Doa sebagai energi

Home ] Tidak mau berdoa ? ] Doa ditolak ? ] [ Doa sebagai energi ] Doa hari Jum'at ] Sholat & Doa ] Doa & Ihktiar ]


DOA SEBAGAI ENERGI DISEMINARKAN DI JAKARTA
Jakarta, JP. (1988)=========> RABA-1

Doa sebagai energi, dianalisis oleh Dra Sri Kusdyantinah dari Fakultas
Pascasarjana Universitas Nasional dalam seminar yang diselenggarakan
oleh Himpunan Filsafat Indonesia, di Aula Universitas Nasional Rabu
kemarin. Seminar yang dibuka oleh Prof Dr Sutan Takdir Alisjahbana ini
akan berlangsung sampai hari ini.

Menurut Kusdyantinah, doa sama dengan pikiran, yang pada hakikatnya
adalah ENERGI. Untuk mengukur frekuensi energi PIKIRAN, bisa dilakukan
dengan alat kedokteran yang disebut "Electro-Encephalograf." Sedang
untuk mengukur frekuensi DOA, pernah dicoba dengan pemotretan listrik
berfrekuensi tinggi, Metode KIRLIAN", ujar Kusdyantinah yang juga
dikenal sebagai penerjemah buku-buku Alvin Toffler dan Khalil Gibran
itu.

Kusdyantinah lantas menunjukkan eksperimen yang pernah dilakukan
bersama Dr Sutisna Sastrawijaya, kepala Study Centre LAPAN (Lembaga
Antariksa Penerbangan dan Aeronautika Nasional).

"Hasil eksperimen membuktikan bahwa setiap "Asmaul Husna" memiliki
ciri-ciri spesifik yang khas ketika dicoba dengan pemotretan "Metode
Kirlian" ", ujarnya.

Ketika itu, menurut Kusdyantinah, ia bersama beberapa orang disuruh
membaca lafal "Yaa Rahmaan Yaa Rahiim" pada sebuah gelas berisi air
putih beratus-ratus kali. Kemudian gelas itu dipotret dengan metode
Kirlian. "Hasilnya, ternyata suatu rekaman yang memvisualkan warba biru
keemasan. Warna itu sama dengan warna biru kemasan yang berhasil
direkam dari potret Ibunda theresia, pemenang Nobel dari India", ujar
Kusdyantinah menerangkan.

Pemotretan dengan metode Kirlian itu lantas dicobakan lagi dengan
mengucapkan lafal "Yaa Hayyu, Yaa Qoyyum" pada sebuah gelas berisi air
putih. Hasilnya, ternyata rekaman warna kecoklat-coklatan yang nyaris
seperti warna the. "Dan, air dalam gelas itu diminumkan kepada orang
yang sakit lumpuh menahun, ternyata orang itu bisa sembuh dalam
beberapa hari", kata Kusdyantinah.

Kirlian Efect sebagai hasil dari "high frequency photography", menurut
Kusdyantinah , mampu menangkap emanasi cemerlang dari sekitar tubuh
manusia. "Karena tubuh manusia akan nampak memancarkan sinar apabila
ditempatkan pada sebuah medan arus lstrik yang berfrekuensi tinggi. Dan
demikianlah, doa yang diucapkan seseorang pada tahap tertentu akan
menampakkan pancaran sinar apabila ditangkap dengan pemotretan metode
Kirlian", ujarnya.

Kusdyantinah menjelaskan bahwa pemotretan listrik berfrekuensi tinggi
metode Kirlian dan Electro-Enchepalograf adalah alat-alat hasil
teknologi yang bisa merekam dan memvisualisasikan sinar-sinar berwarna.
 

BOUGENVILLE TIDAK BAIK DITANAM DI DEPAN RUMAH

Jakarta, JP. (1988)=========> RABA-2

Metode Kirlian yang diseminarkan di Universitas Nasional Jakarta, Rabu
lalu, sebenarnya tidak hanya mampu memotret energi doa. "Metode itu
bisa untuk melihat macam-macam energi yang tidak terlihat mata
manusia", kata Dr Sutisna Sastrawijaya, pelopor penelitian Metode
Kirlian di Indonesia.

Sutisna diwawancarai sehubungan dengan Seminar Doa sebagai Energi yang
dianalisis Dra Sri Kusdyantinah dari Fakultas Pascasarjana Universitas
Nasional (Jawa Pos, kemarin). Seminar tersebut bersumber dari
eksperimen Metode Kirlian yang pernah dilakukan Sutisna.

Menurut Sutisna, Metode Kirlian berasal dari Belanda. "Kalau kita
membeli peralatan fotografi Kirlian dari Belanda, maka kita akan
mendapatkan petunjuk dan cara prakteknya", ujarnya. Maka dari itu, ia
sendiri tidak tahu dari mana istilah Kirlian itu dipakai. "Saya tahu,
Kirlian itu nama orang Rusia, penemu metode itu", katanya.

