Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Pengantar

 

Suatu sore, saya membereskan buku-buku dan berbagai dokumen. Di tengah pekerjaan, itu di antaranya, saya temukan empat lembar kertas dari satu sketsa drama yang tidak rampung ditulis. Sketsa yang ditulis dengan mesin tik, sudah lusuh, tersebut berjudul “Pengadilan.” Seingat saya jumlah halamannya sudah belasan, oleh karena itu pekerjaan beres-beres beralih menjadi perburuan sisa lembaran naskah yang hilang. Sampai menjelang magrib, yang dicari ternyata tak jua ditemukan. Saat itulah terpikirkan untuk ditulis ulang dan akan diselesaikan.

Sketsa drama yang hilang tadi ditulis di tengah-tengah keikut sertaan saya di dalam proses produksi Studiklub Teater Bandung (STB) untuk drama “Pengadilan Anak Angkat” (Bertolt Brecht) tahun 1978. Maka tak heran kalau drama Brecht itu berpengaruh kuat. Bahkan judulnya pun “Pengadilan.” Pengaruh lainnya adalah dari moda garapan STB yang menggunakan topeng, drama yang hilang itu pun meminta menggunakan topeng.

Berkenaan dengan topeng, mungkin karena saya pun ikut serta di dalam kegiatan  pembuatan topeng-topeng “Pengadilan Anak Angkat” di bawah bimbingan Kang Adjat Sudradjat, maka untuk drama yang hilang ini pun saya ingat betul telah dibuatkan sketsa topeng bahkan rancangan kostumnya. Namun, itu pun tak saya temukan lagi.

Pengaruh lainnya, muncul dari kecenderungan drama-drama Putu Wijaya. Ihwalnya karena di sela-sela kesibukan bersama STB, saya (bersama Yoyo C Durachman) pun sedang melakukan pula studi untuk menggarap drama “Aduh” karya Putu Wijaya. Garapan itu tak kesampaian, tapi si sketsa drama yang hilang itu tak lepas dari pengaruhnya. Aslinya ditulis dengan gaya Putu Wijaya, yaitu dengan tokoh-tokoh anonim kecuali identifikasi semisal “seseorang” saja. Ketika ditulis ulang, terjadi beberapa perubahan, muncul misalnya nama “Jawinul” serta nama-nama tokoh lainnya. Namun demikian, seluruh pengadegan (bahkan inti dialog-dialognya), aneh, nyaris semuanya masih saya ingat. Itu pula yang menimbulkan semangat tinggi sehingga drama (versi 1 babak) ini pun dengan sangat lancar bisa diselesaikan tak lebih dari satu hari.

Manakala menulis ulang itu pula, sambil berjalan, sketsa-sketsa lainnya yang pernah bermunculan di alam gagasan pun bermunculan kembali dan seperti berteriak-teriak meminta pula dituliskan. Maka akhirnya konsep Metateater: Dunia Tanpa Makna dikerjakan. Lipstik yang lahir ketika sedang mempelajari teori Augusto Boal, sesungguhnya pernah ditulis dan sudah di zaman komputer, tapi juga tak ditemukan failnya sehingga lakonnya sama sekali ditulis baru. Kemudian, Tarian Terakhir, dari sisi penulisan relatif serba baru. Tapi dari segi gagasan sesungguhnya muncul manakala menonton pertunjukan topeng dari desa Pekandangan, Mimi Rasinah, di STSI Bandung tahun 1995.

Satu-satunya yang utuh dari kumpulan ini adalah Godot Telah Datang. Libretto ini merupakan yang terbaru dari ke semuanya, ditulis dengan komputer sehingga tak memerlukan kerja ulang lagi. Tapi sebagai gagasan, sesungguhnya telah terbit sejak ikut serta bersama STB menggarap La-Gioconda, La-Norma tahun 1980-an, juga manakala menggarap libretto “Sangkuriang” karya Utuy Tatang Sontani (sejauh saya ingat ada 6 produksi berbeda atas libretto ini yang saya ikuti) dan belakangan ingat kembali ketika ikut proses pentas ulang Opera Rock “Ken Arok” bersama Harry Roesli.

Dari pengalaman-pengalaman “pernah hilang” itu pula, belakangan terpikirkan untuk mencetak dalam bentuk buku dan/atau menerbitkannya. Tapi, lagi-lagi ada pikiran lain: “hanya penerbit yang baik hatilah yang mau menerbitkan naskah drama dalam bentuk buku.” Mengingat sepanjang sejarah drama di Indonesia, penerbitan naskah drama itu seperti dihindari. Jika pernah ada penerbitan berupa naskah-naskah terjemahan Asrul Sani, misalnya, atau pun drama-drama asli dari pengarang kita, itu diselenggarakan oleh penerbit-penerbit yang mendapat subsidi dari pemerintah seperti halnya Pusataka Jaya dan Balai Pustaka. Atas penglihatan itu pula, hanya ada satu-satunya nawaetu, yaitu akan menenteng dan menawar-tawarkan naskah ini sampai ditemukannya penerbit baik hati yang mau menerbitkannya.

Jika di kemudian hari, naskah-naskah ini sampai ke tangan pembaca dalam bentuk buku, jasa terbesarnya adalah dari penerbit baik hati tadi. Penerbit yang kita sebut saja mau menempatkan drama sebagai sastra drama adanya, sebagai karya sastra pada umumnya. Terimakasih.

 

Desember 2007

hd   

 

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Pengadilan Jawinul
(Lakon Komedi versi Satu Babak)

Lakon atau drama komedi ini terjadi di suatu desa antah-berantah, desa Nangkaragrag. Oleh karena itu, kostum seluruh pemain bisa dikatakan bebas, bahkan relatif “aneh” pada batas-batas tertentu. Kejadiannya pun tidak terikat oleh setting tempat atau waktu tertentu. Semua pemain mengenakan topeng dengan gambaran karakternya masing-masing. Kejadiannya berlangsung di saat persiapan kenduri tahunan desa Nangkaragrag.

 

Para Pelaku: 

Jawinul
Yang Jatuh
Nurihati
Subhan Goak
Kasim Harak
Ajudan Kepala Desa

Jaim Nurjaman
Sejumlah Pengawal
Sejumlah Gembel
Sejumlah Rakyat Desa
Para Pengiring Nurihati


 

 

 

Ketika layar dibuka, tampak beberapa orang rakyat desa sedang memasang sisa umbul-umbul yang belum terpasang atau penanda lainnya untuk suatu acara kenduri. Sibuk dan tampak terburu-buru sekali.

 

Kasim Harak             : (sambil menunjuk-tunjuk) Heh balakutak, ayo cepat, ini sudah hampil waktunya, mengikat begitu saja kok lepot amat, dasal sontoloyo. (kemudian nunjuk kepada yang lainnya) Kamu jangan diam saja, naik sana, lihat yang satu itu belum diikat (yang ditunjuk naik). Heh, miling jangklik, luluskan!

Seseorang                 : (di atas) Maksudnya, kurang lurus Juragan Kasim.

Kasim Harak             : Apa kamu tidak dengal, saya bilang l u l u s k a n!

Seseorang                 : Baik juragan, saya luruskan.

Kasim Harak            : (kepada Jawinul) Nul, kamu ke sana, cepat lali beleskan kulsi-kulsi.

Jawinul                      : (sambil lari) Kursi-kursi tuan Kasim?

Kasim Harak             : Iya, tempat duduk, pentul. (Jawinul menenteng sebuah kursi yang tiba-tiba salah satu kakinya lepas. Ia pasangkan kembali alakadarnya dan menyusunnya sesuai perintah Kasim Harak)

Seseorang                 : (agak di sudut depan pentas seseorang kepada seseorang lainnya sambil membereskan tanaman atau semacam hiasan) Singkong yang direbus istriku belum lagi matang, eh, perintah keburu datang. Jadi aku ini belum sempat makan...

Seseorang                 : Masih bagus karena masih ada yang direbus, kami sih memang adanya hanya air. Tahu sendiri, kayu bakar semakin susah, yang ada pun basah karena hujan. Antre minyak tanah sudah tiga hari ini selalu kehabisan, jadi air mentah dari tadahan hujan itulah sarapan kami.

Seseorang                 : Masa ubi pun tak punya?

Seseorang                 : Ah, kamu ini seperti tidak tahu saja. Semakin ke sini bagian panen kita bukankah semakin mengecil karena buruh penggarapnya semakin banyak, sementara tanah garapnya semakin menciut.

Seseorang                 : Iya, ya, anak kamu empat… Majikan kita pun umumnya semakin pelit.

Seseorang                 : (yang rupanya curi dengar percakapan, dari jarak agak jauh) Semakin pelit, apa semakin serakah?

Seseorang                 : Itulah, mana istriku sakit sehingga tak bisa lagi bantu di huma, maka semakin sedikitlah bagian kami. Jadi selalu tak pernah cukup sampai datangnya lagi musim panen.

Seseorang                 : Hidup kita ini rasanya semakin sulit saja, ya? Jangankan untuk dijual, untuk makan pun tak pernah cukup…

Kasim Harak            : (dari jauh membentak) Heh, malah ngoblol! Ayo kelja! Cepat selesaikan. Semuanya halus gelak cepat, ini malah ngoblol, kalau pentungan ini melayang di kepala balu tahu lasa. Ayo! Ayo! Ayo! Tidak ada lagi yang belgunjing, kelja, kelja, kemudian kelja, setelah itu balu kelja lagi...

Seseorang                 : Baik juragan Kasim Harak.

 

Terdengar bunyi terompet kebesaran yang bersuara sumbang. Rakyat yang bekerja menghentikan kegiatannya, tegap di tempatnya masing-masing dengan kepala menunduk. Yang sedang di atas tidak sempat turun. Masuk Nurihati diantar seorang dayang pemegang payung, seorang dayang lainnya menjaga pakaian Nurihati yang menjuntai agar tidak menyentuh tanah. Kasim Harak panik tapi tak bisa lain selain mengambil sikap sempurna.

 

Nurihati                    : (Tanpa melihat kepada Kasim Harak) Sudah siap semua, Kasim?

Kasim Harak             : (sambil tangannya memberi kode tersembunyi kepada yang sedang di atas) Siap ibu Kades yang telholmat, tak kulang apapun, siap laksanakan!

Nurihati                    : (Sambil menghampiri tempat duduk yang disediakan Jawinul, posisinya pas di bawah seseorang yang tidak bisa turun) Bagus, acara segera dimulai. Juraganmu Pak Kades Subhan Goak sebentar lagi datang mengiringi tamu dari pusat.

Kasim Harak            : Siap laksanakan, jelagan! (sambil beringsut mendekati Jawinul, dan terlihat menunjuk-tunjuk sesuatu, memberi perintah kepada Jawinul. Yang diberi perintah ke sudut depan pentas, menghampiri sebuah tangga. Selanjutnya kepada Jawinul) Nah, itu dia, ayo jangan beldili saja, cepat…

Nurihati                    : (sambil tetap tak berpaling kepada Kasim Harak) Bukan berdiri saja, Kasim! Ini juga mau duduk, sebentar, pakaian ini mesti dibereskan dulu! Dan lagi kursinya kelihatannya kotor sekali. Lagian kamu ini berani-beraninya memerintah majikanmu ini...

Kasim Harak            : Bukan Jelagan, bukan... (kembali ke Jawinul) Nah, kamu makanya cepat undul-undul!

Nurihati                    : (sambil tetap tak berpaling) Apa kamu bilang saya ini undur-undur? Awas kamu sudah berani kurang ajar, ya?

Kasim Harak            : Bukan undul-undul, Jelagan… Tapi itu, itu…

Nurihati                    : (tetap tak berpaling) Nah, lantas apa kalau bukan undur-undur?

Kasim Harak            : (membentak Jawinul yang tampak tertawa karena kesalah-komunikasian tersebut) Diam kampret! Heh, kampret buntung, malah tertawa!

Nurihati                    : (kini berpaling) Apa kamu bilang....? Sekarang semakin berani mengatakan saya ini kampret? Ke sini kamu Kasim! Siapa pula yang tertawa, sini! (Kasim Harak menghampiri berbungkuk-bungkuk sambil mencuri-curi pandang memelototi Jawinul, bahkan mengancam dengan tinju yang tersembunyi) Sejak kapan kamu ini belajar kurang ajar, tidak tahu sopan santun bahkan mengumpat majikanmu. Kamulah kampret buntung itu. Apa kamu sudah tidak ingat lagi hukuman atas perbuatan seperti itu?

Kasim Harak            : Balang siapa belani menghujat dan belbuat tidak senonoh kepada Kepala Desa, istli dan kelualga, hukumannya adalah dipancang telentang di tanah lapang selama satu hari tanpa dibeli makan dan minum.

Nurihati                    : Nah, ternyata kamu masih hapal.

Kasim Harak            : Memang hapal, Jelagan?

Nurihati                    : Tapi kenapa kamu melanggarnya? Setelah selesai upacara ini mesti dilaksanakan hukumannya. Apa kamu mau memberontak?

Kasim Harak            : Bolo-bolo... Bukan membelontak yang mulia, tapi itu, itu...

Nurihati                    : Kalau bukan memberontak lantas apa? Mulai coba-coba membangkang, ya?

Kasim Harak            : Bukan pula membangkang, tapi maksud saya bukan kepada Jelagan, maksud saya adalah…

Nurihati                    : Adalah, adalah, adalah apa? Sudah belajar berkelit pula! Dan kamu tahu hukumannya bagi orang yang memberikan penjelasan berbelit-belit?

Kasim Harak            : Tahu yang mulia!

Nurihati                    : Coba katakan!

Kasim harak             : Bagi seluluh warga Nangkaragrag dilalang kelas membelitakan hal yang menyakitkan hati majikannya, selta dilalang membelikan ketelangan yang belbelit-belit. Jika hal itu dilanggal, hukumannya adalah “bakal lidah” dengan bala api dali batok kelapa.

Nurihati                    : Bagus, ternyata kamu masih hapal. Tentunya kamu masih ingat pula kenapa lidahmu itu menjadi cedal?

Kasim Harak            : Ingat, Jelagan. Dua kali saya mendapatkan hukuman itu.

Nurihati                    : Nah, jangan sampai dapat yang ketiga-kalinya!  

 

Terdengar bunyi terompet kebesaran yang lain tapi sama sumbangnya. Disusul kemudian dengan masuknya Subhan Goak dengan ajudannya yang repot membawa buku besar dan benda-benda lain. Di sudut depan, tampak Jawinul bingung harus lewat ke mana dengan tangganya. Bersamaan dengan itu sejumlah rakyat dan para gembel berdatangan memenuhi pentas.

 

Subhan Goak            : (kepada ajudan, memberi perintah dengan bahasa tubuh, tapi karena tak mengerti juga akhirnya berkata) Ayo mulai! Tunggu apa lagi?

Ajudan                       : (dengan sikap yang ditegap-tegapkan tapi susah karena barang bawaannya) Siap, sekarang Pak Kades!

Subhan Goak            : Ya sekarang!

Ajudan                       : Hadirin dan penonton sekalian, upacara tahunan desa Nangkaragrag, segera akan dimulai! (tampak Kasim Harak memberi perintah tepuk tangan pada rakyat, dan rakyat pun tepuk tangan, demikian seterusnya sepanjang acara). Terimakasih atas sambutannya yang hangat itu. Tahun ini adalah tahun yang khusus karena bersamaan dengan akan dilaksanakannya pemberian tanda kehormatan bagi Bapak Kades kita. Saudara-saudara sekalian sudah tahu semua penghargaan apakah itu?

Rakyat                       : (setelah dipelototi dan diberi aba-aba oleh Kasim harak, serempak dan betul-betul seragam) Pemberian tanda jasa bagi Pak Kades karena telah berhasil membebaskan Nangkaragrag dari kemiskinan!

Ajudan                       : Bagus! (melirik dahulu kepada Goak, Goak mengangguk) Maka untuk itu, dengan sebesar-besarnya hormat kami, Kepala Desa dan seluruh rakyat Nagkaragrag mempersilakan yang kami muliakan bapak wakil rakyat negeri kita, bapak Jaim Nurjaman bersama istri dan rombongan untuk hadir di tempat yang telah kami persiapkan alakadarnya ini. 

 

Bunyi terompet sumbang tadi kini ditingkahi sejumlah suara rebana. Subhan Goak tergopoh-gopoh menyambut dan mempersilakan. Jaim Nurjaman dan rombongan masuk, diantar langsung ke tempat duduk oleh Subhan Goak. Ia pun duduk di deretan itu. Di belakang rombongan, berikutnya masuk rombongan musik rebana dan terompet. Musik terus berjalan. Penari badut masuk dengan cara akrobatik diikuti penari-penari lainnya membawakan tarian. Di penghujung para penari menaburkan bunga kepada para tamu. Pada saat keramaian itulah Jawinul menyelinap, tapi tetap saja tampak jelas sekali oleh penonton; ia membawa tangga menghampiri seseorang yang tadi di atas.

 

Ajudan                       : (Setelah tontonan tarian usai. Sibuk mencar-cari catatan di antara barang-barangnya, hingga akhirnta ditemukan dan kemudian membacanya) Untuk mempersingkat waktu, dengan segala hormat kita sambut dengan meriah dan kami persilakan yang terhormat bapak kepala desa kita untuk memberikan kata sambutannya.

Subhan Goak            : (bangkit dari tempat duduk, menhampiri Ajudan. Ajudan memberikan selembar kertas, lantas Goak menuju podium. Membaca) Yang kami muliakan bapak Jaim Nurjaman beserta ibu dan rombongan, masyarakat Nangkaragrag yang saya cintai. Tak disangkal lagi, kerja keras kita ini ternyata membuahkan hasil, sehingga harapan terbesar seluruh warga Nangkaragrag menjadi kenyataan; kita telah terbebas dari kemiskinan! (terdengar suara rakyat dan para gembel bergemuruh, tapi kemudian ditakut-takuti oleh Kasim Harak). Atas keberhasilan itu pula, maka kita berkumpul bersama-sama di sini dan sekaligus dihadiri oleh wakil tertinggi kita dari pusat. Saudara-saudara sekalian, ini suatu kehormatan, kehormatan yang luar biasa sekali, kehormatan bagi kita semua. Sebab tidak semua desa bisa dikunjungi oleh pemerintahan pusat, melainkan hanya desa-desa yang terpilih dan desa berprestasi saja. Nah, desa kita ini menjadi yang terpilih. Satu-satunya desa terpilih dari ribuan desa lainnya. Tolong tepuk tangan. (Rakyat tepuk tangan. Jawinul sibuk dengan tangganya untuk menolong temannya yang berada di atas. Karena nyaris berhadapan posisinya dengan Goak, maka Goak pun melihat adegan itu dengan jelas. Di antara pidatonya ia mencari-cari Kasim Harak untuk menghentikan kegiatan Jawinul. Tapi kemudian segalanya terlambat.) Betul, saudara-saudaraku, untuk buktinya sebentar lagi akan kita dengarkan pidato dari yang kita muliakan bapak Jaim Nurjaman. Nanti kita dengarkan penilaian dari beliau, jadi, bukan dari saya datangnya penilaian tentang keberhasilan ini, melainkan penilaian langsung dari pusat…. (terpotong karena melihat adegan berikutnya) Heh, awas itu, wah celaka ooiiitttt wahhh, jatuh. Awassss, aduh. Ya, ampun…. Celaka besar. Dasar kadal, ubur-ubur, belatung, codot, ini bagaimana… Itu, wah, wah, ja… ja… yahhh jatuh!

 

Saat itulah kursi yang diduduki Nurihati roboh. Jawinul antara kaget dan keinginan menolong, melepas tangga yang dipegangnya, padahal di ujung tangga sudah bertengger temannya. Tak ayal, Nurihati yang sudah terjatuh dari kursi, tertimpa tangga, dan tertimpa tubuh yang jatuh. Kasim Harak malah berlarian ke sana ke mari, tampak bingung. Situasi jadi khaos. Pengawal-pengawal Jaim Nurjaman tampak siaga, memegang pistolnya masing-masing. Goak berlari menghampiri istrinya.

 

Pengawal 1               : (di depan panggung, berkata kepada temannya) Siaga satu, semua siaga satu… Ada kemungkinan terror. Jangan dilepas Pak Jaim Nurjaman, lindungi dengan rapat.

Pengawal 2               : Siap, semua segera akan ambil posisinya masing-masing. Empat orang bikin lingkaran satu, sisanya memblokir titik-titik penting. (bicara di radio panggil) Gagak hitam, gagak hitam, di sini Rawarontek memanggil, mohon gagak hitam yang berada di luar area siaga sepenuhnya, telah terjadi keributan, harap semua memblokir jalan ke arah sini. Ganti…..

Suara di radio          : Siap, laksanakan, gagak hitam segera ambil posisi. Mohon terus memberikan laporan situasi… Jumlah kekuatan yang ada segera menyebar. Sekali lagi mohon info lanjutannya, ganti….

Subhan Goak            : Darah. Nurihati, istriku berdarah. Kasimmmmm…. (Kasim tergopoh menghampiri)

Kasim Harak             : Siap, Pak. Kasim di sini.

Subhan Goak            : Darah, Kasim! Lihat berdarah! Kamu lihat, ini darah!

Kasim Harak            : Ya, ya, ya, betul jelagan… Kasim tahu itu dalah!

Subhan Goak            : Tangkap pelakunya. Ini jelas sabotase. Cari segera, jangan biarkan!

Pengawal                  : Ya, mohon tidak satu orang pun meninggalkan tempat ini sebelum dilaklukan pemeriksaan. Sebagian kekuatan mohon jaga massa agar tidak bergerak.

Subhan Goak            : Tapi ini darah… istriku bawa dulu ke balai pengobatan, ia luka, ia berdarah.

Pengawal                  : Ya, kecuali korban, tolong segera dievakuasi. Siapkan empat orang untuk membawanya, catat nama-nama keempat orang yang meninggalkan ruang ini.

Kasim Harak            : (menunjuk empat orang dari rakyat) heh, kamu maju ke depan, terus kamu, satu lagi kamu yang di sana tuh, terakhir kamu ayo maju.

Subhan Goak            : Kasimmmm, catat namanya!

Kasim Harak             : (sibuk mencari, meminta kertas dan pena) Siap catat, Pak. Kertas, mana kertas, penanya juga, ayo cari. Minta kertas, penanya juga. Masa sih tidak ada yang bawa pena. Siap catat Pak. (Nurihati digotong dengan tandu ke luar pentas)

Subhan Goak            : Saya lihat tadi Jawinul yang membawa-bawa tangga. Gara-gara dia maka bencana ini terjadi.  Kasimmmm, tangkap Jawinul!

Kasim Harak             : Siap, sedang dicatat Pak. Satu; Dodong Kodir, dua; Acep Zamzam Noor, tiga; Kijun….

Subhan Goak            : Bukan, goblok! Tangkap Jawinul!

