Tampaknya, arti penculikan mulai bergeser atau sengaja
digeserkan maknanya. Kata penculikan menyaran pada makna negatif
(kriminalitas). Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata kerja dari kata
itu adalah menculik, yang berarti mencuri atau melarikan anak atau
orang, lalu disembunyikan atau dimintakan tebusan. Sang penculik
melakukan penculikan dengan cara sembunyi-sembunyi dan didasarkan
pada rencana yang matang agar tidak diketahui dan ditangkap
sekelompok orang/pemuda atau polisi. Bila penculik semacam ini
tertangap basah oleh sekelompok orang/pemuda, maka ia bisa babak
belur akibat digebuki oleh mereka. Ya, bila ia ditangkap (istilah
halusnya: diamankan) oleh petugas keamanan, ia bisa bernapas agak
lega; ia tak akan diapa-apai bila tidak bandel.
Ratna Diculik?
Dalam proses penyelenggaraan diskusi tentang Wanita, Prosa dan
Ratna, dua penggagasnya, Jarkasi dan Sainul Hermawan, melakukan aksi
“penculikan” terhadap calon pembicara, Ratna Indraswari Ibrahim,
asal Malang Jawa Timur. Konon, karena cerpenis-novelis ini juga
pelaku “penculikan” terhadap orang-orang hebat seperti W.S. Rendra
dan Eep Syaifullah untuk menjadi pembicara suatu diskusi, ia hooh
saja ketika kedua penggagas diskusi itu mencoba “menculiknya”. Ia
tak menolak. Sebab, penculikan model ini bisa mendatangkan manfaat
bagi kedua pihak: penculik dan terculik.
Diskusi itu tak banyak dihadiri oleh peserta. Hal ini, mungkin,
diakibatkan oleh kenyataan bahwa para mahasiswa FKIP Unlam sedangkan
menjalani liburan semester. Sementara, undangan disampaikan melalui
koran. Nah, bagi mereka yang tak membaca undangan yang ditempel di
pintu masuk ruang dosen kampus I FKIP Unlam atau undangan via koran
(Radar Banjarmasin), tentu saja mereka tak tahu kalau FKIP Unlam
-yang dimotori oleh Jarkasi dan Sainul Hermawan- menggelar diskusi
dengan pembicara seorang pengarang hebat. Dekan FKIP Unlam, Drs. H.
Rustam Effendi, M.Pd., dalam sambutannya, mengakui bahwa liburan
semester menjadi salah satu penyebab para mahasiswa (berikut para
dosen?) tak bisa hadir dalam diskusi itu. Mungkin, karena Dekan FKIP
Unlam merasa kurang puas terhadap sederhana and minimnya peserta
diskusi, beliau punya niat untuk mengundang Ratna Indraswari Ibrahim
secara khusus di masa mendatang. Semoga, niat itu kesampaian.
Ratna mampu jadi motivator?
Secara pribadi, saya amat takjub terhadap Ratna. Kalau kita hanya
bertemu ia di jalan, dan duduk di kursi roda, dan didorong oleh
asistennya, kita tak akan menyangka bila ia seorang pengarang 400
lebih cerpen dan novel. Dalam benak saya, ia adalah orang yang luar
biasa. Meski catat fisik bawaan, lumpuh, ia tetap percaya diri. Tak
minder sama sekali. Begitu melihat Ratna, saya kontan teringat
kemenakan saya.
Kondisi fisik kemenakan saya itu punya kemiripan dengan Ratna.
Sebenarnya, secara mental ia normal. Memperhatikan kondisi fisiknya
kurang normal (lumpuh dan tangan kanannya sulit difungsikan), kedua
orang tuanya mengirimnya ke sekolah bagi penderita cacat mental; ia
menolak karena ia merasa dirinya normal. Sementara, kedua orang
tuanya juga enggan megirimnya ke sekolah bagi anak normal; sebab,
mereka khawatir kalau ia merepotkan pihak sekolah dan mendapatkan
olok-olok dari teman-temannya. Hingga sekarang, ia tidak bersekolah.
