Jangan Salahkan Mereka Yang Tak Beruntung
Hidup adalah sebuah takdir bagi tiap diri seseorang . Takdir pun adanya karena keyakinan terhadap adanya Tuhan. Dimana tiap orang memiliki kehidupan takdirnya masing-masing. Memiliki perbedaan nurani bahkan kehidupan duniawi. Perbedaan kasta atau tingkat kehidupan seseorangpun mempengaruhi jalannya hidup dengan banyak cerita dan rintangan yang berbeda.
Beberapa orang beruntung memiliki nasib dan takdir yang baik. Namun tak banyak juga orang yang nasibnya tak seberuntung yang orang lain miliki. Pada saat inilah fakta kehidupan terlihat, terkadang kita tak menyadari hal ini. Bahkan tak pernah menoleh atau terlintas pikiran tuk merenungkan apa yang telah terjadi disekeliling.
Sebagian orang yang beruntung belum tentu bisa melakukan apa yang orang pinggiran seperti anak jalanan lakukan untuk kehidupannya. Mereka bukanlah orang bodoh, tetapi nasib mereka yang meminta mereka untuk jadi orang yang lebih kuat dibandingkan kita orang yang telah memilki kecukupan lebih. Tapi buruknya adalah pemikiran, orang kaya mungkin mengira orang tak berpunya itu adalah pecundang. Namun, tidakkah mereka pikir mereka lah pecundang itu karena tak pernah berpikir untukmembawa perubahan pada dunia kemiskinan.
Kekayaan adalah segalanya bagi mereka yang berpunya. Inilah sebutan kerakusan dunia, yang kaya makin menjaya dan yang miskin makin terpuruk. Meremehkan tiap receh kembalian yang mereka punya sedangkan yang miskin mengemis ria ditengah padatnya lalu lintas. Tak pernah mereka tahu bahwa tiap receh atau pemberian yang mereka berikan jadi bahan pokok nasi yang orang lain makan. Satu langkah perubahan kemajuan untuk dunia ini lebih berharga dari pada kekayaan mereka sendiri.
Disisi lain melalui dunia pendidikan, golongan bawah tak bisa sekolah tanpa adanya bantuan mustahil jika mereka mendapatkan pendidikan tinggi dan berkualitas. Program sekolah gratis yang diberikan pemerintah pun belum tentu menjamin mereka dapat bersekolah dengan tenang. Mungkin uang pembayaran sekolah memang digratiskan tapi tidak untuk baju seragam dan perlengkapan lain yang harus mereka miliki. Belum lagi faktor kebutuhan yang harus mereka penuhi, sebagian mereka harus bekerja diseling waktu sekolah mereka bahkan tak jarang jika mereka membolos atau berhenti sekolah.
Dari beberapa pemikiran tersebut, akankah kita masih menganggap orang pinggiran merupakan sekelompok orang yang bodoh dan tak mau berusaha? Sadarilah bahwa kita memang beruntung tetapi hidup mereka lebih berarti karena usaha dan resiko hidup mereka melebihi apa yang kita lakukan.
“Children on the street who have nothing would like to share but why we are who have everything still such as greedy”