emphasized on how far away the work field change the
environment, and stretches the social network. Their indikators are the incomes
of the people who work for the textile industries and the indreases of the
incomes of the people who working in economics sectors; (2) Change in the education
pattern which is emphasized on the achievement of education through both formal
and informal. Their indicators are the period of education and the shift of
education; (3) Change in the family life pattern which is emphasized
on the family burden, the dinamics of life, and the income of family. Their
indicators are the members of family, the changes in the family quality, and
the amount of their incomes.
The results of the research
show that there are differences of the changes in work field pattern, education
pattern, and family life pattern of the stratified people who live in the
villages examined. Therefore, the impact of industrialization on the social
life can be felt by the society through the form of change in work field
pattern, in education pattern, and in family life pattern.
Key
word: Industrialization impact on the social life symbolized by the changes in
the work field, education, and social life pattern.
PENGANTAR
Negara
yang sedang berkembang pada umumnya memiliki jumlah penduduk banyak, yang
secara potensial masih harus dikembangkan lagi agar menjadi modal dasar
pembangunan yang efektif. Peningkatan mutu modal insani tersebut mutlak perlu
dikembangkan jika negara tersebut ingin melihat pembangunan yang sedang
diupayakan berhasil mencapai tujuannya. Hal ini juga berlaku di Indonesia yang
jumlah penduduknya pada tahun 2004 sudah mencapai sekitar 211,1juta jiwa, yang sering secara ekplisit
dinyatan bahwa penduduk merupakan modal dasar pembangunan.
Perubahan
masa depan yang akan terjadi di Indonesia menyangkut dimensi sosial, politik,
kultural serta ekonomi di mana Indonesia mulai masuk era industrialisasi.
Industrialisasi bertujuan menjadikan sektor industri yang mantap, kuat dan stabil
melalui usaha terpadu yang melibatkan seluruh rakyat dengan berlandaskan azas
demokrasi ekonomi, pemerataan dan kesempatan berusaha, meningkatkan ekspor dan
tetap memelihara kelestarian lingkungan hidup.
Industri
yang maju di dalamnya terkandung struktur sosial yang kokoh, masyarakatnya
memiliki nilai budaya yang mampu menjadi acuan dalam mengembangkan dan
meningkatkan produksi, dan terkait erat dengan kegiatan ekonomi umumnya, dan
didukung oleh penguasaan teknologi (pendidikan dan pengetahuan) serta mempunyai
daya saing yang kuat dalam memasuki pangsa pasar global, baik AFTA 2003, maupun pasar bebas 2010 bagi negara maju dan 2020 bagi negara berkembang. Adapun dimensi
budaya tampak pada tumbuh dan berkembangnya nilai budaya baru dalam lingkungan
keluarga yang sangat bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat industri, seperti
disiplin yang tinggi, taat beribadah dan memiliki motivasi yang tinggi.
Fenomena selanjutnya, perubahan dari sikap dan tingkah laku dogmatik dengan
adat istiadat irasional yang kuat, konsumtif, dan kekerabatan yang tinggi
akibat banyaknya waktu luang pada masyarakat agraris kemudian menjadi sikap dan
tingkah laku yang rasional, etos kerja yang tinggi, disiplin waktu, hemat,
kompetisi, berprestasi, orientasi ke masa depan, spesialisasi pekerjaan
berdasarkan pendidikan, kerja keras, produktif, mandiri dan kreatif.
Munculnya
kawasan industri dalam suatu wilayah dianggap membawa faktor positif dan
negatif bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu, seperti (1) kehadiran industri dapat membuka lapangan
kerja bagi penduduk setempat; (2) membuka lapangan kerja di bidang sektor informal; (3) menambvah pendapatan asli daerah bagi
daerah tersebut. Adapun hal-hal yang dianggap negatif itu ialah (1) menimbulkan kebisingan, polusi, dan
limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan; dan (2) persentuhan budaya yang bisa menimbulkan
berbagai masalah sosial.
Tulisan
ini disajikan untuk memahami, melakukan interpretasi, dan analisis terhadap
hal-hal sebagai berikut: (1) industrialisasi berdampak terhadap pola lapangan
kerja; (2)
industrialisasi berdampak terhadap pola kehidupan keluarga dan; (3) industrialisasi berdampak terhadap pola
pengembangan sumber daya manusia. Hasil yang diharapkan dari tulisan ini adalah
di satu sisi untuk memperkaya kajian sosiologi tentang konsep perubahan sosial,
dan di sisi lain secara praktis diharapkan menjadi bahan masukan bagi berbagai
instansi, khususnya mengenai penyusunan kebijakan dan penanggulangan masalah
berdasarkan tingkat kepentingannya berhubungan dengan dampak industrialisasi
terhadap kehidupan masyarakat.
HIPOTESIS KERJA DAN METODE PENELITIAN
Proses
industrialisasi bisa dipahami melalui konsep pembangunan, karena arti
pembangunan dan industrialisasi seringkali dianggap sama. Konsep pembangunan
bersifat dinamik, karena konsep itu bisa berubaha menurut lingkupnya. Apabila
pembangunan itu dihubungkan pada setiap usaha pembangunan dunia, maka
pembangunan akan merupakan usaha pembangunan dunia. Industrialisasi sebagai
proses dan pembangunan industri berada pada satu jalur kegiatan, yaitu pada
hakekatnya berfungsi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat.
Industrialisasi tidaklah terlepas dari upaya peningkatan mutu sumber daya
manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam. Secara umum kaitan antara
pembangunan dengan industrialisasi dijelaskan oleh Garna (1997:17-18), yakni: (1) bahan untuk proses industrialisasi dan
pembangunan industri merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat; (2) pembangunan industri merupakan upaya
meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuan memanfaatkan sumber daya
alam; (3)
pembangunan industri akan memacu dan menyangkut pembangunan sektor lainnya,
yang dapat memperluas lapangan kerja yang diharapkan akan meningkatkan
pendapatan dan daya beli masyarakat dan; (4) dalam pembangunan industri akan terjadi
ketimpangan yang merugikan, yang bersifat ekonomi ataupun non ekonomi.
