Sebuah Pulau Bernama Sorga

Oleh: M. Abdullah

[email protected]

 Sebenarnya sudah lama saya ingin mengangkat kisah nyata ini dalam sebuah tulisan tapi karena kesibukan, baru sekarang bisa terlaksana..

 Saya beri judul tulisan ini sesuai dg yg tertera di atas, karena memang ada sangkut pautnya dg sebuah pulau dan juga ada kaitannya dg sorga.

 Pulau yg saya maksud adalah sebuah pulau yg teramat sangat kecil sekali, berjarak sekitar 1500 km dari Nairobi, Kenya, ke arah timur. Mungkin kalau kita punya kotak kayu yg panjangnya 35km dan lebar 35 km, sudah lebih dari cukup untuk mengurung pulau tersebut. Saking kecilnya pulau ini, kalau kita lihat di peta dunia atau globe, maka sebuah titik dari pena kita, akan terlalu besar untuk mewakili kehadirannya. Tapi kalau anda pernah mendengar nama Muaritius, akan mudah menemukan pulau tsb, sebab posisinya tepat di sebelah utara gugusan kepulauan Mauritius yg kecil-kecil dan Madagaskar. Tapi kalau anda terbang dari Mauritius akan memakan 3 jam lama di pesawat. Pulau apakah gerangan?

 Kepulauan itu punya induk bernama bernama Mahé. Namanya sedikit berbau India, mungkin karena banyaknya pedagang yg mayoritas originally Indiahé. Nah, pulau Mahe yg lebih kecil dari titik pena ini, mempunayi “adik” yg ukurannya separo lebih kecil lagi. Praslin (baca: Pralé) namanya. Namanya berbau ke prancis-prancisan, mungkin karena dulu bekas koloni Perancis. Dan pulau Praslin  punya “adik” lagi yg ukurannya separo lebih kecil dari sang kakak. Ladigue namanya. (baca : Ladik). Ketiga kakak-beradik tsb di dunia pariwisata lebih populer dipanggil dg nama Seychelles (baca : sésel). Dan masih banyak lagi pulau-pulau kecil lainnya, yg jumlahnya puluhan, seperti Bird Island (pulau khusus untuk burung), Al Dabra, Cousin, Fregate, Silhouette, Desroches.  dll.

 Pada jaman dulu, di kala bangsa Arab menguasai dunia, Seychelles ini disebut dg nama yg lebih musical, Zarin (baca: Zarin). Melihat dari dalam, kita akan disuguhi oleh pemandangan yg benar-benar menakjubkan. Sebuah kehidupan yg harmoni antara human civilization dan wild society. Antara manusia yg sibuk dg aktifitasnya sehari hari dg binatang-binatang liar yg hilir-mudik menjalani ritme naluri hewani, bisa hidup mesra berdampingan.

 Ketika saya dulu pertama datang ke negara tsb, suasana sunyi menghiasi negara ini. Bayangkan, negara ini hanya berpenduduk 80.000 jiwa. Dan mereka tersebar di perbukitan, hutan, lembah dan pantai. Dan pertama-tama kesan yg muncul ketika berkeliling pulau Mahé, adalah kesan meremehkan. “Negara apa ini, kok sepi banget”. Protes saya ketika itu. Kesan menyeplekan itu makin menjadi-jadi ketika mencoba berkeliling ibukota negara tsb, yg benama Victoria.

 Biasanya kalau kita bertemu dg kata “ibu kota” maka yg muncul di benak kita adalah sebuah kota besar dg gedung-gedung pencakar langit dan kesibukan manusia-manusia yg berusaha merubah nasib, plus mobil-mobilnya yg membuang gas emisi dan alunan music klaksonnya yg bertan tan-tin tin. Tapi di Victoria, ibu kota Republic of Seychelles ini, jangankan gedung pencakar langit, gedung berlantai 4 saja sulit sekali carinya.

 Dan tak ada itu, manusia-manusia yg berjalan cepat mengejar waktu, macam di Jakarta, Hongkong, Bangkok, Singapore, KL, Perth, Melbourne, Bojong Gede atau mBantul. Tapi jalan mereka memang lebih cepat dari orang jawa, karena faktor genetika : kaki mereka sangat panjang-panjang. Maklum, ras Afrika.

