|
||
Maret, 2005 |
| Lentera | ||
|
||
|
Melihat tiga orang lelaki asing berdiri di halaman, wanita yang empunya rumah keluar menemui mereka. "Maaf, saya tidak mengenal Anda sekalian. Tapi tampaknya Anda baru saja menempuh perjalanan jauh. Silakan masuk, mari minum teh." Salah satu dari ketiga tamu tak diundang itu menyahut, "Apakah suamimu berada di rumah?" "Oh, dia masih dikantor," jawab yang ditanya. "Kalau begitu, kami tidak mau masuk." Sore hari, ketika suaminya sudah pulang kerja, wanita tersebut kembali mempersilakan para tamunya masuk. "Kami tidak akan masuk ke dalam rumah bersama-sama." "Mengapa demikian?" Salah satu dari ketiga lelaki itu berkata, "Nama dia adalah Harta," ujarnya sambil menunjuk salah seorangtemannya. Kemudian sambil menunjuk temannya yang satu lagi ia berkata, "Kalau di bernama Sukses, sementara saya sendiri adalah Cinta." Ia melanjutkan bicara, "Sekarang, rundingkanlah dahulu dengan suamimu, siapa di antara kami yang terlebih dahulu diundang masuk." Wanita itu masuk kembali ke dalam rumah. Rupanya, terjadi perdebatan di sana. "Suruh saja si Harta masuk duluan, agar rumah ini dipenuhi harta," ujar sang suami. Namun, si istri tidak setuju. "Sayang, kenapa kita tidak mengundang si Sukses saja?" Dari kamar terdengar suara anak gadis mereka mengajukan usul, "Bagaimana kalau kita pilih si Cinta saja. Dengan demikian rumah ini akan dipenuhi cinta." Akhirnya disepakati untuk memanggil Cinta terlebih dulu. Anehnya, begitu Cinta melangkah masuk rumah, kedua temannya ikut. Dengan terheran-heran wanita itu berkata, "Lo, saya kan hanya mengundang Cinta, mengapa kalian berdua ikut?" Mereka menjawab, "Bila Anda mengundang Harta atau Sukses saja, kedua dari kami tidak akan ikut. Tapi karena Anda mengundang Cinta, ke mana pun ia pergi kami akan selalu itu. Di mana ada Cinta, di sana ada Harta dan Sukses." /(*/djs) |
||
|
||
|
Seorang pemrogram komputer yang saya pesan untuk memperbaiki PC di rumah datang terlambat. Katanya, di tengah jalan ban mobilnya kempes. Ketika sedang memperbaiki komputer, bor listriknya macet tak mau berfungsi. Akibat berbagai masalah tadi, ia kehilangan waktu kerjanya hampir dua jam. Rupanya, penderitaannya tak hanya berhenti sampai disini. Persis saatnya mau pulang, mendadak mesin mobilnya ogah distart dan mogok. Agar tidak kemalaman, saya mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan ia tampak termenung sedih atas kesialan yang bertubi-tubi menimpanya hari itu. Sesampainya di depan rumahnya, ia mengajak saya mampir. Saat kami berjalan menuju rumahnya, tiba-tiba ia berhenti sebentar di depan sebuah pohon kecil yang tumbuh di halaman depan. Ia menyentuh ujung-ujung cabang pohon itu dengan kedua tangannya. Setelah itu, raut mukanya menampakkan perubahan besar. Begitu pintu rumah terbuka, wajah yang semula lesu kusam itu mendadak penuh senyuman. Dengan riang dan hangat ia memeluk kedua anaknya serta mencium sang istri yang menyambutnya. Karena penasaran, sebelum berpamitan saya bertanya apa yang dia lakukan dengan pohon tersebut? "Oh, itu adalah pohon masalah saya," jawabnya. Menyadari lawan bicaranya kebingungan, pria ini melanjutkan bicara, "Saya sadar, ada banyak persoalan muncul dalam pekerjaan. Namun, yang pasti segala permasalahan itu bukan milik orang rumah, baik anak maupun istri saya. Itulah sebabnya sore hari setiap pulang dari kantor, sebelum masuk rumah saya selalu menaruh semua masalah atau problem pekerjaan di pohon ini. Keesokan harinya, saya ambil untuk dibawa ke kantor lagi." "Anehnya," lanjutnya sambil tersenyum, "Di pagi hari ketika saya ambil lagi masalah-masalah tersebut dari pohon, rasanya tidak lagi seberat seperti ketika saya taruh kemarin sore." /(Stories for a Man's Heart/djs) |
||
| Tips | ||
|
||
|
Manusia memang tidak bisa merasa terus-menerus bahagia. Namun, yang perlu diusahakan adalah membangun kondisi emosi yang stabil. Dengan demikian, seseorang tidak mudah menjadi terlalu gembira atau teramat sedih. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencapainya:
|
||