Naik Bus Kota di Pulau Sorga
Oleh: M.Abdullah
Hari Minggu. Pagi-pagi telepon berdering. Ada undangan dari pengurus Islamic Society untuk datang ke rapat di Masjid Raya Seychelles. Lebaran Haji hampir tiba, jadi yg dibahas adalah permasalah seputar persiapan perayaan Hari Raya Haji.
Udara cerah, langit tidak mendung dan tidak panas. Sebetulnya ingin berjalan kaki dari rumah ke halte bus, sekalian menghirup udara segar di antara pohon-pohon dan bukit-bukit. Tapi kebetulan sopir sedang berbaik hati mengantar sampai ke pintu Masjid Sultan An-Nahayan, satu-satunya masjid “besar” di Sésel, tepat di ibu kotanya, Victoria.
Ketua pengurus masjid nampak sudah datang. Dari kejauhan melambaikan tangannya, sambil senyumnya yg khas membuat saya ikut membalas tersenyum. “How are you brother”, sapanya setelah berada di depannya. “Alhamdulillah, pi ye mercy”, jawab saya dalam bahasa setempat. Setelah ngobrol singkat tentang bisnis, kami berdua masuk ke ruang meeting. Di dalam tampak undangan yg lain sudah berkumpul. Setelah memberi salam dan bersalaman satu-satu dg mereka, saya ambil posisi duduk.
Ruangan tidak ber AC. Hanya kipas angin yg mengatur perputaran udara. Rapat pun dibuka dan mulai membahas segala permasalahan mengenai hari Raya Haji mendatang. Segala usul dan saran pasti ada saja yg mendebat. Itu biasa, sebab, masih dalam kerangka ukhuwah. Tidak malu-malu para peserta mengajukan protes dan usul jika ada yg dirasa kurang klop. Bahasa tidak menjadi kendala, sebab bahasa Inggris adalah bahasa resmi di negara ini. Bahasa Perancis adalah bahasa kedua. Bahasa daerahnya sendiri bernama bahasa Kreol, bahasa Perancis yg dirusak-rusak, seperti “pi ye mercy” di atas.
Dan inilah yg membuat saya betah mengikuti rapat-rapat di sini. Sebab tidak ada yg merokok. Setahu saya ada 2 orang yg suka merokok di antara para peserta rapat, tapi ketika rapat berjalan, tidak ada yg menyalakan rokoknya. Padahal di ruangan tidak ada tertulis “No Smoking”. Ruangan terasa bersih udaranya dan nyaman. Ditambah lagi angin dari luar masuk melalui jendela membawa hawa sejuk.
Ketika rapat berjalan, entah kenapa tiba-tiba saja ingatan saya kembali ke tanah air. Terkenang masa-masa di mana saya sering mengikuti rapat-rapat RT, rapat-rapat pengurus masjid, rapat-rapat perusahaan dll. Apa yg sempat saya catat dari meeting-meeting di tanah air adalah sekumpulan awan putih di ruangan rapat itu. Asap-asap yg keluar dari setiap mulut para pesertanya. Dan BELUM PERNAH saya menjumpai suatu meeting di mana pesertanya tidak mengeluarkan “makanan wajibnya” : R-O-K-O-K.
Entah kenapa di tanah air saya, barang satu ini seperti menjadi makanan pokok. Kalau ada suatu rapat RT pasti 99,9% pesertanya merokok di kala rapat berjalan. Kalau ada rapat-rapat pengurus masjid, mushola, diskusi, 75% pesertanya tanpa sungkan menghisap rokok. Malah di pertemuan perusahaan yg pernah saya jalani, juga sama, 99,9% para wakil karyawan dan perusahaan MAKAN rokok. Dan lebih celaka lagi, peserta yg tidak merokok macam saya, sepertinya harus dan wajib ikut-ikutan merokok. Sebab terlihat “aneh”, kalau tidak merokok.
Terkadang saya mikir. Sebenarnya apa sih yg ada di OTAK orang-orang Indonesia itu? Kenapa asap itu dihisap dalam-dalam, dimasukkan ke paru-paru, lantas disemburkan ke orang lain, tak peduli orang itu perokok atau bukan? Kadang saya mengumpat dalam hati, apakah mereka ini –maaf- BEBAL??? Atau - maaf - Dungu???