 Setelah beberapa bulan berdomisili di pulau Seychelles tsb, rasa meremehkan berubah menjadi rasa salut dan kagum. Kenapa? Banyak sekali kelebihan pulau ini dibandingkan “pulau-pulau” di negara lainnya. Salah satu contohnya adalah seperti yg sudah saya sebut di atas, kehidupan yg harmonis antara manusai dan alam. Ada semacam kesadaran lokal di antara para penghuni pulau ini untuk saling melindungi alam dan hewan.

 Pagi hari, setiap saya bangun tidur, berbagai macam kicauan burung menghiasai atmosfir sekeliling. Mulai dari burung emprit, tekukur, jalak, merpati, colibri, perkutut, murai, kepodang dan berbagai macam burung lainnya yg tak saya kenal namanya, bebas berterbangan di depan jendela rumah, hinggap di daun pintu, bertengger di tali jemuran dan belompatan di ranting-ranting pohon yg rindang, sambil tak jemu-jemunya memarekan kebolehan mereka berkicau.

 Bukan hanya di ranting-ranting pohon, di depan jendela atau halaman rumah, para burung-burung itu juga sangat agresif berunjuk rasa di keramaian manusia, seperti pertokoan, pasar, terminal dan perkantoran. Bukan hal aneh kalau kita sedang belanja di pasar, yg berlau-lalang di situ bukan hanya manusia, tapi juga burung-burung camra, bangau dan cicak rowo. Dg cueknya mereka mondar-mandir berloncatan di atas barang-barang dagangan sambil memperhatikan manusai yg sibuk berjual beli dan sekali-sekali mengeluarkan komentar. Tentu saja, dg bhs burung.

 Jika anda sedang asyik-asyiknya mengendara mobil di Pulau ini, jangan kaget kalau tiba-tiba ada kura-kura sebesar bom-bom car berlenggang kangkung menyebrang jalan. Dan jangan coba-coba menyeruduk binatang pra sejarah itu, sebab polisi tempatan akan menciduk anda tapa basa-basi. Ya, memang di negara ini kesejahteraan binatang sangat diperhatikan. Hak hidup mereka sangat dilindungi oleh undang-udngang. Barangsiapa yg ketahuan menghilangkan nyawa binatang yg dilindungi diancam dg kurungan selam-lamanya 2 tahun.

 Seandainya  pun undang-undang tsb tidak ada, masyarakat di sini memang sudah terdidik untuk melindungi para satwa. Dalam satu keluarga, mulai dari kakek buyut sampai cicit-cicitnya, tak ada yg berkeingingan menangkap burung dan menaruhnya di kurungan. Mulai dari presiden sampai tukang sapu jalanan, tak ada yg punya niat menagnkap kura-kura atau penyu laut untuk dijadikan souvernir. Semua penduduk mempunya kesadaran majemuk untuk membiarkan hewan-hewan itu bebas berkeliaran. Makhluk-makhluk tsb diperlakukan sbg warisan alam, “national heritage”, yg adalah kewajiban bagi masing-masing induvidu untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dan bukan hanya itu, kesadaran menjaga hak hidup hewan-hewan melata yg tidak mengganggu juga turut dilestarikan, seperti kadal, biawak, dan hamster.

 Secara hukum 3 jenis hewan tsb tak dilindungi, tapi masyarakant Pulau ini tak nak iseng-iseng mehusik mereka. Malah untuk jenis kadal, kita bisa jumpai di mana-mana. Di tempat saya tinggal pun, banyak berkeliaran kadal-kadal dg bebasnya. Kadang-kadang kadal itu berjalan-jalan di depan pesawat TV, naik ke tempat tidur atau berkejar-kejaran di ruang tamu. Mereka tidak takut manusia sama sekali, sebab manusia sini tidak suka membunuh, apalagi menyakiti mereka.

 Coba bandingkan dg kehidupan hewan-hewan di negara kita. Saya sendiri sampai sekarang masih heran tak ada habisnya, kenapa  orang-orang kita begitu “hobby” nya mengejar-ngejar burung dan mengurungnya dalam sangkar. Tak  terkecuali tua, muda, kalau melihat burung berkicau terbang di ligkunagn mereka, mereka dg semangat millenium mengejar burung tsb.

