|
Menonton sebuah film
bermutu, ibarat membaca sebuah puisi berkualitas; tidak bisa hanya dengan
sekali tonton. Apalagi kalau film tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata.
Lebih lagi, kalau film tsb bercerita tentang sejarah masa lalu. Sebelum
menonton, sang penonton, paling tidak harus memiliki wawasan tentang
sejarah. Lebih paling tidak lagi, sang penonton setidaknya tahu biografi
sang tokoh yang difilmkan, seperti Salahuddin Al Ayubi yang diceritakan di
film ini (dalam film ini kata "Salahuddin" jadi "Salahadin". Huruf "U"
diganti "A". Padahal para salibis itu dg fasih mengucapkan "Assalamualaikum"
yang banyak huruf "U" nya).
Kalau anda cowok/cewek sinetron, dipastikan tidak akan bisa memahami film
ini, sebab semua dialognya dilakukan dengan gaya filosofis dan cenderung
puitis. Adegannya pun banyak yang bermakna simbolis.
Dalam film KH (Kingdom of Heaven), kita diajak melihat kegemilangan
orang-orang muslim masa lalu, ketika menguasai dunia. Walaupun yang menjadi
sentral tokohnya adalah orang Perancis, tak bisa dielakkan, film ini
berusaha membuka mata orang barat, bahwa dari dulu mereka mempunyai darah
pembunuh, dan selalu ingin menguasai orang lain.
Alkisah Eropa dalam abad 12 dilanda kemiskinan yang merata. Para pastur
berspekulasi bahwa penderitaan itu akibat dosa-dosa para penduduknya.
Sebagai penebusan dosa, rakyat harus menunaikan ibadah "haji" ke Jerusalem,
bertemu Jesus, dan mengadakan ritual convession, pengakuan dosa.
Ajaran Kristen yang disebarkan secara simple, memang mendapat perhatian yang
lumayan besar dari penduduk Eropa yang waktu itu masih terbelakang. Begitu
agungnya ajaran itu bagi mereka, karena hanya dengan cukup percaya kepada
Yesus, dan bahwa yesus telah menebus dosa-dosa mereka, mereka pun tertarik
menjadi Kristen. Konsekwensi logis dari masuknya mereka pada ajaran itu,
mereka harus membebaskan tanah kelahiran Yesus, dan negri di mana Yesus
disalib. Mereka tak mampu memahami misi dan visi EQ (Emotion Quotion) yang
dibawa Yesus, sehingga ajaran kasih sayang yang disampaikannya ditafsirkan
dengan pedang yang diayunkan terhadap orang Islam.
Sang tokoh dalam film KH, Balian, digambarkan sebagai tokoh yang mewakili
sifat typical Eropa waktu itu, lugu, polos, dan merasa tak punya dosa.
Hingga ketika ayahnya mengajaknya pergi "haji", dia merasa tidak perlu,
karena tak punya dosa. Sang pendeta digambarkan sebagai tokoh antagonis,
yang memanas-manasin Balian untuk pergi membela Yesus. "Istrimu di neraka,
karena dia mati bunuh diri!" kata sang pendeta. Sang pendeta lalu
dibunuhnya. Dan kini ada alasan baginya ke Jerusalem bersama ayahnya, untuk
menebus dosa.
Sang anak yang hanya bekerja sebagai pandai besi (blacksmith), tiba-tiba
saja menjadi ksatria yang pandai bertempur (itulah film). Bahkan dalam
perjalanan ke jerusalem, kapalnya sempat diamuk badai, semua anak buhanya
mati. Hanya dia yang hidup, dan seekor kudanya. Inilah kehebatan film barat,
manusia mati tenggelam, kuda bisa berenang.
Begitu mendarat, Balian langsung bertemu dengan seorang panglima perang
muslim yang menyamar menjadi hamba sahaya. Balian ditantang berduel dengan
alasan telah mengambil kudanya. Balian menang melawan boss si hamba sahaya.
Tapi di sinilah justru yang dicari sang panglima. Dia sengaja menjebak
Balian dalam sebuah pertempuran satu lawan satu, untuk mengetahui kwalitas
musuhnya. "Good quality will be known among your enemies before ever you
meet them", ujarnya. Sehingga pasukan muslim dituntut untuk belajar lebih
banyak jurus-jurus pedang.
Pencarian identitas sang tokoh berakhir sia-sia ketika Yesus tak mau
menemuinya di bukit, di mana sang anak Tuhan disalib. Frustrasi, ia pun
pacaran dengan istri calon raja. Inilah typical film holiwood. Film jadi
hancur berantakan gara-gara diselingi adegan tak perlu dari wanita cantik
berwajah porno, yang tak ada hubungannya dengan jalan cerita. Jauh dengan
film bermutu buatan Akira Kurosawa, Ran, yang sama sekali tak
mengeksploitasi wanita. Hari gini, di dunia nyata, amerika memang masih
menempatkan wanita sebagai budak nafsu.
Walaupun demikian, di film KH, Ridley Scott, sang sutradara, sadar atau
tidak sadar, mengarahkan kebodohan dari tujuan perang Salib. Perang yang
katanya demi Tuhan itu, akhirnya dikuasai oleh para politikus jorok yang
murni mengejar kekuasaan. Ketika Raja Baldwin IV berjuang melawan lepra,
calon penggantinya, Renald, melanggar perjanjian damai dengan Salahuddin,
Renald dan anak buahnya menyerang kafilah muslim yang hendak pergi haji dan
membantai seluruh kafilah.