Di Indonesia, setiap kali selesai mengikuti rapat-rapat semacam itu, yg ada dalam hati saya adalah rasa GONDOK, mangkel, makan ati, dan entah apa lagi. Gondok, karena melihat para peserta rapat pada merokok, tak peduli di situ ada wanita atau anak-anak. Jengkel, karena mereka sepertinya tak peduli di antara para peserta rapat itu ada yg punya sakit asma atau ibu hamil. Makan ati, sebab kalau tak datang ke kenduri atau rapat, nanti dikira tak mau bermasyarakat, bersosialisasi, sementara mau protes supaya BAPAK-BAPAK tidak merokok, pasti hanya akan menjadi bahan olok-olokan.
Kenapa mereka begitu mengutamakan EGOnya, tak melihat penderitaan orang lain yg mencoba hidup sehat, bebas dari asap rokok? Kenapa begitu bangganya asap itu dihisap dan disemburkan menimpa orang-orang sekelilingnya? Dan berbagai pertanyaan yg terus-menerus tak terjawab, tentang rokok dan orang Indonesia ini.
Di Sésel ini, baru inilah saya menjumpai kesadaran dan toleransi yg tinggi, menjunjung tinggi hak-hak umum dan tidak mau mengganggu privacy orang lain. Walaupun merrokok itu hak asazi dan tidak dilarang undang-undang, tapi mereka TAHU dan SADAR akibat dari asap rokok itu. Mereka tak mau merokok di mana banyak terdapat orang-orang yg sedang berkumpul. Jadi, begitu keluar dari ruang meeting, kepala saya terasa segar, dada saya terasa lapang. Dan yg paling penting, segala bahan yg didiskusikan kelar dengan suksesnya..
Pulang meeting sopir tak bisa datang menjemput, sebab dia libur. Saya pun melangkah berjalan menuju halte. Lumayan juga jaraknya, sekitar 700 meter dari masjid. Padahal bus yg saya mau naiki lewat di depan masjid. Tapi para calon penumpang dilarang naik bus kecuali di halte. Jangan coba-coba menyetop bus kota selain di halte, sebab selain sopirnya tak akan mengerem kendaraannya, orang-orang yg melihat anda akan memandang dengan tatapan sinis dan prihatin. Sebab mereka akan menyangka anda –maaf- bego.
Walaupun yg menyetop bus tsb wanita cantik secantik Britney Spears, sambil melambaikan uang seratus dollar, jangan harap bus itu akan berhenti kalau bukan di halte. Dan setahu saya, penduduk sini sudah terbiasa dg disiplin seperti itu. Mereka mau payah-payah berjalan ke halte, berkumpul di halte untuk naik bus. Tidak sembarangan menyetop seperti di Medan, Jakarta atau Yogya, begitu lihat bus langsung tangan melambai, dan …. ngik, bus berhenti. Akibatnya? Kendaraan yg di belakang kelabakan mengantisipasi bus seukuran ‘dinosaurus’ berhenti mendadak.
Di halte nampak sudah banyak manusia bergerombol menunggu kedatangan ‘kereta tanpa kuda’ tsb. Dari ras nya nampak mereka bukan hanya lokal Sesel, tapi nampak juga turis-turis bule dan bukan bule dari berbagai arah mata angin. Dan di antara sekian banyak orang yg bergerombol di halte tsb, lagi-lagi saya tak menjumpai orang yg mengisap rokok. Seorang turis Perancis dg ransel besarnya yg ditaruh di sampingnya nampak kelelahan. Dia tengok saya sedang makan burger, nampak kepingin, dan bertanya di mana ada jual makanan terdekat. Saya tunjuk kedai kecil di taman bermain yg jaraknya sekitar 150 meter. Si Perancis lalu melangkah ke kedai itu dan ranselnya ditinggal, tak ada yg nungguin, tergeletak jauh dari yg empunya. Saya yakin kalau ransel tsb tidak dipasangi securiti alarm. Saya juga yakin kalau isi ransel tsb adalah barang-barang yg berharga. Saya perhatikan terus itu ransel, selama lebih kurang 15 menit ditinggal sang majikan, tidak ada seorangpun yg mengusiknya. Aman tentram terbaring di atas kursi halte, sampai si Prancis datang dg tersenyum membawa burger dan sebotol Coca cola. Padahal di sekitar halte tak ada pak polisi atau pak hansip. Hanya tiang listrik yg berdiri tenang dari tadi.