 Malah saya amati banyak anak-anak yg punya naluri membunuh in the first place. Bukan pemangdangan yg aneh kalau ada anak-anak membawa ketapel dan menembak setiap burung yg mereka lihat. Bukan hal asing kalau ada anak-anak remaja dan tua menenteng senapan angin dan menembak setiap burung merpati milik siapa saja yg  mereka lihat. Belum pernah saya lihat ada orangtua yg melarang anak-anaknya supaya jangan menyakiti cecak-cecak yg merayap di dinding, atau memukuli kadal yg lewat di depan mereka.

 Singkat kata, orang-orang kita dari sabang sampai meraouke sangat sombong dg jati diri mereka sbg manusia dan menganggap hewan-hewan tak boleh memiliki hak hidup, dan tak boleh memiliki kebebasan. Akibatnya jangan heran kalau binatang-binatang itu tak ada yg secara “ikhlas” mendoakan kita. Sehingga kita terus menerus dilanda kirisis. Bukankah setiap binatang di dunia, terutama burung-burung bertasbih memuji keagungan Tuhan setiap mereka berkicau? Mereka bertasbih dg bahasa mereka sendiri, yg terdengar di telinga kita adalah kicauan yg merdu. Seandainya burung-burung itu dibiarkan bebas, tak terusik batu ketapel atau suara senapan, pasti mereka akan bertasbih lebih merdu, tanpa rasa ketakutan. Akibatnya dg senang hati Tuhan menurunkan rahmatNya, berupa kemakmuran, kesejahteraan dan kestabilan ekonomi.

 Kalau kita baca tanda-tanda alam, kita bisa lihat, rata-rata negara yg ekonominya stabil, rakyatnya sejahtera dan makmur, mereka begitu concern dg kehidupan hewan. Terutama burung-burungnya. Dg kata lain, mereka biarkan burung-burung itu bebas terbang, berkembang biak dan berkiacau, bertasbih memuji nama Allah.

 Lihatlah di Korea Selatan sana, sebuah negara Asia yg terkenal dg industrinya, burung-burung berwarna-warni bebas terbang tanpa rasa takut di antara kerumunan manusia. Pernah seorang kawan saya dari Lombok, yg sedang bekerja di Korsel dg sengaja menangkap seekor burung kepodang. Rekan kerjanya yg Korea memarahinya dan menyuruhnya melepas kembali burung itu.

 Lihat pula Jepang, negara yg terkenal bengis pada Perang Dunia II, rakyatnya tak suka menangkap, menyakiti burung-burung, dan akibatnya ekonomi Jepang melejit bersaing dg Amerika. Dan di Amerika sendiri, negara yg paling banyak musuhnya, begitu “cuek”nya dg kesejahteraan binatang-binatang, membiarkan mereka menikmati dunia binatang mereka. Dan tak bisa diingkari, negara ini mengalami “obeysity”, kegemukan akibat terlalu makmur. Di Perancis? Jangan tanya lagi. Burung-burung dg bebasnya bisa bertengger di pundak manusia yg belum pernah dilihat sebelumnya. Dan Paris melambung dg mode-modenya.

 Dan bayak lagi negara-negara yg kecipratan rahmat Allah akibat tasbih dan do’a burung-burung. Tidak peduli apakah negara itu sekuler, Agnostic, Komunis atau Islam. Selama hewan-hewan diberi hak hidup untuk bebas berkembang biak, bernyanyi dan bertasbih, selama itu pula rahmat Allah akan menyelimuti “pulau” tsb.

 Seperti Pulau Seychelles ini, penduduknya hanya 80 ribu jiwa, tapi jumlah burungnya mencapai jutaan. Bayangkan, sendainya ada 1 juta burung saja yg mendoakan 80 ribu orang, maka satu orang akan didoakan oleh 12,5 burung. Jadi jangan heran kakau kesejahteraan di pulau ini begitu terjamin. Mulai dari TK sampai perguruan tinggi, tak sepeserpun muridnya harus membayar. Semuanya dijamin oleh negara. Siswa-siswi yg ketahuan pandai, setelah tamat SMU akan mendapat beasiswa ke perguruan-perguruan tinggi di Singapore, USA, Inggris atau Australia.