Adapun
hipotesis yang diajukan dalam tulisan ini adalah besar kecilnya dampak
industrialisasi terhadap kehidupan masyarakat akan dipengaruhi oleh pola
lapangan kerja, pola kehidupan keluarga dan pola pengembangan sumber daya
manusia masyarakat setempat.
Sementara
itu desain dalam penelitian adalah dengan menggunakan metode survei deskriptif
(descriptive survey), dengan
pertimbangan seperti dikemukakan oleh Nazir (1985:66), dan Komara (2004:65) merupakan suatu bentuk penelitian yang mencari
fakta dengan interpretasi yang tepat tentang tata cara yang berlaku dalam
masyarakat, situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan, sikap-sikap,
pandangan-pandangan, serta proses-proses yang berlangsung dengan
pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Sedangkan menurut Hyman (dalam Tan, 1977:42) tujuan metode survei deskriptif adalah
menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau
kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi adanya hubungan tertentu
antara suatu gejala dengan gejala lain di dalam masyarakat. Sejalan dengan itu
Rusidi (1993:23) menyebut penelitian jenis ini bertujuan membuat
deskripsi mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat suatu gejala sosial yang
teramati pada suatu daerah tertentu secara sistematik, faktual dan teliti.
Di
samping itu pula metode survei deskriptif bertujuan menemukan deskripsi general
dan universal, yang berlaku pada sejumlah variasi situasi dan kondisi.
Deskripsi general itu sendiri telah ditujukkan dengan konsep atau variabel dari
penggolongan, katagorisasi dan klasifikasi fenomena secara abstrak. Sedangkan
universalitas, terletak pada survei itu sendiri, artinya proses penyusunan
“peta” wilayah atau daerah menurut variasi situasi dan kondisi (ekosistem)
tertentu, alam, kehidupan sosial atau budaya tertentu. Dalam pengujian
hipotesis menggunakan analisis tes X², yaitu untuk menguji apakah perincian
frekuensi observasi di dalam suatu tabel kontingensi 2 x 2 dapat terjadi di bawah Ho (Sidney, 1985:133). Namun di samping menggunakan analisis data
kuantitatif juga menggunakan analisis kualitatif, yang digunakan untuk menambah
informasi serta melengkapi data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui
teknik wawancara terstruktur yang dilengkapi dengan alat pengumpul data berupa kuesioner.
Sedangkan data kualitatif diperoleh melalui teknik observasi partisipatif.
Apabila ditabelkan, maka alur pemikiran dalam penelitian ini adalah seperti
nampak pada gambar di bawah ini.



POLA LAPANGAN KERJA

MODERNISASI INDUSTRIALISASI KEHIDUPAN MASYARAKAT

POLA KEHIDUPAN KELUARGA POLA PENGEMBANGAN
SDM
Gambar 1: Kerangka Berpikir Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Modernisasi di Kecamatan
Jatiluhur
Pendekatan
sosiologi yang digunakan untuk membahas dampak industrialisasi terhadap
kehidupan masyarakat di Kecamatan Jatiluhur melalui teori modernisasi. Karena
modernisasi merupakan proses transformatif, dalam mencapai status modern,
struktur dan nilai tradisional secara total harus menyesuaikan dengan
seperangkat struktur dan nilai yang mendorong perubahan yang menuju masyarakat
modern. Di samping itu modernisasi merupakan proses sistemik juga modernisasi
melibatkan perubahan hampir seluruh aspek tingkah laku sosial, termasuk di
dalamnya industrialisasi, urbanisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi
dan sebagainya.
Teori
modernisasi berangkat dari pemikiran yang berorientasi pada faktor internal,
yang artinya teori ini melihat bahwa maju dan mundurrnya masyarakat itu
ditentukan olehnya. Paradigma dari teori ini diilhami oleh ide
Tradisional-Modern (Parsons), yaitu tradisional mengacu kepada hakekat
kebiasaan yang ada dan dipertahankan warga masyarakat dan modern menunjuk kepada
sifat kemajuan (progress). Teori
modernisasi menekankan pada faktor manusia dan nilai-nilai budaya sebagai pokok
masalah pembangunan, sedangkan keterbelakangan yang terjadi lebih disebabkan
oleh keterbelakangan institusi sosial dan unsur budaya dalam menghadapi
perubahan, yang biasanya dianggap penghambat atau pendorong perubahan.
Teori
modernisasi memberi solusi, bahwa untuk
membantu Dunia Ketiga termasuk kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal
dari negara maju, tetapi negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti
nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagan demokrasi politik. Justru di
sinilah letak masalahnya, karena teori pembangunan menurut persepsi Dunia
Ketiga menghendaki bahwa tradisi dan nilai-nilainya harus memberi nuansa kepada
keadaan modern yang hendak dicapai. Pemberian modal, kelembagaan, dan ideologi
dari negara maju ke negara dunia ketiga dapat meningkatkan ideologi dari negara
maju ke negara dunia ketiga dapat meningkatkan perkembangan dari pinggiran ke
pusat menurut asumsi Trickle Down Effect.
Segala
apapun yang disebut modern sebagai dominasi barat itu pada suatu saat, besar
kemungkinan akan mampu mengubah wajah dunia ketiga melalui proses modernisasi
yang terus melanda tak hentinya. Menurut teori Max Weber (dalam The Protestant Ethic and The Spirit of
Capitalism, 1930) bahwa penyebab utama kemajuan ekonomi itu adalah
dorongan etika Protestan. Kerja yang berhasil dipastikan akam masuk surga,
sedangkan kerja yang gagal akan masuk neraka, orang yang dengan kepercayaan ini
maka akan bekerja keras untuk meraih sukses, tanpa pamrih.