Saya tak berani membayangkan kalau ransel tsb berada di halte bus di kota Jakarta, Surabaya atau Medan atau mana saja di Indonesia, pasti sudah lenyap dalam hitungan detik, di kala ditinggal pemiliknya beli minum sebentar. Dan anda bisa membuktikannya. Atau memang sudah mengalaminya? Bagaimana rasanya kehilangan barang di tempat umum? Di samping kantor polisi lagi. Lalu ketika anda melapor,eh, malah harus bayar. Sudah jatuh, pantat sakit, bayar lagi. Aneh.
Tiga puluh menit menunggu, bus yg diidam-idamkan datang. Para penumpang naik dari pintu depan. Pintu belakang hanya untuk yg turun dari bus. Segitu banyaknya penumpang, semuanya naik dengan antri dan tertib. Tak ada yg berebut dan berdesak-desakan. Antri, naik bus, bayar dan duduk. Sementara pintu belakang tetap terbuka. Tapi, inilah hebatnya disiplin penduduk negara ini, tak ada yg berusaha masuk dari pintu belakang. Dan saya juga tak mau malu-maluin dengan membawa-bawa budaya Indon, nyerobot lewat pintu belakang. Saya berdiri di antrian menunggu dapat giliran.
Bus kota di sini tak ada yg pakai kernet-kernetan. Satu bus dipegang oleh satu sopir, tanpa pembantu atau co-sopir. Jadi penumpang juga bayarnya ke sopir. Semacam RMB di Jakarta. Dan bus kotanya tak memakai AC. Walaupun tanpa AC, di dalam bus tidak terasa pengap dan panas. Walaupun boleh dibilang bus ekonomi, ruangan bus nampak bersih dan terawat. Tidak ada coreta-coretan dan tulisan yg membikin mata pedih. Semua kursinya dari busa yg empuk, tapi tak ada yg sobek-sobek, disayat-sayat dg silet. Bukan, bus ini bukan baru. Sudah lama umurnya. Kita tahu dari warnanya yg tak berkilau. Tapi para pelajar sini, tak ada yg suka jahil metakil memamerkan kebolehan mereka menulis puisi di kursi bus kota. Para pemuda sini tak ada yg suka membawa-bawa senjata tajam atau semacamnya dan iseng-iseng menyayat-nyayat kursi bus kota. Jadi public transport ini, walaupun sudah tua, walaupun ongkosnya murah, walaupun tanpa AC, terasa nyaman dinaiki.
Dan, sekali lagi, dari sekian banyak ‘pejantan’, baik yg berjanggut atau non janggut, yg ada di dalam bus, tak ada yg saya lihat menghisap ROKOK. Sekali lagi juga saya katakan, tak ada di dalam bus itu tulisan ‘DILARANG MEROKOK, NO SMOKING’ atau semacamnya. Jadi selama berada di dalam bus, hati saya terasa makin nyaman dan nyaman saja. Kepala terasa makin ringan dan ringan saja. Perjalanan satu jam di dalam bus pun tak terasa penat dan capai. Seolah-olah saya naik bus yg khusus mengantar para wisatawan, menyaksikan pohon-pohon yg hijau, burung-burung yg bernyanyi riang, dan ombak laut yg begitu biru mengalunkan serenada.
Berbeda jauh ketika saya naik bus kota di kota-kota besar di Indonesia. Entah siapa yg salah, entah bagaimana asal muasalnya. Nasib penumpang bus ekonomi di Jakarta, misalnya, sungguh mengenaskan. Apalagi di kala jam kerja. Berhimpitan seperti ayam yg mau dijual ke pasar. Sang kenek, demi mengejar setoran, terus menerus berteriak, “Blok M!! Blok M!!, masih kosong, masih kosong!!!”. Padahal para penumpang di dalam sudah susah bernafas. Konyolnya lagi, di antara penumpang yg berhimpitan tsb, masih ada saja beberapa lelaki yg memegang ROKOK menyala! Gila.
Tak peduli di sebelah kanannnya ada nenek tua, di sebelah kirinya ibu-ibu yg sedang hamil, di belakangnya anak kecil yg mau sekolah. Sementara penumpang yg lain, termasuk saya ketika itu, hanya pasrah saja berhimpit-himpitan, menghirup udara yg beraroma 7 macam rasa. Ada bau ketiak, bau nafas, bau jengkol, bau keringat, bau kentut dan lain sebagainya. Mungkin karena sudah terbiasa, dan tak tahu harus bagaimana, para penumpang itu nampak ‘enjoy’ saja sampai di tempat tujuan.
