MENJADI pemimpin memang sudah menjadi takdir yang
harus dijalani P.R.A. Arief Natadiningrat, S.E. Sebagai putra mahkota Keraton
Kasepuhan Cirebon, Arief adalah penerus tradisi dan budaya Kesultanan Kasepuhan.
SEBAGAI anak keturunan Prabu Siliwangi dan Syeh Syarif Hidayatullah
atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati, Arief mewarisi darah kepemimpinan
dari keduanya. Berdasarkan sejarahnya, pada abad XV Pangeran Cakrabuana
putra mahkota Pajajaran membangun Keraton Pakungwati dan memproklamasikan
kemerdekaanya dari kerajaan Pajajaran. Putrinya yang bernama Ratu Ayu Pakungwati
kemudian menikah dengan sepupunya bernama Syekh Syarif Hidayatullah putra
Ratu Mas Larasantang (adik Pangeran Cakrabuana).
Sejak kecil, Arief yang sudah dipersiapkan sebagai putra mahkota penerus
Kesultanan Kasepuhan sudah dibiasakan dengan tradisi keraton. Akibatnya,
tidak saja waktu bermainnya jadi tersita karenanya, tetapi juga lingkungan
pergaulannya sangat terbatas.
Namun, ada saat Arief diberi kebebasan untuk melihat-lihat sekeliling
keraton dan keliling kota, tentu dengan pengawalan kerabatnya.
"Pada saat-saat itulah, saya merasakan kebahagian tersendiri bisa melihat
sekeliling keraton dan melihat-lihat kota," ujar Arief mengenang masa kecilnya.
Seabrek jabatan di organisasi profesi dan kemasyarakatan selalu menunggu
waktunya. Selain sebagai Ketua Yayasan Keraton Kasepuhan, ia juga sebagai
Direktur PT Cirebon Raya Internasional, PT Nurjati Mas Internasional. Arief
juga aktif di 30 Organisasi, di antaranya sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha
Pengadaan Barang dan Jasa Indonesia (Aspanji) Jabar juga Ketua Ardin Jabar.
Bapak tiga putra dan satu putri ini pun menjabat sebagai Ketua Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Cirebon dan Ketua Badan Pengembangan
Kawasan Andalan Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan).
Jadwal kerjanya tidak hanya di Kota Cirebon dan sekitarnya. Sebagai putra
mahkota, Arief juga mengemban kewajiban sebagai duta Keraton Kasepuhan
sekaligus "duta budaya" Cirebon.
Saat "PR" berhasil "menyandera" Arief untuk sekadar ngobrol, telefon
genggamnya tidak henti-hentinya berdering. Belum sempat menyelipkan "ponsel"
di saku bajunya, suara musik dari "ponsel"-nya kembali mengalun. "Ini sih
kebetulan saja banyak telefon yang masuk. Biasanya juga tidak sebanyak
ini, mungkin sengaja mengganggu obrolan kita," ujar Arief berseloroh. Sebagai
putra mahkota, Arief harus bisa meleburkan diri dalam citra keraton. Meski
demikian, bukan berarti Arief bersikap dan berperilaku feodal. Sebagai
keturunan ulama dan umaro, Sunan Gunung Jati yang juga salah seorang dari
sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa, Arief memiliki tanggung jawab
juga untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai hidup dan kebaikan
yang diajarkan leluhurnya.
Meski Arief sadar betul tingkatannya tidak sejajar dengan Sunan Gunung
Jati, setidaknya ia berupaya menerapkan semua ajaran Islam yang mengajarkan
humanisme, toleransi, kebaikan, keikhlasan, ketulusan, dan memberi tanpa
pamrih. **
SEBAGAI pemimpin, baik di rumah maupun di organisasi kemasyarakatan,
profesi, dan lainnya, Arief berusaha menerapkan betul sikap demokratis
yang menjadi ciri khas ajaran Sunan Gunung Jati. Sikap demokratis itu bahkan
tampak nyata dan diwujudkan dalam bentuk arsitektur campuran antara Islam,
Hindu-Budha, dan Eropa. Bangunan keraton sekarang ini di bawah kekuasaan
Sultan Sepuh ke XIII, P.R.A. H. Maulana Pakuningrat, S.H.
Begitu memasuki halaman kompleks keraton, kita akan langsung melihat
pintu gerbang Keraton Kasepuhan dengan gaya Eropa dan berhiaskan motif
pinggir awan di bagian atas serta motif karang di bagian bawahnya.
Sementara itu, pas di depan gerbang bergaya Eropa tersebut, tampak patung
dua macan putih yang melambangkan Cirebon sebagai penerus Kerajaan Pajajaran.
Keberadaan patung ini dengan sangat jelas memperlihatkan pengaruh budaya
Hindu-Sunda sebagai agama resmi Kerajaan Pajajaran.
"Beliau (Sunan Gunung Jati) memang sangat demokratis dan toleran dan
itu tercermin dalam arsitektur keraton yang merupakan akulturasi dari berbagai
budaya," katanya.
Dari pernikahannya dengan Syarifa Isye, Arief mendapatkan tiga putra
dan satu putri, yakni si sulung Elang Raja (E.R.) Ari Rahmanudin, E.R.
