Wacana calon presiden yad semakin hari semakin ramai dibicarakan. Berbagai kalangan, dari yg mengaku intelek sampai yg tidak intelek mencoba mengutak-atik, memistik, meramal, siapa yg bakal cocok jadi pemimpin negri kkn ini.

Wajah-wajah baru pun bermunculan, pemain-pemain lama juga bertambah. Ada yg malu-malu menjagokan diri jadi presiden, seperti Sri Sultan, Yusril IM, dll. Ada yg santai-santai saja, seperti Wranto, Gus Dur dan Cak Nur, ada yg terang-terangan maju tak gentar bermuka badak, seperti Akbar Tanjung, Megawati, Wiranto, Prabowo dll.

 

Sbg rakyat kita mustibenar-benar menyalurkan aspirasi dan kebutuhan kita sesuai dg keyakinan kita. Yg pertama kita musti perhatikan adalah siafat, backround dan program dari para calon pemimpin tetangga negri kangguru ini. Ada beberapa dagangan yg benar-benar merupakan andalan ampuh para petualan polituk di negri ojek ini (soalny adi negara lain ndak ada ojek).

 

Salah satunya adalah mengangkat harkat dan martabat wong cilik, mensejahterakan wong cilik, berjuang untuk rakyat dan wong cilik dst.

Pokoknya secara global tujuannya adalah slogan-slogan yg bombastis untuk rakyat.

Sbg rakyat yg sudah pernah dijajah Belanda, dipolitisir oleh Soekarno, dikibuli mentah-mentah oleh Soeharto selama lebih dari 30 th, diajak baca puisi oleh Habibie (Habibie kalo ngomong kan kayak orang baca deklamasi), diajak jalan-jalan ke luar negri oleh Gus Dur (hanya kutub utara dan selatan, sepertinya, yg belum pernah diinjak Gus Dur, waktu menjabat presiden), dikhianati Megawati, kita musti benar-benar extra selektip melemparkan tampuk pimpinan negri yg banyak sekali tukang parkirnya ini.

 

Kampanye reformasi yg konon dihembuskan oleh Amien Rais, ternyata hanya berjalan sesuai dg hukum anget-anget tai ayam, alais sebentar doang semangatnya. Ternyata di antara para reformator itu banyak juga yg oportunis (pandai memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan perutnya sendiri) dan bojuis (semacam pola hidup wanita sinetron).

 

Dg kata lain, mereka hanyak memanjaatkan emosi massa untuk pantat mereka sendiri. Contoh yg paling gampang dan cocok dilihat oleh mata telanjang adalah presiden kita yg dulu diperjuangkan oleh mayoritas rakyatnya yg susah, yaitu Megawati dan terpidana kasus penyalahgunaan dana Bulog, Mr. Akbar Tanjung.

 

Munculnya reformasi ternyata berdampak juga pada kreatifitas para petualang politik untuk berlomba-lomba “mensejahterakan rakyat” dg partai-partai politik. Maka lahirlah partai-partai yg mempunyai tujuan untuk mensejagterakan rakyat, dg nama-nama yg mentereng seperti PKB, PAN, dll, sampai yg terkesan nyeleneh, seperti Partai Kerja Keras, Partai Cinta Damai dll.

 

Parpol-parpol itu menjamur seperti pedagang kaki lima di musim lebaran. Tanpa malu-malu mereka menjual janji-janji supaya menang pemilu. Sebagai rakyat yg sudah berpengalaman ditindas, dijajah, dipolitisir, diexploitir, dibohongi, dan dikhianati, jangan begitu saja kita percaya pd slogan-slogan opera sabun itu.

Ada baiknya sebelum menjatuhkan pilihan kita mengenal dulu karakter dari para calon peresiden yg sudah mulai diobral. Di sini sedikit yg penulis berhasil kumpulkan dari hasil investigasi selama ini terhadap mereka.

Calon pertama yg lagi ngetop diguncingkan adalah Cak Nur. Mari kita tengok sekejab latar belakang orang tua ini.