Kasim Harak             : Ya, siap, empat; Jawinul. Eh, siap tangkap Jawinul, Pak! Jawinul, sini, kamu saya tangkap. (Kasim Harak menyergap dan merangkul hingga topinya lepas. Tindakan yang sesungguhnyanya tak perlu  karena Jawinul sudah menghampiri). Ini Pak, siap, sudah dilaksanakan. Jawinul sudah ditangkap.

Pengawal 1               : (melalui radio komunikasi) Tersangka pelaku kericuhan sudah dibekuk, tapi diduga jaringannya masih berkeliaran. Harap semuanya tetap siaga!

Suara di radio          : Jumlah personel sesungguhnya tidak mencukupi untuk memblokir keseluruhan area, bantuan satu kompi lagi akan segera tiba. Meski begitu situasi di sini masih terkendali. Satu orang pedagang mainan anak-anak untuk sementara kami tahan di pos tiga, kami duga ia akan menyelundupkan sesuatu ke tengah-tengah lingkaran satu.

Subhan Goak            : (kepada Jaim Nurjaman) Tersangkanya sudah ditangkap, Pak Jaim. Maaf, ini betul-betul di luar kendali. Sama sekali bukan salah saya, maafkan yang mulia Pak Jaim Nurjaman. Orang itu penyebabnya, dia yang bersalah. Acara segera kita lanjutkan. Mohon penyerahan penghargaan agar tidak dibatalkan.

Jaim Nurjaman         : Urus saja dulu kejadian ini, tolong bereskan.

Subhan Goak            : Akan segera saya bereskan, akan segera saya hukum cecunguknya, segera saya penjarakan. Tapi penghargaan itu jangan sampai batal, Pak. (kepada Kasim Harak) Kasim, penjarakan orang-orang itu dan lanjutkan acara!

Rakyat                      : (tak tampak karena suaranya muncul dari kerumunan) Tidak bisa, tidak bisa langsung dipenjarakan!

Subhan Goak            : Heh, siapa berani membangkang. Ini sudah jelas sekali, saya pribadi, Subhan Goak kepala desa Nangkaragrag ini yang melihatnya.

Kasim Harak            : (sambil menghampiri kerumuman tapi tak berani terlalu dekat) Sudah jelas, jelagan Goak yang melihatnya, tidak boleh membangkang, siapa tadi yang bicala?

Rakyat                      : (sambil berdiri dari kerumunan) Saya! Sudah tiga generasi kami dibungkam. Sejak generasi kakek kami rakyat di sini tidak dibenarkan untuk bicara. Usul sedikit saja dianggap dosa dan langsung masuk penjara.

Subhan Goak            : Itu makar! Itu subversi! Itu tidak benar! Kasim, tangkap orang itu!

Kasim Harak            : (dengan agak takut) Tangkap jelagan, siap laksanakan. Heh, sini kamu, sini saya tangkap! Kamu subvelsi! Kamu sudah melakukan makal! Sini!

Jaim Nurjaman         : (dengan diwibawa-wibakan dan di antara penjagaan pengawalnya) Biarkan rakyat bicara, mari kita dengarkan pendapatnya. Silakan bicara...

Rakyat                      : (dengan suara simpang siur dan gemuruh) Ya, biarkan kami bicara.

Rakyat                      : Biarkan kami berpendapat.

Rakyat                      : Kami pun punya hak....

Rakyat                      : Jangan terus-terusan kami dibungkam...

Rakyat                      : Jawinul tak bisa langsung dipersalahkan...

Rakyat                      : Jangan penjarakan Jawinul...

Rakyat                      : Belum tentu Jawinul yang bersalah...

Rakyat                      : Jangan lagi bohongi kami... (dan seterusnya).

Kasim Harak             : (kelihatan plin-plan atau akibat takut oleh rakyat) Jelagan tak bisa jelagan, lakyat halus bicala jelagan, Jawinul tak bisa langsung dipenjalakan, jelagan….

Subhan Goak            : (dengan sangat marah) Kasiiimmmmm! Aku juraganmu, aku sendiri yang melihatnya, akulah yang berhak menghukum, akulah hukum itu!

Kasim Harak            : Ya, ya, ya, jelagan hukum itu, dia memang salah kalena sudah kelihatan oleh jelagan. Heh olang-olang banyak, jelagan sendili yang melihatnya!

Rakyat                      : (dengan suara simpang siur dan gemuruh) Belum tentu...

Rakyat                      : Kita buktikan dulu siapa yang bersalah...

Rakyat                      : Jawinul teman kami...

Rakyat                      : Kepala desa bukanlah hukum...

Rakyat                      : Adili dulu.... (yang lainnya ikut).

Rakyat                      : Ya, adili dulu...

Rakyat                      : Adili Jawinul baru putuskan hukumannya...

Rakyat                      : Adili..

Rakyat                      : Adili...

Rakyat                      : Biar pengadilan yang memutuskan...

Rakyat                      : Bukan kepala desa yang memutuskan...

Rakyat                      : Adili...

Rakyat                      : Adili..... (dan seterusnya)

Nurihati                    : (menyeruak di atas kursi roda sambil menjerit, tampak kepalanya dibebat kain verban, sebelah tangannya disanggah kain pengikat, dan sebelah kakinya juga diverban) Hukum sekarang juga, balas segala kesalahannya sama persis dengan yang aku derita. Tanganku patah maka patahkan pula tangannya, kepalaku bocor dengan dua lobang maka bocori pula kepalanya dengan dua lobang, kakiku robek maka robek pula kakinya. Subhannnnnn…. Ayo ikat dia jangan sampai kabur. Aku sendiri yang akan melakukan hukumannya!

Subhan Goak            : (kepada Jaim Nurjaman) Ini jelas bukti, yang mulia! Lihatlah luka-luka yang dideritanya. (kepada Nurihati) Baik, hukum itu akan segera dilaksanakan, akan kita balas seluruh kesakitan itu! (balik lagi kepada Jaim Nurjaman) Saya meminta agar yang mulia memperkenankannya….

Rakyat                      : (gemuruh ruburber dan agak merangsek, pengawal semakin ketat menjaga) Tidak bisaaaaa…

Rakyat                      : Adili dulu Jawinul (lantas riuh dengan ruburber kata-kata lainnya).

Jaim Nurjaman         : (kata-katanya tidak keluar dari dalam hatinya melainkan karena melihat massa, selebihnya lagi karena ada pula rasa takut, maka dengan diwibawa-wibawakan) Saudara-saudaraku, baiklah tapi mohon tenang dulu, beri kami kesempatan untuk berfikir…

 

Serta-merta semua suara berhenti, betul-betul sepi, kecuali suara rintihan Nurihati yang sesekali terdengar. Jaim Nurjaman memperlihatkan diri sedang berfikir keras, tapi tidak keluar dari lingkaran pengawal-pengawalnya. Setelah agak lama di dalam keheningan itu, tiba-tiba suara rintihan Nurihati itu menjadi duet dengan rintihan lainnya. Setelah beberapa saat, dari reruntuhan tangga dan benda-benda lainnya, muncul dengan susah payah sosok orang yang tadi jatuh.

 

Subhan Goak            : (setelah melihat sosok yang jatuh, Goak berteriak memecahkan keheningan dan membuat suasana kembali riuh. Ia bicara sambil menunjuk-tunjuk) Dia juga! Saya lihat betul, demi semua kadal dan undur-undur Nangkaragrag, saya lihat orang itulah yang menimpa tubuh istriku! Orang itu juga salah! Orang itu yang jatuh gara-gara (menunjuk Jawinul) orang ini!

Kasim harak             : Oh, dia juga jelagan? Tangkap juga dia, jelagan? Dia juga salah?

Goak & Nurihati      : (nyaris bersamaan) Yaaa, tangkap!

Nurihati                    : Hukum sama beratnya, sebab tubuhnya pun terasa berat sekali menimpa tubuhku! (rakyat riuh).

Subhan Goak            : Baik, kita hukum sama beratnya. (rakyat lagi-lagi riuh).

Jaim Nurjaman         : (kini menyeruak dari lingkaran penjagaan pengawal, kepada Goak dan kemudian ke arah rakyat) Pak Subhan Goak, dan segenap rakyat Nangkaragrag….. (rakyat diam). Baik, atas nama nurani rakyat…. Dan setelah menimbang seluruh rasa keadilan yang ada di dalam nurani saya….

Subhan Goak            : (yang rupanya telah tahu akan ke mana arah pembicaraan, segera merapat ke Jaim Nurjaman) Yang mulia, jangan hanya melihat mereka yang bodoh-bodoh itu saja, lihat juga istriku yang menderita, ini bukti otentik. Mohon maaf yang mulia.

Jaim Nurjaman         : (agak kesal) Makanya, dengarkan dulu, jangan memotong, saya pun mau bilang itu!

Subhan Goak            : Baik, mohon maaf, silakan diteruskan...

Jaim Nurjaman         : Dengan melihat korban yaitu ibu kepala desa, juga.... (berhenti, berpaling dulu ke Subhan Goak) Pak Subhan Goak dalam hal ini yang mengajukan tuntutan? Atau ibu kades yang akan menuntut?

Subhan Goak            : Jelas! Tak akan ditawar-tawar lagi, jelas mereka berdua salah, jelas istriku menjadi korban, jelas semuanya terlihat di mata saya, jelas tak usah tuntut-tuntutan lagi.... (kini ke Nurihati) Begitu kan ibunya anak-anak yang saya cintai, Dik Nurih yang saya sayangi? (Nurihati mengacungkan jempol dari tangannya yang terbebat) Nah, apa lagi? Saya tuntut orang-orang itu sebagai tertuduh!

Nurihati                    : Bukan Goak! Aku yang menjadi korban, aku yang menuntut, hukum orang-orang itu dengan setimpal.

Subhan Goak            : Istriku, yang mulia, istriku korbannya, maaf, istriku yang menuntut.

Kasim Harak            : Betul, ibu kades, tuh beliau kesakitan... Ibu Kades yang menuntut... Duhhhh, sakitkah ibu kades? Pasti sakit sekali... Ibu kades yang kesakitan, ibu kades yang menuntut... (tak berlanjut karena dihadang pengawal)

Jaim Nurjaman         : Baik kalau begitu. Jadi ibu kades selaku pihak yang menuntut sekaligus selaku korban, Pak Kades karena melihat langsung, maka menjadi saksi. Kini, tertuduhnya...

Nurihati                    : Jelas orang-orang itu!

Subhan Goak            : Orang itu, yang mulia!

Kasim Harak            : (sambil menunjuk dengan tongkatnya) Satu ini dan satu lagi ini!

Jaim Nurjaman         : Ya, tempatkanlah dua orang itu di kursi tertuduh.

Kasim Harak            : (sibuk menyediakan kursi dan menempatkan Jawinul serta Yang Jatuh) Kulsi, ini dia kulsi! Heh, kalian pala teltuduh pindah ke sini.

Jaim Nurjaman         : (sambil mencari-cari ke arah segenap orang yang hadir) Kini, kita tentukan hakimnya…. Saya kira caranya begini saja….

Subhan Goak            : (memotong hingga kalimat Jaim Nurjaman tak sampai habis, itu dilakukannya sambil mendorong Ajudan yang repot dengan barang-barangnya. Kala melewati tempat duduk Jawinul jelas sekali ada adegan sesuatu yang terjatuh dari tumpukan buku-bukunya. Ajudan tak menyadarinya. Dipungut oleh Jawinul dengan aksen musik) Ini yang mulia, ini tak salah lagi orangnya, dia memang ahli hukum. Kita serahkan saja kepada dia, yang mulia. (kemudian selama adegan berikutnya berlangsung, Subhan Goak menginjak kaki Ajudan, membisikan provokasi, dll.)

Ajudan                       : (dibimbing, tepatnya di bawah acaman Subhan Goak yang tersembunyi, sampai ke tempat duduk. Saat itu pula Jawinul sesekali mengacung-acungkan kertas tadi yang jatuh, tapi tak satu pun ada yang menggubris. Ajudan sendiri tampak senang duduk di situ, tapi intinya bukan senang menjadi hakim melainkan senang karena ada sebuah meja yang disediakan. Dengan meja itu, selamatlah ia dari siksaan bawaannya selama ini. Maka ia berkata kepada dirinya sendiri sambil menggeliat) Akhirnyaaaa…. Bebassss, bebas juga akhirnya…. Tidak saya duga akan sampai di sini (Menepuk-tepuk bawaannya yang kini sudah di meja) Nah, kini kamu diam di sini, memang pada tempatnya kamu ini berada di meja. Berat kalau harus dibawa-bawa terus.

Subhan Goak            : (salah tangkap, beribisik kepada Ajudan) Tidak berat, tenang saja. Malah kamu harus gembira. Yaaa, betul, akhirnya kamu dapatkan jabatan ini! Bagus kalau kamu suka. Jangan lupa, aku yang mendorongmu ke jabatan terhormat ini, maka jangan sampai salah mengambil keputusan. Lihat pada nasib majikan perempuanmu itu.

Jaim Nurjaman         : Nah, tertuduh dan hakim sudah pada tempatnya, para saksi pun hadir.

Rakyat & Gembel    : (tumpang-tindih) Kami pun saksi...

Rakyat & Gembel    : Kami pun saksi...

Rakyat & Gembel    : Kami pun saksi!

Jaim Nurjaman         : Ya, ya, ya semua yang hadir di sini menjadi saksinya.

Rakyat & Gembel    : Setujuuuuu!

Jaim Nurjaman         : Kalau begitu, silakan bapak ajudan yang kini kita panggil pak hakim!

Ajudan                       : (kepada rakyat) Ada yang bawa palu? (ternyata nyaris semua rakyat bawa palu, maka nyaris semuanya unjuk palu) Satu saja, heh, kamu ke sini bawa palu itu! (satu orang maju ke depan menyerahkan palu) Tok, tok, tok… (palu diketukan. Sejak belum dimulai, sebetulnya lagi-lagi Jawinul mengacung-acungkan kertas yang ditemukannya) Heh, kamu tertuduh diam dulu! Pengadilan baru akan dimulai, nanti tiba giliran kamu! Tok tok tok. Sidang mempersilakan yang terhormat ibu kades untuk menyampaikan tuntutannya.

Nurihati                    : (karena begitu semangatnya, nyaris turun dari kursi roda, kemudian sadar pada kakinya yang luka, maka meminta dayangnya cepat-cepat mendorong kursi rodanya) Hukum sekarang juga, balas segala kesalahannya sama persis dengan yang aku derita. Lihat, tanganku patah maka patahkan pula tangannya, kepalaku bocor dengan tiga lobang maka bocori pula kepalanya dengan tiga lobang, kakiku robek maka robek pula kakinya.

Rakyat                      : (nyeletuk) Katanya dua lobang, kini tambah bocornya jadi tiga lobang.

Ajudan                       : Tok tok tok, diam! Saksi belum dimintakan untuk bicara. Ehm, ibu kades, itu saja?

Nurihati                    : Cukup jelas, itu saja, ini buktinya.

Subhan Goak            : Saya tambahkan! Saya lihat dari sini, ni, ni, di sini saya melihatnya; tangga itu jelas sekali diarahkan ke sini, ni, ni, ke sini; padahal istri saya, jelas ada di situ. Dan di atas tangga itu, di atasnya itu, ni,  ni, ni, ini, ada orang ini. Sebetulnya kamu sedang apa di atas sana?

Yang Jatuh                : Saya sedang memasang hiasan itu, pak kades.

Subhan Goak            : Ya, tapi seharusnya kamu tahu bahwa acara sudah mulai, kamu harusnya segera turun. Ini acara sedang berlangsung, kamu masih di atas. Kamu memang mau membuat sabotase, ya?

Yang Jatuh                : Tidak, pak kades. Saya memang sedang memasang itu, mau membetulkannya karena masih miring.

Subhan Goak            : Ah, alasan! Jelas, kamu bermaksud sabotase. Lantas mengapa kamu jatuh?

Yang Jatuh                : Tangganya dilepas sama Jawinul, pak. Ya, saya bruk jatuh menimpa ibu kades. Maafkan saya, bu.

Nurihati                    : Tiada maaf buat kamu! Kamu pun harus merasakan sakitnya tubuhku!

Subhan Goak            : (sementara itu Ajudan celingukan karena tidak ada kesempatan bicara dan tidak ada keberanian mengetukan palunya) Betul kamu yang menjatuhkan tangga?

Jawinul                     : Bukan menjatuhkan tapi melepaskan, pak kades!

Subhan Goak            : Apa bedanya? Buktinya tangga itu jatuh menimpa istriku!

Jawinul                     : Beda pak kades, kalau jatuh karena memang dijatuhkan sama saya. Tapi ini lepas kemudian jatuh menimpa ibu kades.

Subhan Goak            : Akhirnya jatuh-jatuh juga, dan jatuhnya menimpa istri saya.

Jawinul                     : Beda, pak. Tangga itu lepas.

Subhan Goak            : Kamu ini berbelit-belit! Apa maksudnya berbelit-belit begitu? Apa dengan begitu kamu bisa mangkir dari kesalahan? Jelas tangga dan orang itu jatuh menimpa istriku.

Jawinul                     : Beda, pak. Tangga itu lepas.

Subhan Goak            : Sama! Tidak ada bedanya, tidak usah berbelit-belit. (ke arah rakyat) Ayo, siapa yang berani mengatakan tangga itu tidak jatuh dan tidak menimpa istri saya.

Kasim Harak            : (dengan menakut-takuti tapi rakyat kelihatan sudah tidak takut lagi) Ayo, siapa berani? Ada yang berani mengatakan tangga itu tidak jatuh?

Jawinul                     : Lepas dari pegangan saya kemudian jatuh menimpa ibu kades.

Subhan Goak            : Itu, itu, itu kamu sendiri mengatakannya jatuh menimpa ibu kades.

Jawinul                     : Saya katakan lepas dulu dari tangan saya baru jatuh.

Subhan Goak            : Berbelit-belit lagi! Ujungnya bukankah jatuh?

Jaim Nurjaman         : (maju selangkah) Kalau itu memang lepas, mengapa kamu lepaskan hingga jatuh ke sana?

Jawinul                     : Saya kaget, pak.

Subhan Goak            : Kaget! Kaget sama apa? Kamu ini hanya cari-cari alasan saja!

Kasim harak             : (meski dari jarak agak jauh) Hanya cali-cali alasan saja!

Jawinul                     : Betul, pak. Saya kaget.

Nurihati                    : Huuuhhhhh…. Mengapa harus ada pengadilan seperti ini, padahal segalanya sudah jelas, ini lihat, lihat, lihattttt oleh semua. Ini malah jadi berbelit-belit. Sudah hukum saja orang itu!

Jaim Nurjaman         : Nah, kalau kaget sehingga kamu melepaskan tangga itu, pertanyaannya; apa yang membuat kamu kaget?

Jawinul                     : Itu pak, kursi itu!

Subhan Goak            : Kursi? Kini kamu mau mengalihkan kesalahan kepada kursi. Huh, dasar!

Jaim Nurjaman         : Kursi mana? Coba tunjukan yang jelas sekaligus kamu rekonstruksikan kejadiannya.

Jawinul                     : Ini Pak.

Jaim Nurjaman         : Kursi yang patah ini?

Jawinul                     : Betul Pak!

Jaim Nurjaman         : Karena kursi ini patah maka Ibu Kades terjatuh?

Jawinul                     : Seperti itulah kejadiannya.

Jaim Nurjaman         : Mengapa hanya satu kursi ini yang patah sedangkan yang lain-lainnya tidak?

Jawinul                     : (jujur dan lugu) Sejak semula kursi itu memang sudah patah, Pak!

Jaim Nurjaman         : Jadi sebelum diduduki oleh Ibu Kades memang sudah patah?

Jawinul                     : Betul Pak!

Ajudan                       : (setelah susah mencari-cari kesempatan bicara) Pertanyaannya, siapakah yang mematahkan kursi itu? Dialah yang harus dicari?

Jawinul                     : Saya tidak tahu siapa yang mematahkannya. Yang saya tahu kursi itu sudah patah.

Jaim Nurjaman         : Dari mana kamu tahu kursi itu sudah patah?

Jawinul                     : Karena saya yang mengambil dan kemudian menempatkannya di situ.

Ajudan                       : Jadi kamu sudah tahu kursi itu patah, tapi mengapa tetap kamu tempatkan untuk Ibu Kades?

Jawinul                     : Saya tidak menempatkan untuk Ibu Kades tapi ibu Kadeslah yang memilih tempat duduk di situ!

Subhan Goak            : Ahhh, orang ini jelas lidahnya terlatih sekali. Dia mestinya disusupkan ke acara ini untuk melakukan sabotase. Kursi itu jelas dijadikannya perangkap untuk mencederai istriku.

Jaim Nurjaman         : Pertanyaannya tadi, setelah kamu tahu kursi itu patah, mengapa tetap kamu tempatkan di situ?

Jawnul                      : Semuanya berjalan dengan sangat terburu-buru, Pak. Tak ada kesempatan untuk mengganti. Bapak-bapak semua inilah yang terlalu cepat datang...

Subhan Goak            : Tuhhh, lihat dan dengarkan bagaimana lidahnya bersilat. Heh, kini, kamu mau menyalahkan kami? Padahal mungkin kalianlah yang berkerja dengan lamban (rakyat gemuruh).

Jawinul                     : Itulah kenyataannya, pak, gara-gara kursi itulah maka…

Nurihati                    : Nahhhh, apa saya bilang, semakin jauh dari membicarakan luka-luka saya. Kini malah bicara soal kursi!

Subhan Goak            : Gara-gara kursi itu? Kamu mau bilang kursi itulah yang nantinya harus dihukum? Kamu ini bicara dengan siapa? Dasar ubur-ubur. Aku ini kepala desa, yang jadi korban itu ibu kades, di sini hadir pula orang terhormat dari pusat, eh, kamu bicara sontoloyo seenaknya begitu seperti bicara dengan orang bodoh. Kursi? Kursi mau dijadikan kambing hitam?

Kasim Harak            : Kulsi itu tidak bisa jadi kambing meski kakinya sama-sama empat. Dasal sontoloyo!

Jawinul                     : Memang kursi itu penyebabnya!

Ajudan                       : (pertanyaannya ini pas dengan saat Jawinul mengacung-acungkan lagi kertas yang tadi) Baik, kalau memang kursi itu yang jadi penyebabnya. Bukti apa yang bisa kamu kemukakan? (melihat kertas yang diacungkan) Ah, apa itu, mari bawa ke sini, itukah buktinya?

Jaim Nurjaman         : Apa itu Pak Hakim? Bacakanlah!