Dalam
Agama Islam dikenal bahwa Setelah kamu
mengerjakan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi, mencari rizki, dan
perbanyaklah menyebut nama Tuhan. Selain itu juga disebutkan bahwa Bekerjalah kamu sebaik-baiknya seakan-akan
kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kamu akan mati besok. Etika
Islam ini juga mendorong manusia untuk berkembang, karena landasan utamanya
adalah bukan bekerja keras untuk
material, tetapi karena faktor etika agama. Menurut Garna (1999:10) bahwa varian dalam Teori Modernisasi,
ditunjukkan oleh beberapa model seperti: (1) Model struktural, menekankan pada perubahan
struktural (Smelser, Rostow, David Apter, dan Gisendat); (2) Model Budaya, Modernisasi. Perubahan
dalam struktur normatif, khususnya tentang nilai penghambat atau pendorong (Max
Weber, Bellah, dan Arnold Rose) dan; (3) Model Psikologi, model yang memberikan
penekanan terhadap perubahan tingkah laku, sistem kepentingan, dan akibat
kepribadian (David McClelland, Joseph Kahl dan Hages).
Berdasarkan
perspektif teori modernisasi maka dalam kenyataannya Kecamatan Jatiluhur dapat
digolongkan ke dalam daerah agraris, karena mayoritas penduduk pada umumnya
bertani. Namun mata pencaharian penduduk pada keempat desa tersebut (desa
kembangkuning, Cibinong, Jatiluhur dan desa Cikaobandung) adalah sebagai buruh
pabrik, khususnya pada industri tekstil. Hal ini juga sesuai dengan Doktrin
dari Rostow (1966:12) bahwa pembangunan itu senantiasa harus melalui
lima tahapan yang berkaitan satu sama lainnya yakni; (1) masyarakat tradisional; (2) prakondisi lepas landas; (3) lepas landas; (4) bergerak ke kedewasaan dan; (5) zaman konsumsi masal yang tinggi.
Prasyarat
untuk bisa menuju perkembangan ekonomi adalah tahapan kedua, yang ciri-ciri
masyarakat tradisional sudah mulai berganti. Dalam tahap kedua produktivitas
pertanian meningkat pesat, munculnya mentalitas baru dan juga kelas sosial baru
– wiraswasta (Hagen, 1966). Tahap ketiga adalah tahap yang kritis atau penting
sekali guna pembangunan lebih lanjut. Di sinilah munculnya industrialisasi, di
mana beberapa sektor tertentu akan berperan dalam menumbuhkan perekonomian.
Tumin (dalam Lavner, 1989:430-431) melukiskan jenis-jenis perubahan sistem
stratifikasi sosial ketika masyarakat menuju industrialisasi antara lain: (1) pembagian kerja semakin rumit sejalan
dengan meningkatnya spesialisasi; (2) status cenderung berdasarkan atas prestasi
sebagai pengganti status berdasarkan atas asal usul (ascription); (3) alat yang memadai untuk mengukur pelaksanaan
pekerjaan orang yang terlibat dalam produksi menjadi perhatian umum; (4) pekerjaan bergeser dari kegiatan yang
memberikan kepuasan hakiki, keperanan sebagai alat untuk meningkatkan
kesejahteraan artinya, mendapat ganjaran itu sendiri; (5) ganjaran yang tersedia untuk
didistribusikan meningkat; (6) ganjaran didistribusikan atas dasar yang agak
lebih kecil; (7) terjadi pergeseran dalam peluang hidup di
berbagai status sosial; (8) terjadinya pergeseran dalam distribusi gengsi
sosial meskipun keuntungan masyarakat modern dibanding masyarakat tradisional
dan; (9)
pergeseran dan masalah serupa terdapat juga dalam distribusi kekuasaan.
Untuk
mengukur skala modernisasi individu, manusia modern hanya merupakan suatu
konstruksi pikiran belaka, tetapi menjadi hal yang nyata dan dapat
diidentifikasikan dalam setiap populasi. Secara rinci disebutkan bahwa
ciri-ciri orang modern menurut Inkeles (1973:342) antara lain: (1) terbuka pada pengalaman baru; (2) peningkatan kemandirian dan otoritas
figur tradisional; (3) kepercayaan terhadap kualitas ilmu pengetahuan
dan pengobatan; (4) memiliki ambisi untuk dirinya sendiri maupun
anak-anaknya untuk mencapai pekerjaan dan pendidikan yang tinggi; (5) menyukai kecepatan waktu dan perencanaan
dan hati-hati; (6) menunjukkan minat yang kuat dalam kegiatan
komunitas dan politik lokal, serta berperan aktif dan; (7) selalu mengikuti berita-berita hangat.
B.
Industrialisasi di Kecamatan
Jatiluhur
Industrialisasi
merupakan proses peralihan dari satu bentuk masyarakat tertentu, menuju
masyarakat industrial modern, yang dapat membedakan dengan jelas masyarakat
barat yang kontemporer sebagai satu kesatuan, dengan bentuk masyarakat lain
yang ada sebelumnya. Dalam pandangan ini, revoluasi industri merupakan salah satu
revolusi yang terjadi di Inggris yang mempunyai dampak terhadap perkembangan
disiplin soisologi.
Sejak
itu industrialisasi merupakan suatu gejala yang terus meluas khususnya ke Eropa
dan Amerika. Proses penyebaran gejala tersebut diterima oleh dunia sebagai
sesuatu yang rasional, dengan nilai-nilai kebudayaan bangsa yang menerimanya
tidak tersinggung, karena penerapannya membutuhkan pengetahuan dan
keterampilan. Ini berarti tidak semua bangsa pada waktu yangt bersamaan mampu
menerimanya. Negara yanag sudah siap menerimanya dan melaksanakannya disebut
negara maju, sedangkan negara yang belum siap melaksanakannya disebut negara
yang sedang berkembang. Wield (1983:80 mengemukakan tiga jenis definisi untuk memahami
industrialisasi antara lain: (1) residual,
industri berarti semua hal yang bukan pertanian; (2) sectoral,
yang mengatakan bahwa industri adalah energi, pertambangan, dan usaha
manufaktur dan; (3) bersifat micro
dan macro, yaitu sebagai proses produksi, dan yang lebih luas lagi
sebagai proses sosial industrialisasi. Adapun proses industrial dicirikan oleh
adanya: (1)
masyarakat yang melakukan proses produksi dengan menggunakan mesin; (2) berskala besar; (3) pembagian kerja teknis yang relatif
kompleks; dan (4) menggunakan tenaga kerja yang keterampilannya
bermacam-macam.
