Mengenal Feng Shui.

Feng shui diartikan secara harafiah sebagai angin (feng) dan air (shui). Feng shui adalah seni geomansi masyarakat Cina, yang menyangkut penataan tempat, lokasi bangunan dan struktur-struktur lain yang dibuat oleh manusia agar tercapai keselarasan (harmonis) antara manusia dengan lingkungan fisik sekitarnya. Selain difinisi di atas, feng shui dapat diartikan sebagai topografi bumi yang menyangkut gunung, bukit, sungai, lembah, danau.

Angin 

Lebih dari 6000 tahun, pakar Tao telah mengetahui bahwa angin yang bertiup kencang, apakah dingin atau panas, memberi dampak buruk bagi kesehatan dan perilaku kita. Sebaliknya, angin sepoi memberi kesegaran dan energi baru dan berakhir pada kesehatan kita. Semua manusia dan hewan mempunyai aura, yaitu medan elektromagnetik yang mengelilingi tubuh kita. Angin yang bertiup kencang ke arah kita membuat aura kita terombang-ambing seperti layaknya dahan atau ranting pohon yang tertiup angin. Begitu pula kita merasa tidak nyaman, menggigil atau bahkan kehilangan keseimbangan. Suatu tempat dengan tiupan angin yang kencang bukanlah tempat yang cocok untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Kita dapat memasang 'penghalang' dari beton (dibangun tembok) atau menaman pohon untuk mengurangi dampak dari tiupan angin. 

Air 
Air yang mengalir membuat friksi, dimana ini mampu membangkitkan medan elektromagnetik yang akan menarik Chi. Dengan merancang rumah dengan pintu masuk yang menghadap air, kita dapat memperoleh Chi lebih banyak dan ini adalah elemen penting dalam praktik feng shui. Sebaliknya, air yang mengalir deras (dekat sumber mata air, air terjun) karena kekuatannya dapat membahayakan kesehatan. 

Feng shui, sebagai suatu ilmu, relatif sulit dipelajari karena feng shui merupakan kombinasi 'unik' dan beragam disiplin ilmu mulai dari : filsafat, agama/aliran kepercayaan, astrologi, kosmologi, matematika yang dianut dan dipercayai oleh masyarakat Cina digabung dengan berbagai konsep geografi. 

Sejarah Feng Shui 

Praktek feng shui sudah ada di Cina sejak 3.000 tahun yang lalu, meskipun sudah ada 5.000 tahun lampau. Kum Yue adalah istilah awal untuk feng shui. Hum berarti jalan langit dan Yue berarti jalan bumi, keduanya menunjuk tentang keberadaan Chi. Perkembangan feng shui secara signifikan baru terjadi pada dinasti Han (206 SM - 224). Kuo Po menggunakan untuk menentukan lokasi makam dan pada dinasti Sung (960 - 1279) Wang Chi menggunakan untuk menentukan tempat tinggal. Feng shui kemudian menyebar ke Jepang sehingga kota Kyoto dan Nara dirancang dengan menggunakan kaidah feng shui. Banyak yang percaya bahwa pemilihan makam dan kapan pemakaman dilakukan akan menentukan masa depan anak, cucu dan semua keturunan yang akan dikaruniai dengan keberuntungan besar dan kesehatan prima. Kepercayaan ini didasarkan pada hikayat Zhu Yuan Shang, pendiri dinasti Ming. Dikisahkan bahwa dulunya dia hanyalah adalah anak seorang nelayan, akan tetapi karena ayah Zhu (Yuan Shang) menguburkan kakeknya pada tempat yang kemudian dikenal dengan sebutan 'gua raja', maka dia dapat menjadi pendiri suatu dinasti yang terkenal.
Praktek kuno dari feng shui (seringkali disebut geomansi) bukan hanya sebagai kaidah untuk menentukan tempat hunian atau makam saja, melainkan mengandung kegiatan peramalan. Profesi Master feng shui (geomanser) baru muncul pada dinasti Han. Mereka seringkali disebut dengan Kan-Yu Jia. Kan Yu yang berarti studi terhadap aspek geografi dan astronomi guna menentukan baik atau buruknya suatu peristiwa. Feng shui makin banyak digunakan untuk menentukan tempat bagi orang hidup sehingga manfaat awalnya, sebagai cara untuk menentukan lokasi makam, hampir dilupakan orang.
(bersambung....)

 

 
  balik lagi... lanjut terus..  
<<menu utama >> ~ <<architecture>> ~ <<interior>> ~ <<exhibition>> ~ <<landscape>> ~ <<profile>>
~ <<article>> ~ <<daftar tamu & komentar>>
Hosted by www.Geocities.ws

1