Ajudan                       : (dengan lugu, langsung membacakannya begitu saja) Daftar subsidi dan sumbangan untuk desa Nangkaragrag. (1) dari pemerintahan provinsi Rp. 12 juta per bulan untuk bantuan pendidikan anak-anak yang tidak mampu; (2) dana bantuan pembelian pupuk untuk dibagikan kepada petani sebesar Rp. 7 juta per bulan dari PT Awang-Uwung (mulai terdengar rakyat gemuruh berkomentar berupa celetukan pada setiap kali Ajudan membaca. Tapi Ajudannya sendiri, seperti mesin, asyik sendiri meneruskan bacaannya. Sementara Subhan Goak tampak mulai gelisah)

Rakyat                      : (tumpang tindih karena tidak tahan, nantinya tumpang tindih juga dengan kata-kata Subhan Goak dan Nurihati) Tidak ada sumbangan pendidikan....

Rakyat                      : Kita tetap bayar, bulan kemarin malah ada pungutan tambahan…

Ajudan                       : (3) dana kesehatan dan pengadaan obat-obatan untuk balai pengobatan desa Nangkaragrag, berasal dari direktorat jenderal kesehatan; (4) dana bantuan untuk perbaikan saluran irigasi dan jembatan Rp. 124 juta, di sini tercatat dari dinas pertanian; (5) dana bantuan perbaikan jalan desa Rp. 221 juta, sumbernya dari sumbangan gabungan pengusaha Langit Biru.

Rakyat                      : Kita yang malah nyumbang untuk kas desa...

Rakyat                      : Irigasi itu kan hasil kerja bakti kita....

Rakyat                      : Makanan dan minuman kerja baktinya pun kita sendiri yang masak....

Rakyat                      : Wah balai pengobatannya pun tidak ada....

Rakyat                      : Pupuk sudah lama tidak pernah ada....

Rakyat                      : Kita sendiri yang selalu belanja ke kota (dan seterusnya).

 

Goak & Nurihati      : (suaranya ini selang-seling dengan pernyataan rakyat di atas dan teks yang dibacakan Ajudan di bagian berikutnya) Stop, hentikan..... (mereka bermaksud menghampiri Ajudan untuk menghentikan, tapi dihalang-halangi rakyat yang kini kian berani)

Ajudan                       : (tetap asyik dengan bacaannya, kini suaranya pun tumpang-tindih dengan suara-suara di atas) Catatan belanja keperluan desa: (1) busana hajat tahunan untuk ibu Nurihati, di sini tercatat pula agar dipilihkan bahan tenunan tangan dengan prada...

 

Goak & Nurihati      : Stop, hentikan, wah mengapa itu dibaca, berhenti, jangan teruskan, eh soal pakaian dibaca pula...

Ajudan                       : (2) ongkos kerja persiapan perayaan, dengan catatan tetap dikeluarkan pengeluarannya tapi masyarakat dikerahkan untuk kerja bakti....

Subhan Goak            : Itu data kita, itu kan hanya catatan untuk kita, tak perlu semua orang tahu....

Ajudan                       : (3) pembelian bahan dan ongkos jahit busana kepala desa, pembelian dilaksanakan langsung oleh kepala desa dengan surat perintah jalan ke kota Siwabesi....

 

Nurihati                    : Eh, soal pakaian dibaca pula... baju ya bajuku ni ni, ini bagaimana...

Ajudan                       : (4) uang transportasi dan uang saku rombongan dari pusat, catatannya tertulis seluruhnya dengan pesawat terbang, hotel VIP, uang saku disesuaikan dengan standar pusat....

Subhan Goak            : Heh berhenti, kenapa catatan itu sampai jatuh ke orang ini? Hentikan, dan seterusnya.

Ajudan                       : (5) pesanan makanan untuk perayaan tahunan desa Nangkaragrag; (6) belanja pakaian ketua keamanan; (7) materi dan alat-alat dekorasi; (8) rombongan kesenian.

Nurihati                    : Berhentiiiiii….

Subhan Goak            : Stop, stop, stop, hentikan!

Ajudan                       : Sudah, pak. Memang sudah selesai.

Rakyat                      : (gemuruh) Ini tidak beres….

Rakyat                      : Dana hak kita dipakai oleh mereka….

Rakyat                      : Tidak bisa dibiarkan….

Rakyat                      : Bergerakkkkk….

Rakyat                      : Kita protes…..

Rakyat                      : Adili kepala desa… (dan seterusnya).

Ajudan                       : Saya rasanya tahu catatan ini, bukankah ini tulisan saya sendiri yang ditugaskan oleh pak kades.

 

Subhan Goak            : Itulah kampret bin ubur-ubur, dari tadi saya bilang jangan terus dibaca, itu hanya catatan kita.

Ajudan                       : Sudah selesai dengan sebaik-baiknya tadi saya laksanakan, Pak.

Subhan Goak            : Kampret bin ubur-ubur!

Jawinul                     : Itu tadi jatuh. Dari tadi saya mau mengembalikan, tapi susah sekali.

 

Rakyat                      : (awalnya seorang saja berteriak keras, kemudian diikuti yang lain-lainnya) Adili kepala desa Subhan Goak!

Rakyat                      : Ya, adili!

Rakyat                      : Betul, dia telah merampas hak kita!

Rakyat                      : Semua dana bantuan itu tak pernah sampai kepada kita!

Rakyat                      : Adili!

Rakyat                      : Ayooo… tangkappp kepala desaaa!

Rakyat                      : Ayooo…

Nurihati                    : Kacau, kacau sudah! Ini bagaimana urusannya dengan luka-luka tubuh saya.

Rakyat                      : (semakin mendekat) Adili!

Rakyat                      : Jangan biarkan kades lepas!

Rakyat                      : Bohong tentang bebas kemiskinan itu!

Rakyat                      : Kita semua masih tetap sengsara!

 

 

Nurihati memerintah dayangnya untuk dorong roda, tapi membangkang hingga ia mendorong sendiri ke luar pentas. Sekali di antaranya sempat terjatuh. Demikian halnya Subhan Goak, Kasim Harak, dan Ajudan sendiri beringsut mundur. Rakyat dan gembel terus merangsek. Pun Jaim Nurjaman dan rombongannya ambil ancang-ancang untuk menyelematkan diri. Adegan berlanjut kepada kaburnya mereka semua ke luar pentas, dikejar oleh seluruh rakyat dan pemain lainnya. Di panggung hanya tersisa Jawinul dan Yang Jatuh.

 

 

Jawinul                     : (sambil menunjuk spanduk) Kelihatannya masih belum lurus.

Yang Jatuh                : Memang, karena waktu jatuh kesangkut lagi hingga lepas.

Jawinul                     : Kalau begitu, biar saya saja yang naik untuk memperbaikinya.

 

Dibantu oleh Yang Jatuh, Jawinul naik tangga lagi. Ia memperbaiki pemasangan spanduk, hingga barulah jelas terbaca tulisannya: “Kemiskinan adalah Musuh Kita. Mari kita Berantas!”

 

Blackout.

Selesai.

 1979 - 2007

 

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Metateater: Dunia Tanpa Makna
(Sebuah Teater Tanpa Teks, 1 Babak)

Latar Belakang: Kala itu, rasa-rasanya, situasi sosial dan politik sedang pengap-pengapnya. Di sana-sini, yang sifatnya kasat mata, seolah berkerlap-kerlip kesuksesan pembangunan. Gedung-gedung, terutama di perkotaan dan khususnya lagi di kota Jakarta, memang terus bertumbuhan. Demikian halnya, perekonomian, seolah-olah mengalami tingkat perkembangan industri, sehingga terbukanya lapangan kerja. Moda politik yang berazaskan pada stabilitas dan keamanan, terasa menjadi patokan utama yang sekaligus terasa begitu mencekam.

Pada situasi-situasi seperti itulah, kami sejak tahun 1987-an menyelenggarakan diskusi-diskusi keliling. Seperti arisan, diskusinya setiap saat berpindah dari satu rumah ke rumah berikutnya. Belakangan aktivitas diskusi kecil ini disebut Kelompok Sepuluh. Di tengah diskusi-diskusi itulah, sedikit demi sedikit terungkap bahwa kesuksesan pembangunan itu cenderung palsu. Kerap kami bahas, misalnya, pertumbuhan ekonomi itu sama sekali maya karena tak lebih merupakan sebuah perkembangan yang berlandaskan pada utang dari negara-negara donatur. Yang lebih mencekam lagi adalah gerakan politik stabilitas. Karena hal itu dijadikan menara, maka segala hal yang mengganggu stabilitas segera disebut subversi. Itu pula yang membuat diskusi-diskusi kami berpindah-pindah, romantismenya supaya tidak tercium intel (he he he). Namun demikian, beberapa kali sempat pula menyelenggarakan diskusi “besar” semisal pemibicaraan sastra konstekstual yang antara lain mengundang pula Wiji Thukul, penyair yang raib oleh situasi politik itu.

Saya sendiri, kala itu, masih aktif bekerja di surat kabar Pikiran Rakyat. Di antara sejumlah pekerjaan di surat kabar itu, yang selalu terasa paling menegangkan adalah manakala mendapat tugas harus membuat tajukrencana. Tegang karena di dalam diri ini selalu terjadi kontradiksi yang luar biasa; di satu sisi adalah kenyataan-kenyataan yang senantiasa terlihat dan terasakan, dan di sisi lainnya (diperintah atau pun tanpa perintah) ada semacam sensor di dalam tubuh ini yang seolah selalu mengawasi. Dua hal itu selalu bertengkar di dalam kepala, hingga seringkali membuat tubuh panas dingin, dan kerap pula pekerjaan menulis tajukrencana itu hanya bisa diselesaikan di saat-saat sudah betul-betul kepepet waktu.

Di antara tajukrencana yang lolos karena kepepet waktu, itu adalah sebuah tajukrencana yang antara lain mengutip kalimat Pramoedya Ananta Toer dari buku Bumi Manusia. Tanpa harus membuka lagi bukunya, meski tak persis betul, sampai hari ini pun masih saya hapal kalimatnya: “mereka berjalan dari keberangkatan yang berbeda-beda kemudian menuju gong yang sama.”

Gara-gara tulisan itu, saya pun dipanggil oleh pemimpin redaksi, dikuliahi dan diberi peringatan secara lisan. Intinya karena menyebut nama Pramoedya Ananta Toer yang dianggap berbahaya, lekra, onderbouw komunis. Padahal, seperti ‘pledoi’ saya ketika itu, saya katakan bahwa saya tidak peduli dengan lekra atau pun komunis, seperti halnya saya tak peduli pula kepada kapitalisme. Saya tak berpihak ke manapun kecuali kepada diri sendiri. Bahkan hingga hari ini saya tetap Golput. Satu-satunya kepedulian, demikian seperti saya katakan saat itu, karena kalimat itu dengan indah menggambarkan rakyat.

Bersama riwayat-riwayat sebelumnya dan riwayat “menuju gong yang sama,” itu membuat alat sensor di dalam tubuh saya menjadi semakin canggih lagi. Tapi di sisi lainnya, secanggih itu pula keinginan-keinginan untuk melawannya. Perkelahian dua hal ini semakin menggila. Sebagai akibat yang bisa dilacak secara fisik, dua kali saya masuk rumah sakit. “Penyakit” yang terberat adalah timbulnya keengganan untuk menggunakan kata-kata. Timbul keengganan untuk bersinggungan dengan kegiatan tulis-menulis. Menulis di tempat kerja, menjadi terasa terpaksa karena memang tuntutan kerja.

Jalan “pembebasan” yang amat mungkin, pikir saya ketika itu, adalah melalui kegiatan kesenian. Kebetulan pula saat itu sedang sering-seringnya saya bertandang ke rumah tinggalnya Harry Roesli di jalan Supratman. Tapi apa yang terjadi? Harry Roesli pun sedang dalam kondisi “ketakutan” yang sama. Sering, misalnya, ia mencontohkan bahwa berkata lewat puisi dengan kalaimat “berkumpul di sebuah belokan jalan,” pun diberondong pertanyaan intel seperti: di belokan jalan yang mana? Seberapa besar jumlah kumpulan itu? Apa yang dibicarakan? Akan melakukan gerakan apa?

Gelo siah, maneh jeung urang geus paranoid kieu,” itu yang biasanya jadi kalimat penghibur agar kami bisa kembali tertawa-tawa, menertawakan diri sendiri.

Tapi, energi keinginan berkesenian, rasa-rasanya sama tak tertahankan. Singkat cerita saja, maka sering kami lakukan kegiatan yang tidak direncanakan, mengalir begitu saja, tanpa tujuan bentuk apapun, siapapun yang tiba-tiba datang bisa langsung terlibat. Tapi beberapa kali pula tak ada orang lain kecuali saya dan istri, Harry Roesli, Erick Yusuf, Sulasmoro, dan Haviel Handiman. Dengan sejumlah itu, kami melakukan apapun; yang jelas di situ ada bunyi, ada gerak, ada rupa, tapi tidak pernah berkata-kata. Bermain, bermain, dan bermain; tanpa penonton dan memang tanpa tujuan untuk ditonton. Anehnya, paling tidak bagi saya pribadi, kegiatan ‘konyol’ itu memberikan pengalaman-pengalaman keindahan yang luar biasa. Itu pula yang mungkin membuat kami jadi addict hingga terus menerus melakukan hal yang sama. Belakangan hari seorang teman menyebutkan kegiatan itu sebagai “proses untuk menjadi.” Kami suka dengan sebutan itu meski kadang mengolok-olokannya pula semisal “jadi apa, jadi jeprut, ha ha ha.”

Di kemudian hari, kerja ‘konyol’ ini memang menjadi kenyataan lain semisal, Pentas 24 Jam untuk Memprotes Bredel terhadap 3 Media, Ladang Mengerang, Meteater, dan serangkaian varian-varian lain yang bahkan “anak-cucu”nya masih kerap muncul pada saat-saat kini.

Konsep: (ha ha ha, katakanlah konsep) garapan ini dikerjakan tanpa desain dan tanpa rencana struktural apapun. Namun hendaknya dikerjakan oleh individu-individu yang sudah faham dengan media-nya masing-masing. Di dalamnya adalah individu yang berlatar belakang musik, tari, senirupa, bisa pula sastra dalam keperluannya yang lain. Akan lebih menarik jika satu sama lain individu ini sudah saling mengenal secara dekat. Jika belum saling-mengenal, tentu memerlukan “ritus” awal untuk ruang perkenalan. Prinsip kerjanya adalah prinsip “tumbuh” dan satu sama lain mengikuti ke mana pun arah pertumbuhan itu menjalar. Penanaman “benih” yang mau ditumbuhkan pun tidak deitentukan secara pasti melainkan dibiarkan secara alamiah. Pada beberapa peristiwa “proses untuk menjadi,” kerap benih itu munculnya dari bunyi, tapi beberapa kali muncul pula awalannya dari gerak, bahkan beberapa kali lainnya hanya bermula dari sebatang lilin yang dinyalakan. Oleh karena itu pula, pada saat berlangsungnya (katakanlah) pertunjukan, tidak ada patokan waktu yang tetap; ia bisa berkepenjangan tapi bisa pula amat singkat, biasanya bergantung kepada “rasa” keterlibatan “publik.” Guna dari “kedekatan” tadi, di samping bergunana selama peristiwa berjalan, nantinya akan terasa sekali kepentingannya manakala harus sampai ke wilayah yang biasanya “kritis” yaitu wilayah “bilamana peristiwa ini harus diakhiri.” Maklum, karena untuk mengakhiri ini pun tanpa rencana, terlarang bagi pola aba-aba, juga melepaskan diri sebebas-bebasnya dari tradisi cue dramatik. Karena itulah, “hapal” kepada watak masing-masing individu menjadi sangat penting. Sebab hukum alamiah untuk “mengakhiri” ini biasanya muncul tanpa rencana kecuali melalui aura tubuh, bunyi, atau pun rupa yang hadir.

Catatan kejadian: Metateater yang kemudian diberi judul “Dunia Tanpa Makna,” tumbuh dengan semacam konsep di atas. Awalnya adalah sebuah sketsa pentas yang sederhana. Ketika sketsa itu lahir, seperti biasanya pula, muncul pernyataan spontan seperti: “sudah, tentukan saja waktunya kapan, di mana, dan langsung gambar itu dijadikan di pentas.” Nanti, seperti ucapan Harry Roesli ketika itu, saya dan kawan-kawan yang mengisi bunyi-bunyiannya. Belakangan muncul Rachman Sabur dengan Payung Hitamnya, menyediakan “tubuh” untuk mengisi ruang tersebut. Demikian halnya penari Ine Arini, serta Joko Kurnain yang menyediakan dirinya untuk merespon dengan cahaya. Sehubungan dengan cahaya, “proses untuk menjadi” pun memiliki tradisi menggunakan overhead projector (OHP) sebagai medium eskspresi. Alat yang sesungguhnya untuk presentasi dan rapat di kantor-kantor, ini kami jadikan media untuk mengolah kemungkinan rupa. Jadi, berlangsung sebelum zaman adanya infocus atau LCD. Ketika itu adalah Mamannoor dan Arahmaiani yang menyediakan diri untuk mengoperasikan dua buah OHP pada masing-masing sudutnya. Maka di pentas itu pun terjadilah “rupa proses,” senirupa menjadi penting tidak di dalam karya akhir atau artefak melainkan di dalam ikatan berlangsungnya peristiwa teater. Ini berjalin-berkelindan dengan refleksi dari proyektor untuk slide, terjadilah gambar-gambar yang saling membuka dan saling menutup. Itu berbaur dengan “kontrol auratik” para pemain di pentas. Saya katakan saja “kontrol auratik” sebab tidak ada cue melainkan sepenuhnya hanya dipercayakan kepada kepekaan masing-masing yang terlibat, sepenuhnya bergantung kepada pori-pori intuisi (aura) untuk berbuat apapun sambil terus menjaga “rasa” terhadap apapun yang tumbuh. Karya yang awalnya dari garapan tata-pentas berbahan sembarang barang temuan, itu akhirnya dipentaskan tiga malam berturut-turut di gedung Sunan Ambu STSI Bandung, dan di Teater Tertutup TIM (kini sudah beralih rupa) selama dua malam.

 

Catatan akhir: catatan latar belakang, semacam konsep, dan catatan kejadian di atas; pada akhirnya diperlakukan sebagai naskah, dalam artian hal-hal di atas tadi sesungguhnya amat mungkin dijadikan acuan dan dilakukan oleh siapapun. Maka seperti kepada naskah-naskah konvensional, ke dalam metateater pun terbuka kemungkinan re-interpretasi hingga kemungkinan pengembangan gagasan-gagasnya. Pada gilirannya nanti, tentu saja, akan muncul bentuk-bentuk lain bahkan bentuk yang sepenuhnya berbeda dengan gambaran yang pernah terjadi pada metateater sendiri.

 

Bandung, 1990-1991

 

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Lipstik
(drama partisipatoris satu babak)

Pada saat drama ini dimulai, di pentas tidak ada apa-apa, kosong, telanjang, bahkan lampu-lampu pentas pun dalam posisi apa adanya, dan/atau tidak mengalami penataan khusus. Tentang “cahaya” perlu diberi catatan khusus, sebab suatu ketika “ruang” peristiwa teater seperti ini bisa saja berlangsung di sebuah sudut jalan, maka cahayanya bersumberkan kepada lampu penerangan jalan. Sutradara dan para pemain (aktor, pemusik, penata, dan pekerja pentas lainnya), “ideal”nya hanya mempersiapkan diri untuk mengantisipasi apapun yang terjadi dan apapun yang akan berkembang di pentas nanti. Jadi, tidak ada pula lakon yang disiapkan. Dengan kata lain, drama ini sesungguhnya berkehendak bahwa “peristiwa teater” itu tumbuh pada saat itu juga, dan tidak berawal-mula dari gagasan penulis drama, sutradara, aktor, atau siapapun melainkan muncul dari semacam gagasan bersama. Peristiwa teater, sepenuhnya diserahkan kepada gagasan dan kehendak penonton, dan bahkan membuka diri kepada kemungkinan keterlibatan penonton.

Jika kemudian muncul “naskah” (tertulis) seperti bentuk sekarang ini, yang diharapkan adalah “teks” catatan atas peristiwa yang telah terjadi. Dengan demikian, di setiap ruang teater yang berbeda dan bahkan di setiap waktu yang berbeda; niscaya akan menghasilkan “teks” yang berbeda pula. Tujuan utama dari gagasan ini adalah ingin mengembalikan penonton sebagai sosok-sosok yang aktif di dalam suatu peristiwa teater. Mereka tidak lagi ditempatkan sebagai sosok pasif yang harus menerima apapun dari apa yang sudah selesai dan tidak bisa diapa-apakan lagi. Ini, sesungguhnya, sudah diberi modal oleh berbagai tradisi teater rakyat. Bahwa penonton bisa mengintervensi, memotong, protes, membelokan lakon, bahkan ikut tampil di pentas; nyaris merupakan kecenderungan umum teater-teater rakyat di nusantara. Baru kemudian kita mengenal Dr. Augusto Boal. Harus diakui, karena jasa gagasan Boal-lah maka kita menjadi ingat kembali kepada “kekuatan” teater rakyat. Ini pula yang sesungguhnya merupakan inti dasar teater yang tak akan tergantikan oleh film dan model-model seni-peran industri televisi. Maka (katakanlah naskah ini), pertama sekali didedikasikan dengan penuh hormat kepada seluruh aneka ragam teater rakyat nusantara, dan kemudian kepada Augusto Boal.

Adapun kemudian bentuknya sekarang tertulis sebagai “naskah,” sesungguhnya tak lebih disebabkan oleh dua hal: (1) naskah ini tak lebih dari gambaran imajiner dari yang dibayang-bayangkan mungkin terjadi, atau bahkan tak lebih dari sekadar contoh kemungkinan saja; dan (2) ini ditulis tak lain sebagai “titik api” awal mula saja, yang selanjutnya bisa saja berkembang ke arah lain bahkan mungkin pula naskah ini sama sekali tidak dipakai sejak awal pementasan.

Meskipun bentuk pementasan yang diangankan ini amat bergantung kepada keinginan dan gagasan penonton, seperti telah disebutkan di atas; sutradara dan para pemain (aktor, pemusik, penata, dan pekerja pentas lainnya) tetaplah diperlukan kehadirannya. Bahkan, diharapkan sekali mereka ini terdiri dari individu-individu yang telah mumpuni di bidangnya masing-masing. Mengapa?

Sesungguhnya, pertanyaan itu amat sulit untuk dijawab. Kesulitannya bukan karena tidak bisa dijawab, melainkan karena jawaban yang terbaik itu sesungguhnya akan muncul sendiri jika pengalaman teater telah terlami. Dengan demikian, maka jawabannya pun tidaklah merupakan jawaban tunggal melainkan jawaban yang beraneka warna dan berbeda-beda di setiap kali terjadi peristiwa teater. Berkenaan dengan itu pula, seperti halnya digagas oleh Boal, seyogianya di setiap penghujung pementasan itu ditutup dengan semacam diskusi.