Peralatan Kirlian itu berupa kamera foto serta seperangkat lampu "high
voltage". Harga peralatan itu, menurut Sutisna, sekitar Rp. 15 juta
pada sekitar tahun 1979. Satu-satunya pemilik alat itu di Indonesia
adalah LAPAN (Lembaga Antariksa Penerbangan dan Aeronautika Nasional)
Jakarta.

Pada 1979 ketika Sutisna masih menjabat kepala Study Centre LAPAN,
eksperimen metode Kirlian itu ia lakukan bersama stafnya, Drs Pakpahan.
Yang diteliti, antara lain, pancaran energi doa.

Ketika itu, seorang mubaligh yang dianggap punya tingkat ketaqwaan
tinggi, sedang berdoa di sebuah ruangan gelap (tanpa penerangan lampu).
Mubaligh itu melafalkan Asmaul Husna, Ya Rahman Ya Rahim, berkali-kali
dengan kedua tapak tangan menengadah. Sementara di hadapan mubaligh
tersebut, di dekat tangannya, diletakkan sebuah gelas berisi air putih.

"Ketika sampai pada tahap tertentu, ujung jari mubaligh itu disorot
dengan lampu "high voltage". Dan, saat itulah dilakukan pemotretan",
tutur Sutisna. Hasilnya, ujung-ujung jari si mubaligh memancarkan sinar
biru keemasan (Sutisna menyebutnya, Aura). Dan, sinar tersebut terlihat
jelas sebab dipantulkan oleh gelas berisi air tadi.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang yang sedang melakukan
sholat tahajjud di malam hari memancarkan Aura lebih terang dari pada
ketika sholat di siang hari. Mungkin ini akibat kondisi siang hari
banyak gangguan (Interference) dari Aura sekitar terutama cahaya
matahari.

Penelitian tidak berhenti, Sutisna dibantu Pakpahan, lantas meneliti
tumbuh-tumbuhan, juga manusia dalam keadaan tidak sedang berdoa. Dan
hasilnya, beberapa hal yang selama ini tidak terlihat mata, terungkap
dalam penelitian itu.

Salah satu penelitian mereka tentang penolakan masyarakat Banten yang
enggan menanam bunga Bougenville. "Sebenarnya, penelitian ini terjadi
secara kebetulan saja", kata Sutisna.

Ceritanya, ketika itu Sutisna berniat mencoba meneliti tumbuh-tumbuhan.
"Kebetulan saya pilih bunga Bougenville untuk dipotret dengan metode
Kirlian", kenangnya.

Hasil pemotretan, terungkap bahwa ujung-ujung bunga Bougenville
memancarkan Aura kemerah-merahan. "Saya tafsirkan, Aura itu membawa
pengaruh panas", ujar Sutisna. Maksudnya, lanjut Sutisna, bunga itu
akan berpengaruh jelek jika ditanam di depan rumah, sebab penghuni
rumah akan menyerap radiasi Aura kemerahan itu.

Uniknya, lanjut Sutisna, masyarakat banten seolah-olah sudah mengetahui
pengaruh tersebut. "Sejak dulu kala, masyarakat Banten tidak pernah
menanam Bougenville di depan rumah mereka. Menurut mereka, bunga itu
menyebabkan keluarga penghuni rumah sering bertengkar ", katanya.

Dengan penelitian itu, Sutisna menyimpulkan bahwa sesuatu yang semula
dianggap tahayul oleh masyarakat Banten, ternyata memang terbukti
menurut penelitian ilmiah.

Dari sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna, menurut dia, yang
paling penting adalah penelitian mengenai padi. "Ini sangat berguna
bagi petani", ujarnya.

Padi yang sehat, menurut hasil pemotretan Metode Kirlian, memancarkan
sinar putih bersih. Sedangkan padi yang terserang hama, memancarkan
sinar putih kecoklatan atau putih kehitam-hitaman. "Jadi, meskipun
tanaman padi yang tampaknya sehat, jika dipotret ternyata berwarna
putih kecoklatan, maka padi itu tidak sehat", tuturnya. "Dengan cara
ini, bisa dilakukan pencegahan hama sejak dini", tambahnya.

Yang mengerikan, pemotretan itu bisa dilakukan untuk mengetahui sehat
atau tidaknya seseorang. "Orang yang sehat, jika dipotret memancarkan
Aura putih. Sedangkan yang kurang sehat, memancarkan Aura kelabu. Dan,
yang hampir meninggal dunia memancarkan Aura hitam kemerah-merahan",
tuturnya.

Dengan begitu, menurut Sutisna, meski seseorang tampaknya sehat, namun
jika dipotret memancarkan warna hitam, maka yang bersangkutan dalam
keadaan bahaya. "Artinya, jika ia sakit sepele saja, dalam waktu
singkat akan meninggal dunia", tuturnya.

Sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna di LAPAN itu berhenti sejak
1980. "Sebab, Bapak Direktur LAPAN yang menggantikan Pak Salatun,
tampaknya kurang tertarik dengan Metode Kirlian", kata Sutisna. Sejak
itu pula Sutisna pensiun dari LAPAN. "Peralatan yang pernah saya
gunakan dulu, kini masih tersimpan di LAPAN", tambahnya.