Bahkan dalam kesempatan yang lain, saudara perempuan Salahuddin dibunuhnya.
Kedamaian antara Kristen, Muslim dan yahudi jadi hancur. Hilanglah "Kingdom
of Heaven" yang selama ini dibina Salahuddin dan raja Baldwin. Pengganti
raja Baldwin makin merusak perjanjian, setelah jadi raja. Ambisinya menumpas
pasukan Islam makin menggebu-gebu, didukung para pendeta yang gemar
mabuk-mabukan.
Tidak seperti dalam ajaran Kristen, yang mengatakan bila ditampar pipi
kanan, berikan pipi kiri. Ajaran Islam menegaskan, bahwa bila musuh
melanggar perjanjian damai, musti dikasih pelajaran. Musti diperangi sampai
takluk.
Maka perang pun meletus secara sporadis dalam rentang waktu yang lama, dan
dengan eskalasi yang naik turun, antara pasukan muslim yang dipimpin
Salahuddin dan pasukan salib yang dipimpin secara bergantian. Dalam setiap
pertempuran, sang sutradara mau mengakui fakta sejarah, bahwa pasukan salib
selalu dikalahkan. Ibarat kelinci masuk kandang macan, itulah nasib para
salibis, menghadapi Salahuddin. Auuum… nyam… nyam… nyam.
Tapi unsur antagonis pejuang muslim masih kelihatan kental dalam film ini,
sebab tokoh Salahuddin digambarkan bertampang tua dan jelek. Mustinya kalau
mau serius, Scott mau memasang wajah yang tidak terlalu serem. (Minimal,
yah, memasang tampang seperti sayaaa, gitu loh). Atau memang sang sutradara
mau menyampaikan pesan, bahwa dalam islam, unsur tampang tidak terlalu
penting. Bahwa dalam Islam yang dipandang adalah karakternya, sifatnya,
tingkah lakunya, prestasinya bukan tampang atau keturunannya. (jadi tampang
saya gak jadi dipake dooong).
Film berkahir dengan klimaks resistansi yang tingi dari pasukan salib, yang
sudah banyak kehilangan panglima perang. Tinggallah si Belian, mantan tukang
besi yang harus jadi pemimpin perang. Di sini sutradara film tak mau
mengecewakan penonton Eropa. Pasukan salib dan rakyat Kristen digambarkan
bertempur mati-matian menghadapi pasukan Salahuddin yang bersenjata balista
(ketapel raksasa). Korban pun berjatuhan sangat banyak di kedua belah pihak.
Dalam fakta sejarah, Pasukan Kristen sama sekali tak melakukan perlawanan
ketika pasukan Salahuddin datang ke Jerusalem. Salahuddin dan tentaranya
juga tak melakukan pembunuhan, apalagi melempari benteng dengan
peluru-peluru balista. Dalam fakta sejarah, pasukan Kristen takluk tanpa
syarat, karena pertahanan sudah terlalu lemah Dan Jerusalem pun diserahkan
pada pemerintah muslim dengan suka rela. Jadi tidak ada itu, pahlawan
pengobar semangat 45 yang berkoar-koar menahan laju laskar Salahuddin. Dalam
fakta sejarah, sekali lagi Kingdom of Heaven lahir di bawah kepemimpinan
Salahuddin. Tak satu pun tentara salib yang dijatuhi hukuman karena
memerangi muslim.
Bandingkan dengan sikap pasukan salibis amerika sekarang, yang suka menyiksa
tawanan mereka di Iraq, Afghanistan dan Guantanamo.
Di akhir cerita di film itu, tersiratlah kebodohan dari para pemimpin perang
salib. Setelah begitu banyak korban, si Balian bertanya dengan lugu pada
Salahuddin, "Apa sih Jerusalem itu?"
"Nothing", jawab Salahuddin. "Everything", setelah jatuh ke tangan muslim,
lanjutnya.
Sang bintang pun, Balian, pulang kampung naik kuda membawa Kingdom of Heaven
dalam hatinya, ketuplak… ketuplak… ketuplak… Bahwa kedamaian ada di dalam
hati, itu benar adanya.
Sementara Salahuddin dan pasukannya memberikan toleransi yang tinggi pada
pemeluk ajaran lain. Digambarkan Salahuddin membetulkan letak salib yang
jatuh akibat perang. Nasyid "Persatuan" pun dikumandangkan di film tsb,
walau sekedar backround.
Bandingkan lagi dengan sikap pasukan Joj Bush di Guantanamo, yang menjadikan
lembaran-lembaran mushaf al Qur'an sebagai tissue untuk toilet.
Sayang, hanya satu yang sadar dari kebodohan perang Salib. Sebab setelah
tokoh dari Perancis, Balian, yang pulang gigit jari (tapi lumayan, dapat
janda raja), kini diganti Richard si Lion Heart, raja Inggris, yang pergi
"haji" ke Jerusalem. Penonton pun dipersilakan membaca buku sejarah untuk
mengetahui lengkapnya jalan cerita selanjutnya.
Dan setelah membaca review ini, mendingan gak usah nonton filmnya deh, bikin
kaya amerika aja. Tapi kalau terpaksa, ya, nonton bajakannya saja, ceritanya
sama saja kok. Malah yang bajakan lebih seru, ada kriuk-kriuknya.
(emabdullah) |