Industrialisasi
pada suatu masyarakat berarti pergantian teknik produksi dari cara yang masih
tradisional ke cara modern, yang terkandung dalam revolusi industri. dalam hal
ini terjadi proses transformasi, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala
segi kehidupannya (Dharmawan, 1986:16). Adapun karakteristik masyarakat Kecamatan
Jatiluhur yang sedang berproses menuju ke masyarakat industri antara lain: (1) selalu terbuka untuk menerima berbagai
percobaan atau pengalaman, termasuk tingkah laku; (2) adanya pergeseran dari loyalitas yang
disebabkan keturunan, dan semua penampilan perorangan yang telah diakui
masyarakat setempat ke arah pimpinan nasional yang lebih objektif; (3) percaya pada ilmu pengetahuan dan
kedokteran; (4) ambisi perorangan dan anak-anak untuk mencapai
tingkat dan derajat yang lebih tinggi dalam bidang pekerjaan melalui
pendidikan, baik akademi, politektik maupun universitas; (5) menghargai setiap perencanaan untuk
kemajuan; (6) selalu memperhatikan perkembangan informasi,
baik melalui media cetak maupun elektronik.
Hal
tersebut di atas sejalan dengan pemikiran Huntington (1986:37), yang menjelaskan mengenai perubahan dari masyarakat tradisional ke
masyarakat industri. Ciri masyarakat
tradisional antara lain: tidak menjaga waktu, orientasi pada masa lalu,
status, terikat pada tempat asal,
fanatik, tertutup, orientasi status otomatis (ascriptive), loyalitas primordial seperti agama, golongan, suku,
keluarga, organisasi keluarga atau ikatan bersifat pribadi, bergantung pada
nasib, hubungan dengan alam penyesuaian, kebudayaan ekspresif. Ciri masyarakat modern antara
lain: menjaga waktu, orientasi pada masa depan, dinamik, mobilitas , toleran,
terbuka, orientasi status berdasarkan prestasi (achievement), loyalitas pelingkup (negara, kedinasan dan profesi),
organisasi non pribadi (ikatan kepentingan, atau berorientasi tujuan),
organisasi besar atau efisiensi, hubungan non pribadi atas dasar masalah
(lugas), persoalan ditimbulkan manusia dapat diatasi oleh manusia, hubungan
dengan alam menguasai atau setidak-tidaknya mengatur, kebudayaan progresif.
C.
Kehidupan Sosial Masyarakat
Kecamatan Jatiluhur
Kehidupan
masyarakat itu selalu berubah atau bersifat dinamik sesuai dengan keadaan lingkungannya yang berubah menuju
tipe-tipe manusia modern dalam arti mempunyai pola pikir lebih maju sesuai
dengan keadaan kehidupan mereka yang penuh persaingan. Untuk memahami hubungan
sosial, seperti dirumuskan oleh Parsons (dalam Suwarsono, 1991:12-13) sebagai konsep faktor kebakuan dan pengukur (pattern variables), untuk menjelaskan
perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Masyarakat
tradisional cenderung memiliki hubungan kecintaan, yakni hubungan yang
mempribadi dan emosional. Masyarakat modern memiliki hubungan kenetralan, yakni
hubungan kerja yang tidak langsung, tidak mempribadi dan tidak berjarak.
Parsons juga merumuskan hubungan kekhususan dan universal (particularistic dan universalistic).
Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat
dari satu kelompok tertentu. Sehingga ada rasa untuk memikul beban tanggung
jawab bersama, sementara anggota masyarakat modern berkembang. Satu sama lain
dengan batas norma-norma universal, lebih tidak terikat dengan tingkah laku
kelompok dari kekhususan. Masyareakat tradisional biasanya memiliki
kewajiban-kewajiban kekeluargaan, komunitas dan kesukuan (colective orientation). Parsons juga menyatakan bahwa masyarakat
tradisional memandang penting status warisan dan bawaan (ascription). Sebaliknya masyarakat modern yang tumbuh dalam pasar
persaingan yang ketat jauh lebih banyak memperhatikan prestasi (achievement). Selanjutnya Parsons
menyatakan, bahwa masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi-fungsi
kelembagaannya secara jelas (funcionally
diffused) dan karenanya akan terjadi pelaksanaan tugas yang tidak efisien,
sebaliknya masyarakat modern telah merumuskan
secara jelas tugas masing-masing kelembagaan (functionally specific).
Perbedaan
kedua masyarakat tersebut, memudahkan untuk melakukan pemahaman tentang
persepsi masyarakat dalam kehidupannya dari pengaruh modernisasi dan
industrialisasi. Mereka yang lebih banyak mendapat pengaruh langsung atau lebih
cepat menerima perubahan akan lebih tampak ciri-ciri masyarakat modern, dan
sebagian yang belum terkena langsung atau sulit untuk menerima perubahan masih
menunjukkan ciri masyarakat tradisional dan karena itu diharapkan masyarakat
akan lebih maju bila memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi.
Menurut
Inkeles (dalam Soekanto, 1983:21), tipe-tipe adaptasi kehidupan itu dikelompokkan
dalam tiga golongan prasyarat yang menyangkut tipe-tipe adaptasi terhadap fakta
dasar dari kehidupan, antara lain: (1) adaptasi terhadap lingkungan eksternal, fisik
dan manusiawi; (2) adaptasi terhadap hakekat bio-sosial manusia,
atau masyarakat tidak mungkin bertahan apabila tidak berhasil untuk memenuhi
kebutuhan warganya yang juga menyangkut prasyarat fisik dan kebudayaan dan; (3) adaptasi terhadap kondisi kehidupan
secara kolektif. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan bio-sosial atau fisik
mungkin merupakan penyebab keinginan manusia untuk hidup berkumpul dengan
sesamanya.