Namun, terhadap pertanyaan di atas, jawaban berikut ini tak lebih sebagai alasan teknis saja. Meskipun sudah tidak berpegang lagi kepada konvensi tradisional semisal “bagus atau tidak bagus” atau “indah dan tak indah,” mestilah tetap kita fahami bahwa peristiwa yang hendak kita bangun adalah peristiwa teater; karena itu pula ruang peristiwanya pun di ruang teater (baik proskenium, arena, atau pun sudut jalan). Di dalam suatu peristiwa teater, setipis apapun, niscaya di sana akan terjadi laku-peran (akting) membawakan karakter tertentu. Atau bahkan jika yang muncul di pentas itu adalah seseorang dari penonton yang katakanlah membawakan dirinya sendiri dan berlaku peran sebagai dirinya sendiri; ini sama sekali berbeda dengan manakala seseorang itu membawakan dirinya di tengah kehidupan yang sebenarnya. Seseorang yang sudah kehilangan harapan atau putus asa, misalnya, di dalam kehidupan boleh jadi malah lebih banyak menyendiri, murung, dan diam. Tapi sebaliknya di dalam peristiwa teater, bukan tidak mungkin ia malah menjadi aktif, mengungkapkan segala hal yang menekan dirinya, dan seterusnya. Sadar atau pun tak tersadari, seseorang tersebut sesungguhnya telah membuka saluran impuls-nya untuk membentuk tingkah-laku. Setipis apapun, itu sesungguhnya pula yang menjadi salah satu inti dari seni akting.

Adapun hubungannya dengan kesiapan awak pentas yang sudah terlatih, kita sederhanakan saja, bahwa di tengah peristiwa teater partisipatoris hampir bisa dipastikan akan banyak sekali tuntutan, gagasan, kejadian, peristiwa, yang kemudian menjadi bangun teater yang tak terduga. Untuk menghadapi faktor ketakterdugaan yang bersifat tak berhingga ini, kiranya, hanya bisa diatasi oleh pemain atau awak pentas yang tidak sekadar bagus dan pandai improvisasi saja; melainkan dibutuhkan pula semacam intelegensia khusus yang bisa mengambil keputusan dengan segera dan pada saat itu juga. Di dalam contoh berikut ini, memang, diimajinasikan bahwa penontonnya sangat aktif. Sehingga sutradara dan para pemain tidak terlalu kerja keras, kecuali memfasilitasi atau mengalirkan peristiwa pentas.

Akhirnya, sekarang, marilah kita menuju ke kejadian atau peristiwa teatrikal yang imajiner itu. Peristiwanya kita andaikan di pentas proskenium. (hd)***

 

 

Sutradara    : (setelah tanda pertunjukan dimulai, ia muncul menghampiri cahaya yang ada) Saudara-saudaraku sekali, terimakasih kita bisa berkumpul di sini. Saya ingin membuka peristiwa teater milik kita ini dengan suatu kemungkinan. Begini…. Saya berasumsi, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak berfikir dan tidak memiliki keinginan. Bagaimana? Setujukan hadirin sekalian dengan asumsi itu?

Penonton      : Apa tadi? Kurang jelas, tolong diulangi!

Sutradara    : Saya punya asumsi, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak berfikir dan tidak memiliki keinginan. Bagaimana? Setujukan anda dengan asumsi itu?

Penonton      : Oh, itu, ya tentu, kecuali orang yang sakit mesti tak berfikir dan tak berkehendak.

Sutradara    : Jadi anda setuju dengan asumsi itu?

Penonton      : Ya, ya, ya, setuju!

Sutradara    : Hadirin yang lainnya, bagaimana? Setujukah?

Penonton      : (hampir semuanya bersamaan) Setujuuuuuu!

Sutradara    : Nah, kalau begitu artinya bisa kita lanjutkan. Begini… Saya ingin mengundang salah seorang dari hadirin sekalian untuk menyampaikan pikiran dan kehendaknya di sini, di pentas ini. Yang saya maksudkan adalah pikiran dan kehendak yang dirasakannya paling mendesak.

Penonton      : Maksudnya? Saya belum mengerti, belum begitu jelas.

Sutradara    : Baik, saya sederhanakan. Misalnya dalam perjalanan tadi dari tempat tinggal masing-masing menuju ke sini; bisa saja sejak dari rumah sudah ada yang terpikirkan atau yang diinginkan. Atau, di perjalanan tadi, niscaya kita melihat apapun yang kita lihat, akibat melihat itu kita jadi memikirkan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Bagaimana? Adakah itu terjadi?

Penonton      : (bergantian atau bersahutan dan agak gemuruh) Oh, ya tentu.

Penonton      : Namanya juga manusia.

Penonton      : Wah kalau begitu sih banyak.

Penonton      : Setiap kali melihat apapun mesti mikir dan pengen.

Penonton      : Ah kamu mesti cewek ya?

Penonton      : Nggak, aku tadi lihat makanan jadi lapar.

Penonton      : Dasar kamu tukang makan.

Penonton      : Aku sih kebetulan melihat yang tertabrak, kepikiran pengen nolong tapi tak bisa karena di dalam angkot. (dan seterusnya)

Sutradara    : Baik, baik, saya berharap salah seorang saja. Menyampaikannya tidak di sana, tapi di sini. Silakan langsung saja naik ke sini. Adakah…..? (auditorium jadi sepi kembali, bisa saja agak lama menunggu yang berani tampil) Kalau tidak ada juga yang mau tampil ke sini, saya akan menghitung sampai lima, lantas saya turun untuk mengundang siapapun secara acak. (menunggu lagi) Baik, saya akan mulai menghitung; satu…., dua…. (tampak ada seorang yang unjuk tangan) Oh, terimakasih, silakan naik ke sini!

Penonton      : Nanti dulu. Pikiran dan keinginan saya ini rada-rada gila, boleh tidak?

Hadirin          : Hhhhuuuuuuuu….

Sutradara    : Ah, ha ha ha… Tidak apa-apa hadirin sekalian. Nanti kita dengarkan apa yang dimaksudnya dengan pikiran dan kehendak gila itu.

Penonton      : Iya, ya, ya… Seperti kalian tidak gila saja.

Penonton      : Betul, bukankah yang disebut gila itu yang waras dan yang sekarang disebut waras itu sesungguhnya gila ha ha ha ha…

Sutradara    : Dan kepada Anda silakan, silakan naik ke pentas ini. (penonton, seorang perempuan, naik pentas) Terimakasih. Ada baiknya anda memperkenalkan diri dulu, perkenalkanlah sejak nama dan apapun yang menurut anda mau diperkenalkan.

Penonton      : Saya Marlina, biasa dipanggil Lina saja. (selanjutnya akan ditulis Lina) Baru saja empat hari yang lalu putus kuliah alias drop out karena tidak bisa lagi bayar kuliah.

Penonton      : Oooo, ituuuuuu….

Lina                : Sebentar, bukan itu intinya, ini kan baru perkenalan. Saya lanjutkan, ya?

Sutradara    : Silakan!

Lina                : Sambil kuliah, saya ikut kerja di pedagang batagor yang kebetulan saya kenal. Rame sih, tapi gajinya tak cukup untuk bayar kuliah. Bahkan untuk keperluan sehari-hari pun tidak cukup. Orang tua saya sudah lama, malah sejak saya SMA, sudah tidak bisa membiayai lagi. Malam ini kebetulan sedang giliran libur, jadi bisa nonton, eh, hadir di teater ini.

Sutradara    : Menarik. Lantas pikiran dan keinginan gila itu?

Penonton      : (agak bersahutan) Ya, apa?

Penonton      : Mestinya yang serem-serem, ya?

Penonton      : Siapa yang bisa bantu bayar kuliahannyaaaaa?

Penonton      : Jadi TKW saja, bukankah sedang musim?

Penonton      : Ya, tinggalkan saja negeri ini beramai-ramai karena sudah tidak bisa memberikan lagi apa-apa.

Penonton      : Yang namanya harapan pun sudah sulit sekali ditemukan di sini.

Penonton      : Katanya Indonesia ini negeri subur dan makmur!

Penonton      : Subur dan makmurnya hanya untuk orang-orang serakah saja, sementara rakyatnya terus menerus dibiarkan terlantar!

Penonton      : Ah, kamu saja yang malas sehingga tak maju-maju dan tetap miskin!

Penonton      : Siapa bilang? Kami ini pekerja keras, saudara Lina saja mau kerja keras di pedagang batagor. Haram! Jangan lagi katakan kami ini malas!

Penonton      : Betul itu! Para TKW yang rela meninggalkan negeri ini pun bukan mencari uang jatuh, mereka pergi untuk bekerja karena di sini sudah tidak ada yang bisa dikerjakan lagi dengan patut. Itu tandanya rakyat masih mau berkeringat, giat, memiliki semangat kerja. Siapa bilang malas?

Penonton      : Ingin pindah kerja, ya? Jadi orang kantoran? (dan seterusnya)

Lina                : Bukan, bukan itu!

Penonton      : Lantas apa, dong?

Lina                : Begini (ia ambil nafas dulu dan pindah bloking meski tanpa kesadaran pentas). Sebentar, ya! (melirik ke sutradara, sutradara mempersilakan dengan gerakan tangannya) Tadi itu di jalan, sebelum naik angkot, seperti biasa saya harus jalan kaki dulu melewati pertokoan.

Penonton      : Pikiran dan keinginan gilanya apa?

Sutradara    : (hanya memberi tanda dengan telunjuk yang disilangkan di depan mulut)

Lina                : (setelah melirik lagi ke arah sutradara) Tadi itu kepikiran ingin memecahkan kaca-kaca etalase toko!

Penonton      : Wowww...!

Penonton      : Edan!

Lina                : Makanya saya bilang gila.

Penonton      : Eh, tapi rasanya pikiran itu pernah pula melintas di benak kita?

Penonton      : Ya, ya, ya, setiap manusia itu sesungguhnya memiliki kegilaan.

Penonton      : Wah, betul itu! Hanya saja ada yang berani mengungkapkannya dan ada yang tidak berani.

Penonton      : Ada pula yang munafik.

Penonton      : Padahal kegilaan itu energi, vitalitas manusia.

Penonton      : Tapi sering sejak kecil ditutup-tutupi bahkan ditakut-takuti dengan kata “serba jangan,” maka jadilah kita ini manusia yang serba takut serta tidak kreatif.

Penonton      : Itu sesungguhnya penekanan, represi, pembungkaman. Padahal yang ditekan itu sesungguhnya tak pernah hilang melainkan bertumpuk, menggumpal, ia menjadi semacam bom waktu yang bisa saja meledaknya itu manakala si anak sudah dewasa.

Penonton      : Tapi, bukankah yang dinginkan Lina itu anarkis?

Pemain 1         : (manakala dialog penonton itu berlangsung: muncul dari arah tempat duduk penonton, sejak dari bawah sudah merespon, sutradara sedikit demi sedikit mundur sampai masuk ke belakang pentas) Tapi anda tidak melakukannya, bukan?

Lina                : Ya, tentu saja tidak laahhhhh!

Pemain 1         : (kini sudah berada di pentas) Kenapa tidak dilakukan?

Lina                : Ya, tidak! Gila apa?

Pemain 1         : Tapi pikiran itu, gimana, apa memang terasa mendesak?

Lina                : He he he, sebenernya sih pikiran itu tidak kali itu saja.

Pemain 1         : Maksudnya?

Lina                : Ya, sudah sering, malah setiap kali lewat suka kepikiran begitu.

 

Mulai dari sini, di pentas bagian belakang, perlahan dan relatif dalam irama tertentu; tampak awak pentas membawa lembaran seng bekas yang berukuran lumayan besar. Karena mereka berpakaian serba hitam dan di daerah itu tidak kena sinar, maka  seng itu tampak seperti melayang. Gambaran seng melayang itu secara visual cukup menarik, cukup teatrikal. Kemudian seng itu digantung agak sedikit di depan backdrop, di sebelah kiri pentas. Dengan ini, setting mulai tumbuh.

 

Pemain 1         : (setelah melihat ada seng tergantung) Tadi saya mendengar bahwa penekanan, represi, pembungkaman, itu sesungguhnya tak pernah hilang melainkan bertumpuk, menggumpal. Ia menjadi semacam bom waktu yang bisa saja meledak kapan saja. Sungguh merupakan pemikiran yang menarik sekali dan benar adanya. Yang ditekan itu sesungguhnya adalah energi, sebagai energi ia bersifat murni dan segala hal yang bersifat murni itu selalu memiliki dua wajah yang saling berlawanan. Maka energi itu pun di satu sisinya memiliki wajah energi kreatif sementara di sisi lainnya adalah energi destruktif.

Penonton      :  (serempak) Aammmiiinnnnn…..

Pemain 1         : Kita, manusia, seperti titik nol, titik nadir yang berada di tengah-tengah dua energi tadi. Semakin menjauh dari titik nadir maka angka energi itu pun semakin membesar, sementara kita, manusia, yang berdiri di tengahnya ditugaskan untuk mengelola kedua energi tersebut. Berapa pun besarannya energi tersebut, sesungguhnya sepenuhnya berada di tangan kita.

Lina                : Heh, saya ini akan disuruh apa di sini? Apa disuruh jadi patung untuk mendengarkan ceramah tentang energi?

Pemain 1         : Yang jelas, apakah itu energi kreatif atau pun energi destruktif yang sesungguhnya berasal dari satu sumber, itu akan selalu membutuhkan jalan keluar. Meski misalnya disumbat, ia akan mencari dan membuat jalannya sendiri untuk keluar. Gambarannya kira-kira seperti magma yang berada di dalam kandungan bumi, ia menembus lapisan-lapisan bumi, membuat jalan alamiahnya yang kemudian tampak menjadi sebentuk gunung berapi.

Penonton      : (serempak) Aammmiiinnnnn…..

Lina                : Sudahan saja, ya? Saya balik turun lagi nih!

Pemain 1         : Saudari Lina, apakah di dalam diri anda ini sesungguhnya ada sesuatu yang tak tertahankan, sesuatu semacam magma yang ingin keluar?

 

Belum lagi Lina menjawab, dari pinggir-pinggir pentas masuk beberapa pemain dengan gerakan akrobatik dan pantomimik. Mereka bergerak seperti menari, tapi bukan seperti halnya tari klasik yang gemulai. Di antara mereka ada yang membawa sebuah wadah berisi potongan-potongan kayu. Di antara gerakan-gerakan “tari”nya mereka melempari seng dengan potongan-potongan kayu, kadang memukul-pukulnya. Bunyinya, maklum seng, relatif menyakitkan, tapi sesungguhnya memiliki pola irama. Salah seorang di antara mereka yang berpantomim, mempersilakan Lina untuk ikut melempar. Awalnya Lina terlihat ragu-ragu, tapi setelah dimulai sekali maka berikutnya terlihat sekali ia menikmatinya. Setelah itu berlangsung beberapa saat, para pemain dengan gaya akrobatiknya keluar dari pentas secara bersama tapi geraknya tak seragam. Maka ruang yang tadi “berisik” itu menjadi terasa hening, mungkin saja Lina (ketinggalan) masih melempar, itu malah akan bagus karena bunyinya menjadi satu-dua setelah bunyi yang riuh tadi. Hingga akhirnya, setelah tahu tinggal sendirian, Lina pun berhenti melempar.

 

Pemain 1         : Kini persoalannya, apa yang membuat anda berfikir seperti itu? Apa karena pemilik toko itu pernah menyakiti hati anda?

Penonton      : (bersahutan) Cintanya diputus sama pemilik toko ya?

Penonton      : Lamaran kerjanya ditolak?

Penonton      : Cita-cita ingin punya toko tidak kesampaian! (dan seterusnya)

Lina                : Nggak! Semua salah! Bukan ke toko yang saya lewati dari rumah saya saja, nyaris ke semua toko.

Pemain 1         : Ke semua toko?

Lina                : He he he, betul! Gila kan?

Pemain 1         : (ke penonton) Hadirin sekalian, rasa-rasanya kita memiliki kepenasaran yang sama, ya? Mestinya semua pun jadi ingin tahu. (balik lagi ke Lina) Apa yang mendorong pikiran dan keinginan anda itu?

Lina                : Nah, ini gilanya…. Ah, nggak jadi deh… (ia lari ke pojok depan pentas tapi diikuti oleh pemain 1) Cukup sampai sini saja, ya? Malu!

Penonton      : (bersahutan terkadang bersamaan) Terus, terus....

Penonton      : Lanjutkan, asyik...

Penonton      : Terusin dong, tanggung nih, terussss!

Pemain 1         : Saya kira semua hadirin penasaran, sebaiknya jangan kecewakan mereka. Silakan diteruskan.

Lina                : Idihhh, malu, gimana nyeritainnya....

Pemain 1         : Seperti tadi, tidak usah ada beban apa-apa. (kepada penonton) Ini kan pentas merdeka, betul tidak hadirin sekalian?

Penonton      : Betulllll.

Penonton      : Setujuuuu.

Penonton      : Lanjutkannnn.

Pemain 1         : Itu bukan suara saya, tapi keinginan orang banyak. Silakan.

Lina                : Jangan ditertawakan, ya?

Penonton      : (bersahutan) Beressss….

Penonton      : Siapppp….

Penonton      : Tenang saja, lanjut saja.

Penonton      : Merdekaaaaa…

Penonton      : Merdeka!

Penonton      : Merdeka!

Penonton      : Merdeka!

Penonton      : Nggak usah ragu dehhh.

Lina                : Baik kalau begitu. (ia tarik nafas dulu) Anda melihat penampilan saya, bukan?

Penonton      : Ya, ya, ya...

Lina                : Anda semua melihat juga pakaian yang saya pakai?

Penonton      : (ada juga yang suit-suit) Ya…, ya, ya….

Lina                : Anda tahu tidak rok dan baju yang saya pakai ini umurnya sudah berapa tahun? (penonton diam tak ada suara gurau lagi) Ini dibelinya ketika saya masih kelas 1 SMA. Jadi kira-kira sekarang usianya sudah lima tahun. Di bagian sini (ia sedikit berbalik memperlihatkan belakang rok-nya) sebetulnya sudah ada yang robek, tapi saya jahit sendiri. Lumayan jadi tidak kelihatan lagi. (ia narik nafas lagi) Sekarang perhatikan pula wajah saya, tidak sedikitpun tersentuh alat-alat makeup, bahkan lipstik tidak pernah saya kenal karena tak mampu membelinya.

Penonton      : Maaf saya memotong. Saya tak bermaksud mengada-ada, tapi dengan tanpa makeup pun anda kelihatan menarik.

Penonton      : Hhhuuuuuuu….

Penonton      : Naksir nih yeeee…

Penonton      : Linnn, ada yang jatuh cinta tuhhh…

Penonton      : Saya kira ini serius. Ini bukan problema Nona Lina saja, melainkan problema yang mungkin pula dirasakan oleh orang lain.

Pemain 1         : Bisakah anda berdua naik ke pentas untuk membahas tentang ini bersama-sama?

Penonton      : Baik! 

Penonton      : OK! (stage crew mendorong sebuah meja dan tiga buah kursi ke dalam pentas. Tidak ada bunyi yang disembunyikan, sehingga suara prop pentas itu terdengar jelas)

Pemain 1         : (sambil mengamping Lina ke arah kursi dan mempersilakan duduk) Silakan dilanjutkan saudara… dan anda….?

Penonton      : (ke arah kursi dan kemudian duduk) Saya Farid. (selanjutnya ditulis Farid)

Penonton      : Dan saya, Sunjaya (selanjutnya ditulis Sunjaya)

Pemain            : Nah, silakan dilanjutkan yang tadi.

Farid              : Iya, menurut saya, tidak ada masalah dengan tidak ber-makeup.

Lina                : Untuk anda tidak masalah karena anda laki-laki, tapi bagi kami kaum perempuan secara umum adalah masalah.

Sunjaya         : Itulah persoalan seriusnya. Tubuh kita ini tidak lagi menjadi tubuh milik kita sendiri, melainkan telah menjadi tubuh berdasarkan kriteria-kriteria orang lain. Sehingga kita sudah tidak sadar lagi bahwa untuk meng-aktualisasi-kan tubuh kita ini sesungguhnya tidak lagi berdasarkan keinginan-keinginan kita sendiri, melainkan lebih disebabkan oleh tuntutan-tuntutan dari luar tubuh kita.

Lina                : Ah, nggak deh. Keinginan memakai pakaian yang baik dan berhias diri, itu keinginan saya sendiri dan rasanya menjadi keinginan perempuan pada umumnya.

Penonton      : (terutama perempuan bersahutan) Betul itu!

Penonton      : Laki-laki jangan sok tahu lah!

Penonton      : Itu biasa! Sudah umum! (dan seterusnya)

Sunjaya         : Betul, sekarang ini sudah terasa menjadi biasa dan umum. Justru ukuran yang disebut umum itulah yang mendikte kita. Saya kira, ketika saudara Farid mengatakan tak apa-apa sekalipun tak ber-makeup, itu sesungguhnya seperti menyatakan tak apa-apa karena itulah anda yang otentik. Bukankah begitu Bung Farid?

Farid              : Ya, kira-kira begitu. Maksud saya, saudari Lina ini meskipun tak ber-makeup tetaplah menarik he he he.

Penonton      : Tuh, kan naksir dia…

Lina                : Terimakasih, itu saya anggap sanjungan. Tapi, maaf, bagaimana dengan yang emh… sekali lagi maaf, katakanlah, bagaimana dengan yang tidak menarik dan ingin kelihatan menarik?

Sunjaya         : Apa sesungguhnya menarik dan tidak menarik itu? Bagaimana kriteria itu tumbuh? Bagaimana pula kita mengukurnya?

Penonton      : Wah, ini jadi asyik dan serius. Menurut hemat saya…

Pemain 1         : (memotong) Bagaiman kalau saudara pun kita undang juga ke atas sini?

Penonton      : (sambil jalan ke arah pentas) Baik, nama saya Bambang, lengkapnya Bambang Sugiharto, nama permandian saya Ignatius, tapi cukup panggil Bambang saja.

Pemain 1         : Baik silakan.

Bambang       : (setelah di pentas) Iya, pertanyaan-pertanyaan tadi serius sekali, itu mengingatkan kita kepada kenyataan bahwa tubuh-tubuh kita ini sudah mengalami keterjajahan yang luar biasa sekali. Bahwa kita mengatur tubuh kita tidak berdasarkan keinginan sendiri, sesungguhnya telah menjadi kenyataan umum yang tidak tersadari lagi. Itu telah menjadi urban myth, ya, telah menjadi mitos urban.

Lina                : (sambil memukul-pukul seng yang kebetulan dekat ke tempatnya berdiri, sehingga suaranya berkrompyangan) Ahhh, capek deh! Puyeng saya. Tadi ceramah tentang energi, kini ada lagi istilah baru… Apa tadi? Mitos urban segala. Sudah ya, saya turun saja, biar anda-anda saja yang teruskan. Padahal nggak ada tuh jajah-menjajah segala, buat saya sih sederhana saja, saya ingin punya lipstik tapi tidak bisa beli. Titik.

Sunjaya         : Sebentar, sebentar nona Lina, jangan turun dulu. Saya setuju, ini masalah serius, setidaknya mari kita bicarakan bersama-sama.

