Kembali Ke Halaman Utama

 

Nunukan
Selasa, 29 Agustus 2006


YULIESTA, PELAJAR PUTRI NUNUKAN YANG BERHASIL TAKLUKKAN GUNUNG GEDE

Prestasi yang berhasil ditorehkan Yuliesta Rina, pelajar kelas tiga SMP Negeri 3 Nunukan dalam bidang kepramukaan di tanah air bisa disebut luar biasa.

BAGAIMANA tidak, dari seluruh anggota Pramuka se-Indonesia yang mengikuti kegiatan Jambore Nasional (Jamnas) di Desa Kiarapayung Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat beberapa waktu lalu, Yuliesta adalah satu dari hanya empat peserta putri yang berhasil menaklukkan puncak Gunung Gede. Bagaimana ceritanya?
Prestasi yang diraih Yuliesta tentu saja tidak sekadar mengharumkan nama Kwarcab Kabupaten Nunukan, sebagai daerah asal kontingen Pramuka yang menyertakan Yuliesta. Tapi juga nama Provinsi Kaltim yang diwakilinya pada Jamnas tersebut.
Seperti dikatakan bina damping putri Pramuka Kabupaten Nunukan Hasna SPd, salah satu dari kegiatan Jamnas yang berlangsung sejak 16 hingga 23 Juli lalu adalah petualangan pendakian Gunung Gede. Anggota pramuka putri dari Nunukan sekaligus atas nama Provinsi Kaltim menyertakan satu regu bernama regu Matahari beranggotakan 10 orang, salah seorangnya adalah Yuliesta Rina.
 "Bersama regu putri lain anggota Pramuka se-Indonesia, regu Matahari dari Nunukan berpetualang melakukan pendakian untuk mencapai puncak Gunung Gede," kata Hasna.
Menceritakan pengalamannya, menurut Yuliesta, medan yang dilalui untuk mencapai puncak Gunung Gede memang tidak mudah. Terdapat 7 pos yang harus disinggahi sejak pendakian dimulai dari kaki gunung hingga mencapai puncak. "Tantangan terberatnya adalah melawan cuaca dingin," kata gadis remaja ini.
Dalam persinggahan setiap pos, kata sulung dari tiga bersaudara putri pasangan Darius-Ester ini, jumlah peserta yang meneruskan pendakian semakin sedikit karena tidak tahan menaklukkan tantangan yang semakin berat.
Hingga akhirnya, setelah melewati pos terakhir hanya tersisa 4 orang anggota Pramuka putri peserta yang mampu meneruskan hingga ke puncak Gunung Gede. "Salah satu di antaranya adalah saya," kata Yuliesta yang menyebutkan pendakian Gunung Gede tersebut dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga tiba di puncak gunung sekitar Pukul 11.30 waktu setempat.
Di balik hasil prestasi yang berhasil diraihnya itu, ada sisi cerita lain yang cukup menarik. Yuliesta sebenarnya tidak termasuk dalam daftar 10 orang anggota Pramuka Kwarcab Nunukan yang mengikuti seleksi untuk dipilih mewakili Provinsi kaltim ke Jamnas tahun 2006 ini. "Jika akhirnya dia ikut, karena menggantikan salah seorang peserta dari Kecamatan Sembakung yang mengundurkan diri," kata salah seorang Wakil Kontingen Kwarcab Nunukan yang mendampingi anggota Pramuka Nunukan hingga ke lokasi Jamnas, Untung Sugianto.
Diterangkan juga, tidak ikut sertanya Yuliesta pada seleksi yang dilakukan, bukan karena ketidakmampuan memenuhi persyaratan sebagai anggota Pramuka, tapi lebih karena faktor ekonomi. "Karena kendala dana transportasi bolak-balik mengikuti seleksi yang diselenggrakan, dia (Yuliesta) batal ikut seleksi saat itu," terang Untung.
Karena pertimbangan ketekunannya mengikuti kegiatan kepramukaan serta berbagai prestasi dari sejumlah kegiatan didaerah yang pernah dicapainya, akhirnya sejumlah pembina pramuka di Nunukan berinisitif patungan membantu uang saku untuk Yuliesta berangkat ke Jawa Barat.

Prinsip hidup Yuliesta Rina agaknya bisa menjadi tauladan para remaja saat ini. Bahwa kesulitan ekonomi keluarga bukan halangan untuk membuat seseorang berprestasi. Sebaliknya, dari kesulitan tersebut bisa dicapai hasil prestasi yang membanggakan.

SEPERTI yang disebutkan sebelumnya, karena kesulitan ekonomi keluarga, nyaris membuat Yuliesta sebagai anggota Pramuka Kwarcab Nunukan gagal mengikuti Jambore Nasional 2006 di Jawab Barat. Tapi akhirnya, dia menjadi satu-satunya anggota Pramuka putri dari Kabupaten Nunukan bahkan wakil dari Propinsi Kalimantan Timur yang berhasil mendapatkan anugerah Pin pendakian Gunung Gede.
Karena kesulitan ekonomi keluarga itu juga yang membuatnya tidak jarang harus menempuh dengan berjalan kaki jarak sejauh lebih kurang 9 kilometer antara rumah tempat tinggalnya di Jl Tawakal Kelurahan Nunukan Barat dengan sekolahnya SMP Negeri 3 Nunukan di Kelurahan Binusan. Jarak sejauh itu akan kembali dilaluinya ketika pulang sekolah. Sehingga total jarak tempuh dengan berjalan kaki yang harus dilakukannya mencapai 18 kilometer.
"Agar tidak terlambat sampai disekolah, saya keluar rumah menuju sekolah sejak Pk 05.30 wita," Yuliesta yang memastikan jarak sejauh sekitar 9 kilometer tersebut ditempuhnya selama lebih kurang 2,5 jam.
Jika lagi mujur, bertepatan dengan lewatnya bis angkutan pelajar di pertigaan jalan dekat rumahnya, Yuliesta akan terhindar dari rasa lelah dan kucuran keringat dengan menumpangi bis pelajar itu kesekolahnya.
Namun dari himpitan ekonomi yang dialami, Yulista ternyata juga memiliki prestasi pendidikan disekolahnya yang pantas diacungi jempol. Dikelas I dan II, remaja putri ini berada pada ranking II disekolahnya sedangkan dikelas III saat ini, ranking I sudah ditangannya.
"Saya memang dari keluarga tidak mampu, tapi saya bertekad untuk membuat keluarga, terutama kedua orang tua, memiliki rasa bangga terhadap saya, anaknya," kata Yuliesta yang mengaku sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini, di Nunukan ikut dengan salah seorang pamannya sedangkan kedua orang tuanya berada di salah satu desa di Kabupaten Kutai Kartanegera.
Dengan prestasi ekstra kurikuler maupun prestasi pendidikannya saat ini, apa cita-cita Yuliesta kelak. Terdiam sejenak, remaja ini coba 'menyembunyikan' wajah manisnya dengan sedikit menunduk. Menurutnya dia memang memiliki cita-cita untuk kehidupan dan masa depannya. Tapi saat ini, katanya lagi, biarlah cita-cita tersebut disuarakan didalam hatinya sendiri mengingat untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi setelah SMP, Yuliesta belum bisa memastikan apakah bisa terwujud atau tidak.(adharsyah)

Sumber : www.radartarakan.co.id

   
A r s i p    B e r i t a

Hosted by www.Geocities.ws

1