Dengan
demikian dalam kehidupan masyarakat tentunya tidak telepas dari kebudayaan
kehidupan manusia seluruhnya. Salah satu unsur kebudayaan adalah kepercayaan, anggapan
atau prinsip tertentu, di samping ada unsur lain, yaitu norma. Anggapan dan
kepercayaan meliputi keadaan, sedang norma meliputi perbuatan, antara kedua
unsur ini terdapat jalinan yang sangat erat (Soedjito, 1986:19). Fungsi nilai dalam hidup masyarakat menurut
Laurence (dalam Soedjito, 1986:29) diperlukan untuk menentukan, tindakan atau sikap
mana yang dianggap baik. Berdasarkan atas nilai inilah, maka disusun norma,
yang menyatakan mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap kurang baik.
Dengan demikian diharapkan masyarakat cepat tanggap terhadap apa yang terjadi
di sekitarnya dan dapat memilih budaya manakah yang bisa ditiru dan yang
tidak.
Dalam
masyarakat yang sedang mengalami transisi, seperti Masyarakat Jatiluhur,
institusi sosial selalu dalam keadaan bergerak, seperti dikemukakan oleh
Soedjito (1986:60) yang untuk institusi menggunakan kata lembaga.
Lembaga selalu dalam keadaan bergerak, mekanisme masyarakat sendiri akan
memberikan isi yang wajar kepada lembaga yang dapat diterima oleh masyarakat.
Hal ini sesuai dengan prinsip sibernika di dalam masyarakat berdasarkan atas
hubungan fungsional antara kepentingan dan sikap jika kepentingan berubah maka
sikap pun akan berubah.
1.
Pola Lapangan Kerja
Perubahan pola lapangan kerja masyarakat
Jatiluhur terlihat setelah adanya pabrik industri, khususnya industri tekstil,
terutama setelah tahun 1990-an. Mata pencaharian penduduk setempat tidak
hanya bertumpu pada pertanian tetapi beraneka ragam profesi dan keahlian,
seperti buruh pabrik, jasa perdagangan dan membuka kursus keterampilan yang
relevan dengan kegiatan industri. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri masyarakat
yang berada dalam proses industrialisasi antara lain: (1) masyarakat melakukan produksi; (2) pembagian kerja relatif kompleks dan; (3) tenaga kerja mempunyai keterampilan yang
bermacam-macam.
Kehadiran
industri tekstil akan membuka peluang bagi tenaga kerja, baik yang menganggur
maupun setengah menganggur dan berasal dari daerah setempat maupun pendatang.
Bekerja pada pabrik tekstil hal positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat
memberikan beberapa alasan antara lain: (1) dapat menambah jaringan sosial; (2) sesuai dengan bakat dan kemampuan yang
dimilikinya; (3) dapat mengembangkan hobi yang dimiliki, terutama
dalam bidang olah raga dan kerohanian; (4) tersedianya mess di sekitar lingkungan pabrik,
baik untuk pekerja wanita maupun pekerja pria dan; (5) dapat bekerja sambilan di samping
bekerja di pabrik, terutama bagi ibu rumah tangga yang berasal dari warga
setempat yang bertugas sebagai cleaning
service.
Alasan
seseorang memilih pekerjaan tersebut, Stress dan Porter (1975) menjelaskan sebagai berikut: (1) bekerja mengandung makna kebersamaan
atau memberi secara timbal balik. Apapun yang dikerjakan seseorang ia pasti
menerima imbalan jasa yang diberikannya. Imbalan ini dapat bersifat intrinsik,
seperti kepuasan pribadi yang dirasakannya telah memberikan jasa itu. Dalam dua
hal itu seseorang melakukan pekerjaan yang mempunyai harapan pribadi mengenai
jenis dan jumlah imbalan yang akan diperoleh dari jasa yang diberikan itu.
Seberapa jauh harapan itu mempunyai kecenderungan untuk melanjutkan pekerjaan
pada tingkat kegiatan yang serupa ataupun tidak; (2) bekerja mengandung fungsi sosial tempat
bekerja, yaitu tempat ketemu dengan orang lain serta tempat membina
persahabatan; (3) pekerjaan merupakan sumber status sosial dalam
masyarakat. Karenanya berfungsi sebagai faktor penentu diferensiasi sosial dan
juga sebagai faktor pembentuk kekompakkan sosial dan; (4) bekerja mengandung makna bersifat
pribadi, yakni sebagai sumber identitas, harga diri dan tempat pembaktian
kemampuan diri. Pekerjaan akan menimbulkan rasa puas ataupun menjadi sumber
frustasi dan kebosanan.
Pada
bagian lain dari tulisan, Stress dan Porter (1975) mengungkapkan tiga teori yaitu: status factor theories (teori kepuasan),
incentive theories ( teori insentif)
dan intrinsic theories (teori
intrinsik). Teori kepuasan menjelaskan bahwa seorang pekerja yang merasa puas
terhadap pekerjaannya akan bekerja lebih produktif atau sekurang-kurangnya
mereka cenderung tetap bekerja di tempat itu (tidak berkeinginan untuk pindah
pekerjaan). Teori insentif mendasarkan pada prinsip pemantapan (reinforcement), yaitu orang akan bekerja
secara lebih produktif kalau diberi imbalan atau dorongan (mendapatkan hasil
yang memuaskan). Dengan perkataan lain, teori ini menyatakan bahwa seseorang
akan bekerja lebih produktif dalam pekerjaan apabila memperoleh imbalan
(umpamanya uang) sesuai dengan yang diharapkannya. Sedangkan teori intrinsik
mengetengahkan bahwa manusia akan bekerja lebih produktif kalau diberi
pekerjaan yang bermanfaat dan diberi tanggung jawab dalam mengerjakannya.