Penonton      : (bersahutan) Ah, padahal dianya sendiri suka kalau melihat yang cantik.

Penonton      : Ya, ya, ya betul itu. Jangan pura-pura ah!

Penonton      : Laki-laki mana sih yang tidak suka melihat perempuan cantik! (dan seterusnya)

Bambang       : Tidak seperti itu, saudara-saudara, meskipun tidak dimungkiri pula jika laki-laki itu suka perempuan karena itu hukum naluriahnya.

Penonton      : Huuuuuuu!

Bambang       : Tapi soal tubuh kita ini sudah terjajah, dan tidak lagi menyadari keterjajahannya; nyata serius sekali.

Penonton      : Huuuuuu!

Sunjaya         : Tolong kita dengarkan sebentar.

Bambang       : Pernahkah saudara-saudara sekalian memperhatikan saudara-saudara kita di pedalaman Papua, saudara-saudara perempuan kita di tanah Badui, saudari-saudari kita di wilayah kebudayaan suku laut Bajo. Mari kita bayangkan, apakah kira-kiranya mereka pun berfikir dan berkehendak seperti kita? Saudari Lina ini anak dari masyarakat urban, pikiran dan pilihan hidupnya telah dibentuk oleh sejumlah informasi urban….

Lina                : (memotong terasa agak marah) Lho, kok, jadinya anda ini seperti menyalahkan saya. Apa saya ini harus tinggal di pedalaman? Harus jadi masyarakat pedalaman? Padahal jelas-jelas sejak brojol, lahir di kota ini, bagaimana mungkin?

Bambang       : Saya tidak bermaksud menyalahkan, dan memang tidak ada yang salah. Anda lahir di sini dan mereka di sana, pada dasarnya adalah given, hal yang tidak pernah kita minta tapi dengan begitu saja kita terima.

Lina                : Ah, rumit ini orang. Puyeng deh gue…

Bambang       : Nanti dulu, makanya mau saya jelaskan.

Lina                : Ngotot, lagi.

Bambang       : Ya, ya, ini sungguh, anda menjadi anda seperti ini bukan kesalahan dan bukan dosa. Tapi yang penting bagi kita, hendaknya ada semacam kesadaran terhadap diri kita sendiri.

Lina                : Jadi, saya atau kami kaum perempuan ini tidak eling, tidak sadar, tidak waras?

Bambang       : Pada tarap-tarap tertentu bisa begitu.

Lina                : Alias tarap gila beneran?

Bambang       : Ada semacam dorongan berupa keinginan pemenuhan terhadap diri kita, tapi sesungguhnya pemenuhan itu tidaklah diperuntukan bagi kebutuhan yang berasal dari diri kita sendiri. Karena tidak berasal dari dasar kebutuhan tubuh anda sendiri, maka sesungguhnya telah muncul dorongan yang melenceng, dan pelencengan tersebut kita tahu sendiri maknanya apa?

Lina                : Nyesel deh gue, kenapa di awal tadi mau-maunya bilang punya pikiran dan kehendak gila, eh, sekarang dibilang gila beneran.

Bambang       : Sekali lagi, anda tidak bersalah apa-apa, di tengah-tengah kehidupan sosial ini; hidup memang berputar di sekitar komitmen dan kesepakatan umum. Persoalannya, yang disebut kesepakatan umum itu, semakin ke sini semakin dikendalikan oleh kekuatan tertentu, bukan lagi dikendalikan oleh individu-individu yang berada di dalam tatanan sosial tersebut. Nah, lipstik yang kita bicarakan itu, kebetulan merupakan contoh paling jernih memperlihatkan hal tersebut.

Lina                : Apanya yang jernih, buat saya keruh, kusut, sulit dimengerti, tidak jelas.

Bambang       : Sekarang saya tanya, apa dan siapa sesungguhnya yang mendorong tuntutan bahwa perempuan itu harus pakai lipstik.

Lina                : Ya, itu kan sudah umum.

Bambang       : Betul. Pertanyaannya, apa, siapa, mengapa, dan bagaimana hal itu menjadi umum?

Lina                : Jawab sendiri saja deh.

Bambang       : Jangan lupa, lipstik itu bukan kebutuhan alamiah melainkan kebutuhan yang diciptakan berdasarkan dorongan-dorongan yang alamiahnya memang ada pada perempuan.

Lina                : Keriting dan bikin pusing lagi kan? Dikatakan bukan alamiah tapi dikatakan pula dorongan alamiah; keriting, kerinting, bolak-balik!

Farid              : Begini, dari tadi saya mengikuti pembicaraan sambil tak pernah tahu, berapa sih harga lipstik itu?

Lina                : Yang murah apa yang mahal?

Farid              : Yang murah berapa dan yang mahal berapa?

Lina                : Yang murah sih ada juga yang sekira Rp. 5 ribuan, dan yang mahalnya bisa sampai Rp. 250 ribuan.

Farid              : Yang anda inginkan?

Lina                : Saya bukan sok-sokan, jujur saja, saya inginnya yang bagus karena urus-urusannya dengan higienis. Jadi, ya, yang sekitar Rp. 250 ribuan itulah.

Bambang       : Wah, terimakasih anda sudah menanyakan itu. Kini sudah bisa lebih jelas.

Lina                : (sambil mencibir) Nah dia lagi. Capek, deh.

Bambang       : Bayangkan, jika katakanlah seperempatnya saja dari perempuan dewasa negeri ini belanja lipstik? Itu ada sekira 30.000.000 orang. Silakan kalikan dengan harga lipstik tadi. Sungguh bukan uang yang kecil.

Sunjaya         : Sekarang saya mulai faham, bahwa keinginan-keinginan itu sesungguhnya diciptakan oleh suatu industri atau apapun namanya, sehingga yang asalnya bukan kebutuhan utama itu menjadi sesuatu yang sangat diinginkan. Lipstik, pada akhirnya menjadi semacam simbol atau pucuk gunung es. Sementara, problema yang analog dan berada di bawah pucuk gunung itu jumlahnya lebih banyak lagi. Mengepung seluruh kehidupan kita.

Bambang       : Itu dia salah satu inti soalnya. Dari lipstik tadi bisa kita perlebar ke seluruh realitas hidup yang lain. Kita bisa mempertanyakan kembali tingkat kepentingan sejak pakaian, makanan, gaya dan model toilet, kendaraan, dan pendeknya apapun yang ada di sekeliling kehidupan kita. Sepatutnya kita memikirkan mana yang hakiki dan mana sesungguhnya asesoris. Kendaraan, misalnya, kalau hakikinya adalah alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu demi mencapai tempo yang lebih cepat, kita penuhi saja sebatas kebutuhan itu dan manakala orang memilih mobil mewah, maka kemewahan itu tak lain dari asesoris. Jika berlebihan, itulah yang bisa masuk ke tarap kegilaan…

Farid              : Ya, tapi membeli kemewahan itu bukankah merupakan azas hak individu, jika orang itu mampu, mengapa tidak?

Sunjaya         : Memang monggo bae! Tapi jangan lupa yang namanya hak itu berada di antara hak-hak yang lain, ia berada di tengah komitmen sosial. Artinya, ia tidak berupa sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya. Yang namanya hak personal itu sepatutnya menghormati hak-haknya yang lain…

Lina                : (sambil menghampiri dan memukuli seng kembali) Huuhhhh…. Saudara-saudara, huhhhhh… sekarang adalah ceramah tentang hak azasi manusia. HAM saudara-saudara…. (pukulannya semakin menggila dan semakin heboh kemudian memuncak)

 

Blackout

 

Begitu cahaya terang kembali, sutradara, Pemain 1, Lina, Farid, Bambang, Sunjaya, dan awak pentas sudah dalam posisi berjajar. Curtain Call.

 

Selesai.

 2003-2007

 

 

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Godot Telah Datang
(Libretto 3 Babak 12 Adegan)

 

Dramatik Personae:

                                      Godot - asalnya seorang pedagang keliling.
Bedul - teman Godot yang kemudian berbalik merebut kekuasaan Godot dan menyerahkannya kepada Kejat.
Sumuh
- teman Godot yang bimbang dan selalu bertanya-tanya.
Kejat
- yang tidak menjadi orang kebanyakan tapi akhirnya menjadi kebanyakan dan menjadi Godot pula.
Seseorang
- yang terdiri dari beberapa orang, laki-laki dan perempuan.
Yang Sakit
- yang terdiri dari beberapa orang, laki-laki dan perempuan.
Anak Bersenjata
- dua anak laki-laki dan perempuan.
Anak-anak
- beberapa orang laki-laki dan perempuan.
Yang Berkupaluk
- teman-temannya Godot terdiri dari beberapa orang laki-laki dan perempuan.

Kelompok Kejat
- teman-temannya Kejat terdiri dari beberapa orang laki-laki dan perempuan.
Paduan Suara
- yang terdiri dari beberapa orang, laki-laki dan perempuan.

Babak 1

Adegan 1

Hymne “Taklah Genap Jua”

 Pentas lengang. Begitu lampu padam tanda pertunjukan dimulai, jika memungkinkan, di pentas hingga ke auditorium tempat penonton dipenuhi oleh kerlip kunang-kunang. Tak ada suara apapun, senyap, dibiarkan beberapa saat. Pun ketika paduan suara mulai melantunkan nyanyian pembukaannya, lampu tak segera menjadi terang. Beberapa saat hanya terdengar suara nyanyian saja, setelah beberapa saat barulah cahaya sedikit demi sedikit menyinari kelompok paduan suara. Itu pun tak sampai sepenuhnya terang.

 

Paduan Suara 1 : (akapela)

                      Sembilan nyawa hilang

                      Melanjutkan riwayat kesia-siaan

                      Jasad-jasadnya bungkam

                      Memendam ketidakmengertian

                      Jasad-jasadnya bungkam

                      Menelan ketidaktahuan

                      Sembilan nyawa hilang

                      Jadi korban kala siang menjelang

 

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang bapak masih sempat menebar harapan

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang ibu menebar kasih dalam pelukan

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang kakak janji kan berkirim kabar

 

                      Kabar…. O, kabar

                      O, kabar duka yang kemudian tersebar

                      Kabar…. O, kabar

                      O, satu dentuman menggenapkan seribu luka

                      Kabar…. O, kabar

                      Kala siang menjelang,

                      Kemanakah sang bapak membawa harapan

                      Kala siang menjelang,

                      Pelukan ibu menjadi kehangatan terakhir, bu…

                      Kala siang menjelang,

                      Kabar…. O, kabar,

                      Mengapa kabar itu yang kakak pilih

                      Kabar…. O, kabar…. 

 

                      Darah kembali tercecer

                      Kematian dan jerit kesakitan

                      Taklah genap jua

 

Paduan Suara 2 : (akapela)            

                      Sepuluh tak berbilang

                      Susah pangan jadi riwayat di selatan

                      Tanah-tanah retak

                      Panas cuaca tak terperikan

                      Tanah-tanah retak

                      Belalang tak lagi berkawan

                      Sepuluh tak berbilang

                      Derita lapar datang menjelang

 

                      Pagi, kehilangan untai senyum

                      Sang bapak tak bisa lagi menebar harapan

                      Siang, kehilangan untai senyum

                      Sang ibu menekuk lutut dalam pelukan

                      Malam, kehilangan untai senyum

                      Sang kakak pergi tak berkirim kabar

 

                      Kabar…. O, kabar

                      O, kabar duka yang kemudian tersebar

                      Kabar…. O, kabar

                      O, kakak jadi babu di negara orang

                      Kabar…. O, kabar

                      O, kakak yang diperkosa genapkan seribu luka

                      Kabar…. O, kabar

                      Wabah malah yang datang,

                      Penyakit yang entah  terus bertebar

                      Wabah malah yang datang,

                      Manusia, ayam, sapi, kambing, bahkan burung, oh…

                      Kabar…. O, kabar,

                      Wabah malah yang datang,

                      Kabar…. O, kabar,

                      Alam telah murka, murka, o, murka

                      Kabar…. O, kabar…. 

 

                      Dari zaman ke zaman

                      Kematian dan jerit kesakitan

                      Taklah genap jua

 

Paduan Suara 1 & 2: (akapela)      

                      Sembilan nyawa tak menggenapkan yang tiga ratus

                      Tiga ratus tak menggenapkan ratus ke tujuh

                      Ribu bahkan menjadi tak berbilang

                      Juta akhirnya hanya jadi bahan berita

                      Semuanya berpindah jadi angka-angka

                      Bumi pun meradang kesakitan penuh luka

                      Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh…

                      Riwayat pembunuhan menjelma sederet angka

                      O,

                      Lihat pula di sana wabah menyebar

                      Bergeser pandang tampak bah yang amuk

                      Gunung di utara tampak geram

                      Jauh ke timur tanah kerontang

                      Barisan babu kian memanjang di negeri orang

                      Berbaris pula kala pulang dengan luka diperkosa majikan

                      Ada pula yang termangu nanar sinar lampu neon

                                      O,

                      Inilah kala penyairnya tak lagi jadi penunjuk jalan

                      Satu, dua, dan sembilan agamawannya mabuk kekuasaan

                      Ini kala negeri diurus laiknya permainan

                      Rakyatnya hanya dihitung sebagai bilangan

                      Satu, dua, dan sembilan rakyatnya pun kehilangan ingatan.

 

Bait terakhir paduan suara 1 & 2 diulang-ulang sambil mereka fade-out keluar pentas. Pada peralihan adegan ini, Godot, Sumuh, Bedul, dan orang kebanyakan masuk. Godot dibantu Sumuh dan Bedul menata barang dagangannya. Tak lama kemudian di pentas tampak seperti kaki-lima atau situasi pedagang obat jalanan. Sumuh dan Bedul bergabung dengan sejumlah orang-orang yang mengelilingi Godot.

Adegan 2

Sang Pedagang Keliling

Godot :          Wahai dunia,

                      Wahai saudara-saudaraku

                      Unjuk kenal, namaku Godot

                      Godot si tukang keliling

                      Saudara-saudaraku,

                      Kala angin Timur kubersama terbitnya matahari

                      Kala angin Barat ke tempat senjakala pula kumelangkah

                      Ke utara aku berguru ilmu

                      Di selatan kepada leluhur aku belajar

                      Meraih kepandaian adalah jalan hidupku

                      Sesekali suka juga sampaikan ajaran      

 

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya barang yang kubawa

                      Jujur, saudara jujur…    

                      Sejujur-jujurnya adalah barang bermutu tinggi

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya barang yang kubawa

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya harganya amat pasti terjangkau

 

                      Sebagai pembuka kuperkenalkan:

                      Kaos kaki untuk pelindung kaki agar tak lecet

                      Cemerlang warna-warni semuanya

                      Jangan ragu sesuaikan dengan pilihan anda

Seseorang : (diucapkan tapi tetap pada ikatan tempo dan irama musikal, demikian seterusnya) Bolehkah saya sesuaikan dengan warna partai pilihan saya?

Godot :          Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya itu hak anda, yes yes

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya terserah anda memilih warna

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya terserah pula untuk penyesuaiannya

Seseorang :  Kalau saya sih lebih suka warna favorit pacar saya, ada warna pink?

Godot :          Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya warna pink pun ada

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya sayangnya sudah terjual habis

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya warna pink atau hijau sama saja

Kejat :           Ah, abang ini, tentu lain dong! Lain warna lain maknanya, lain warna lain kegunaannya. Lain warna lain pula orangnya. Buktinya yang satu suka kuning dan lainnya bisa lebih suka biru, tapi ada juga yang lebih suka belang-belang.

Godot :          Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya sama toh kaos kaki juga

                      Jujur, saudara jujur…    

                      Sejujur-jujurnya adalah sama pembungkus kaki jua

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya warna apapun juga

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya harganya amat pasti terjangkau

Bedul :          Wah, sungguh anda ini jujur sekali. Belum pernah saya temukan pedagang sejujur ini, menempatkan kedudukan pada fungsi yang sebenarnya. Kaos kaki tetaplah ditempatkan sebagai pembungkus kaki… terpujilah engkau, Bang… siapa tadi? Oh, Bang Godot, ya!

Sumuh :         Makanya jangan suka curiga dulu, inilah kenyataan bahwa tidak semua pedagang itu tidak jujur. Abang ini buktinya… Ia berdagang dan berkata-kata apa adanya…

Seseorang : Kalau begitu soal mutu itu tadi mestinya bener juga, ya? Mestinya Abang ini tidaklah bohong?

Kejat :           Belum tentu, semuanya harus dibuktikan dulu lewat waktu.

Godot :          Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya barang yang kubawa

                      Jujur, saudara jujur…    

                      Sejujur-jujurnya adalah barang bermutu tinggi

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya barang yang kubawa

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya harganya amat pasti terjangkau

(Nyanyian ini terus-menerus diulang-ulang sambil meladeni para

pembeli. Godot tampak sibuk melayani, menerima pembayaran atau

menyerahkan uang kembalian)

Bedul :          (memulai belanja kemudian diikuti yang lainnya. Situasi berikutnya kelihatan sibuk sekali. Dialog-dialognya pun bisa dikembangkan sesuai dengan kesibukan ini) Tuh, betul kan? Kalau begitu aku beli satu, warna hitam saja agar tak cepat kotor. Harganya berapa sepasang, bang?

Godot :          Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya cukup lima ribu saja.

Seseorang : Lima ribu, ya, aku pun satu warna kuning.

Sumuh :         Saya minta yang belang-belang saja, kelihatannya cocok untuk main sepakbola.

Seseorang : Saya satu yang itu, tuuu… yang ituuu… Ini uangnya, bang!

Seseorang : Eh, jangan itu sudah pilihan saya…

Seseorang : Saya dulu bang… saya sudah dari tadi menandai yang warna merah itu…

Seseorang : Nggak bisa, saya sejak abang ini pidato sudah nandai yang itu…

(di tengah kesibukan ini, tampak Kejat ngeloyor pergi dengan pandangan sinis sekaligus prihatin)

Seseorang : Eh, saya di sebelah sini minta warna biru…

Bedul :          Ya, saudara-saudara kelihatannya kita harus sigap… lama baru kita bisa ketemu lagi dengan abang yang jujur ini… Jangan sia-siakan.

Seseorang : Saya sekalian dua pasang saja, anak saya mestinya suka juga…

Sumuh :         Suksesssss… 

Seseorang : Saya satu…

Seseorang : Saya satu…

Seseorang : Saya satu…, dst.

 

Setelah semua terlayani, satu demi satu dari Seseorang keluar pentas sambil mengamat-amati kaos kaki yang dibelinya. Kini tinggal Godot, Sumuh dan Bedul. Mereka membereskan sisa barang dan kemudian bersama-sama ke salah satu pojok. Di pojok itu Godot menghitung-hitung penghasilannya barusan. Mereka terlibat pembicaraan, tampak pula Godot membuka sebuah bungkusan yang berisi bekal makanan mereka. Obrolan terus berlangsung sambil makan dan minum. Saat itu, pentas bermetamorfosa beralih ke gambaran suasana yang aneh, introduksi musik untuk Sosok Hitam sudah terdengar. Muncul Sosok Hitam dengan tampilan kostum dan topeng yang fantastik. Godot, Sumuh dan Bedul masih terus ngobrol sambil makan di bagian pojok pentas.

Adegan 3

Setipis Garis

 Sosok Hitam : Setipis garis

                          Yang mampu kau lihat

                          Itulah batas antara

                          Baik dan buruk

 

                          Maka manusia

                          Bisa terkecoh

                          Silau penglihatannya

                          Buta pandangannya

 

                          Inilah kesempatan

                          Bagi kita untuk menggoda

                          Mengajaknya jadi sekutu

                          Mendiami kegelapan

 

                          Biarlah matanya terpejam

                          O, maka gelaplah

                          Garis pun menghilang

                          Ooo……..

                          Jadilah kau sekutuku

                          Ooo……..

 

(break atau musik improvisasi, rombongan Sosok Hitam dengan kostum dan topeng yang sama masuk membawakan tarian sampai bagian break ini habis mereka keluar lagi tinggal Sosok Hitam yang satu. Berikutnya masuk Sosok putih, juga dengan kostum dan topeng yang fantastik,  Sosok Hitam diam di tempat)

 

Sosok Putih :  Setipis garis

                        Yang mampu kau lihat

                        Itulah batas antara

                        Baik dan buruk

 

                        Maka manusia

                        Bisa terkecoh

                        Silau penglihatannya

                        Buta pandangannya

 

                        Inilah tugasku

                        Agar manusia terjaga

                        Tak juga terjerumus

                        Mendiami kegelapan

 

                        Kujaga matanya terbuka

                        O, awas penglihatannya

                        Garis pun terang

                        Ooo……..

                        Jadilah ia sekutuku

                        Ooo……..

 

Mereka, Sosok Hitam dan Sosok Putih, menghampiri Godot, Sumuh dan Bedul. Tanpa sepengetahuan mereka bertiga, Sosok Hitam dan Sosok Putih berdiri tepat di belakangnya.

 

Godot :          Syukur, saudara syukur…

                      Sesyukur-syukurnya kita masih bisa makan

                      Syukur, saudara syukur…          

                      Sesyukur-syukurnya kita semua bebas dari lapar

                      Syukur, saudara syukur…

                      Sesyukur-syukurnya barang yang kita bawa

                      Syukur, saudara syukur…

                      Sesyukur-syukurnya terjuallah dengan pantas harga

                      ………….

                      Bagaimana kawan-kawan, cukup memuaskan bukan hasil hari ini?

Sumuh :         Ooo, huahem…

                      Aku Sumuh teman dan juga pengikut setia

                      Tentu, abangku tentu…

                      Ke mana pun abang pergi ke sana pula aku serta

                      Ooo, huahem…

                      Aku Sumuh teman dan juga pengikut setia

                      Tentu, abangku tentu…

                      Kalau tak begini entah bagaimana aku hidup

                      Ooo, huahem…

                      Aku Sumuh teman dan juga pengikut setia

Godot :          (tampak memberikan beberapa lembar uang kepada Sumuh. Setelah menerima, Sumuh tampak menghitung-hitungnya dengan gembira)

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya aku senantiasa bertanya-tanya

                      Jujur, saudara jujur…    

                      Sejujur-jujurnya apakah hidup begini selamanya

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya apa yang kita bawa

                      Jujur, saudara jujur…

                      Sejujur-jujurnya semakin terasa bebannya

(tampak memberikan beberapa lembar uang kepada Bedul. Setelah menerima, Bedul tampak menghitung-hitungnya dengan gembira)

Bedul :          Ooo, sahabatku…

                      Aku Bedul yang bersahabat sejak dulu kala

                      Tentu, sahabatku tentu…

                      Sesungguhnyalah semua harus berubah

 

                      Hanya batu yang tak berubah

                      Berabad zaman tetaplah batu

                      Ia dalam diam ia dalam sepi

                      Ia ada tapi tak ada

 

                      Kita ini manusia dan bukan batu

                      Berabad zaman dalam perubahan

                      Ia tak diam ia berkelompok

                      Ia ada dengan pikirannya

 

                      Berfikir dan berfikirlah

                      Fikiran yang mengubah diri kita

                      Berfikir dan berfikirlah

                      Itulah kita manusia

(tiba pada bagian ini tampak Sosok hitam bereaksi bermaksud mempengaruhi, tampak pula Sosok putih berusaha menghalangi)

                      Ooo, sahabatku…

                      Kulihat selingkaran cahaya di kepala

                      Ooo, sahabatku…

                      Kulihat engkau esok akan jadi utama

                      Tentu, sahabatku tentu…

                      Raihlah kesempatan sebelum menghilang

                      Ooo, sahabatku…

                      Aku Bedul pendamping sang pemimpin.