Andaikan saja, saya tahu Ratna sejak ia masih anak-anak, saya akan
ikut membesarkan hatinya, agar ia mau bersekolah dan memotivasi
kedua orang tuanya agar selalu sabar, telaten, dan pantang menyerah.
Sementara, Ratna mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kedua
orang tuanya. Dengan kondisi fisik seperti itu, ia sempat kuliah di
Fakultas Ilmu Admistrasi Universitas Brawijaya Malang meski tak
lulus. Perhatian dari kedua orangnya, saya kira, bukan hanya
pemenuhan kebutuhan Ratna sebagai makhluk biologis, melainkan
pemenuhan terhadap segala kebutuhan sebagaimana dituntut oleh
manusia normal. Singkatnya, proses pendidikan dan pembelajaran yang
dilalui Ratna mengantarkannya ke Ratna seperti yang kita ketahui:
Ratna yang tak didukung kemampuan fisik dalam dunia tulis-menulis;
namun, ia mampu membaca banyak fenomena kehidupan dan lalu
dituangkan dalam lebih dari 400 karya (cerpen dan novel)-nya.
Dalam pengalaman kepengarangannya, Ratna mengaku pernah “jatuh
bangun”. Ia tak begitu saja menjadi penulis terkenal di negeri ini.
Baginya, karya tulisnya ditolak media cetak itu biasa. Ia tak patah
semangat, kendati –seperti yang ia akui- dari 10 karya yang ia
tulis, semuanya dikembalikan.
Kalau menyimak tuturan Ratna tentang pengalaman dalam
kepengarangannya, ia bisa kita jadikan motivator untuk memunculkan
kreativitas kita dan anak-anak kita dalam dunia tulis menulis. Pesan
Ratna, kalaupun tidak menulis/mengarang cerpen atau novel,
setidak-tidaknya kita menulis sesuatu dalam buku harian dan syukur
menulis artikel. Menurut Ratna, meski baik, menonton televisi,
khususnya sinetron, dan membaca itu bagaikan “hanya menelan
sesuatu”. Hendaknya, kita tidak berhenti di situ saja, namun,
cobalah untuk menulis.
Ratna, Wanita dan Penindasan
Orang atau kelompok bisa melakukan penindasan manakala ia atau
mereka dominan. Dominasi yang melekat pada dirinya atau diri mereka
bisa berimplikasi negatif bila ia atau mereka melakukan penindasan,
penekanan, perampasan hak atau sejenisnya terhadap pihak yang lemah
atau minor.
Bila wanita diposisikan sebagai “konco wingking” (baca: teman tak
setara) yang hanya memainkan peran “masak, macak dan manak”
(memasak, berdandan dan melahirkan) dan memiliki posisi (sosial)
“suargo nunut neroko katut” (baca: laki-laki/suami nyaman,
wanita/istri ikut nyaman), maka penindasan terhadapnya mungkin saja
mudah terjadi. Dalam kaitan ini, Ratna memandang penindasan dari
sisi lain. Penindasan (oppression) bisa terjadi di mana-mana, dan
dilakukan oleh siapa saja. Sebagaimana yang saya tangkap dari
penuturan Ratna, sang penindas tentu merasa dirinya lebih kuat
ketimbang yang ditindas. Wanita bisa saja menindas suaminya.
Hendaknya, penindasan itu tidak dilihat dari segi siapa pelakunya.
Saya kira Ratna benar. Bila wanita memiliki dominasi, ia mungkin
saja akan menindas laki-laki yang note bene suaminya sendiri.
Bukankah fenomena STI (suami takut istri) menyiratkan bahwa sang
istri menempatkan dirinya pada posisi dominan atas suaminya, dan
lalu menindasnya? Let us stop oppressing one to another! Bagaimana
menurut Anda?***
*) Dosen FKIP Unlam, E-mail: muin_sihyar @ yahoo.com