Utama
  RadarKota
  Metropolis
  Banjarbaru
  Martapura
  Olahraga
  Ekonomi
  Redaksi
  Esai
  Tapin
  Batola
  TanahLaut
  Tabalong
  Kotabaru
  Nanang Klelepon
  Tanah Bumbu
  Amuntai
  Guru Favorit
  Kesehatan
  radar peduli
  Budaya/Sastra
  Index Berita


 
 Berita Opini
Kamis, 18 Agustus 2005
Ratna Idraswari Ibrahim dalam Diskusi
Tentang Wanita, Prosa, dan Ratna: Suatu Kilas Balik

Oleh Fatchul Mu’in*,-  Tampaknya, arti penculikan mulai bergeser atau sengaja digeserkan maknanya. Kata penculikan menyaran pada makna negatif (kriminalitas). Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata kerja dari kata itu adalah menculik, yang berarti mencuri atau melarikan anak atau orang, lalu disembunyikan atau dimintakan tebusan. Sang penculik melakukan penculikan dengan cara sembunyi-sembunyi dan didasarkan pada rencana yang matang agar tidak diketahui dan ditangkap sekelompok orang/pemuda atau polisi. Bila penculik semacam ini tertangap basah oleh sekelompok orang/pemuda, maka ia bisa babak belur akibat digebuki oleh mereka. Ya, bila ia ditangkap (istilah halusnya: diamankan) oleh petugas keamanan, ia bisa bernapas agak lega; ia tak akan diapa-apai bila tidak bandel.

Ratna Diculik?

Dalam proses penyelenggaraan diskusi tentang Wanita, Prosa dan Ratna, dua penggagasnya, Jarkasi dan Sainul Hermawan, melakukan aksi “penculikan” terhadap calon pembicara, Ratna Indraswari Ibrahim, asal Malang Jawa Timur. Konon, karena cerpenis-novelis ini juga pelaku “penculikan” terhadap orang-orang hebat seperti W.S. Rendra dan Eep Syaifullah untuk menjadi pembicara suatu diskusi, ia hooh saja ketika kedua penggagas diskusi itu mencoba “menculiknya”. Ia tak menolak. Sebab, penculikan model ini bisa mendatangkan manfaat bagi kedua pihak: penculik dan terculik.

Diskusi itu tak banyak dihadiri oleh peserta. Hal ini, mungkin, diakibatkan oleh kenyataan bahwa para mahasiswa FKIP Unlam sedangkan menjalani liburan semester. Sementara, undangan disampaikan melalui koran. Nah, bagi mereka yang tak membaca undangan yang ditempel di pintu masuk ruang dosen kampus I FKIP Unlam atau undangan via koran (Radar Banjarmasin), tentu saja mereka tak tahu kalau FKIP Unlam -yang dimotori oleh Jarkasi dan Sainul Hermawan- menggelar diskusi dengan pembicara seorang pengarang hebat. Dekan FKIP Unlam, Drs. H. Rustam Effendi, M.Pd., dalam sambutannya, mengakui bahwa liburan semester menjadi salah satu penyebab para mahasiswa (berikut para dosen?) tak bisa hadir dalam diskusi itu. Mungkin, karena Dekan FKIP Unlam merasa kurang puas terhadap sederhana and minimnya peserta diskusi, beliau punya niat untuk mengundang Ratna Indraswari Ibrahim secara khusus di masa mendatang. Semoga, niat itu kesampaian.

Ratna mampu jadi motivator?

Secara pribadi, saya amat takjub terhadap Ratna. Kalau kita hanya bertemu ia di jalan, dan duduk di kursi roda, dan didorong oleh asistennya, kita tak akan menyangka bila ia seorang pengarang 400 lebih cerpen dan novel. Dalam benak saya, ia adalah orang yang luar biasa. Meski catat fisik bawaan, lumpuh, ia tetap percaya diri. Tak minder sama sekali. Begitu melihat Ratna, saya kontan teringat kemenakan saya.

Kondisi fisik kemenakan saya itu punya kemiripan dengan Ratna. Sebenarnya, secara mental ia normal. Memperhatikan kondisi fisiknya kurang normal (lumpuh dan tangan kanannya sulit difungsikan), kedua orang tuanya mengirimnya ke sekolah bagi penderita cacat mental; ia menolak karena ia merasa dirinya normal. Sementara, kedua orang tuanya juga enggan megirimnya ke sekolah bagi anak normal; sebab, mereka khawatir kalau ia merepotkan pihak sekolah dan mendapatkan olok-olok dari teman-temannya. Hingga sekarang, ia tidak bersekolah. Andaikan saja, saya tahu Ratna sejak ia masih anak-anak, saya akan ikut membesarkan hatinya, agar ia mau bersekolah dan memotivasi kedua orang tuanya agar selalu sabar, telaten, dan pantang menyerah.