 Apabila ada yg sakit & perlu pengobatan, sang dokter dan perawat dg senang hati meladeni pasien. Tak pandang bulu apakah itu sakit demam, malaria, darah tinggi, kurang darah, lever, kanker atau cuma korengan dan gatal-gatal, semua mendapat pelakuan yg wajar. Dan, ini dia : Tidak perlu BAYAR, baik untuk pendaftarannya, konsultasinya, diagnosisnya, perawatannya, dan pengobatannya, semua dijamin pemerintah. Justru ketika seseorang telah menjadi manula 63 th dan ke atas, akan diberi uang tunjangan sebesar 1400 rupee setiap bulannya. Entah manula tsb pensiunan pegawai negri atau memang pengangguran sejak dini. Mau tahu berapa itu 1400 rupee? Itu sama dengan sekitar 2 juta rupiah.

 Singkat cerita, segala keperluan sosial masyarakat Seychelles ini dijamin dan disediakan oleh negara. Segala urusan birokrasi, mulai bikin KTP, akta kelahiran, NPWP sampai persyaratan jadi calon presiden tidak perlu keluar duit.

 Bandingkan lagi dg negara kita….

Tak sanggup rasanya tangan saya ini menulis begitu banyaknya penderitaan dan beban rakyat Indonesia ketika berurusan dg birokrasi atau berurusan dg sesama rakyat sendiri. Mulai dari bikin KTP, SIM, Paspor atau sekedar ambil ijazah harus keluar uang (baca : Sogok). Mulai persyaratan jadi lurah sampai persyaratan jadi presiden harus bayar (baca : suap). Mulai dari sekolah TK sampai sekolah yg tinggi-tinggi wajib keluar duit. Singkatnya, kehidupan sosial dan ekonomi rakyat Indonesia tidak dijamin oleh negara. Rakyatnya sejak dini harus membanting tulang untuk memperkaya para pejabat negara, anggota legislatif, aparat keamanan dan penegak hukum.

 Ditambah lagi penyakit kronis masyarakatnya yg sedikit sekali menghargai hak hidup sesama manusia. Tidak jarang kita dengar berita ada pencuri ayam atau pencuri jemuran atau pencuri motor yg dihabisi nyawanya dg dibakar hidup-hidup. Tidak jarang terjadi pertumpahan darah antar suku hanya karena kebun singkong atau jatah preman.

 Melihat nasib bangsa Indonesia dari luar memang sangat memprihatinkan. Jadi memang tidak mengherankan kalau orang-orang luar mempunya asumsi yg sangant negatif tentang Indonesia : Sarang korupsi, sarang kebringasan, tempat cuci uang, negara tak berhukum tak menghargai hak asazi dlsb… dlsb…

 Merasakan kedamaian dan kesejahteraan negara Seychelles ini, rasanya tak ingin saya kembali ke Indonesia, melihat kebrutalan, melihat ketimpangan sosial, melihat bus kota yg dijejali penumpang yg diperlakukan seperti ayam, melihat kereta ekonomi yg jalannya sangat lambat, padat dan sesak manusia, melihat polisi yg sesuka hati membacking judi, melihat poster-poster porno di keramaian kota, melihat anak-anak yg sesuka hati membunuh burung-burung, melihat burung-burung yg diperkosa hak asasinya dalam sangkar-sangkar, melihat orang yg bebas merokok baik dalam ruang pertemuan warga RT atau tingkat eselon tinggi dan bus kota yg reot.

 Melihat Seychelles, hati kita terasa tentram, mata kita terasa sejuk. Jadi tidak heran kalau para pengunjung ke negara ini menjulukinya sebagai “Paradise”, sorga.  Padahal para pengunjung itu bukan datang dari negara-negara penuh konflik, tapi dari negara  yg kesehahteraannya dan kesorgaannya tak perlu diragukan. Dan ketika mereka datang ke Seychelles, julukan “sorga” keluar secara refleks dari mulut mereka.

