بسم الله الرحمن الرحيم
|
MENGENAL SEJARAH DAN PEMAHAMAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH [ Majalah Salafy Edisi Perdana/Syaban/1416 H/1995 H, Rubrik Aqidah, Hal 14-17 ] |
|
Sebelum kita berbicara tentang topik dan judul pembahasan ini, sebaiknya kita mengenal beberapa pengertian istilah yang akan dipakai dalam pembahasan ini.
1. As-Sunnah
As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan
baik itu dalam perkara kebaikan maupun perkara kejelekan. Maka As-Sunnah
yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah ialah jalan yang ditempuh dan
dilaksanakan oleh Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam serta para shahabat
beliau, dan pengertian Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang berupaya memahami
dan mengamalkan As-Sunnah An-Nabawiyyah serta menyebarkan dan membelanya.
Menurut bahasa Arab pengertiannya ialah dari kata Al-Jamu' dengan arti
mengumpulkan yang tercerai berai. Adapun dalam pengertian Asyari'ah, Al-Jama'ah
ialah orang-orang yang telah sepakat berpegang dengan kebenaran yang pasti
sebagaimana tertera dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits dan mereka itu ialah para
shahabat, tabi'in (yakni orang-orang yang belajar dari shahabat dalam pemahaman
dan pengambilan Islam) walaupun jumlah mereka sedikit, sebagaimana pernyataan
Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu : "Al-Jama'ah itu ialah apa saja yang
mencocoki kebenaran, walaupun engkau sendirian (dalam mencocoki kebenaran itu).
Maka kamu seorang adalah Al-Jama'ah."
Segala sesuatu yang baru dan belum pernah ada asal muasalnya dan tidak biasa
dikenali. Istilah ini sangat dikenal dkialangan shahabat Nabi Rasulullah
salallahu 'alaihi wa sallam karena beliau selalu menyebutnya sebagai ancaman
terhadap kemurnian agama Allah, dan diulang-ulang penyebutannya pada setiap
hendak membuka khutbah. Jadi secara bahasa Arab, bid'ah itu bisa jadi sesuatu
yang baik atau bisa juga sesuatu yang jelek. Sedangkan dalam pengertian syari'ah,
bid'ah itu semuanya jelek dan sesat serta tidak ada yang baik. Maka pengertian
bid'ah dalam syariah ialah cara pengenalan agama yang baru dibuat dengan
menyerupai syariah dan dimaksudkan dengan bid'ah tersebut agar bisa beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih baik lagi dari apa yang ditetapkan oleh
syari'ah-Nya. Keyakinan demikian ditegakkan tidak di atas dalil yang shahih,
tetapi hanya berdasar atas perasaan, anggapan atau dugaan. Bid'ah semacam ini
terjadi dalam perkara aqidah, pemahaman maupun amalan.
Arti salaf secara bahasa adalah pendahulu bagi suatu generasi. Sedangkan
dalam istilah syariah Islamiyah as-salaf itu ialah orang-orang pertama yang
memahami, mengimami, memperjuangkan serta mengajarkan Islam yang diambil
langsung dari shahabat Nabi salallahu 'alaihi wa sallam, para tabi'in (kaum
mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari para shahabat) dan para
tabi'it tabi'in (kaum mukminin yang mengambil ilmu dan pemahaman/murid dari
tabi'in). istilah yang lebih lengkap bagi mereka ini ialah as-salafus shalih.
Selanjutnya pemahaman as-salafus shalih terhadap Al-Qur'an dan Al-Hadits
dinamakan as-salafiyah. Sedangkan orang Islam yang ikut pemahaman ini dinamakan
salafi. Demikian pula dakwah kepada pemahaman ini dinamakan dakwah salafiyyah.
Suatu golongan dari ummat Islam yang mengambil fislafat sebagai patokan
amalan agama dan mereka ini meninggalkan jalannya as-salaf dalam memahami Al-Qur'an
dan Al-Hadits. Awal mula timbulnya istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak
diketahui secara pasti kapan dan dimana munculnya karena sesungguhnya istilah
Ahlus Sunnah wal Jama'ah mulai depopulerkan oleh para ulama salaf ketika semakin
mewabahnya berbagai bid'ah dikalangan ummat Islam.