Kini, Sutisna yang menjabat staf ahli di Direktorat Kesehatan TNI AU
Jakarta, berminat untuk melakukan sejumlah penelitian dengan Metode
Kirlian lagi. "Tapi, saya kesulitan membeli peralatan yang cukup mahal
itu", katanya.

---------------------------------------

DIKAITKAN TAKHAYUL, METODE KIRLIAN TAK DIKEMBANGKAN
 
 

Jakarta, JP. (1988)=========> RABA-3

Pemotretan dengan Metode Kirlian yang mempergunakan teknik "High
Frequency Photography" yang pernah dilakukan Dr Sutisna Sastrawijaya,
Kepala Study Centre LAPAN (Jawa Pos, 11-12 Agustus lalu) sekarang ini
sudah tidak lagi dikembangkan.

"Bahkan sejak 1979, alat itu sudah disimpan di gudang", ujar Ir Alfred
Sitinjak MSc, kepala Pusat Studi Dirgantara LAPAN kepada Jawa Pos yang
menghubunginya kemarin. Peralatan fotografi dengan metode Kirlian,
sebenarnya merupakan sebagian alat yang dipakai untuk studi tentang
"space biomedicine". Dengan demikian, sebenarnya peralatan fotografi
Kirlian hanya digunakan oleh beberapa negara maju dengan teknologi
tinggi yang sudah menjangkau antariksa.

Bagi Indonesia, kata Alfred, peralatan tersebut terlalu canggih.
"Akibatnya, peralatan Kirlian tersebut justru dikait-kaitkan dengan
paranormal", ujarnya.

Pernyataan Alfred itu dibenarkan Maramis Safri, stafnya yang ditugasi
menjaga peralatan tersebut. "Dulu waktu rami-ramainya seminar tuyul,
beberapa orang paranormal datang ke LAPAN. Katanya ingin melihat alat
yang bisa memotret tuyul ", ujar Maramis.

"Waktu itu kami langsung menjelaskan kalau alat itu tidak bisa memotret
tuyul. Rupanya penjelasan tentang alat Kirlian itu terlalu
dibesar-besarkan", kata Maramis.

Mengenai alat Kirlian sendiri, Sheila Ostrander dan Lynn Schroeder
dalam buku "Phychis Discoveries mengemukakan bahwa Kirlian Effect
terjadi dengan High Frequency Photography yang dapat menangkap Aura
(lompatan cahaya) cemerlang dari sekitar tubuh manusia.

Pancaran sinar tersebut dapat terlihat bila tubuh itu ditempatkan dalam
sebuah medan arus listrik berfrekuensi tinggi. Metode Kirlian sendiri
ditemukan oleh sepasang suami-istri ilmuwan listrik Semeyon dan
Valentina Kirlian, dari Rusia.

Metode tersebut dikembangkan berdasarkan teknik generator pemantik
frekuensi tinggi yang sudah diperkenalkan oleh Nikolai Tesla. Namun,
teknik Kirlian mempunyai fungsi penerapan yang lebih luas. Metode ini
dapat dimanfaatkan untuk bidang botani, kedokteran, peralatan mikroskop
sampai holografik.

Dr Hilner dan E.F. Smart, dua peneliti dari Inggris pernah mengadakan
eksperimen dengan pemotretan voltage DC tinggi. Mereka menemukan adanya
energi interaksi-transfer antara sehelai daun yang baru dipetik dengan
daun layu yang dipetik 24 jam sebelumnya. Dari hasil riset kedua
peneliti tersebut diketahui pula bahwa musik dapat mengubah corona yang
terpancar dari hasil aura menjadi lebih terkonsentrasi.

Singkatnya, metode Kirlian dapat diterapkan di dunia kedokteran. Tapi,
karena terlalu tingginya teknologi tersebut, hasilnya belum bisa
dijabarkan secara realistis untuk kemanfaatan ilmu kedokteran di
Indonesia.

Maramis, staf pusat studi Dirgantara LAPAN yang selalu mendampingi Dr
Sutisna dalam berbagai penelitian menyatakan bahwa sejauh itu belum ada
orang yang mampu menafsirkan makna corona hasil emanasi dari Kirlian
Effect. Di samping itu, penelitian dengan metode tersebut sering
bersifat subjektif. Misalnya, suatu ketika ia pernah memotret ibu jari
seseorang yang dianggap sangat saleh dan taat beribadah. Hasilnya,
ternyata menyatakan bahwa orang tersebut tergolong jahat. "Jadi, kita
>tidak berani memastikan apakah hasil Kirlian Effect itu benar begitu,
atau penafsiran masing-masing corona terpancar yang belum ada standar
itu yang keliru", ujar Maramis menjelaskan.

Alfred yang menggantikan Dr Sutisna ini juga mengatakan, peralatan itu
terlalu besar dananya bila dioperasikan untuk studi Space Biomedicine.
Bahkan dengan dana 100 miliar dolar pun masalah space biomedicine belum
teratasi", ujarnya.


Hosted by www.Geocities.ws

1