Godot :          Pemimpin?

Bedul :          Betul, kulihat sahabatku ini besok akan jadi pemimpin.

Godot :          Heh, mimpi apa kamu ini. Mana mungkin pedagang keliling jadi pemimpin. Mimpin apa? Kalau mimpin jajaran kaos-kaki yang bergelantungan memang iya karena itulah pekerjaan kita…

Bedul :          (tampak sambil dibisiki oleh Sosok Hitam meski Bedulnya sendiri tak menyadari)

                      Ooo, sahabatku…

                      Sia-sialah bersahabat dengan Bedul

                      Kalau, sahabatku kalau…

                      Bedul tak mampu memoles bakat terpendam

                      Ooo, sahabatku…

                      Aku melihat kesempatan itu dekatlah sangat

                      Tentu, sahabatku tentu…

                      Kala ia datang menghampiri

                      Ooo, sahabatku…

                      Biarlah Bedul mengatur segalanya

Sumuh :         (tampak sambil dibisiki oleh Sosok Putih meski Sumuhnya sendiri tak menyadari) Kau ini sebetulnya menyembunyikan rencana apa? Sudahlah jangan mengharap durian jatuh, jual kaos-kaki pun sudahlah cukup. Mengharap yang jauh malah belum tentu, lagian kalau kita tidak siap malah durian itu bisa menimpa di kepala.

Bedul :          Ooo, sahabatku…

                      Pantaslah kau selalu jalan di tempat

                      Tidak, sahabatku tidak…

                      Hidup ini harus terus dikejar dan ditangkap

                      Ooo, sahabatku…

                      Aku melihat kesempatan itu dekatlah sangat

                      Ya, sahabatku ya…

                      Kala ia datang menghampiri

                      Ooo, sahabatku…

                      Biarlah Bedul mengatur siasat

 

Tiba-tiba salah seorang dari Seseorang tadi tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Terengah-engah ia minta belas kasihan. Pada saat Seseorang ini mulai berkata, tampak Sosok Hitam membisiki Bedul dan Bedul membisiki Godot, sementara Sosok Putih berusaha menarik tubuh Sosok hitam)

 

Seseorang : Bang, maafkan saya, bang… Sungguh tadi itu… di luar perhitungan.

Bedul :          (berbisik kepada Godot) Inilah dia kesempatan itu!

Seseorang : Tadi itu saya betul-betul terpesona oleh abang hingga lupa bahwa anak-istri saya itu semuanya dalam keadaan sakit. Uang sedikit yang dibelikan kaos-kaki itu sesungguhnya untuk membeli sedikit obat…

Bedul :          (berbisik) Itulah yang saya maksud bakat dalam diri sahabatku ini! Dengan kata-katanya bisa membuat orang lain lupa diri.

Seseorang : Oleh karena itu, maaf, sekali lagi maaf, Bang… saya bermaksud mengembalikan dua pasang kaos-kaki ini… Bisa kan bang?

Godot :          (setelah sebelumnya dibisiki Bedul, menjawab dengan memperlihatkan perilaku penuh belas-kasih)

                      O, saudara oh…

                      Sebesar-besarnya kasih deritamu deritaku jua

                      O, saudara oh…

                      Sebesar-besarnya kasih tak ada kebimbangan

                      O, saudara oh…

                      Sebesar-besarnya kasih bawa sini itu kaos-kaki

                      O, saudara oh…

                      Sebesar-besarnya kasih kukembalikan uang ini

Seseorang : O, abangku…

Godot : Godot!

Seseorang : O, abangku Godot… senyata-nyata abang ini orang yang penuh belas kasih… terimakasih Bang Godot…

Bedul :          Tidak itu saja, abang kita ini bahkan bisa menolong orang… Doa-doanya sungguh sejuk dan mujarab. Tadi saya dengar saudara ini sedang dirundung malang, anak-istri saudara dalam keadaan sakit? Percayakanlah itu kepada Bang Godot.

Seseorang : Sudah kuduga… sejak pertama berjumpa pun terasa Bang Godot ini mestinya bukanlah orang biasa… Abang kiranya dikirim dari langit untuk tiba di kampung ini.

Bedul :          Setipis garis

                      Yang tak kau lihat

                      Inilah orang sempurna

                      Baik dan bijak

 

                      Maka manusia

                      Kini ketahuilah

                      Telah datang menghampirimu

                      Orang berpandangan luas

 

                      Inilah kesempatan

                      Bagi kita untuk menyambut

                      Datangnya cahaya

                      Menyingkap kegelapan

 

                      Mata kita melihat

                      O, cerah cahayanya

                      Membangkitkan harap

                      Ooo……..

                      Jadilah kau sekutunya

                      Ooo……..

Sumuh :         (berbisik kepada Bedul) Heh, kamu ini apa maksudnya? Apa itu tidak berlebihan?

Bedul :          (juga berbisik) Ah, kamu diam saja… Permainan sedang kita mulai, kapan lagi kita mengubah nasib… Inilah saat yang kita nanti-nantikan itu.

Sumuh :         Tapi…

Bedul :          Tidak ada tapi-tapian… aku yakin pada kemampuan Bang Godot… kita lihat saja… Dan akulah yang akan mendampinginya selalu.

Sumuh :         Tapi…

Bedul :          Sudah aku bilang tidak ada tapi-tapian… kamu ikuti saja. (Berbisik kepada Godot)

Godot :          Sesungguhnya apa yang terjadi di kampung ini?

Seseorang : O, abang, Bang Godot… senyata-nyatanya derita sedang melanda kami. Wabah penyakit merajalela, sementara tanah kami pun mengalami kekeringan. Berkeliling ke mana-mana kami sudah, tapi tak juga diketahui penyakit apa sebenarnya yang menimpa. Kemiskinan meraja-lela di mana-mana karena bertani atau mencari nafkah tak mungkin lagi. Kami gelisah sekaligus putus asa…

Godot :          O, sabarlah, sabar…

                      Sebesar-besarnya sabarlah yang berharga

                      O, sabarlah, sabar…

                      Derita dan kegembiraaan sesungguhnya bukan milik kita

                      O, sabarlah, sabar…

                      Berserah dirilah senantiasa

                      O, sabarlah, sabar…

                      Semua yang terjadi semata-mata cobaan

Bedul :          O, betapa menyejukan… (berbisik kepada Sumuh) Tuh, dengar! Bukankah begitu hebat kata-katanya… (kini kepada Seseorang) Kalimat ajaib yang bisa mengubah nasib kalian semua. Nyanyikanlah kalimat penyejuk itu…

Seseorang :  O, sabarlah, sabar…

                      Sebesar-besarnya sabarlah yang berharga

                      O, sabarlah, sabar…

                      Derita dan kegembiraaan sesungguhnya bukan milik kita

                      O, sabarlah, sabar…

                      Berserah dirilah senantiasa

                      O, sabarlah, sabar…

                      Semua yang terjadi semata-mata cobaan

Godot :          Bagus. Nah, sekarang silakan bapak kembali kepada keluarga. Jangan lupa nyanyikan lagu itu, baik dalam hati untuk diri sendiri atau pun dinyanyikan dengan suara keras untuk orang lain… (merogoh sebuah botol kecil dari buntalan barang-barangnya kemudian mengisinya dengan air dari wadah air tempat mereka tadi minum bertiga, kemudian memberikan botol kecil yang telah berisi air itu) Bawalah ini, katakan dari Ki Bagus Godot, bagikan kepada seluruh keluarga bapak yang sakit…

Godot :          Eh, itu bukan…  (Bedul menghalangi sambil menyilangkan telunjuk di bibirnya).

Seseorang : (dengan sangat gembira segera berlalu) Terimakasih Ki Bagus… terimakasih… mulialah Ki Bagus Godot…

Sumuh :         (setelah Seseorang berlalu, berbisik) Kamu ini kelewatan…

Godot :          Dan lagi… Ki Bagus…? Bagaimana bisa menjadi Ki Bagus?

Bedul :          Ah, sudahlah… dengan tambahan itu maka namamu menjadi lebih berwibawa, bukan?

Godot :          Itu berlebihan… dan air itu… ah, kamu ini bagaimana…

Sumuh :         Iya, kamu ini bagaimana?

Bedul :          Mereka itu sedang susah, memerlukan sesuatu, memerlukan harapan, sekecil apapun kemungkinan harapan itu. Air itu tak ada artinya apa-apa… Kita pun tahu, air itu sama dengan air yang kita minum, air yang kita minta dari warung sebelum tiba di kampung ini. Tapi dengan itu kita sudah memberikan harapan… Jangan lupa, kita telah memberikan harapan. Betapa berartinya arti harapan bagi orang yang sudah begitu putus asa. Bukankah itu pun kebaikan?

Godot :          Ya, tapi mereka jadi beranggapan lain terhadap air itu!

Bedul :          Sekali lagi, air itu tak punya arti apa-apa selain air belaka… yang penting yang kita berikan itu bukan airnya, tapi setitik harapan… apa salahnya jika orang kemudian menjadi punya harapan… bukankah kita semua tadi melihat wajahnya yang sangat putus asa itu… dan kita pun kemudian melihat perubahannya setelah ia menerima air… Ayo!

 

Mereka membereskan barang-barangnya yang tadi agak berserak untuk kemudian berlalu keluar pentas.

 

Paduan Suara :     Setipis garis

                              Yang mampu kau lihat

                              Itulah batas antara

                              Baik dan buruk

 

                              Kini manusia

                              Telah terkecoh

                              Silau penglihatannya

                              Buta pandangannya

 

                              Sekalinya melangkah

                              Sulit baginya untuk kembali

                              Diserahkanyalah kehidupan

                              Kepada kegelapan

 

                              Kini matanya terpejam

                              O, maka gelaplah

                              Garis pun menghilang

                              Ooo……..

                              Garis pun menghilang

                              Ooo……..

Babak 2

Adegan 4

Barak Orang-orang Sakit

 

Bahkan ketika cahaya belum lagi menyala, terdengar suara penyiar radio atau pun televisi menyampaikan berita tentang bom Bali atau bom Kuningan atau peristiwa Sampit atau peristiwa Ambon atau peristiwa di Aceh atau apapun yang menyangkut peristiwa pembunuhan dengan jumlah korban yang banyak. Berikut atau di bawah ini sekadar contoh saja, penggarap bisa saja menggantinya (dengan yang lebih aktual, misalnya). Setelah potongan berita berlangsung beberapa saat dalam keadaan gelap, cahaya sedikit demi sedikit menjadi terang. Tampak di pentas berjajar sejumlah tempat tidur sederhana, tata pentas hendaknya memperlihatkan jajaran tempat tidur ini penuh sampai ke batas cakrawala. Sejumlah orang sakit berbaring di atasnya.

 

Penyiar :       (Suara saja. Pada contoh ini, berita diambil dari Harian Kompas, 12 September 2004) Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Sabtu (11/9) malam, memeriksa ES, salah seorang yang pernah memiliki mobil boks Daihatsu Zebra, yang diduga kuat digunakan untuk mengangkut bom ke Kedutaan Besar Australia. Namun, sumber itu menyatakan bahwa mobil itu telah dijualnya sejak Maret 2004. Ia juga tidak ingat kepada siapa mobil itu dijual karena saat itu banyak calo yang berminat.

                      “Saya mau dimintai keterangan polisi karena saya ingin membantu polisi supaya bisa cepat menangkap pelaku peledakan bom. Tidak banyak pertanyaan yang diajukan dan saya menjawab secukupnya,” kata ES seusai pemeriksaan.

                      Menurut dia, mobil tersebut dibeli dari seseorang yang berinisial J yang tinggal di Jembatan Besi, Jakarta Barat, dengan harga Rp. 7 juta. Oleh ES yang saat ini tinggal di Tambora, Jakarta Barat, mobil itu dijual kembali seharga Rp. 10 juta setelah diperbaiki.

                      “Mobil itu kondisinya sudah rusak. Bunyi mesinnya juga sudah tidak halus lagi. Karena itu, saya jual setelah saya perbaiki,” kata ES yang sehari-hari berusaha di bidang konfeksi.

                      Sementara itu dalam konferensi pers di Media Centre Kasus Bom Kedutaan Besar (Kedubes) Australia, Kepala Kepolisian Negara RI (Polri) Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar menyatakan, polisi masih menganalisis pecahan-pecahan dari bagian mobil Daihatsu Zebra.

                      Menanggapi pertanyaan apakah pelaku peledakan yang berada dalam mobil sudah diketahui, Kepala Polri menyatakan, kalau informasi yang dikantongi sudah pasti, pelaku lainnya akan segera ditangkap.

                      Dalam peristiwa ledakan bom tersebut, polisi mengamankan dua jenazah dari lokasi kejadian. Kedua jenazah yang sampai saat ini belum dikenali itu diduga kuat sebagai pelaku.

                      Keduanya diduga kuat direkrut Dr. Azahari dan Noordin M Top. Kedua warga negara Malaysia itu adalah buron yang diduga kuat sebagai otak peledakan bom di sejumlah wilayah Indonesia.

                      Dihubungi terpisah, Kepala badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Suyitno Landung menyatakan, polisi telah memperoleh kemajuan berarti……. (suara mulai tumpang tindih dengan ucapan, teriakan, atau protes dari yang sakit)

Yang Sakit :  Walah… apa tidak ada berita lain?

Penyiar :       Namun, ia tidak bersedia menjelaskan apa yang dimaksud, termasuk apakah benar bahwa identitas mobil boks….

Yang Sakit : Oy… gantiiii… dalam keadaan begini malah disuguhi berita begituan… berat dan jadi sulit bernafas kita ini.

Penyiar :       Daihatsu Zebra itu sudah dikenali. Alasannya, demi kepentingan penyidikan.

Yang Sakit : Yang menghibur, yang bisa membuat kita lega gitu… kok berita bom!

Penyiar :       Da’i menyampaikan belum dapat memastikan siapa anak buahnya, yang disinyalir Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer, telah memperoleh peringatan dini akan adanya serangan…

Yang Sakit :  Huuhhhh… adakah orang di sana tolong, dong. Ganti itu beritanya.

Yang Sakit : Ya, betul, ganti lagu gitu…

Yang Sakit : Atau wayang golek saja…

Penyiar :       Peringatan dini itu disampaikan melalui layanan pesan singkat (SMS) saluran telepon genggam, terkait dengan permintaan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dari penahanan polisi, 45 menit sebelum ledakan.

Yang Sakit :  Kacau… kacau… bom terusss…

Yang Sakit : Tapi rasanya itu perlu juga… informasi bagi kita agar tahu…

Yang Sakit : Apa perlunya, kita sendiri sedang sekarat… biar ketemu di aherat saja sama yang ngebomnya…

Yang Sakit : Banyak juga, ya, korbannya?

Yang Sakit : Kita juga korban, tahu? Korban wabah… Kita semua terancam…

Penyiar :       Bunyi ancamannya, “Jika Ba’asyir tidak dibebaskan , maka kantor kedubes negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, akan diledakan.”

Yang Sakit : Perutku yang meledak! Puanasss…. Ini panas sekali… duhhhh!

Penyiar :       Downer mengungkapkan itu Jumat (10/9).

Yang Sakit : Ya… ya… sudah! Ganti berita lain…

Penyiar :       Sebelum memberikan keterangan pers, Da’i menayangkan rekaman video dari Plaza 89 yang berada di seberang Kedubes Australia…

Yang Sakit : Bagus… video… video… yang asyik, OK?

Penyiar :       Dan rekaman video Plaza Kuningan yang terletak sederet di samping kanan Kedubes Australia. Dari rekaman video Plaza 89 dapat dilihat sebuah mobil boks Daihatsu Zebra melintasi truk polisi di dekat pintu gerbang Kedubes Australia. Sekejap kemudian terlihat ledakan dan bola api dari arah mobil tersebut. Asap putih kemudian menyelimuti pandangan sesaat. Terlihat kemudian reruntuhan kaca dari bangunan…

Yang Sakit : Ini sih benar-benar penyiksaan… Hoiii… pada ke mana sih orang-orang… pindah tuh gelombang radionya… kami minta berita lain… OK, kami tahu pemboman itu keji… tapi keji juga kalau kami yang sakit ini dibom oleh berita-berita itu… Tolong, please, ganti dengan berita lain…

Seseorang :  (masuk dengan tiba-tiba, dan dengan tiba-tiba pula suara penyiar hilang)

                        Ada berita

                      Berita bagus

                      Ada berita

                      Berita baik

                      Ada berita yang menghembuskan harapan

                      Telah datang seorang penyelamat

                      Penyelamat, penyelamat, penyelamat,

 

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

                       

                      Dia yang selalu keliling berdagang

                      Tapi ternyata menyamar…

                      Ia simpan rahasia dengan rendah hati

                      Ia simpan kepandaian tanpa terlihat

                      Tapi dialah sebaik-baiknya orang

                      Yang akan selamatkan kita

                     

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

 

                      Dia yang selalu keliling berdagang

                      Tapi ternyata menyamar…

                      Ia simpan rahasia dengan rendah hati

                      Ia simpan kepandaian tanpa terlihat

                      Tapi dialah sebaik-baiknya orang

                      Yang akan selamatkan kita

 

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

 

Yang Sakit :  Siapakah gerangan orang itu?

Seseorang :  Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

                      ……………

                      Keluargaku semua sembuh hanya karena air yang diberikannya.

Yang Sakit : Siapakah orang itu?

Seseorang : Ia begitu baik hati dan sungguh rendah hati… menyamar jadi pedagang keliling.

                      ……………….

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

Yang Sakit : (tak sabar) Iya, siapakah dia itu?

Seseorang : Aku yang menemukannya, tidak sengaja, tapi, eh, aku memang sudah menduga sebelumnya bahwa ia itu bukan orang sembarangan.

                      ……………….

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

Yang Sakit : Iya, cepat katakan, siapa?

Seseorang :  Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

                      ……………..

                      Namanya Ki Bagus Godot!

Yang Sakit : Siapakah itu?

Seseorang : Sudah kubilang, ia menyamar sebagai pedagang keliling, tapi ternyata ia keliling kampung-kampung sesungguhnya untuk menolong orang yang kesusahan…

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

Yang Sakit : Di manakah ia sekarang?

Seseorang :  Ia ada di sini, di kampung kita, bagaimana kalau saya jemput agar ia mau datang ke sini…

Yang Sakit : Atau sebaiknya kita saja yang datang ke sana?

Yang Sakit : Gimana? Kita ini sakit, apa sanggup pergi ke sana…

Yang sakit : Jauhkah?

Seseorang : Saya bilang, ia ada di sini, di kampung kita… tapi biarlah saya yang minta agar ia berkenan datang ke sini.

Yang Sakit : Mau?

Seseorang : Melihat kebaikan hatinya, saya yakin mau…

Yang Sakit : (beberapa orang hampir serempak) Setujuuuu…. Cepat undang beliau ke sini!

Yang Sakit :  Betul, sebaiknya kamu saja dan mudah-mudahan berhasil…. Dan mudah-mudahan pula benar yang kamu ceritakan itu… Air, ya? Hanya dengan air ia bisa menyembuhkan?

Seseorang :  Baiklah saudara-saudara… doakan saya… Ki Bagus Godot akan saya jemput!

                        ……………

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

                      (ia pergi keluar).

Yang Sakit : Ya, selamat bertugas… jangan sampai gagal…

Adegan 5

Nikmatnya Harapan

 

Yang Sakit : (seorang saja untuk kemudian diikuti lainnya, bernyanyi sambil tetap semuanya berbaring di tempat tidur)

                      Betapa nikmatnya…

                      Memiliki harapan

                      Meski belumlah jelas

                      Hidup bersinar kembali

                     

                      Dan kini ada kabar

                      Kabar bercercah harapan

                      Ada seorang bijak

                      Bisa mengubah hidup kita

 

(Nyanyi bersama, bangkit tapi tak keluar dari tempat tidur, kemudian seperti melakukan gerakan-gerakan tari dengan melambaikan dedaunan dan bunga)     

                      Dan si orang baik itu

                      Tak jauh, tak jauh dari sini

                      Dan si orang baik itu

                      Di sini, di sini adanya

 

                      Dan manakala ia tiba

                      Kan kusambut ia dengan cinta

                      Kembang tujuh warna

                      Kan kutaburkan di sana

 

                      Hendaknya tangisan

                      Tak lagi, tak lagi terdengar

                      Dan segala kesulitan hidup

                      Berubahlah jadi keriangan

 

                      Bumi pun berubah

                      Kembali, kembali, kembali jadi ramah

                      Memberikan lagi kasihnya

                      Bagi kehidupan kita

 

                      (mengulang bagian di  bawah ini berulang-ulang)

 

                      Hendaknya tangisan

                      Tak lagi, tak lagi terdengar

                      Dan segala kesulitan hidup

                      Berubahlah jadi keriangan

 

                      Bumi pun berubah

                      Kembali, kembali, kembali jadi ramah

                      Memberikan lagi kasihnya

                      Bagi kehidupan kita

 

(kala nyanyian fade-out, Seseorang kembali masuk dengan ceria)

Adegan 6

Godot Telah Datang

 

Seseorang : Saudara-saudara, ia akan datang… ia akan datang ke sini… mari kita sambut… kita muliakan orang baik hati ini…

                        ………….

                      Ada berita

                      Berita bagus

                      Ada berita

                      Berita baik

                      Ada berita yang menghembuskan harapan

                      Telah datang seorang penyelamat

                      Penyelamat, penyelamat, penyelamat,

 

                      (bersama)

 

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

                       

                      (sendiri)

 

                      Dia yang selalu keliling berdagang

                      Tapi ternyata menyamar…

                      Ia simpan rahasia dengan rendah hati

                      Ia simpan kepandaian tanpa terlihat

                      Tapi dialah sebaik-baiknya orang

                      Yang akan selamatkan kita

 

                      (bersama)

 

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

 

                      Dia yang selalu keliling berdagang

                      Tapi ternyata menyamar…

                      Ia simpan rahasia dengan rendah hati

                      Ia simpan kepandaian tanpa terlihat

                      Tapi dialah sebaik-baiknya orang

                      Yang akan selamatkan kita

 

(Godot tampak masuk diiring oleh Bedul dan Sumuh. Mereka kini tampak beda, baik kostum atau pun  sikap dan gerak-geriknya.)