 Dan boleh percaya, boleh tidak percaya, selama saya 9 bulan berdomisili di di negara ini belum pernah saya lihat poster porno yg ditempel terang-terangan di depan publik atau gedung bioskop. Belum pernah saya lihat orang-orang bermain judi koprok atau dadu atau main kartu dg uang secara terang-terangan, belum pernah saya lihat polisi memalak uang di lampu merah, belum pernah saya lihat pelacur mencari mangsa di pinggir jalan, walaupun tak ada lokalisasi. tidak ada wanita yg suaranya diganjen-ganjenin, baik di TV, radio, di kampus-kampus atau pasar. Belum pernah saya lihat anak-anak membunuh binatang, belum pernah saya lihat burung-burung dikurung dalam sangkar, belum pernah saya lihat ada rumah mewah berpagar tinggi dan rapat  karena takut pencuri. Rumah semewah apapun tak ada yg dikurung pagar atau dijaga satpam. Mobil semewah apapun tak ada yg dipasangi alarm atau kunci ganda. Bukti betapa terjaminnya keamanan. Penduduknya tak ada yg berniat atau ingin, baik secara iseng atau sengaja, menguasai hak milik orang lain.

Mengenai rokok, belum pernah saya lihat orang merokok di bus kota, di ruang tunggu atau di dalam rapat-rapat. Bukan tak ada perokok. Ada perokok, tapi pemerintahnya pandai membuat rakyatnya tidak suka rokok. Harga rokok dibuat sangat mahal, sehingga ada rasa sayang membelanjakan uang untuk membakar tambakau. Satu bungkus rokok lokal yg paling murah berharga sekitar 30 ribu rupiah. Rokok impor paling murah 40 ribu rupiah.

 Semua nilai luhur kemanusaan itu, ada di negara ini, walaupun mayoritas penduduknya beragama Katholik dan sistem pemerintahannya beraliran sosialis. Dari segi agama, ini satu bukti kalau rahmat Allah tidak akan turun kepada particularly hamba-hamba NYA yg muslim, tapi generally kepada siapa saja yg mau berakhlakul karimah, menurut masing-masing ajarannya. Dan tafsiran iman dan taqwa itu oleh penduduk Seychelles bukan hanya berlaku di gereja mereka, tapi dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghargai hak milik orang lain, menghargai hak hidup orang lain dan menghargai hak hidup makhluk-makhluk lain, seperti binatang dan burung-burung.

Malah di Seychelles ini, ada sebuah pulau, Bird Island, namanya, yg khusus dipakai untuk konservasi burung. Tak boleh ada yg tinggal di sana, kecuali burung dan karyawan yg mengurusnya. Berbagai jenis burung hidup bebas dan bertetangga di sana.

Walaupun menurut Islam segala perbuatan mereka itu di akherat nanti bathil, karena berdasar keimanan yg salah, tapi efeknya di dunia tetap sesuai dg sunatullah dan hukum alam. Dan saya berani mengatakan bahwasannya kemakmuran pulau sorga ini juga didukung sepenuhnya oleh burung-burung yg tiap waktu bertasbih memuji nama Allah, baik pagi, siang maupun malam. Akibatnya rahmat-Nya turun tak ada habis-habisnya, dari darat, laut dan udara.

 Bagi bangsa beragama di Indonesia saya kira ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjabarkan keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar ucapan di masjid-masjid atau gereja-gereja.

 Biarkanlah hukum berjalan sebagaimana mestinya, tak perlu direkayasa. Biarkanlah barang milik orang lain menjadi milik orang lain, jangan ada niat untuk merampasnya. Biarkanlah sesama manusia hidup, sejahat apapun perilakunya, apalagi kalau cuma mencuri ayam. Biarkanlah hewan-hewan bukan pengganggu hidup aman berdampingan dg kita. Biarkanlah burung-burung terbang bebas berkicau, bernyanyi, bertasbih memuji nama Allah, supaya turun rahmat NYA.

 Biarkanlah burung-burung itu berdo’a dg ikhlas, dan pasti do’a mereka lebih didengar daripada do’a manusia, sebab burung tak punya dosa.

 Wassalam

Sey, 4 Feb 02

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1