Sebagai
implikasi dari teori tersebut dapat digunakan sebagai bahan pemikiran agar
tenaga kerja itu tetap mencintai pekerjaannya. Mengacu pada teori tersebut,
maka tenaga kerja perlu mendapat perhatian dan motivasi agar merasa bangga atau
puas sebagai pekerja, dan perlu ditunjukkan bahwa pekerjaan itu tidak lebih
rendah dari pekerjaan lainnya, seperti guru, TNI, POLRI, petani, nelayan, buruh
dan swasta. Namun, masalah yang ada pada tenaga kerja tampaknya tidak hanya
berkaitan dengan nilai pekerjaan dan motivasinya dalam bekerja pada industri,
melainkan yang lebih mendasar yang dihadapi oleh setiap tenaga kerja adalah
luas pengetahuan yang dinilainya sudah tidak memadai lagi, atau berubah fungsi.
Tenaga kerja kebanyakan adalah sekedar meneruskan usaha orang tuanya; sedangkan
pekerja yang berpandangan sempit akan semakin tersisih.
Industri
tekstil yang berada di Jatiluhur dapat melahirkan perluasan jaringan sosial,
baik antara masyarakat setempat mapun dengan masyarakat pendatang. Karena
mereka sangat menyadari bahwa manusia berfungsi sebagai makhluk sosial. Artinya
tidak terlepas dari bantuan dan pertolongan orang lain. Hal ini ditandai dengan
berdirinya rumah-rumah petak untuk disewakan, bermumculan biro-biro jasa,
membuka kursus keterampilan. Alasan terjadi peningkatan mata pencaharian pada
sektor jasa dan perdagangan antara lain: (1) agar bisa membantu mempermudah para pekerja pabrik
untuk membeli barang atau makanan yang diperlukan; (2) bekerja sambil berjualan dan; (3) sarana untuk berjualan sudah disediakan
oleh pemilik pabrik.
Dalam
kaitannya dengan peningkatan mata pencaharian pada sektor jasa dan perdagangan,
maka kepindahan mereka bukan hanya perubahan selera tetapi di sektor non
pertanian memberikan kemungkinan atau peluang untuk kelangsungan hidupnya.
Dengan adanya industri, sektor jasa perdagangan dan pembangunan gedung untuk
perkantoran ataupun perumahan penduduk walaupun upah yang rendah sekalipun,
merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka.
Adanya
sebagian tenaga kerja yang motivasi, pendidikan dan taraf hidupnya rendah,
disebabkan oleh karena mewarisi nilai hidup dari orang tua ataupun nenek moyang
yang kurang mendukung tumbuhnya motivasi yang tinggi. Sebagaimana dikemukakan
oleh De Jong (dalam Street dan Porter, 1975) bahwa masih banyak nilai-nilai hidup
tradisional yang terus berkembang sekalipun sudah tidak sesuai lagi, seperti
hidup harus pasrah, alon-alon waton kelakon dan lain-lain. Akibatnya banyak
orang tidak bergairah bekerja keras, dan lebih senang pasrah (menerima apa
adanya). Hasil penelitian Scihimura (dalam Soemardjan, 1983) di beberapa desa di Jawa memperlihatkan
bahwa tujuan orang bekerja bukan untuk memperoleh uang atau semata-mata
keuntungan, melainkan untuk mencapai kesempurnaan bagi kehidupan setelah mati.
Sesungguhnya
nilai-nilai hidup tradisional yang masih dikembangkan tidak selalu bermakna
negatif, tetapi orang memiliki sikap apriori dan tidak memahami kandungan makna
yang sebenarnya. Antara lain seperti, alon-alon waton kelakon makna yang
dimaksud agar orang setia pada tujuan; apapun yang terjadi tetap mengusahakan
sampai tujuan tersebut tercapai. Contoh lain, perlunya orang memiliki timbal
rasa, prinsip ini sering diartikan sebagai sikap yang tidak berani bertindak,
pada hal makna yang dimaksud agar setiap orang menghormati satu sama lain, agar
terjaga juga tercipta hubungan yang harmonis, tidak saling bermusuhan.
2.
Pola Pengembangan Sumber
Daya Manusia
Masyarakat
yang bergerak menuju industrialisasi di samping meningkatnya jumlah
spesialisasi pekerjaan juga status cenderung berdasarkan atas prestasi yang
diperoleh, terutama melalui jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun
non formal. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Jatiluhur yang tadinya status
didasarkan atas asal usul orang tua kini mulai bergeser melalui prestasi.
Artinya para orang tua tidak lagi mewariskan nilai-nilai seperti itu kepada
anak-anak mereka, di mana rata-rata mereka menyelesaikan pendidikan sampai SLTA
agar dapat bekerja di pabrik industri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Selo
Soemardjan (1983:53) bahwa ciri-ciri masyarakat modern antara lain: (1) hubungan antara manusia terutama
didasarkan atas kepentingan pribadi; (2) hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara
terbuka dalam suasana saling mempengaruhi; (3) kepercayaan kuat pada manfaat ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat; (4) masyarakat mengelompok menurut macam-macam
profesi serta keahlian masing-masing yang dapat dipelajari dan ditingkatkan
dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan dan; (5) tingkat pendidikan formal adalah tinggi
dan merata.
Berdasarkan
pendapat tersebut maka mulai tampak kenyataan ini pada masyarakat Jatiluhur.
Mereka mulai menyadari akan perlunya pendidikan, baik formal maupun non formal
terutama bagi kelangsungan hidup anak-anak mereka yang ditandai dengan
meningkatnya lulusan SLTA, terutama setelah berdirinya pabrik-pabrik tekstil.
Walaupun ke sekolah cukup jauh, yakni mencapai 7-10 Km dari Kecamatan Jatiluhur ke Purwakarta. Begitu
pula dengan bursa ketenaga kerjaan memperlihatkan besarnya pencari kerja
lulusan SLTA, sarjana muda, dan sarjana jurusan tertentu. Di satu pihak
tingfkat pendidikan di Jatiluhur pada umumnya rendah akan tetapi di pihak lain
tenaga kerja terdidik sukar memperoleh pekerjaan yang s esuai. Tenaga lulusan
dan putus sekolah umumnya usia muda, belum memiliki keterampilan khusus dan
belum mempunyai pengalaman kerja. Mereka membutuhkan latihan khusus juga perlu
menselaraskan pengetahuan dan pengalaman dengan dunia kerja.