Lukman Zulkaedin, Ratu Raja (R.R.) S. Fatimah Nurhayani, dan si bungsu
E.R. Muhammad Nusantara.
Putra sulung dan putra keduanya, saat ini duduk di bangku kelas II sekolah
menengah pertama, sementara putrinya duduk di bangku terakhir sekolah dasar
dan si bungsu masih di Taman Kanak-kanak (TK).
Kepada putra-putrinya, Arief selalu memberikan kebebasan baik dalam
pendidikan maupun aktivitasnya. Hanya satu hal yang menjadi patokan Arief
dalam mendidik anak-anaknya, yakni ia selalu menekankan anaknya agar menjadi
anak yang saleh.
Dengan menjadi anak yang saleh, selain anak tidak lupa dengan perintah
dan ajaran agama, tetapi dengan sendirinya menjadi orang yang berbakti
dan hormat kepada orang tua, mendoakan orang tua, dan tidak akan mengecewakan
orang tua.
Didikan mulia yang diajarkan secara turun temurun oleh orang tuanya
tidak hanya diterapkan dalam keluarga, tetapi juga di luar lingkungan keraton
sehingga menjadikan Arief figur yang patut diteladani. Sifatnya yang ramah
tidak pernah memandang asal-usul lawan bicaranya dan sikapnya yang tegas
terkadang membuatnya seperti sosok yang lebih tua dari umur sebenarnya.
Sikap rendah hati senantiasa diperlihatkan Arief dalam segala kesempatan.
Termasuk ketika dirinya mendapat desakan dari arus bawah untuk mencalonkan
diri dalam suksesi pucuk pimpinan di Kota Cirebon. Bapak tiga putra dan
satu putri ini malah memilih jalan sebaliknya, dengan alasan dirinya masih
banyak memiliki kekurangan.
**
DALAM kesempatan merayakan ulang tahunnya yang ke-37 yang berlangsung
secara sederhana dan khidmat, Arief mengumumkan keputusannya untuk tidak
mencalonkan diri. Langkah Arief yang menyatakan tidak akan mencalonkan
diri dalam bursa calon Wali Kota Cirebon periode 2003-2008 tersebut tentu
saja sangat mengejutkan dan mengundang berbagai komentar. Banyak alasan
yang dikemukakan pihak yang kecewa dengan langkah Arief tersebut. Saking
kecewanya atas keputusan Arief tersebut, mereka sampai menyatakan Arief
tidak menghargai aspirasi arus bawah.
Atas kenyataan itu, Arief menjelaskan, tidak ada sama sekali niatnya
untuk mengabaikan apalagi tidak menghargai arus bawah. Keputusan tersebut
diambilnya dengan berbagai pertimbangan yang dinilainya cukup logis dan
realistis.
"Dalam situasi multi krisis seperti sekarang ini kan Kota Cirebon
membutuhkan pemimpin yang mumpuni selain tentu saja moralitasnya juga terpuji.
Dia harus bisa membawa Cirebon ke arah yang lebih baik dari sekarang dan
saya merasa belum mempunyai kelebihan untuk menjadi calon pemimpin
sekaliber itu," dalihnya.
Desakan berbagai kalangan yang meminta Arief tampil memimpin Cirebon,
bukan tanpa alasan. Selain alasan bibit yakni keturunan Sunan Gunung
Jati yang notabene adalah pendiri Kerajaan Cirebon dan ulama penyebar Islam
di tanah Jawa, juga alasan bobot yakni wawasan, visi, dan misi Arief
dalam berbagai organisasi yang dipimpinnya selama ini menunjukkan arah
yang jelas.
Meski demikian, dalam obrolan seputar suksesi wali kota periode 2003-2008,
P.R.A. Arief yang ditemui di kediamannya, menyatakan kesediaannya menjadi
wali kota asalkan diminta masyarakat dan fraksi di DPRD. Namun, pihaknya
tidak akan mencalonkan diri karena mencari jabatan tidak diperkenankan
kedua orang tuanya.
"Kita serahkan kepada DPRD dan Masyarakat Kota Cirebon. Nasihat Gusti
Sultan Sepuh XIII, orang tua saya bahwa saya tidak boleh mencari jabatan.
Oleh karena itu, saya tidak mencalonkan, tetapi kalau dicalonkan oleh mayoritas
masyarakat Cirebon dan fraksi-fraksi yang ada di DPRD, itu merupakan amanah.
Saya harus menjalankan itu sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya serta seadil-adilnya,"
ujarnya tenang.
Tentu saja dalam kesediaan untuk mengemban amanah itu, Arief tidak hanya
bertangan kosong tanpa bekal apapun. Dalam soal kepemimpinan, figur Arief
tentu sudah teruji. Sementara untuk menjawab pertanyaan kemana Cirebon
akan dibawa Arief menjabarkannya dalam visi dan misi Kota Cirebon yang
dikemas dalam program "Cirebon Raya", singkatan dari "Ciptakan Masyarakat
Kota Cirebon yang Sejahtera dan Berdaya".
Namun, terlepas dari semua itu, Arief mendukung sepenuhnya siapa pun
yang nanti akan terpilih untuk memimpin Kota Cirebon menuju masa depan
yang lebih baik. Tentu saja dengan catatan, proses pemilihan berjalan dengan
fair, demokratis, dan bersih dari praktik money politics.