Lelaki kelahiran Jombang ini jalan hidupnya sangat mulus. Perjalanan karirnya sejak SD sampai jadi ketua Paramadina tak pernah mengalami hambatan yg berarti. Boleh dibilang dia selalu berjalan di atas awan, tak mengerti bagaimana rasanya berjalan di atas jalan berduri dan berkelikir. Bagaimana sulitnya hidup di negri kkn ini dia belum pernah terjung langsung, sbg wong cilik yg kesusahan. Perjalanan berpolitiknya jug masih mentah. Selama ini penduduk negri miskin ini tahunya Cak Nur itu adalah cendekiawan. Kalau dia mau meloncat-loncat seperti kucing dari satu partai ke partai lain hanya akan jadi umpan untuk memancing lebih banyak penggemar partai ybs. Habis itu? Nasibnya akan ditendang seperti Zainuddin Mz, dai kandang yg seharusnya berdiri untuk semua pemeluk partai, bukannya jadi ketua / anggota partai tertentu. Untuk terjun ke panggung politik yg kotor di negri yg jorok ini, Cak Nur sudah telat seribu langkah. Sudah terlalu tua. Nantinya malah akanjadi bulan-bulanan para seniornya, dan keluar dari medan laga dg memikul sakit hati yg memilukan.

 

Lalu apa ideologi yg dianut oleh lulusan universitasnya Chicago Bull ini? Bagi para pemilih yg mengusung panji agama, ada baiknya tidak memilih beliau. Sebab ideologinya dari dulu adalah sekuler. Bapak 2 anak ini (kalau belum nambah), sama sekali ndak tertarik dg hal-hal yg menjunjung tinggi norma agama, termasuk dalam pendidikan dan dunia politik. Usahanya selalu liberal. Apalagi katanya dia pernah sekolah di pesantren yg lulusannya terkenal punya sifat hedonis, gengsian dan kurang merakyat.

Melihat wawasanya yg luas dan cara bicaranya yg mengayomi, beliau sebenarnya lebih cocok untuk terus menekuni dunia pendidikan atau menjadi penasehat pemerintaha, atau minimal menjadi ketua BP7 (penasehat perkawinan).

 

Nah, bagi para pemeluk setia agamanya, yg sayang anak, sayang cucu, lebih baik tidak memilih lelaki berkaca mata ini. Alihkan perhatian ke tokoh lain, misal Amien Rais.

Siapakan AR (Amine Rais)? Secara mendetail saya sendiri kurang kenal. Yg saya kenal hanya berita-beritanya dari media massa. Tapi pasti CIA (mata-matanya amerika) dan FBI (tukang adu dombanya as) tahu secara lengkap sejarah hidupnya.

Kalau ingin tahu politikus sejati, dialah AR. Dialah typical tikus yg sopan. Dia pandai menolah lidah, bagaimana supaya orang-orang mendukungnya, dan menjungkalkan saingannya. Ingat slogan reformasi yg diembannya? Walaupun senjata ampuh itu pernah dipakai oleh pendahulunya seperti Sri Bintang Pamungkas, AM Fatwa, Budiman Sujatmiko, dan para mahasiswa yg diculik, dg cerdiknya AR mencuri senjata itu, dan menggunakannya untuk mengipas-ngipasi mahasiswa agar mendongkel Bp pembangunan kita.

 

Dg berbekal aji-aji reformasi dia melakukan safari kampus to campus, agar para mahasiswa terus demo menentang rejim Soeharto. Hampir tidak ada, waktu itu, universitas yg tidak demo. Uni yg mhsnya tidak demo dianggap panci. Termasuk uni Tri Sakti yg ditebaki para kentara, waktu lagi demo, yg mengakibatkan kerusuhan Mei, yg lebih enak disebut Kudatuli (kerusuhan 27 Juli).

 

Kalau mau dirunut-runut, AR seharusnya ikut bertanggungjawat atas kerusuhan itu. Nah lu. Hayo.

Justru kerusuhan itu diperalat oleh lelaki kecil yg tingginya sebahu saya ini, untuk mendesak Soeharto mundur. Akibatnya seluruh elemen massa waktu itu turut mengutuk Soeharto, seperti efek bola salju di film kartun (kalau di gunung salju beneran, salju longsor tidak seperti bola). Mungkin karena Soehartonya sudah tua, beliau tak menggunakan UU Darurat Militer, atau menangkap AR cs atas tuduhan subversif. Atas desakan berbagai pihak, akhirnya MHS longsor. Sayang, berhubung waktu itu wakilnya Eng Ing Eng Habibie, ya, yg diangkat jadi presiden si Habibie, bukan AR.

 

Sayangnya, Habibie bocor, tak pandai mengambil moment yg luar biasa itu. Malah dia melepas Tim-tim (pulau yg dijadikan proyek militernya Soeharto) tapi enggan menindak tegas bapak angkatnya itu demi hukum dan kepuasan rakyat.