Dalam
jangka panjang diperlukan perencanaan dunia pendidikan yang berorientasi pada
pasar kerja. Namun betapapun pendidikan formal direncanakan, sangat sulit untuk
mampu menyediakan ketenaga kerjaan yang otomatis cocok dengan dunia kerja.
Dunia pendidikan umumnya memerlukann waktu yang relatif panjang sedang
teknologi berubah lebih cepat. Dunia pendidikan yang dirasakan cocok dengan
teknologi sekarang, namun beberapa tahun mendatang sudah ketinggalan zaman. Di
samping itu, sistem pendidikan tersebut sangat mahal, sedangkan relevansinya
akan segera out of date. Oleh sebab
itu perlu diambil langkah peningkatan dan pengembangan latihan kerja serta
perlu ada peningkatan pembinaan terhadap lembaga latihan kerja serta perlu ada
peningkatan pembinaan terhadap lembaga latihan swasta. Juga perlu dikembangkan
sistem latihan untuk mandiri, yaitu melatih seseorang untuk mampu menciptakan
pekerjaan sendiri. Dalam hubungan ini perusahaan besar diharapkan terus
berpartisipasi dalam menyediakan fasilitas latihan, bukan saja cukup untuk
memenuhi kebutuhan di perusahaan kecil yang tidak mampu menyediakan fasilitas
latihan sendiri.
Orientasi
pendidikan masyarakat Jatiluhur setelah tahun 1990-an mengalami beberapa perubahan, yang
salah satunya ditandai dengan semakin banyaknya anak-anak tanatan Sekolah Dasar
yang meneruskan ke Sekolah Menegah Pertama, Sekolah Menegah Atas ataupun
kejuruan bahkan sampai Perguruan Tinggi. Hal ini membuktikan bertambah besarnya
kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena mereka mempunyai
keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi yang sangat berharga di masa
mendatang juga merupakan suatu sarana yang utama untuk membuka kesempatan baru
terutama menyangkut perbaikan nasib anak-anak mereka.
Dalam
menganalisis pergeseran orientasi pendidikan masyarakat sesudah dan sebelum
adanya industri tekstil dikemukakan oleh Soedjatmoko (1990) antara lain: (1) meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan mereka yang sudah keluar dari lembaga pendidikan (lulusan maupun
putus sekolah) sehingga dapat memasuki lapangan kerja; (2) meningkatkan pengetahuan dan teknologi
tenaga kerja yang sudah bekerja; (3) menyiapkan generasi yang akan datang agar mampu
berperan serta secara aktif dalam pembangunan, baik ekonomi maupun sosial.
Selanjutnya pendidikan macam apa yang diperlukan pada masa mendatang yakni
lebih menyangkut “spirit” jiwa pendidikan. Pertama cara mendidik harus mengakui
dan menerima individualitas setiap anak didik dan mencoba merangsang mereka
untuk berpikir sendiri secara kritis dan kreatif. Selanjutnya yang harus
diutamakan ialah bukan soal ahli pengetahuan melainkan peningkatan kemampuan
belajar bangsa dan belajar seumur hidup tanpa hentinya. Sistem pendidikan perlu
disesuaikan dengan keperluan industrialisasi yaitu proporsi sarjana teknik
untuk mengisi keperluan dalam usaha industrialisasi serta berbagai bidang ilmu
dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling besar dampaknya atas
perkembangan masyaraktaat dan keadaan manusia dalam pembangunan yang akan
datang, adalah bidang bioteknologi makro, elektronika dan informatika.
3.
Pola Kehidupan Keluarga
Kehidupan
keluarga pada hakekatnya merupakan suatu ikatan persekutuan hidup yang terjalin
atas dasar suatu perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita, mereka
hidup bersama-sama dengan anak-anaknya dalam suatu rumah tangga. Begitu pula
halnya dengan masyarakat Jatiluhur yang semula merupakan keluarga kecil yang
terdiri atas ayah, ibu dan anak, terutama setelah wilayah ini menjadi sentra
industri mengalami beberapa perubahan, salah satunya menjadi keluarga besar.
Artinya disamping ayah, ibu, dan anak-anak mereka juga ditambah dengan
keberadaan keponakan, sepupu, ipar dan juga kerabat dekat lainnya. Tujuannya di
samping untuk memudahkan pergi ke tempat bekerja juga untuk menghemat
pengeluaran keuangan dibanding ngontrak
rumah milik orang lain yang tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Hal ini
juga sesuai dengan pendapat Pasaribu dan Simandjuntak (1982:67) bahwa modernisasi maupun industrialisasi
berpengaruh terhadap pola kehidupan keluarga seperti dalam hal sekuritas,
proteksi anggota, aspek rekreasi dan aspek afektifnya.
Perubahan
sosial yang terjadi dalam era globalisasi dan industrialisasi juga berjalan
secara wajar dan tidak bisa ditolak, gambaran dari perubahan keluarga manurut
Moore (1973:2) bercirikan antara lain: (1) bagi kehidupan keluarga, perubahan cepat
berlangsung atau berlaku secara tetap; (2) perubahan itu bersifat sementara maupun
terpencil secara spatial, karena perubahan terjadi dalam rangkaian runtut bukan
sebagai krisis sementara yang diikuti oleh masa rekonstruksi diam-diam, dan
akibat perubahan cenderung bergema ke seluruh kawasan masyarakat; (3) karena perubahan pada masa itu mungkin
berlaku dan akibatnya bermakna di manapun, maka perubahan tersebut memiliki
azas ganda; (4) proposisi perubahan semasa yang berencana, atau
isu-isu akibat inovasi yangs engaja dilaksanakan akan lebih tinggi proporsinya
dibandingkan pada masa lalu; (5) lingkup teknologi materi dan strategi sosial
menyebar pesat yang akibat bersihnya adalah bertambah secara kumulatif walaupun
beberapa tatacara atau prosedur relatif lebih cepat menjadi basi; (6) kejadian normal dalam perubahan
mengakibatkan bagi suatu pengalaman individu yang lebih luas dan aspek
fungsional masyarakat dalam dunia modern bukan karena masyarakat seperti itu
lebih terintegrasi dalam banyak hal, tetapi karena tidak ada gambaran tentang
ciri hidup yang bebas dari kebiasaan perubahan.
