REPUBLIK MONARKY

Oleh: M. Abdullah ([email protected]) 

Bertanyalah pada guru besar ilmu social dan ilmu politik, “Apa bentuk pemerintahan Negara Indonesia?” pasti sang guru besar akan menjawab, “Republik”. Tapi bertanyalah pada saya tentang hal yang sama, maka jawaban saya, bentuk pemerintahan Negara Indonesia adalah Republik Monarky, Republik Kerajaan.

 

Kenapa bisa begitu? Bisa saja. Untuk membuktikan bahwa tesis saya benar, mari kita tengok  pemilu legislatif yang baru saja berlalu. Ternyata dari hasil perolehan suara dalam pemilu yang baru lewat, kita bisa melihat, mayoritas rakyat negri kkn ini tak ingin berubah. Mereka masih menganut paham simplicity dalam segala hal. Tak berpikir jauh ke depan. Dari hasil pemilu legislatif kemarin, ternyata mayoritas rakyat Indonesia tak memahami, apa itu REFORMASI, apa itu DEMOKRASI. Sebab ternyata mereka masih lebih suka memilih para caleg dari partai-partai besar yang bermasalah, seperti Golkar dan PDIP.

 

Perolehan Golkar dan PDIP secara nasional malah berada di puncak. Hal ini membuktikan bahwa mayoritas para pemilih tidak melek demokrasi, tidak melek reformasi. Demokrasi menurut mereka, “Pilih sesukanya, tanpa melihat-lihat lebih mendalam”. Mereka masih berada dalam dunia dongeng, dunia khayalan, bahwa segala sesuatu bisa diperoleh dengan singkat.

 

Mungkin hal itu terjadi karena memang otak-otak rakyat negri kkn ini kebanyakan tak suka berpikir yang susah-susah. Yang ada di benak mereka hanyalah, dapat duit hari ini secara secepat mugkin. Udah dapat, belanjakan sepuasnya. Udah habis, cari lagi sebanyaknya. Tak heran kalau kebanyakan cita-cita rakyat ini adalah, bagaimana caranya mendapat jabatan pada tempat yang basah, seperti aparat militer, pemerintahan.

 

Tak ada yang mencoba berpikir ke depan bagaimana supaya negri ini seperti negri tetangga dengan menjadi masyarakat yang berbudaya.

 

Kita tahu betapa bobroknya management orde baru dengan alat politik bernama Golkar meluluh-lantakkan negri ini. Lalu rakyat rame-rame mengusung Megawati sebagai dewa penolong dengan mencoblos banteng gendut. Lalu ketika Mega dan kabinetnya mengatur negri ini dengan gaya PUTRI KRATON, atau lebih tepatnya dengan gaya “bebek bertelor”, rakyat bukannya melihat alternatif lain. Mereka lebih suka set-back, balik arah, memaafkan Golkar dan memberinya kesempatan memimpin negri ini, melalui caleg-calegnya. Ironis.

 

Rupanya jerih payah para intelektual negri ini, seperti Amien Rais, Nurcholis Majid, Emha Ainun Najib, Dawam Raharjo, Rendra, Taufik Ismail, Adnan buyung, Hidayat Nur Wahid, Gus Dur, dan mereka-mereka yang berotak waras, dll menemui kesia-siaan. Amien Rais boleh saja berteriak tak jemu-jemunya tentang reformasi. Nurcholis Majid boleh saja ceramah sana-sini tentang demokrasi dan masyarakat yang madani, Ainun Najib boleh saja mengkritik para petinggi negri ini, Rendra boleh berkokok-kokok tentang pendidikan rakyat, Gus Dur boleh ngotot medidik rakyat dengan gayanya dalam berdemokrasi; tapi ternyata “YANG DIAJAK, YANG DICERAMAHIN, YANG DIKRITIK” berhati batu, bahkan lebih keras dari batu. Hingga jerih payah mereka seperti jala nelayan yang hanya mendapat seekor ikan kecil.

 

Rakyat negri ini memang tak ingin berubah. Rakyat negri ini tak ingin seperti rakyat negri lain. Walaupun mereka hidup susah, digusur sana, digusur sini, menganggur, tak punya jaminan hidup di negri sendiri, mereka tak melek, bahwa itu semua akibat pemerintahan yang tidak becus mengatur negri ini, dan tak ingin tahu, siapa yang bisa membawa negri ini keluar dari krisis.

 

Partai-partai yang kotor masih dipilih. Yang bersih-bersih malah mendapat nilai jeblok. Apa pun yang dibuat ibu Mega, mereka tetap memilih Mega sebagai presiden. Mega masih dijadikan icon RATU di dunia KERAJAAN dalam otak mereka. Tak peduli bagaimana malasnya dia mengatur negri ini.

 

Fenomena SBY (Susilo Bambang Yudoyono) juga seperti fenomena munculnya Mega dahulu. SBY tiba-tiba saja muncul menjadi alternatif dewa pemimpin negri, yang banyak diatur militer ini. SBY muncul dan mendapat dukungan masyarakat luas, bukan karena dia berjuang untuk rakyat. Tetapi lebih karena “tongkrongannya” yang gagah. Lihat saja, dalam iklannya, ketika seorang ibu digambarkan tergila-gila memilihnya karena dia “ganteng”. Menjijikkan, menyerahkan kepemimpinan negri yang terdiri dari ribuan pulau ini berdasarkan argumen imajinasi dongeng Pangeran dari langit turun ke bumi.

 

Apa yang sudah dilakukan SBY dan Wiranto sehingga mereka bisa memilihnya? Tak masuk akal.

 

Demokrasi boleh berjalan (menurut versi rakyat kebanyakan). Pemilu boleh damai, dan pemilu presiden boleh saja terjadi secara langsung. Dan nanti, para calon presiden yang sedang kebelet duduk di RI-1 itu, tak akan ada yang mendapat suara mayoritas, di atas 50 persen. Dan pada putaran kedua pun, yang terpilih di antara dua: Mega atau SBY. Yang lainnya harus turun takhta degan rela. Walaupun otak-otak mereka hasil gemblengan pengalaman empiris dan pendidikan yang tinggi.

 

Tapi memang roda sejarah selalu mengatakan, bahwa yang pinter belum tentu  menjadi pemimpin. Rakyat kerarajaan republik ini masih suka hidup dalam dunia khayalan dan dongeng. Mereka akan tetap memilih Mega sebagai presiden. Kultus individu. Bodo amat degan segala kemalangan dan kesusahan. Yang penting hari ini punya sandang, papan, pangan, dan…ranjang.

 

Negri ini

Ada presiden tak ada presiden

Ada DPR tak ada DPR

Ada hakim tak ada hakim

Ada polisi tak ada polisi

Nasib rakyat sama saja

UJUNG-UJUNGNYA DUIT JUGA YANG BERMAIN

 

Kita tunggu 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1