Mengatasi Rasa Takut
Semua orang pasti pernah mengalami rasa takut. Takut nyamuk, takut polisi, takut preman, takut nyebrang, takut ditagih hutang, dll. Yang paling ngetrend dari masa ke masa adalah Takut Setan. Jadi kita bahas dulu takut terhadap setan ini. Kalau takut polisi atau preman, gampang menghadapinya. Asal anda punya duit banyak, rasa takut anda akan otomatis hilang. Tapi kalau takut terhadap setan, hantu, genderuwe, kuntilanak, pocong dll… duit segepok belum tentu mengusi rasa takut anda.
Sebenarnya ada SATU saja cara bagaimana mengusir rasa takut yaitu, menguatkan MENTAL anda. Kalau mental anda kuat, bukan hanya setan atau dedemit yang bakal menyingkir dari anda, tapi mertua pun akan segan.
Lantas bagaimana cara kita memperoleh kekuatan mental itu? Kekutatan mental bisa timbul dari diri sendiri, juga bisa timbul dari hasil olah “spirit”. Bisa timbul dari diri sendiri? Ya, pertama, ada yang memang dari lahir dikarunia keberanian dan kekuatan mental yang luar biasa. Kedua, ada yang perlu latihan dulu, agar “iman”nya kuat. Contoh pertama, mungkin kita pernah melihat seorang anak kecil yang dari kecil sudah berani, punya sifat berani menghadapi sesuatu dan seseorang, hingga dia tumbuh dewasa. Orang seperti ini bisa dipastikan kekuatan mentalnya sudah terbentuk sejak lahir.
Contoh kedua, adalah kebanyakan dari kita, yang takut menghadapi sesuatu, yang secara ilmiah, sesuatu itu mengejutkan andrenalin kita. Kalau anda takut menghadapi hantu, ketahuilah bahwa itu normal. Karena sejak kecil kita didoktrin untuk takut hantu. Kalau kita diganggu hantu? Itu juga normal, karena hantu memang punya kelebihan “invisib-le”, hingga secara sengaja atau tidak sengaja, dia mengganggu kita.
Oke, kita langsung saja ke bab “Mengolah Mental Kita supaya tidak takut”.
Latihan pertama, bila anda takut, gugup, gelisah, panik, jangan bingung (gimana ya, orang takut, panik, gugup tapi nggak boleh bingung?). Tenangkan pikiran, tenangkan hati. Tarik nafas panjang-panjang, tahan dalam dada selama anda mampu (3-6 menit, kalau kuat), lalu keluarkan pelan-pelan. Hal ini berfungsi untuk menormalkan detak jantung anda, dan mengembalikan posisi andrenalin ke arah yang benar.
Kalau anda orang beragama, bagus lagi kalau membaca ayat-ayat dari kitab suci anda ketika menahan napas tsb. Kalau tidak hapal? Nggak pa pa. kosongkan pikiran anda, jangan membayangkan apa pun, termasuk istri anda. Rasakan denyut nadi anda yang membawa darah ke seluruh tubuh. Rasakan darah mengalir ke tangan, kaki, kepala. Ulangi tarik napas, tahan, hembus perlahan berulang-ulang. Lebih enakan bukan?
Latihan kedua, jangan berkhayal yang seram-seram ada di pikiran anda (apalagi ketika anda sendirian di tempat seram). Penampakan-penampakan hantu memang sering berujud seram, tidak ada yang cantik secantik Tamara Blesinik. Tapi walaupun seram, dalam sejarah perhantuan, tidak ada hantu yang menyakiti manusia, apalagi membunuh. Camkan dalam benak anda, bahwa yang paling seram dan jahat di dunia ini adalah Joj Bush dan antek-anteknya, bukan gedruwo atau kuntilanak. Dengan begitu, anda sudah memposisikan hantu, jin, dlsb sebagai makhluk yang sama-sama hidup berdampingan, dan tak bisa dielakkan. Jadi timbullah teloransi antara kita dan mereka (makhluk halus itu).
Yang ketiga, misalkan terjadi penampakan juga, dan anda merasa takut juga, jangan coba-coba menghindar seperti, lari, menutup mata, ngumpet dalam selumit dll. Perilaku ketakutan ala Scoobidoo tsb hanya menambah hantu makin pede. Hadapilah dengan –sebisa mungkin- ketenangan yang tinggi. Perhatikan dengan benar, “hantu” yang anda lihat. Perhatikan dari atas sampai ke bawah. Jangan kalah tatap. Kalau bisa, jangan berkedip. Pandanglah, secara takjub, seolah-olah dia adalah makhluk paling cantik di dunia. Atau pandanglah dia dengan pandangan kasihan, rasa ingin tahu dll. Lebih hebat lagi kalau anda mencoba berkomunikasi dengan dia.
Sikap tenang menghadapi sesuatu, sebenarnya bukan saja bisa diterapkan pada hantu, pada binatang juga bisa. Kalau anda dikejar anjing, jangan lari. Berdiri dengan tenang, pandangi anjing itu, atau ambil sesuatu dari tanah, batu, ranting atau lainnya, maka si anjing akan ngacir.
Ini bukan teori yang hanya saya ada-adakan. Teori di atas pernah saya praktekkan pada diri saya sendiri. Saya dulu pernah ditugaskan di sebuah negara kecil di bagian Afrika, yang masih lebat hutannya. Saya sering pulang pergi malam hari BERJALAN KAKI, jam 22.00, jam 24.00 dll. Jalan yang saya lalui kata orang-orang, adalah angker. Kata orang-orang, sekali lagi, KATA orang-orang, sering ada wanita berbaju putih berjalan di jalan itu, malam-malam.
Lalu di sebuah belokan, di pinggir jalan, sering ada ibu-ibu menggendong bayinya, ditemani seekor anjing, berdiri. Seperti menunggu jemputan.
Bayangkan, penduduk sekitar situ saja takut lewat situ malam-malam.Saya penasaran dengan cerita itu, dan ingin sekali melihat dengan nyata. Jadi bukan hanya “katanya… katanya…. seperti di Uka-uka. Pernah di simpang itu saya ber “uji nyali” sendirian, menunggu hantu itu datang. Tapi sampai sekian lama menunggu, tak ada apa-apa.
Pernah juga saya dengan harap-harap cemas “menanti” wanita bergaun putih menyusuri jalan itu, seperti cerita penduduk lokal. Suatu malam hal itu hampir kenyataan. Ketika saya berjalan menurun, jalan kaki, saya berhenti, sebab di kejauhan nampak samar-samar sebuah bayangan putih berjalan ke arah saya dengan cepat, tanpa suara. Seperti melayang. Hiiii….
Bersambung
Karena sudah terbiasa dengan hal-hal ganjil, saya tidak lari. Saya tenangkan diri. Saya pandangi terus bayangan itu sampai mendekat. Anehnya begitu hampir mendekati saya, benda putih itu malah makin cepat “melayang”. Lalu saya pun memberanikan diri menegurnya. “Hei, kawan!” dalam bahasa lokal, “Mau ke mana?”. Ajaib, “benda” itu berhenti dan tertawa. “Hei… kamu, Indonesian? Saya kira hantu… makanya saya lari,” jawabnya. Kami pun berbincang sebentar. Tapi terus terang saya tak melihat mukanya, sebab tak kelihatan, karena dia orang hitam. Yang kelihatan hanya bajunya, yang kebetulan berwarna putih. Lalu orang itu berlalu dengan cepatnya.
Bayangkan kalau saya takut melihat benda putih itu melayang mendekati saya, pasti saya sudah tunggangg langgang.
Bersambung.