Bertitik
tolak dari pemikiran tersebut, maka perubahan yang berarti dalam kehidupan
keluarga selama berdirinya pabrik-pabrik tekstil adalah di samping dapat
meningkatnya pendapatan keluarga juga terjadi perubahan waktu yang dipergunakan
sehari-hari. Maksudnya adalah bagi para pekerja pabrik termasuk anggota
keluarganya harus memperhitungkan jam kerja pabrik berdasarkan shift yang sudah diatur dan kerja lembur
bagi mereka yang sudah melebihi 40 jam dalam seminggu.
PENUTUP
Dari
penjelasan di atas kiranya dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Industrialisasi telah
memberikan dampak terhadap pola lapangan kerja yang diawali dengan meningkatnya
kebermaknaan pada lingkungan dan meningkatnya perluasan jaringan sosial juga
meningkatnya penyerapan lapangan kerja di sektor industri kemudian diikuti
dengan meningkatnya persentase penduduk yang bermata pencaharian pada sektor
jasa dan perdagangan.
2. Industrialisasi berdampak
terhadap pola kehidupan keluarga ditandai dengan meningkatnya beban keluarga,
meningkatnya dinamika kehidupan dan pendapatan keluarga kemudian meningkatnya
jumlah anggota keluarga, meningkatnya kualitas kehidupan serta jumlah
penghasilan yang diterima oleh masyarakat. Dengan demikian kesejahteraan
masyarakat meningkat yang sejalan dengan pola perilaku masyarakat yang maju.
3. Industrialisasi memberikan
dampak terhadap pola pengembangan sumber daya manusia yang ditandai dengan
perubahan masa pendidikan yang diselesaikan oleh anggota keluarga dan perubahan
reorientasi tujuan pendidikan yang diikuti oleh peningkatan jumlah lulusan
pendidikan formal maupun non formal dan terjadi pergeseran orientasi pendidikan
yang diikuti oleh peningkatan jumlah lulusan pendidikan formal maupun non
formal dan terjadi pergeseran orientasi pendidikan yang dapat mendorong bagi
percepatan masyarakat menuju industrialisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmawan, A. 1986. Aspek-Aspek
dalam Sosiologi Industri. Bandung: Binacipta.
Garna, Yudistira K. 1997. Teori
Pembangunan menurut Perspektif Dunia Ketiga. Bandung: Primaco Akademika.
_________________ 1999. Teori
Sosial dalam Pembangunan Indonesia. Bandung: Primaco Akademika.
Hagen, E. 1966. On
the Theory of Social Change. Illinois: The Dorsey Press.
Huntington, Sammuel P. 1986. Political
Order in Changing Societies. New Hoven: Yale University Press.
Inkeles. A. 1973. Modernisasi
Manusia dan Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Lavner. 1989. Tata
Perubahan dan Ketimpangan. Jakarta: Gramedia.
Moore, Wilbert E. 1973. Social
Change. Englewood Cliffs: Prentice Hall.
Nazir, Moh. 1985. Metode
Penelitian. Jakarta: Balai Aksara.
Komara, Endang. 2004. Metode
Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Multazam.
Rostow, W.W. 1966. Tahap-Tahap
Pertumbuhan Ekonomi. Diterjemahkan oleh Sitohang Paul. Jakarta: Bharata.
Rusidi. 1993. Pedoman
Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Jatinangor: IKOPIN.
Sidney, Siegel. 1985. Nonparametric
Statistic For The Behavioral Sciences. Terjemahan Peter Hagul. Jakarta:
Gramedia.
Simandjuntak, Pasaribu. 1982. Sosiologi
Pembangunan. Bandung: Tarsito.
Soedjatmoko. 1990. Manusia
Indonesia Menjelang Abad Ke-21 dan Persiapannya. Prospek No. 1 Volume 2 Tahun 1990.
Soedjito, S. 1986. Transformasi
Sosial Menuju Masyarakat Industri. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Soemardjan, Selo; Soelaiman Soemardi. 1983. Setangkai
Bunga Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Soekanto, Soerjono. 1983. Teori
Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Press.
Stress, Porter. 1975. Motivasi
dalam Abdul Karim Sahidu. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Suwarsono, Alvin Y.S.O. 1991. Perubahan
Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.
Tan. 1977. Understanding
Data. Toronoto: McGraw-Hill.
Weber, Max. 1930. The
Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism. New York: Charles Scribner’s
Sons.
Wield, D. 1983. Industrial
Production: Factories and Worker dalam Sociologi New Dierction. England:
Cause Way Press Ltd.
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama Lengkap : Dr. H. Endang Komara, Drs. ,
M.Si.
Tempat tanggal lahir : Purwakarta, 19 Juli 1964
Pekerjaan : Dosen PNS
Kopertis Wilayah IV
Dpk pada STKIP Pasundan Cimahi
Pangkat/golongan : Pembina Tingkat I, IV/b
Jabatan fungsional : Lektor Kepala IVc
Alamat
Rumah : Jl. Jati Indah IV/6 Bandung 40275 telpon 7309887
Kantor : STKIP
Pasundan Cimahi Jl. Permana No. 32B telpon 6628311
Hp. 08122010150
Riwayat Pendidikan :
S1 STKIP Pasundan, Jurusan Pend. IPS, lulus 1990
S2 KBU Ilmu Sosial Unpad, lulus1998
S3 KBU Ilmu Sosial Unpad, lulus 2003
Bandung, 30
Desember 2004
Penulis,
Dr. H. Endang Komara,
M.Si.
NIP. 132007609