Mengapa ahlu sunnah demikian bersikeras merujuk pada pemahaman para shahabat
Nabi salallahu 'alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits? Ini
adalah pertanyaan yang tentunya membutuhkan dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadits
untuk menjawabnya. Ahlus Sunnah merujuk kepada para shahabat dalam memahami
Al-Qur'an dan Al-Hadits dikarenakan Allah dan Rasul-Nya banyak sekali
memberitahukan kemuliaan mereka, bahkan memujinya. Faktor ini membuat para
shahabat menjadi acuan terpercaya dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai
landasan utama bagi Syari'ah Islamiyah. "Sesungguhnya Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Hai Muhammad) di bawah pohon (yakni Baitur Ridwan) maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan keterangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(Al-Fath:18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah ridha kepada para shahabat yang turut
membaiat Rasulullah salallahu alaihi wa sallam di Hudhaibiyyah sebagai tanda
bahwa mereka telah siap taat kepada beliau dalam memerangi kufar (kaum kafir)
Quraisy dan tidak lari dari medan perang. "Dan demikianlah Kami jadikan kalian adalah umat yang adil agar kalian menjadi saksi atas sekalian manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian."(Al-Baqarah:143)
Yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di ayat ini ialah para
shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah kaum mukminin
generasi pertama yang terbaik yang ikut menyaksikan turunnya ayat ini dan
generasi pertama yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an. Ibnu Jarir
Ath-Thabari menerangkan: "Dan aku berpandangan bahwasanya Allah Ta'ala
menyebut mereka sebagai "orang yang ditengah" karena mereka bersikap
tengah-tengah dalam perkara agama, sehingga mereka itu tidaklah sebagai
orang-orang yang ghulu (ekstrim, melampaui batas) dalam beragama sebagaimana
ghulunya orang-orang Nashara dalam masalah peribadatan dan pernyataan mereka
tentang Isa bin Maryam alaihi salam. Dan tidak pula umat ini mengurangi
kemuliaan Nabiyullah Isa alaihi salam, sebagaimana tindakan orang-orang Yahudi
yang merubah ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya dan membunuh para nabi-nabi mereka
dan berdusta atas nama Allah dan mengkufurinya. Akan tetapi ummat ini adalah
orang-orang yang adil dan bersikap adil sehingga Allah mensikapi mereka dengan
keadilan, dimana perkara yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling adil. Ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Kalau mereka itu beriman seperti imannya kalian (yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka itu mendapatkan perunjuk dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam perpecahan. Maka cukuplah Allah bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."(Al-Baqarah:137)
Ayat ini menegaskan bahwa imannya kaum mukminin itu adalah patokan bagi
suatu kaum untuk mendapat petunjuk Allah. Kaum mukminin yang dimaksud yang
paling mencocoki kebenaran sebagaimana yang dibawa oleh Nabi salallahu alaihi wa
sallam tidak lain ialah para shahabat Nabi yang paling utama dan generasi
sesudahnya yang mengikuti mereka. "Muhammad itu adalah Rasulullah, dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka. Engkau lihat mereka ruku dan sujud mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Terlihat pada wajah-wajah mereka bekas sujud. Demikianlah permisalan mereka di Taurat, dan demikian pula permisalan mereka di Injil. Sebagaimana tanaman yang bersemi kemudian menguat dan kemudian menjadi sangat kuat sehingga tegaklah ia diatas pokoknya, yang mengagumkan orang yang menanamnya, agar Allah membikin orang-orang kafir marah pada mereka. Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalangan mereka itu ampunan dan pahala yang besar."
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi dalil bagi Ahlus
Sunnah wal Jama'ah dalam merujuk kepada para shahabat Nabi salallahu alaihi wa
sallam dalam memahami Al-Qur'an dan Al-Hadits. Tentunya dalil-dalil dari Al-Qur'an
tersebut berdampingan pula dengan puluhan bahkan ratusan hadists shahih yang
menerangkan keutamaan shahabat secara keseluruhan ataupun secara individu. 1. Kebaikan para shahabat tidak mungkin disamai :
"Jangan kalian mencerca para shahabatku, seandainya salah seorang
dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud, tidaklah ia mencapai ganjarannya satu
mud(ukuran gandum sebanyak dua telapak tangan diraparkan satu dengan lainnya)
makanan yang dishodaqahkan oleh salah seorang dari mereka dan bahkan tidak pula
mencapai setengah mudnya."(HR. Bukhari dan Muslim)
"Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu bahwa Rasulullah salallahu
alaihi wa sallam bersabda: 'Sebaik-baik ummatku adalah yang semasa denganku
kemudian generasi sesudahnya (yakni tabi'in), kemudian generasi yang sesudahnya
lagi (yakni tabi'it tabi'in). Imran mengatakan: 'Aku tidak tahu apakah
Rasulullah menyebutkan sesudah masa beliau itu dua generasi atau tiga.' Kemudian
Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Kemudian sesungguhnya setelah
kalian akan datang suatu kaum yang memberi persaksian padahal ia tidak diminta
persaksiannya, dan ia suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, dan mereka suka
bernadzar dan tidak memenuhi nadzarnya, dan mereka berbadan gemuk yakni gambaran
orang-orang yang serakah kepadanya'."(HR Bukhari)
"Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah
telah memilih aku dan juga telah memilih bagiku para shahabatku, maka Ia
menjadikan bagiku dari mereka itu para pembantu tugasku, dan para pembelaku, dan
para menantu dan mertuaku. Maka barang siapa mencerca mereka, maka atasnyalah
kutukan Allah dan para malaikat-Nya an segenap manusia. Allah tidak akan
menerima di hari Kiamat para pembela mereka yang bisa memalingkan mereka dari
adzab Allah."(HR Al-Laalikai dan Hakim, SHAHIH) |