Di dalam bus kota di Pulau Sorga ini, saya membayangkan kejadian di bus kota di Indonesia sana, yg penumpangnya berlari-larian mengejar bus, yg penumpangnya berebut masuk dari depan dan belakang, sementara penumpang yg di dalam bus belum turun, yg penumpangnya sesuka hati menyetop bus kota, dan sopirnya pun semaunya sendiri mengerem busnya. Sungguh pemandangan yg kontras.
Khayalan saya di hari minggu di dalam bus kota di Pulau Sorga ini, terhenti sebentar. Sebab ada kejadian lucu yg patut dijadikan teladan. Ketika bus berhenti di halte untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, ada seorang penumpang yg nyelonong masuk bus dari pintu belakang. Ternyata sang sopir cukup jeli. Kelakuan orang tsb ketahuan dan disuruh oleh sopir supaya turun dan mengulangi masuk lewat pintu depan. Sang penyerobot, yg nampaknya orang lokal dari pedalaman dan kurang terdidik, sambil cengengesan turun dari bus. Lalu masuk lagi ke dalam bus melalui pintu depan sebagaimana mestinya. Menyaksikan kejadian itu seluruh penumpang tersenyum geli dan tertawa.
Seandainya peristiwa itu terjadi di Jakarta, coba apa yg akan terjadi? Seandainya penumpang tsb penduduk biasa, pasti dia akan menyumpah serapahin si sopir dan memboikot bus tsb; tak mau naik bus itu lagi. Seandainya penyerobot tsb seorang preman pasar, pasti dg tanpa basa-basi dia akan mencabut pisaunya dan menusuk sang sopir. Seandainya penyerobot itu seorang aparat TNI atau Polri, pasti dg bangga akan menghunus pistolnya dan menodongkannya ke sopir sambil berteriak, “Kamu belum tahu siapa saya, ya?! Mau dibawa ke markas?”
Tapi ini Sesel bung! Penduduknya meletakkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Sang penyerobot sambil masih tersenyum berkata, “pardon… pardon…” Maaf… maaf… dalam bahasa lokal.
Dan bus pun kembali melanjutkan perjalanan.
Tak terasa, ternyata bus sudah mendekati tempat tinggal saya. Padahal jam masih menunjuk pukul 2 siang. Masih siang, masih ada waktu untuk kembali jalan-jalan. Saya pun tak turun di halte bus, di mana seharusnya saya turun. Saya tetap duduk di dalam bus, menikmati perjalanan sepanjang jalan kembali ke terminal. Apalagi ongkosnya cukup murah, masih dalam hitungan satu digit, yaitu, 3 rupee saja. Bagi manula (60 th ke atas), naik bus kota di pulau ini gratis, berapa kali pun dia naik bus dalam sehari.
Seperti turis lagaknya, saya pun selalu membawa kamera kemana pergi. Dan selalu mengambil pemandangan yg menurut perkiraan saya pantas untuk diabadikan. Sebab pemandangan alam sepanjang jalan tak akan membuat penumpang jemu.
Tak heran kalau banyak orang bule yg betah di pulau ini. Ada kenalan saya dari Perancis yg setiap tahun datang berlibur ke pulau ini selama satu bulan lebih. Ada juga orang Jerman yg jatuh hati kepada pulau ini dan membangun vila di atas bukit tepi pantai dan menempatinya untuk berlibur saja. Vila tsb saya lihat sangat lengkap dg perabotan rumah tangga, tanpa pagar tanpa securiti alarm, tapi tampak aman. Saya sendiri terkadang berusaha “mencuri-curi” kesempatan kalau villa itu kosong untuk sekedar duduk-duduk di terasnya yg asri atau mandi di bawah showernya di tengah kebun. Hmmmm segarrr….
Sementara tak jauh dari tempat saya tinggal, ada mantan serdadu Inggris yg lebih suka beranak pinak di sini, daripada di Inggrisnya sana. Dan banyak lagi cerita-cerita orang asing yg jatuh hati pada keindahan pulau ini. Karena keindahannya, keasriannya, burung-burungnya, pantainya, hutannya, keamanannya dan lain sebagainya.
Kisah di dalam bus harus saya akhiri, sebab matahati sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saya harus sholat Asar. Dan satu lagi acara di hari minggu yg harus saya lakukan yaitu, berenang dan mancing. Anda mau ikut? Tak usyah lah yauw.
Wassalam
Sey, 19 Feb 02