 

                      Telah datang

                      Seorang suci

                      Telah datang

                      Orang budiman

                      Telah datang bagi kita semua

                      Seorang yang akan selamatkan kita

                      Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan kita

Yang Sakit :  (seperti dikomando oleh salah satu yang kemudian diikuti yang lainnya berbarengan) Ki Bagus… Ki Bagus Godot… Mulialah Ki Bagus… Mulialah engkau wahai orang suci… Mulialah sang penyelamat… Kami muliakan Ki Bagus Godot yang berkenan datang… Semulia-mulianya Ki Bagus jika berkenan mengobati kami yang mengalami musibah…

Godot :          Saudara-saudaraku…

                      Jangan sekali-kali panggil aku Ki Bagus

                      Camkanlah, wahai saudara-saudaraku

                      Tak perlu engkau panggil aku Ki Bagus

                      Melainkan cukup panggil saja namaku

                      Godot yang sebenar-benarnya namaku

Yang Sakit : Menurut kawanku… yang mulia lengkapnya bernama Ki Bagus Godot?

Seseorang :  Memang bukan begitukah menurut para sahabat yang mulia?

Godot :          Jangan, saudara-saudaraku, jangan

                      Cukup panggil saya Godot saja

                      Dan mulai sekarang saudara-saudaraku

                      Jangan panggil lagi saya dengan sebutan itu

                      Itu cukup dan sebaik-baiknya nama

                      Nama yang diberikan kedua orangtuaku

Seseorang :  Tapi yang mulia, kami atau setidak-tidaknya saya memang ikhlas memanggil yang mulia dengan sebutan Ki Bagus Godot…

Yang Sakit :  (bersahutan) Betul yang mulia…. Betul Ki Bagus… Sebaiknya memang Ki Bagus Godot… Sesuai dengan bagus dan eloknya hati yang mulia…

Godot :          Terimakasih, saudara-saudaraku

                      Tapi tidak, saudaraku tidaklah

                      Dan jangan pula panggil saya

                      Dengan sebutan tambahan yang mulia

                      Sungguh, saudara-saudaraku sungguh

                      Cukup panggil saya… ya, cukup panggil saya

                      Cukup panggil Godot saja….

Seseorang :  Tapi kami jadi kehilangan cara untuk menghormat…

Yang Sakit :  Bila begitu saja jadinya kami merasa kurang ajar…

Bedul :          Apalah artinya sebuah nama… Bunga mawar tetaplah harum jika diganti dengan nama apapun… Bukankah begitu menurut Shakespeare. Jangan ada rasa bersalah saudara-saudaraku… memang demikianlah kerendahhatian saudaraku Godot ini… (kemudian berbisik kepada Godot, sementara Yang Sakit dan Seseorang ber”ruburber” saling berbisik antar-mereka) Kamu ini bagaimana… kok, tiba-tiba menolak lagi sebutan itu… Mereka ini sudah mau begitu… Itu satu langkah lagi untuk maju lebih cepat ke depan… Kok, ditolak?

Godot :          Aahhh, sudahlahhhh… Menghadapi kenyataan banyak yang sakit ini saja sudah berat, jangan lagi tambah bebanku dengan nama yang begitu berat…

Bedul :          Ini soal imej… soal merk… soal brand image… Ini penting demi langkah kita ke depan… Dengan itu memudahkan kita menguasai mereka… Tetaplah tersenyum dan pakailah citra yang mereka berikan itu. Tokh mereka sudah mau…

Godot :          Urusannya bukan karena mereka mau… tapi bagaimana menyembuhkan mereka sementara harapan mereka sudah menggelembung begitu besar…

Bedul :          Air… air… Tenang, banyak air di kampung ini… Air yang sesungguhnya milik mereka sendiri… Itu urusanku, tinggal ambil saja di sembarang sumur…

Godot :          Airmu sontoloyo… sekarang urusannya bukan lagi hanya air…

Bedul :          Tetap saja sama… seperti saya bilang, minimalnya dengan air itu kita memberikan harapan…

Godot :          Itulah yang sontoloyo…

Bedul :          (menghindar dari Godot, kembali ke Yang Sakit. Godot pada akhirnya menghampiri Sumuh, mereka terlibat pembicaraan dengan berbisik-bisik) Nah, saudara-saudaraku… kebenaran yang sebenar-benarnya itu memang tak pernah merasa perlu sanjungan, tak merasa perlu diimbuhi sebutan-sebutan besar… ia lebih suka bersuara lirih tapi jernih, sejernih air yang paling awal keluar dari mata air…

Yang Sakit & Seseorang :     Dan kami pun kian yakin

                                                            Beliau ini dikirim dari langit, dari langit

                                                            Ya, kami semakin yakin

                                                            Begitulah sifat orang mulia

                                                            Tak pernah merasa perlu

                                                            Dengan sanjungan-sanjungan

Bedul :          Syukurlah jika kalian menyadari, memang begitulah sahabatku ini… Ia sejernih air yang paling awal keluar dari mata air… Bersih hatinya… sungguh menyejukan kata-katanya… ke mana-mana tak pernah kehilangan senyum… membawa kedamaian bagi kita semua. Jadi kita terima saja kerendah hatiannya, tak usah pakai embel-embel, cukup sebut Godot saja katanya.

Yang Sakit & Seseorang :    

                      Jangan anggap kami tak hormat

                        Jika itu… jika itu…

                      jika itu memang kehendak yang mulia….

                        Jangan anggap kami tak hormat

                      Jika kami menyebut hanya Godot saja

                      Biarlah hanya dalam hati

                      Kusebutkan selalu Ki Bagus Godot yang mulia…

                      Yang mulia… oh, yang mulia, mulia…

Godot :          (seperti hanya pada dirinya sendiri)

                      Tak kuduga begini jadinya

                      Sejuta harapan tertumpu di pundak

                      Tak kuduga begini jadinya

                      Bagaimanakah,

                      bagaimanakah kusembuhkan mereka

                      Adakah ini hanya kehendak cerita

                      Kehendak cerita yang harus kujalani

                      Kujalani… kujalani begitu saja

                      Ooo… kujalani?

Sumuh :         Sahabatku…

                      Janganlah tanyakan itu…

                      Jangan tanyakan itu padaku

                      Sahabatku…

                      Dalam diam sering kutanyakan

                      Kutanyakan segala hal hidup ini

                      Yang kembali selalu pertanyaan

                      Wahai, sahabatku…

                      Tak sekali kuberkeinginan

                      Wahai, sahabatku…

                      Tapi yang datang sama sekali lain

                      Awalnya kusepelekan saja

                      Tapi kemudian ternyata…

                      Ternyata itu diperlukan juga

                     

                      Adakah artinya kita ini sesungguhnya tak pernah tahu

                      batas antara keinginan dan apa yang kita perlukan

 

                      Ooo… aaaa… oooo

 

                      Wahai, sahabatku…

                      Maka kubaca kehendak angin

                      Wahai, sahabatku…

                      Kuikuti selalu ke mana ia bawa tubuhku

                      Andaikan sampai ke bibir tebing pun

                      Aku tak bisa menolaknya lagi

                      Hei, sahabatku…

                      Kita ini tak memiliki hak tolak

                      Heiiii….. ahhhhhh

                      Hei, sahabatku…

                      Andai bisa kutolak maka kutolak kelahiranku

                      Dan akhirnya beginilah kisah hidupku

                      Dalam ketakberdayaan

                      Dalam ketakberdayaan terus melangkah

                      Hei, sahabatku…

                      Kitaaaaa tak pernah tahu awal

                      Heiiii….. ahhhhhh

                      Wahai, sahabatku…

                      Maka tak tahu pula bagaimana cerita akan berakhir

                      Yang kutahu hanya arah angin

                      Itu pun…

                      Itu pun kerap tak terduga

Godot :          (begitu terdengar suaranya, ruburber atau bisik-bisik Yang Sakit, Seseorang, dan Bedul tiba-tiba terhenti. Semua terdiam menyimak. Selintas tampak Kejat di antara orang-orang, tapi setelah itu menghilang kembali)

                      Singkapkanlah tirai

                      Masa datang tampaklah sudah

                      Berlalu meninggalkan kepedihan

                      Tanda perubahan telah datang

                                                Gantilah seluruh tangisan

                                                Tak ada lagi keluh semesta

                                                Semua melangkah ke depan

                                                Perubahan sedang kita buat

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

(nyanyian ini kemudian diikuti oleh semua, berulang-ulang sesuai kebutuhan tempo. Yang Sakit pun bangkit atau ada pula yang menyanyi sambil berdiri di tempat tidur. Tampak Bedul membagi-bagikan air, Sumuh ikut sibuk membantu. Fade Out)

Babak 3

Adegan 7

Orang-orang Bawah Tanah

 

Tempat tidur yang berjajar tadi, kini tertutup kain hitam hingga menyerupai gundukan-gundukan. Awalnya, Kejat hanya terdengar suaranya saja, belakangan ia muncul dari salah satu gundukan itu. Ia menyanyi bagus sekali dengan nada perih tapi tanpa kata-kata kecuali membunyikan suara “aaa” atau “uuu.” Dengan nyanyian yang sama, sesekali perilakunya seperti orang sedang berpidato, sesekali merunduk seperti tafakur atau menangis, sesekali tampak pula ia begitu geram. Saat itu semua berlangsung, tampak Bedul memperhatikan dengan mengendap-endap. Di penghujung nyanyian baru ia muncul menghampiri Kejat. Ketika muncul Bedul mengenakan kostum (penutup kepala seperti helm berbentuk aneh, mereka menyebutnya “kupaluk”); sekilas mirip “kacamata kuda” yang menutup kuping dan membatasi pandangan hanya semata-mata ke depan, sedikit di atas bagian kening terdapat sebentuk jam, di bagian mulutnya terdapat cerobong pengeras suara kecil berbentuk “horn.” Pada awal pertemuan, Kejat seperti menghindar bahkan ada kesan agak takut.

Bedul :          (membuka kupaluknya, itu pun setelah melihat-lihat ke berbagai arah. Ia takut oleh sesamanya karena terlarang membuka kupaluk bukan pada saatnya) Baik, kawan… jika kupaluk ini yang menjadi masalah… baik, demi kamu saya buka. Bagaimana? Dengan begini kamu jadi ingat saya bukan? Masihkah kamu akan menjauh dari saya? (yang disapa hanya berdiri tak beranjak) Itulah persoalannya, selama ini kamu selalu menjauh dan tak lagi berkata-kata. Sejak Godot datang dan kemudian diangkat menjadi pemuka rakyat, kamu jadi menyendiri, tak lagi bersatu dengan orang kebanyakan. Tak bisa, kawan… tak bisa terus menerus begitu. Mari kita pecahkan bersama. Jangan dikira diam itu tak mengganggu… Banyak orang mulai gelisah oleh kebisuan kamu… beberapa bahkan sudah mulai terbuka menyampaikan seruan yang mengancam keselamatan kamu. Ayo, bicara dong… (Kejat tetap diam) Ah, mungkin kamu tidak setuju dengan Godot yang kini menjadi pemuka massa-rakyat… Bukankah kamu sendiri tahu, itu bukan kehendaknya… rakyat sendiri yang mengangkatnya ke tempat tinggi itu. Selama ini rupanya terdapat kekosongan sosok yang bisa dijadikan panutan… Boleh jadi serba kebetulan, sahabatku yang pedagang keliling itu rupanya hadir pada waktu dan tempat yang tepat… jadilah ia pemimpin! Kenapa harus cemburu? (Kejat tampak bereaksi, khususnya terhadap kata “cemburu”) Yang penting, justru setelah Godot mengatur kebijakan maka wabah penyakit hilang, situasi jadi stabil, perekonomian sudah jauh lebih baik, berita-berita kekerasan semakin jauh berkurang, orang-orang jadi tak bingung lagi karena kini hanya ada satu-satunya kebenaran yaitu kebijakan dari Godot (Kejat bereaksi lagi, khususnya terhadap kata “satu-satunya kebenaran.” Tapi masih tetap tak meladeni Bedul). Nah, saya mencari-cari dan menemui kamu untuk menyatakan itu semua. Agar kamu tahu dan segera bergabung… agar semua betul-betul bersatu dalam satu kesatuan, dengan satu-satunya kebenaran, setara dan sepenanggungan. Selama kamu tidak bersatu, seperti saya bilang, banyak orang jadi merasa terganggu… Kamu perhatikan kupaluk ini… sungguh bukan benda sekadar hiasan. Ini pusaka, keajaiban yang diciptakan sendiri oleh Godot. (Sambil memeragakan kupaluk yang dipegangnya) Kamu perhatikan dua sisi ini, dibuat untuk menutupi kedua kuping agar tidak mendengar yang tak perlu kecuali hanya mendengarkan dawuh Godot. Bagian ini pun memanjang membatasi pandangan mata agar tidak lagi larak-lirik kiri-kanan, melainkan lurus ke depan dengan bimbingan Godot. Kamu lihat pula pengatur waktu di bagian atas ini… Sebelumnya, kita tahu negeri ini berantakan karena tak ada keteraturan dalam berbagai hal, dengan kupaluk yang sakti dan pengatur waktu ini maka semuanya bisa diatur kembali dan menjadi teratur kembali. Ini adalah alat bicara, posisinya menutup mulut agar kita tak sembarangan ngomong, sehingga yang keluar dari mulut betul-betul hanya kata-kata yang terpilih, kata-kata yang bersumberkan pada kebenaran yang satu, kebenaran yang datangnya dari Godot semata. Kata-kata itulah yang kemudian diperbesar suaranya dan diperdengarkan kepada khalayak… (berusaha mengamati reaksi Kejat) Kamu faham, kan? Ayolah, mari bergabung… lelah dan sepi hidup menyendiri itu…

(samar-samar terdengar serombongan orang-orang yang semuanya berkupaluk masuk pentas. Bedul, dengan terburu-buru, mengenakan kembali kupaluknya lantas bersikap siaga. Kejat kembali menghilang di gundukan-gundukan).

Rombongan :  (lewat di pentas serta sebagian berupa silhouette di latar belakang pentas)

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

                      (berulang-ulang sesuai kebutuhan tempo permainan)

Bedul :          (setelah rombongan berlalu dan masih berkupaluk, mencari-cari Kejat) Kawan, heh ke mana kamu…. Mereka sudah lewat, mari kita lanjutkan pembicaraan tadi. Itulah seperti saya katakan, kalau sudah bergabung tak ada lagi ketakutan seperti ini… kawan… (terdengar nyanyian “aaa” atau “uuu” tapi dengan suara orang banyak. Bedul keheranan tapi kemudian meneruskan mencari.) Ayolah kawan… Lihatlah tadi itu, mereka hanya sebagian kecil saja. Kini tidak hanya masyarakat kampung ini saja, dengan kesadaran sendiri kampung-kampung lain pun sudah bergabung. (berbisik ke penonton) Kalau bisa merekrut yang satu ini, hadiahnya agak lain… lebih besar he he he… (kembali ke Kejat) Akhiri saja hidup menyendiri itu, apa enaknya sih hidup sendirian… (dari gundukan-gundukan itu muncul orang-orang serupa Kejat sambil terus melanjutkan nyanyian “aaa” atau “uuu.” Bedul terperangah dan agak ketakutan. Mereka menyanyi sampai habis, setelah itu diam dengan mata tajam menatap ke manapun Bedul beranjak. Bedul jadi kebingungan sendiri) Wah, banyak, ya… ternyata banyak… temannya apa bukan… sorry itu tadi… saya kira tak sebanyak ini. Wah, masih juga bertambah yang muncul… Duh, sorry, deh… Itu terserah anda, kawan… saya tak mau maksa… (membuka kupaluknya) Baik… saya ingin bicara dengan kawan yang memimpin kelompok ini tadi… (mencari-cari Kejat, ia bingung karena semua orang berpenampilan sama) Mana, ya? Oh, ini… bukan, ya? Mungkin yang ini? Duh, mana sih, kok sama semua? Apa itu yang di belakang? (ke belakang dan mengamati) Bukan, ya? Ngomong dong… jangan biarkan saya kebingungan… ayo ngomong dong? (balik lagi ke tengah pentas sambil tetap mencari) Anda barangkali? Bukan juga… jadi yang mana dong? Mari kita bicara baik-baik… (Kejat maju selangkah, Bedul langsung menghampiri) Ah, anda, ya? (mengamati dengan teliti) Ah, betul… saya ingat… Betul ini dia kawan saya… Baik kawan, begini… (Kejat seperti semula tak bereaksi kecuali diam) maksud saya begini, ah, bagaimana ya? Begini… baik tentang anda dan kawan-kawan tidak akan saya beritakan… kita urus persoalan ini dengan persahabatan… mau anda apa sih sebenarnya… katakan dong… Dengan diam tentu saya jadi tak mengerti… Tapi baiklah… tentang Godot, kebijakan, aturan, dan kekuasaannya itu… (tiba-tiba terdengar suara Sumuh yang mencari-cari. Bedul cepat-cepat mengenakan kembali kupaluknya. Orang-orang Kejat satu demi satu menghilang kembali di balik gundukan).

Sumuh :         (kemudian muncul di pentas, ia tampak kerepotan dengan kupaluknya yang kebesaran, setiap hendak berkata harus mengangkat bagian yang menutup mulutnya) Bang Bedul… Bang Bedul… Bang Bedul… Bang Bedul… Wah, di mana? Cepat, tugas pemurnian sudah siap harus dilaksanakan… mereka menunggu abang di lapang Icuru Citae Ubu…. Bang… (berjumpa dengan Kejat) Ah, ternyata Bang Bedul ada di sini… ayo cepat, bang. Mereka semua sudah kumpul… Godot pun sudah siap tinggal menunggu kedatangan abang. Upacara tak akan dilaksanakan sebelum abang ada di sana… ayo, bang.

Bedul :          (sambil larak-lirik mencari Kejat dan orang-orangnya yang sudah tak tampak) Kamu duluan saja… secepatnya saya menyusul…

Sumuh :         Wah, tak bisa bang… kita harus sama-sama. Saya memang ditugaskan untuk mencari abang sampai ketemu, tak boleh kembali kalau belum ketemu abang.

Bedul :          Kalau begitu… (berfikir sejenak) kamu ke rumahku dulu, ambilkan tongkat upacaraku… sementara dari sini aku akan langsung ke lapang Icuru Citae Ubu… saya pastikan nanti kita tiba pada waktu bersamaan…

Sumuh :         Kok, begitu sih, bang. Memangnya ada apa? Apa tidak sebaiknya sama-sama saja ke rumah abang, dan sama-sama pula nantinya ke lapang…

Bedul :          Ah, sudah laksanakan saja… nanti kita ketemu di sana bersamaan, pasti bersamaan… ayo berangkat ke sana…

Sumuh :         (masih dalam bingung tapi tak bisa menolak perintah Bedul) Baik, bang kalau begitu… tapi jangan telat ya, bang!

Bedul :            Beres, pasti tepat… ayo pergi sana… (Sumuh berlalu, Bedul cepat-cepat mencari-cari kembali Kejat di antara gundukan. Yang dicari muncul seorang diri, berbarengan dengan munculnya nyanyian bersama “aaa” atau “uuu.” Diiringi nyanyian itu tampak Kejat dan Bedul terlibat pembicaraan. Setelah itu Kejat berlalu dengan tergesa-gesa).

Adegan 8

Upacara Penyucian

 

Di tanah lapang. Nyanyian “Singkapkanlah Tirai” bergema.  Hampir tepat di tengah pentas tumbuh satu bentuk kurungan ayam berukuran besar berhiaskan berbagai ornamen. Benda itu memberi kesan sebagai benda yang disucikan. Tampak sejumlah anak-anak sedang bermain-main atau melakukan apapun dengan kebahagiaan umumnya anak-anak. Bersamaan dengan itu, satu demi satu orang-orang berkupaluk pun berdatangan. Lama kelamaan terjadi kontras antara orang yang bekupaluk dengan sikap resmi dan kaku dengan sejumlah anak-anak yang bermain. Nyanian “Singkapkanlah Tirai” terus bergema. Kemudian dari suatu ketinggian, di tengah bagian belakang pentas, Godot muncul dengan pakaian kebesaran. Semua kegiatan terhenti, kecuali nyanyian “Singkapkanlah Tirai” yang kian semangat. Berikutnya orang-orang berkupaluk pun bersama-sama menyanyi sambil mengikuti irama dengan gerak-geraknya yang formal dan kaku. Anak-anak kembali bermain. Sumuh dan Kejat muncul pula, sibuk mengatur berbagai persiapan sambil sesekali memperhatikan kelengkapan orang-orang berkupaluk satu per satu.

Godot :          (setiap kalimat nyanyiannya diikuti oleh semua orang-orang berkupaluk. Saat itu pula Sumuh dibantu dua orang berkupaluk membereskan anak-anak agar teratur dalam sikap sempurna. Ada juga yang membandel, lari, atau menghindar, tapi segera dikejar dan ditangkap oleh orang berkupaluk agar segera berbaris. Saat itu pula Kejat dan kawan-kawannya bermunculan di pinggir-pinggir pentas tanpa sepengetahuan orang-orang berkupaluk, Godot, atau pun anak-anak. Satu-satunya yang tahu adalah Bedul yang kemudian menyelinap menghampiri Kejat. Di tengah berlangsungnya semua peristiwa, kemudian mereka berdua terlihat saling berbisik)         

                      Singkapkanlah tirai

                      Masa datang tampaklah sudah

                      Berlalu meninggalkan kepedihan

                      Tanda perubahan telah datang

                                                Gantilah seluruh tangisan

                                                Tak ada lagi keluh semesta

                                                Semua melangkah ke depan

                                                Perubahan sedang kita buat

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

(Nyanyian terus bergema. Satu demi satu anak dimasukan ke kurungan lewat pintu kiri, begitu keluar di pintu kanan sosoknya sudah berubah menjadi anak yang berkupaluk dengan sikap tubuh yang sama dengan orang berkupaluk sebelumnya. Ada juga anak yang tidak mau, memberontak atau pun ketakutan. Ia mencoba lari tapi kemudian dengan sigap ditangkap oleh orang berkupaluk dan segera dijebloskan ke dalam kurungan. Tapi dua anak, laki-laki dan perempuan, berhasil lolos kemudian dikejar oleh salah seorang yang berkupaluk. Rupanya Sumuh yang mengejar, itu kelihatan dari kerepotannya ngurus kupaluknya yang kebesaran. Dua anak ini tak tertangkap, menyelinap dan kemudian dirangkul dan dilindungi oleh Kejat. Kecuali dua anak yang lari, akhirnya semua anak habis dijebloskan ke kurungan dan diubah menjadi orang berkupaluk. Fade out, semua keluar pentas. Di latar belakang, silhouette, Godot diiringi oleh beberapa orang berkupaluk.)

