Jasa "Sang Jenderal" tidak
terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. "Saya
masih ingat, waktu itu Pak Acub Zaenal saya undang ke Stadion Gajayana
ketika Persema lawan Perseden, Denpasar," ujar Ovan. Melihat
penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Liga lantas
mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. "You bikin saja
galatama di Malang," kata Ovan menirukan ucapanAcub.
Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal --putra Mayjen TNI
(purn.) Acub Zaenal-- mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15.
Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya.
"Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif," katanya.
Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana
untuk membentuk klub galatama. "Saya hanya punya pemain,"
ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan alm. Dirk Sutrisno, pendiri
klub Armada.
Melalui beberapa kali pertemuan, maka Lucky A.Z., Ovan Tobing, Dirk
Sutrisno dan Slamet Pramono, sepakat mendirikan Arema '87. Materi
pemainnya campuran klub Armada dan eks pemain Arseto seperti Efendi
Azis, Mahdi Haris, dan lainnya.
Waktu itu, Arema '87 masuk tahap persiapan mengikuti galatama musim
kompetisi VII. Di tengah persiapan itu, masuklah notaris Pramu Haryono
dan James Theo Setlight, menambah jajaran pengurus klub. Sempat ada
kendala, yakni masalah dana --masalah utama yang kelak terus membelit
Arema. "Kalau memang tidak ada alternatif lain, ya papimu Luk
yang harus mendanai," jelas Ovan saat mengantarnya ke Bandara
Juanda.
Sepulang dari Jakarta, Acub Zaenal sepakat menjadi penyandang dana.
Maka, masuklah Arema '87 ke persaingan keras kompetisi Galatama. Mess
pertama klub itu adalah barak Paskhas TNI AU di kompleks Lanud Abdulrahman
Saleh.
Pilihan Nama dan Logo
Soal nama, sempat muncul sejumlah nama,
antara Aremada (Arek Malang Armada) selanjutnya diubah Arema 87 dan
lainnya. Akhirnya disepakati memakai nama Arema. Logonya waktu itu
masih bergambar burung "Garuda".
Soal logo, Acub Zaenal menetapkan gambar
kepala singa karena bertepatan dengan bulan Agustus. Sejak itu, Arema
mulai merasuki pikiran warga Malang. Logo kepala singa ini lahir lewat
sebuah momentum. Kala itu SIWO PWI Malang menggelar lomba membuat
bendera Arema tanpa ada pemaksaan kreasi. Hampir suporter di setiap
RW muncul. Mayoritas mengekspresikan imajinasinya dengan simbol kepala
singa. Seorang pemuda di sebuah gang Jl. Semeru yang mendesain kepala
singa ini. Ia dan kelompoknya akhirnya memenangkan hadiah televisi.
Hasil kreasinya dipampang kali pertama dalam cover depan majalah Singo
Edan produksi SIWO PWI Malang sebanyak 5 ribu eksemplar terbitan Agustus
l993. Akhirnya seakan ada kesepakatan lahirlah logo kepala singa yang
mengaum. Logo inilah yang menjadi logo resmi klub Arema.
Adalah mantan Walikota Malang, dr Tom
Uripan (alm.) yang menjadi birokrat pertama yang memberi restu berdirinya
Arema. Maka, 13 tahun lalu, mulailah muncul "persaingan"
antara Arema dan Persema di pentas satu kota. Tapi Arema lebih terkenal
daripada Persema, konon karena Persema bernuansa birokrat karena klub
itu adalah milik pemerintah daerah.
Pasang Surut
Prestasi klub Arema bisa dibilang seperti
pasang surut, walaupun tak pernah menghuni papan bawah klasemen, hampir
setiap musim kompetisi Galatama Arema F.C. tak pernah konstan di jajaran
papan atas klasemen, namun demikian pada tahun 1992 Arema berhasil
menjadi juara Galatama. Dengan modal pemain-pemain handal seperti
Aji Santoso, Micky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dan eks pelatih PSSI
M.Basri, Arema mampu mewujudkan mimpi masyarakat kota Malang menjadi
juara kompetisi elit di Indonesia.
Walaupun berprestasi lumayan, tapi
Arema tidak pernah lepas dari masalah dana. Hampir setiap musim kompetisi
masalah dana ini selalu menghantui. Sehingga tak heran hampir setiap
musim manajemen klub selalu berganti.
Ketika PSSI memutuskan untuk menggabung
2 kompetisi yaitu kompetisi Galatama yang dihuni klub semi profesional
dan kompetisi Perserikatan yang terdiri dari klub amatir milik Pemda
kedalam kompetisi Liga Indonesia, Arema bergabung dengan klub-klub
elit seperti Persebaya Surabaya, PSM Ujung Pandang, Pelita Jaya, dan
Persipura Jayapura. Walaupun berada dalam grup yang persaingannya
sangat ketat, Arema tetap mampu untuk bertahan dan tidak pernah degradasi
ke divisi I. Sungguh sebuah prestasi yang sangat fenomenal mengingat
selain bersaing dengan klub-klub elit, masalah dana yang menimpa Arema
F.C. bagaikan api yang tak kunjung padam. Sungguh ironis jika melihat
fakta bahwa Arema F.C. adalah klub yang kaya suporter namun miskin
dana.
Sungguh sangat beruntung Arema F.C.
memiliki suporter fanatik yang sangat perduli, pendukung fanatik yang
punya julukan Aremania ini rela membantu Arema F.C., dalam bentuk
sumbangan ataupun dengan cara membayar tiket ketika pertandingan kandang
Arema F.C. di stadion Gajayana. Apalagi kreatifitas Aremania akhirnya
membuat banyak sponsor ikut membantu untuk mendanai Arema F.C. mengikuti
Liga.
Sejak mengikuti Liga Indonesia, Arema
F.C. tercatat pernah 2 kali masuk putaran kedua atau 8 besar. Yang
pertama pada musim kompetisi Liga Indonesia ke II tahun 1995 dan pada
musim kompetisi Liga Indonesia ke VI tahun 2000. Dalam musim Liga
Indonesia ke VII tahun 2001 kali ini, Arema kembali mengulangi suksesnya
masuk putaran 8 besar yang berlangsung di Jakarta.