Selamat Ultah Jakarta yang ke 400 lebih

 

Naik mercedez benz

Tuut tuuut

Siapa hendak turut

Ke Woodland

Kuala Lumpur

Bolehlah naik dengan percuma

(wong bukan mobil saya)……

 

di sela-sela hiruk-pikuk lebatnya hutan beton

kota Melayu dan Singa ini

teringat gedung-gedung kumuh di negriku sendiri

 

Gedung yang berdiri dari keringat rakyat

Atau hasil manipulasi kotor pejabat

dan pemain bisnis

Gedung tinggi megah

Tak bisa berdiri hanya dari kantong pribadi

 

Di sela kebisuan beton-beton Jakarta

Teringat ketika kamtib mengejarku

Karena berjualan dipinggir jalan

Anak-anak kecil yang ceria di bawah

Terik matahari dan gerimis

mengamen di lampu merah

 

Om-om berdasi penderita “busung lapar”

Mencari mangsa ayam mulus di halte-halte

Gadis-gadis penjaja birahi berseragam SMA

Menatap penuh harap pada mobil mewah

 

Di Jakarta

Semua bisa menjadi pelacur

Aku pernah ditawari pengurus camat

“Lu bisa jadi da’i kondang kalau ada duit buat

mancing jama’ah, bayar radio atau TV atau

membayar sekian-sekian ke pengurus masjid.”

Edan!

 

Di Jakarta

Semua hati mati

Ketika aku dikeroyok gerombolan pencopet

Yang mencoba mencopet dompet bapak tua

Siapa bisa berteriak keras

Dialah pemenangnya

Siapa bisa meyakinkan massa

Dialah yang benar

Persis sinetron kacangan Indonesia

 

Di Jakarta

“Lu” bisa sukses menguasai Indonesia Raya

“Lu” bisa kejeblos masuk selokan neraka

 

Segepok ilmu dari Mekkah

Setumpuk hikmah dari Mesir

Segudang ma’rifat dari pesantren

Belum bisa menaklukan Jakarta

 

Penjual asongan di pinggir jalan

Sudah pasti lebih mulia daripada

Mentri bertitel haji atau karyawan

Penjilat atasan

 

Di Jakarta

Gudangnya menteri-menteri bodoh

Pejabat-pejabat penjilat

Tak tahu duit siapa untuk siapa

Yang penting pas ada di tangan

“Embat saja”.

Sementara nun jauh di kampung

Bayi-bayi kelaparan disuburkan

Sementara di kampung-kampung

Orang dewasa tak tahu

Bagaimana caranya buang air besar

Berak saja harus diajari

Buang sampah saja tak mengerti

 

Jakarta

Aku takut melihatmu

Bagai kota vampir

Satu digigit, pasti yang lain tertular

 

Ketika sejuknya pepohonan antara

Larkin dan JB menyertaiku

Teringat ketika asap kotor menyelimuti tubuhku

Dalam bus kota

Ondel-ondel menyapa dalam kebisuan

 

Bukan berarti aku tak rindu kampung halamanku

Naik Mercedez benz tak ada enaknya

Aroma kapitalisme dan kolonialisme

Terasa menyengat dalam kabinnya

 

Sware, gerobak sapi di Jogja lebih mengasyikan

 

Naik gerobak sapi

Tuut tuut tuut

Siapa hendak turut

Ke Ngasem

Beringharjo

Bolehlah naik dengan percuma….

 

Andai mesin waktu itu ada

Akan kuubah semuanya

Ke jaman gerobak sapi

 

Wassalam

Hosted by www.Geocities.ws

1