Sementara, Ratna mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kedua orang tuanya. Dengan kondisi fisik seperti itu, ia sempat kuliah di Fakultas Ilmu Admistrasi Universitas Brawijaya Malang meski tak lulus. Perhatian dari kedua orangnya, saya kira, bukan hanya pemenuhan kebutuhan Ratna sebagai makhluk biologis, melainkan pemenuhan terhadap segala kebutuhan sebagaimana dituntut oleh manusia normal. Singkatnya, proses pendidikan dan pembelajaran yang dilalui Ratna mengantarkannya ke Ratna seperti yang kita ketahui: Ratna yang tak didukung kemampuan fisik dalam dunia tulis-menulis; namun, ia mampu membaca banyak fenomena kehidupan dan lalu dituangkan dalam lebih dari 400 karya (cerpen dan novel)-nya.

Dalam pengalaman kepengarangannya, Ratna mengaku pernah “jatuh bangun”. Ia tak begitu saja menjadi penulis terkenal di negeri ini. Baginya, karya tulisnya ditolak media cetak itu biasa. Ia tak patah semangat, kendati –seperti yang ia akui- dari 10 karya yang ia tulis, semuanya dikembalikan.

Kalau menyimak tuturan Ratna tentang pengalaman dalam kepengarangannya, ia bisa kita jadikan motivator untuk memunculkan kreativitas kita dan anak-anak kita dalam dunia tulis menulis. Pesan Ratna, kalaupun tidak menulis/mengarang cerpen atau novel, setidak-tidaknya kita menulis sesuatu dalam buku harian dan syukur menulis artikel. Menurut Ratna, meski baik, menonton televisi, khususnya sinetron, dan membaca itu bagaikan “hanya menelan sesuatu”. Hendaknya, kita tidak berhenti di situ saja, namun, cobalah untuk menulis.

Ratna, Wanita dan Penindasan

Orang atau kelompok bisa melakukan penindasan manakala ia atau mereka dominan. Dominasi yang melekat pada dirinya atau diri mereka bisa berimplikasi negatif bila ia atau mereka melakukan penindasan, penekanan, perampasan hak atau sejenisnya terhadap pihak yang lemah atau minor.

Bila wanita diposisikan sebagai “konco wingking” (baca: teman tak setara) yang hanya memainkan peran “masak, macak dan manak” (memasak, berdandan dan melahirkan) dan memiliki posisi (sosial) “suargo nunut neroko katut” (baca: laki-laki/suami nyaman, wanita/istri ikut nyaman), maka penindasan terhadapnya mungkin saja mudah terjadi. Dalam kaitan ini, Ratna memandang penindasan dari sisi lain. Penindasan (oppression) bisa terjadi di mana-mana, dan dilakukan oleh siapa saja. Sebagaimana yang saya tangkap dari penuturan Ratna, sang penindas tentu merasa dirinya lebih kuat ketimbang yang ditindas. Wanita bisa saja menindas suaminya. Hendaknya, penindasan itu tidak dilihat dari segi siapa pelakunya.

Saya kira Ratna benar. Bila wanita memiliki dominasi, ia mungkin saja akan menindas laki-laki yang note bene suaminya sendiri. Bukankah fenomena STI (suami takut istri) menyiratkan bahwa sang istri menempatkan dirinya pada posisi dominan atas suaminya, dan lalu menindasnya? Let us stop oppressing one to another! Bagaimana menurut Anda?***

*) Dosen FKIP Unlam, E-mail: muin_sihyar @ yahoo.com


  [ Kembali ]  [ Atas ]

 
 Pencarian Berita
 
  AllAny
 Kategori
 

 
Berita yang Lain
Isra Mikraj, Spiritual Intelligence, dan Pluralisme
Kekayaan yang Terlupakan, Adakah?
Tantangan dan Harapan Muhammadiyah Kaltim
Tolak Amandemen UU Kesehatan No 23 Tahun 1992
Legalisasi Aborsi, Solusi yang Menjebak
TANTANGAN DAN HARAPAN MUHAMMADIYAH KALTIM
Kehidupan yang Terikat
Ironi Kekuasaan dalam Demokrasi




 


Copy Right © 2003 RadarBanjar.Com
This website is best viewed with 800 x 600 Resolutions and Internet Explorer 6.0 and required Macromedia Flash Player Plugin
All Right Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1