Tololnya lagi, lelaki botak bermata jengkol ini malah mempercepat pemilu. Yaaa…. Berhubung dia bukan politikus dan tak pandai membaca emosi massa, belum lagi meloncat, udah jatuh. Ndak ada yg memilihnya. Kaciaaan deh lu…!

 

Melalui euforia (kebablasan) politik yg dibuka Habibie itulah maka para oportunis negri kkn ini membini partai. Jumlahnya sampai ratusan (bisa jadi Indonesia adalah negara yg paling banyak partai politiknya), termasuk AR dg PAN nya. Karena menurut adat istiadat negri yg penduduknya suka liat pantat Inul ini, politik adalah segalan-galanya. Dan pendiri partai itu, otomatis HARUS jadi ketuanya. Kalau tak terpilih jadi ketua? Ya, bikin partai baru lagi. Begitu juga dg PAN, AR jadi orang no. satu di partainya. Dan walaupun kalah dalam pemilu, dg semangat tikus, AR berhasil jadi ketua MPR DPR RI. Wow.

Begitulah politikus sejati. Harus pandai mencari ide dari bawahan dan oranglain untuk kemaslahatan diri sendiri.

Ideologi lelaki berkepala 4 ini (kalau belum nambah), juga hampir sama dg Cak Nur, sekuler. Pernah juga sekolah di negrinya para yangkee. Tapi moral kemuhammadiyahannya juga lumayan. Apalagi karir politiknya juga dimulai dari menjadi ketua PBMUH (kalau NU, PBNU).

 

Para pemilih musti berhati-hati pada makhluk yg lebih cerdik dari kancil ini. Sebab bagi politikus sejati, rakyat adalah komoditas yg bagus untuk diexploitir dan diperalat doang. Keberpihakannya pada rakyat kecil, petani, nelayan, buruh juga diragukan.

 

Berpihak pada rakyat cilik dan membela mereka adalah agenda yg dulu diusung Megawati dg PDIPnya. Tapi setelah duduk di kursi empuk, setan yg dulu hinggap di kepala pendahulunya mengatakan hal yg sama. Di antaranya KKN susah dihapus, rakyat makin digencet, penggusuran merajalela, pendidikan mahal, kesehatan terabaikan, keamanan susah didapat, pengangguran terus ditingkatkan dst. Mega musti didiskwalifikasi dari perlombaan, sebab dia sudah mengkhianati massanya sendiri, yg nota bene adalah rakyat kecil. Hatinya sebagai wanita kurang peka terhadap kehendak massa. Tingkahnya ternyata sama juga dg wanita sinetron. Ndak ngerti sama sekali bagaimana bernegara dan jadi kepala negara. Tak heran kalau tahtanya yg keramat itu banyak dicatut oleh orang-orang yg mengitarinya, termasuk oleh suaminnya sendiri, the first gentleman, Taufik Kemas.

 

Jangan pilih dia lagi, karena dia beda dari bapaknya. Yg sama cuma hidungnya. Cocoknya duet Mega dg suaminya ini main opera sabun.

 

Tiga calon di atas, menurut penilaian saya tak masuk nominasi. Oke, bagaimana dg Akbar Tanjung alias AT? Jelas-jelas keberadaanya di lembaga negara, makin membuat rakyat muak pada para yudikatif, eksekutif, dan legislatif kita. Bagaimana mungkin seorang pencuri yg sudah benar terbukti dan dijatuhi vonis masih lenggang kangkung keluar masuk gedung DPR MPR, dan polisi tak mau membekuknya, atau setidaknya menembaknya seperti mereka menembak pencuri ayam atau pengedar ganja seperti yg kita lihat di TV.

 

Bagaimana maling bisa jadi presiden? Kalau lah itu sampai kejadian, baguslah kita jadi perompak, garong dan persetan dg hukum. Kalau binatang macam AT ini dibiarkan hidup, dia hanya akan mengotori negri ini, dan memberikan kontribusi yg jelek bagi bangsa.

 

Kalau dia dibiarkan hidup, dunia perpolitikan Indonesia bisa lebih parah dari India, Korea Utara atau Pakistan.

Sebenarnya siapa pun calon presiden negri ini haruslah yg mengerti betul ilmu psikis massa. Rakyat Indonesia adalah orang-orang yg masih punya pola pikir sederhana tentang hidup ini. Cara-cara berpikir yg njelimet dan terlalu banyak kiasan kurang bisa diserap oleh mereka.

