Bon Voyage PKS!

Saya adalah salah satu rakyat
Indonesia yang sempat tercengang melihat kehebatan
PKS berkiprah di kancah perpolitikan
indonesia. Bukan saja terjun langsung ke
arena politik, PKS lah satu-satunya partai yang paling peduli terhadap segala
permasalahan negri ini, khususnya yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Tak terhitung kegiatan sosial PKS menolong rakyat yang kena musibah seperti
kebanjiran, gempa bumi, dan penanggulangan wabah penyakit. Bahkan PKS lah
satu-satunya parpol yang paling pertama mensurvei hasil karya alam di Aceh,
tsunami.

Di kala partai-partai lain sikut-sikutan antar sesama anggotanya, rebutan posisi
puncak di partai, PKS sama sekali adem-ayem. Tak terdengar sesama anggota PKS
saling jegal berebut posisi ketua. Fenomena ini mengikis pemeo negatif politik
yang serba kotor dan jorok, penuh intrik dan tipu muslihat. Sempat timbul rasa
bangga dalam hati saya, kelak bisa jadi, PKS mempelopori suatu revolusi damai,
seperti di
Iran.

Yang terakhir, PKS masih membawa logika yang sejuk, ketika di gedung DPR
membawakan aspirasi rakyat, menolak kenaikan harga BBM. Ketika partai lain
dengan emosional naik ke panggung memawa keributan, PKS tak mau terpancing.
Bahwa hati yang adem dan kepala yang jernih masih menguasai fraksi PKS.

Tapi ternyata itu bukan merupakan gejala yang baik. PKS sama sekali lupa pada
aspirasinya, ketika pada sidang paripurna yang terakhir memilih ikutan partai
lain, menyetujui kenaikan BBM. Apapun istilahnya dalam opsi-opsi yang ditawarkan
di sidang itu, tetap saja pointya adalah MENYETUJUI kenaikan harga BBM. Apa pun
retorikanya, tetap memilih opsi tsb adalah menyetujui.

Hilang sudah pamor PKS yang selama ini menjadi "oposisi" para begundal DPR.
Hilang sudah atribut PKS sebagai juru selamat rakyat dan umat. Kerudung-kerudung
dan peci putih yang jumlahnya jutaan, yang mendukung PKS ternyata hanya jadi
komoditas politik demi kenikmatan sesaat di gedung terhormat.

Ironinya lagi, sampai detik ini saya tak mendengar pertanggungjawaban moril dari
proklamator PKS, Hidayat Nurwahid yang kini duduk sebagai ketua MPR. Seolah
beliau sudah kena syndrom Megalomania, merasa terlalu "tinggi" untuk urusan itu.
Beliau sepertinya lebih suka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bombastis,
tapi merasa nikmat berada di ketiak Agung Laksono.

Selamat jalan PKS, have a nice trip! Selamat bergabung dengan para maling
berdasi yang terus mempolitisir rakyat.

Emabdalah,
Mantan supporter PKS, bukan simpatisan atau pemilih.
Sebab dari dulu berkeyakinan bahwa pemilu di
Indonesia hukumnya haram.


 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1