Untuk mengetahui pola pikir suatu masyarakat, secara singkat kita bisa lihat dari tontonan mereka. Acara-acara di TV, bioskop yg made ini RI tak ada sama sekali unsur intelektualitasnya. Pola-pola cerita yg sederhana dan expressif, itulah yg mudah dicerna oleh bangsa ini, seperti film-filmya Dono, Sinetron kacangan, yg mengeksploitir keindahan tubuh wanita, rumah megah, mobil mewah dan air mata (adegan nangis yg dipaksakan); setiap adegan harus ada balon-balon katanya.

 

Lain dg film-film produk negara maju. Dari raut muka dan lirikan matanya saja, penonton dididik dan dituntut untuk menerka sang aktor antagonis atau protagonis atau bukan. Film-film RI tak ada itu. Dari judul dan adegan pertama saja sudah ketahuan jalan ceritanya.

Tidak heran, kalau negara RI yg katanya mayoritas penduduknya muslim ini, menyerap begitu saja syair-syair dangdut yg murahan. Bahkan Gus Dur, yg kiyai itu ikut terhanyut menonton dan merestui pantat inul. Ini aneh, sebab membaca saja beliau ndak lihat, kok pantat inul keliatan.

Perlu dicatat, di Singapura yg sudah jelas-jelas sekuler saja, melarang adegan inul. Di Malaysia tak perlu pemerintahnya yg turun tangan. Rakyatnya sudah dewasa dan melihat inul adalah bahaya.

 

Jadi bansa ini sebenarnya tak perlu pemimpin yg selalu berjalan di atas awan dan berpendidikan Harvard, Oxford, MU; atau penyandang gelar tertinggi dari uni-uni keren di negri ini. Pemimpin yg akan datang musti bisa memberi contoh pada bangsa yg masih mentah ini.

Di bidang hukum, pemimpin itu haruslah TEGA membabat habis para koruptor dg arti yg sebenar-benarnya membabat. Para koruptor harus dihukum mati, tanpa kecuali. Kalau perlu dibuat UU: “Bagi siapa yg terbukti menggunakan tanpa hak uang negara sebesar/senilahi 10 gram emas murni, maka dikenakan sanksi berupa seringan-ringannya digantung dan seberat-beranya ditembak sampai mati”.

 

Kalau Soeharto dan kroninya, AT dan kroninya, para bankir nakal dan kroninya dihukum mati, termasuk mereka-mereka yg mencoba menyuap dan disuap, rakyat akan lega. Hukum berat yg diterapkan itu juga merupakan ujud pertobatan bagi pelaku dan untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku yg belum ketahuan dan ejek pikir-pikir bagi yg mau coba-coba maling.

 

Kalau ada capres yg punya program seperti itu, kita harus mendukungnya kuat-kuat. Tapi calon tsb hauslah dari kalangan bawah, yg pernha mengalami pahitnya getirnya menjadi orang susah. Paling tidak dia harus pernha merasakan suka dukanya naik bis kota yg sumpek dan menikmati kemacetan lalu lintas. Dia harus pernah merasakan bagaimana represifnya aparat dalam menindak, dan bagaimana serba salahnya menjadi pedagang kaki lima. Calon tsb harus benar-benar pernah merasakan jadi orang susah. Agar kelak dia benar-benar berpihak pada rakyat yg selalu sampai sekarang ini selalu diperah para pejabat.

Di samping faktor integritas, intelektualitas, ideologi dan moralnya, sang capres haruslah mempunyai komitmen yg kuat dalam hal supremasi hukum, seperti dilansir di atas.

 

Jangan memilih capres yg jadi secara instan, seperti Megawati. Jangan memilih capres yg cacat hukum, seperti Akbar Tanjung. Jangan memilih yg hanya ngerti teori saja, seperti Cak Nur alias Nur Kholis Madjid. Jangan juga yg oportunis, seperti Akbar Tanjung. Jangan juga yg cacat fisik dan mentalnya, seperti Gus Dur.

 

Mereka-mereka adalah manusia bulan, orang-orang yg tak pernah merasakan bagaimana pahitnya jadi rakyat kecil. Pilihlah dari mereka yg sudah pernah secara langsung menderita jadi rakyat, dan mengerti betul kehendak rakyat, secara hukum, ekonomi, pendidikan, kesehatan dll.

Sebetulnya tidaklah susah mencari orang semacam itu, karena dia, salah satunya, adalah emabdalah.

 

Wassalam  

           

 

Hosted by www.Geocities.ws

1