Adegan 9

Mulanya Nurani

 

Kejat muncul sambil menuntun dua anak, kemudian diikuti yang lainnya satu per satu bermunculan pula. 

 

Kejat :           Ini tak bisa dibiarkan

                      Fatwa telah dijadikan mesin

                      Menyihir kebanyakan orang

                      Hingga hilang kesadaran

                      Tak ada lagi jiwa dalam diri

                      Karena telah dititipkan

                      Dititipkan kepada…

                      Kepada sang pemimpin

                      O, hilanglah manusia

                      Hilanglah manusia…

                      O, hilanglah manusia… aaaa

 

                      Harus ada penyelesaian

                      Harus ada perlawanan

                      Harus ada gerakan yang mengubah

                      Ubah manusia kembali jadi manusia

                      Harus ada yang menggerakan

                      Harus ada yang memulai

                      Harus berangkat dari nurani

                      Nurani kita sendiri

                      O, nurani…

                      O, nurani…       

                      O, nurani…iii

                      (break musik instrumental, Kejat berpidato sambil sesekali terlihat dibisiki oleh Bedul yang menyangking kupaluknya di ketiak. Pidatonya tetap pada atau seirama dengan musik. Beberapa saat dalam adegan ini, tampak pula Sumuh menyelinap, jelas sekali di pandangan penonton, tapi tak diketahui oleh orang-orang di pentas. Ia pun masuk dengan kupaluk yang dicangking di ketiak)

                     

Saudara-saudaraku, atas nama nurani kita berdiri bersama-sama di sini. Kita adalah sekelompok orang yang tak mau menggadaikan nurani. Kita tak pernah mau menjadi mesin dan diubah oleh mesin. Kita adalah manusa… manusia, saudara-saudara. Mari kita satukan diri kita… Kita bongkar mesin yang telah mengubah manusia-manusia lain menjadi benda-benda… Kita kembalikan mereka menjadi manusia! Menjadi manusia kembali, saudara-saudara… Ya, menjadi manusia kembali…

 

                      (kini dinyanyikan bersama-sama, berulang-ulang sesuai kebutuhan pengadegan)

 

                      Ini tak bisa dibiarkan

                      Fatwa telah dijadikan mesin

                      Menyihir kebanyakan orang

                      Hingga hilang kesadaran

                      Tak ada lagi jiwa dalam diri

                      Karena telah dititipkan

                      Dititipkan kepada…

                      Kepada sang pemimpin

                      O, hilanglah manusia

                      Hilanglah manusia…

                      O, hilanglah manusia… aaaa

 

                      Harus ada penyelesaian

                      Harus ada perlawanan

                      Harus ada gerakan yang mengubah

                      Ubah manusia kembali jadi manusia

                      Harus ada yang menggerakan

                      Harus ada yang memulai

                      Harus berangkat dari nurani

                      Nurani kita sendiri

                      O, nurani…

                      O, nurani…       

                      O, nurani…iii

                      (fade out, semua keluar pentas kecuali Sumuh yang tinggal sendirian)

Sumuh :         (kepada dirinya sendiri) Kelihatannya akan sama dengan awal cerita, hanya baju dan caranya saja yang akan berbeda. Di dalamnnya adalah juga sosok dengan kulit dan daging serta segumpal otak di dalamnya:

                      …………..

                      Berabad kujalani hidup ini

                      Semuanya sama berulang

                      Diawali kesendirian yang indah

                      Berlanjut pada pemassaan yang kejam

                      Nero, Caligula, Hitler

                        Bencana Habil-Qabil, Vietnam, Afganistan.

                        Ketakberakhiran di tanah kelahiran Ibrahim

                      Desing peluru dan bom berulang di mana-mana.

                      Atas nama revolusi, reformasi, demokrasi…

                      Bahkan memaknai merdeka:

                      Tandanya berulang… darah!

                      Di manakah sesungguhnya damai?

                      Di manakah sesungguhnya manusia?

            (fade out, keluar sambil menggusur kupaluk)

Adegan 10

Penghancuran Mitos Dinding Penyucian

 

Pentas bermetamorfosa, diiringi musik yang mencekam, gambaran salah satu dinding kurungan penyucian tumbuh memenuhi latar belakang pentas sepenuhnya. Saat dinding ini tumbuh, tampak berbentuk silhouette Sumuh yang melangkah gontai sambil menggusur kupaluk. Ketika diding itu sudah sepenuhnya jelas, musik tetap berlangsung, masuk dua anak laki-laki dan perempuan. Tampak mereka dipersenjatai dan bersikap seperti militer. Di tengah lagu, mereka berlatih perang-perangan. Setelah beberapa saat seorang yang berkupaluk masuk, dua anak tergesa-gesa sembunyi di salah satu sudut pentas.  

 

Yang Berkupaluk :     Ada tanda-tanda serangan… Perhatian, perhatian… ada tanda-tanda serangan… (meniup terompet atau apapun sebagai tanda bahaya) Kumpullll… kumpul semua di lapangan Icuru Citae Ubu yang kita sucikan ini. Kita pertahankan tempat yang kita agungkan ini. Kita jaga Sang Godot sampai titik darah penghabisan… Kumpullll. (Yang berkupaluk lainnya bermunculan) Ayo sebagian ke sudut sana, perhatikan setiap gerak-gerak aneh yang muncul di gerbang utara… Sebagian lagi sedikit di ketinggian bukit, siapa tahu serangan munculnya dari sana (dua rombongan kecil begerak ke arah yang ditunjuk) Pertahanan di sini diperkuat, pasukan berperisai berjajar paling depan…

Yang Berkupaluk :     Siap laksanakan! (kemudian berjajar tepat di muka dinding).

Yang Berkupaluk :     Lapisan berikutnya berjajar di belakang yang berperisai…

Yang Berkupaluk :     Siap laksanakan! (berbaris di belakang yang berperisai).

Sumuh :         (tiba-tiba muncul tepat dan dekat sekali di muka penonton, sementara kegiatan di pentas terus berlangsung)

                      Berabad kujalani hidup ini

                      Semuanya sama berulang

                      Diawali kesendirian yang indah

                      Berlanjut pada pemassaan yang kejam

                      (fade out dan kemudian menghilang kembali)

Yang Berkupaluk : Kalau sudah lengkap, semuanya dalam sikap siaga… siaga satu! Kita tunggu aba-aba dari Godot. Tapi, awas, pandangan mesti seawas-awasnya, perhatikan semua lingkungan… ada sedikit saja gerakan mencurigakan, babat saja!

Yang Berkupaluk :     (semua berbarengan) Siap laksanakan!

Godot :          (suaranya saja memenuhi ruangan) Saudara-saudaraku, meski pilihan ini adalah pilihan yang paling pahit… kita wajib mempertahankan kedaulatan diri kita… kita tidak bisa membiarkan kedaulatan dirusak oleh yang bermaksud menghancurkannya…

Yang Berkupaluk :     (semua bersamaan)

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

Godot :          Berrrrsatuuuu…… Kita hadapi bersama-sama semua rongrongan di hadapan kita, jangan biarkan apa-apa yang sudah kita bangun ini dihancurkan oleh mereka…

Yang Berkupaluk :     (semua bersamaan)

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

Godot :          Tak akan aku berikan… tak akan kulepaskan apa yang telah aku miliki ini, milik kita semua, segala sesuatu yang telah dengan susah payah kita ajegkan ini… Akulah Godot. Akulah sang kebenaran.

Yang Berkupaluk :     (semua bersamaan)

                      Mari melangkah bersama

                      Merapat saling bergandengan

                      Mari melangkah bersama

                      Kita yang bikin perubahan

                                                Mulai kini ke depan

                                                Jangan lagi kita terberai

                                                Bersama, dengan bersama-sama

                                                Kita bikin perubahan

                      (fade out – fade in suara Kelompok Kejat)

Kelompok Kejat : (suaranya saja bersamaan, sementara itu semua yang berkupaluk berubah ke sikap sangat siaga)

                      Harus ada penyelesaian

                      Harus ada perlawanan

                      Harus ada gerakan yang mengubah

                      Ubah manusia kembali jadi manusia

                      Harus ada yang menggerakan

                      Harus ada yang memulai

                      Harus berangkat dari nurani

                      Nurani kita sendiri

                      O, nurani…

                      O, nurani…       

                      O, nurani…iii

                      (fade out – fade in suara Paduan Suara)

Paduan Suara : (Suaranya saja. Di salah satu sudut pentas atau berupa silhouette di latar belakang, tampak kembali Sumuh yang menggusur kupaluk melintas. Kelompok berkupaluk, di atas pentas, tampak dalam persiapan perang, mereka bergerak dalam koreografi tari, gerak-geraknya amat berlawanan dengan nada atau irama yang dinyanyikan paduan suara )

                      Sembilan nyawa hilang

                      Melanjutkan riwayat kesia-siaan

                      Jasad-jasadnya bungkam

                      Memendam ketidakmengertian

                      Jasad-jasadnya bungkam

                      Menelan ketidaktahuan

                      Sembilan nyawa hilang

                      Jadi korban kala siang menjelang

 

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang bapak masih sempat menebar harapan

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang ibu menebar kasih dalam pelukan

                      Pagi, bersama untaian senyum

                      Sang kakak janji kan berkirim kabar

 

                      Kabar…. O, kabar

                      O, kabar duka yang kemudian tersebar

                      Kabar…. O, kabar

                      O, satu dentuman menggenapkan seribu luka

                      Kabar…. O, kabar

                      Kala siang menjelang,

                      Kemanakah sang bapak membawa harapan

                      Kala siang menjelang,

                      Pelukan ibu menjadi kehangatan terakhir, bu…

                      Kala siang menjelang,

                      Kabar…. O, kabar,

                      Mengapa kabar itu yang kakak pilih

                      Kabar…. O, kabar…. 

 

                      Darah kembali tercecer

                      Kematian dan jerit kesakitan

                      Taklah genap jua

Godot :          (kini muncul di sebuah peninggian di hadapan dinding) Wahai rakyatku… sudah dekat… sudah begitu dekat gangguan itu menghampiri kita! Siapkan semua senjata, semua daya, dan semua diri kita untuk mempertahankan harta kita, martabat kita, kedaulatan kita!

Yang Berkupaluk :       (serempak) Siap laksanakan! Kami sudah siap berabad-abad silam lamanya. Sejak berabad lampau kami memang dipersiapkan untuk setia kepada pemimpin, Sejak berabad lampau kami memang dipersiapkan untuk berperang. Kami siap melaksanakan!

Kelompok Kejat : (bermunculan dari berbagai sudut)

                      Harus ada penyelesaian

                      Harus ada perlawanan

                      Harus ada gerakan yang mengubah

                      Ubah manusia kembali jadi manusia

                      Harus ada yang menggerakan

                      Harus ada yang memulai

                      Harus berangkat dari nurani

                      Nurani kita sendiri

                      O, nurani…

                      O, nurani…       

                      O, nurani…iii

Yang Berkupaluk : Awas saudara-saudara… siaga semua…

Kelompok Kejat : Serbuuuu…….

Musik perang bergema. Peperangan pun terjadi dalam bentuk koreografi. Adegan tidak hanya di lantai pentas dan berupa silhouete, tapi juga adegan-adegan perang yang bergelantungan dan tetap dikoreografi dengan baik. Gambaran di pentas, yang bergelantungan, atau pun silhouette di latar belakang menggambarkan betapa hebatnya peperangan ini. Seiiring irama, korban di kedua belah pihak pun mulai berjatuhan. Perang terus berlangsung, korban terus bergelimpangan hingga akhirnya Yang Berkupaluk semua mati. Kelompok Kejat bersisa tinggal beberapa orang. Yang tersisa ini pun kemudian merangsek ke muka menghancurkan dinding yang terbentang. Tembok-tembok dinding runtuh berguguran dan hanya tinggal kerangka serta sedikit sisa-sisa temboknya. Tiba-tiba dari reruntuhan itu muncul sejumlah anak-anak laki-laki dan perempuan, semua telanjang tapi berkupaluk. Mereka menghambur keluar, kemudian melepas dan melempar kupaluknya ke sembarang arah. Semua menjadi hiruk-pikuk tapi sebetulnya terarah secara koreografis. Tiba-tiba terlihat Godot yang lari dikejar oleh beberapa orangnya Kejat. Setelah beberapa lama, Godot yang dikejar muncul di peninggian yang kini tinggal rangka itu. Gema musik tiba-tiba berhenti, semua tiba-tiba terdiam. Pusat cahaya terarah ke tempat peninggian. Godot kepepet tak bisa ke mana-mana lagi, tampak Bedul naik tangga membawa senjata menghampiri Godot. 

Godot :          Bedul… Ternyata engkau… bagaimana bisa? Aku ini sahabatmu… Kita ini bersama-sama sejak dulu kala. Berabad-abad kita beriringan… Bagaimana mungkin? Tidak bisa, tidak bisa berakhir seperti ini…

Bedul :          (tidak berkata-kata, melainkan mengangkat sejata dan menghujamkannya ke tubuh Godot diiringi musik gemuruh. Godot berkelojotan kemudian mati di pangkuan Bedul. Setelah beberapa saat gemuruh terhenti dan sepi. Bedul berkata perlahan saja yang kemudian diikuti orang banyak termasuk anak-anak yang telanjang) Godot telah mati!

Orang Banyak : Godot telah mati! Godot telah mati! Godot telah mati! Godot telah mati! Godot telah mati! Godot telah mati!

Kelompok Kejat : (di tengah suasana suka-cita atas kematian Godot)

                      Harus ada penyelesaian

                      Harus ada perlawanan

                      Harus ada gerakan yang mengubah

                      Ubah manusia kembali jadi manusia

                      Harus ada yang menggerakan

                      Harus ada yang memulai

                      Harus berangkat dari nurani

                      Nurani kita sendiri

                      O, nurani…

                      O, nurani…       

                      O, nuraniiii…iiiii

Sumuh :         (menyeruak di antara keramaian orang-orang yang suka cita dan bernyanyi itu) Nurani? Betulkah nurani? Kenapa nurani harus meminta darah? Di manapun yang diucapkan sama: nurani! Semua pun mengatas namakan: nurani! Duh, tampaknya aku pun sudah tak bisa lagi mengenali nurani. Siapakah nurani? Apakah gerangan nurani itu? Wahai Bedul… siapakah engkau sebetulnya? Berabad-abad kita bersama-sama, tapi sungguh tak pernah kukenali engkau ini siapa sebenarnya.

Sosok Hitam : (tiba-tiba muncul tepat di belakang Bedul)

                          Setipis garis

                          Yang mampu kau lihat

                          Itulah batas antara

                          Baik dan buruk

 

                          Maka manusia

                          Bisa terkecoh

                          Silau penglihatannya

                          Buta pandangannya

 

                          Inilah kesempatan

                          Bagi kita untuk menggoda

                          Mengajaknya jadi sekutu

                          Mendiami kegelapan

 

                          Biarlah matanya terpejam

                          O, maka gelaplah

                          Garis pun menghilang

                          Ooo……..

                          Jadilah kau sekutuku

                          Ooo……..

Sumuh :             Sungguh, ternyata engkau ini begitu asing bagiku… Dan senyata-nyatanya pula kau pun sesungguhnya tak pernah mengenal siapa aku ini… (kepada diri sendiri) Tak saling mengenal? Kita ini satu sama lain tak pernah saling mengenal, siapakah aku dan siapakah diri anda itu… Engkau adalah hal asing bagi diriku… Dan diriku adalah asing bagimu… Asing? Dari mana pula asal-muasalnya perasaan asing itu? Berabad-abad ternyata aku hanya berjalan di lautan keterasingan ini. Mestikah kulanjutkan kembali perjalananku mencari tahu siapakah diriku ini dan mencoba mengenali siapakah anda semua ini?

Bedul :              (di ketinggian dan masih memeluk Godot yang telah mati) Tangkap orang itu… Jangan biarkan ia berfikir dan mengumbar pikirannya… ia berbahaya bagi keberlangsungan kita semua…

            (maka semua sigap mengepung kemudian mengejar-ngejar Sumuh. Adegan pengejaran ini tampak dalam gambaran silhouette di latar belakang, di antara rangka dan reruntuk dinding. Gambaran ini berulang beberapa kali untuk menggambarkan bahwa dalam waktu berabad-abad kejadian ini terus berlangsung, sampai suatu ketika silhouette itu memperlihatkan Sumuh yang melompat, disusul adegan orang-orang yang mengejar celingukan mencari-cari, kemudian berlanjut melakukan perburuan. Sementara itu Bedul tampak turun sambil membopong mayat Godot. Hampir bersamaan, Kejat pun maju ke tengah pentas. Mereka, Bedul dan Kejat, bertemu di tengah pentas. Bedul menyerahkan mayat Godot kepada Kejat sambil berbisik) Dengan ini maka engkaulah Godot itu!  (mereka pun berlalu ke luar pentas diikuti yang lain-lainnya, kecuali mayat-mayat lain yang bergelimpangan)

Adegan 11

Anak di antara Mayat-mayat

 

Muncul anak-anak telanjang. Dua di antaranya, laki-laki dan perempuan, dengan berselempangkan senjata bersama-sama mencari-cari jenazah orang tuanya.

Anak :               Ayahku ikut berperang, ini dia kupaluknya… tapi mana mayatnya, ya?

Anak :               Kalau ibuku pas sedang pergi mencuci, tiba-tiba perang terjadi. Sudah berabad-abad kutunggu tak pulang-pulang juga…

Anak Bersenjata : Paman, bukankah paman yang memberikan senjata ini. Sekarang paman tidak ada, mayat paman pun tak kutemukan… Lantas senjata ini untuk apa…

Anak :               Yang tidak kumengerti, mengapa mereka ini berperang, mengapa mereka ini berbunuh-bunuhan… Bibi dan Mamangku di pihak Godot, ayah dan ibuku di pihak Kejat… kini semuanya mati…

Anak :               Ibuku pun mati, ini dia jenazahnya… tapi dia tidak pakai kupaluk.. ia jadi temannya Kejat rupanya. Nah ini bapakku, kalau bapakku pakai kupaluk, mati juga…

Anak Bersenjata : Aku malah tak kenal siapa yang memberikan senjata ini, sekarang aku tak tahu pula mesti dikasihkan siapa senjata ini…

Anak :               Kalau kamu di pihak mana?           

Anak :               Aku di pihak Godot! Kamu?

Anak :               Aku bersama ayah di pihak Kejat! Kita berlainan, ya?

Anak :               Ah, sama-sama juga telanjang.

Anak :               Lagian Kejat dan Godotnya pun sudah tidak ada.

Anak :               Jadi kita sama-sama lagi, dong?

Paduan Suara 1 & 2 : (akapela di latar belakang berupa silhouette. Anak-anak meneruskan dalam pencarian, atau bisa pula semua duduk terpaku di antara mayat-mayat)  

                                     

                      Sembilan nyawa tak menggenapkan yang tiga ratus

                      Tiga ratus tak menggenapkan ratus ke tujuh

                      Ribu bahkan menjadi tak berbilang

                      Juta akhirnya hanya jadi bahan berita

                      Semuanya berpindah jadi angka-angka

                      Bumi pun meradang kesakitan penuh luka

                      Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh…

                      Riwayat pembunuhan menjelma sederet angka

                      O,

                      Lihat pula di sana wabah menyebar

                      Bergeser pandang tampak bah yang amuk

                      Gunung di utara tampak geram

                      Jauh ke timur tanah kerontang

                      Barisan babu kian memanjang di negeri orang

                      Berbaris pula kala pulang dengan luka diperkosa majikan

                      Ada pula yang termangu nanar sinar lampu neon

                                      O,

                      Inilah kala penyairnya tak lagi jadi penunjuk jalan

                      Satu, dua, dan sembilan agamawannya mabuk kekuasaan

                      Ini kala negeri diurus laiknya permainan

                      Rakyatnya hanya dihitung sebagai bilangan

                      Satu, dua, dan sembilan rakyatnya pun kehilangan ingatan.

 

 

(Fade out. Pentas jadi gelap.)

Adegan 12

Epilog

 

Begitu pentas terang kembali tampak Sumuh yang kelelahan dihampiri dua anak, laki-laki dan perempuan, telanjang tapi masing-masing membawa senjata. Sumuh menyambut serta segera melucuti senjata mereka, kemudian melemparkannya jauh-jauh.

 

Sumuh :         Sahabatku…

                      Janganlah tanyakan itu…

                      Jangan tanyakan itu padaku

                      Sahabatku…

                      Dalam diam sering kutanyakan

                      Kutanyakan segala hal hidup ini

                      Yang kembali selalu pertanyaan

                      Wahai, sahabatku…

                      Tak sekali kuberkeinginan

                      Wahai, sahabatku…

                      Tapi yang datang sama sekali lain

                      Awalnya kusepelekan saja

                      Tapi kemudian ternyata…

                      Ternyata itu diperlukan juga

                     

                      Adakah artinya kita ini sesungguhnya tak pernah tahu

                      batas antara keinginan dan apa yang kita perlukan

 

                      Ooo… aaaa… oooo

 

                      Wahai, sahabatku…

                      Maka kubaca kehendak angin

                      Wahai, sahabatku…

                      Kuikuti selalu kemana ia bawa tubuhku

                      Andaikan sampai ke bibir tebing pun

                      Aku tak bisa menolaknya lagi

                      Hei, sahabatku…

                      Kita ini tak memiliki hak tolak

                      Heiiii….. ahhhhhh

                      Hei, sahabatku…

                      Andai bisa kutolak maka kutolak kelahiranku

                      Dan akhirnya beginilah kisah hidupku

                      Dalam ketakberdayaan

                      Dalam ketakberdayaan terus melangkah

                      Hei, sahabatku…

                      Kitaaaaa tak pernah tahu awal

                      Heiiii….. ahhhhhh

                      Wahai, sahabatku…

                      Maka tak tahu pula bagaimana cerita akan berakhir

                      Yang kutahu hanya arah angin

                      Itu pun…

                      Itu pun kerap tak terduga.

Anak :           Paman ini siapa?

Anak :           Hush, kau dengar tadi, katanya jangan bertanya!

Anak :           Tapi, masa kita sama-sama tapi tidak tahu nama masing-masing.

Anak :           Paman ini siapa?

Anak :           Heh, malah tanya lagi.

Sumuh :         Betul-betulkah kamu ingin tahu siapa aku ini?

Anak :           Betul! Siapa paman?

Anak :           (akhirnya ikut juga karena ia pun sesungguhnya ingin tahu juga) Ya, paman, sekadar nama saja, siapa?

Sumuh :         Itulah persoalannya, nak. Semuanya bermula dari nama… Bersama nama nantinya ada pilihan-pilihan dan ketentuan-ketentuan hidupnya masing-masing… Pilihan dan ketentuan itu berubah menjadi jalan hidup.

Anak :           Panjang amat nama paman ini… Pilihan dan Ketentuan bin Menjadi Jalan Hidup!

Anak :           Hush, dengar dulu… Itu bukan nama tapi sejarahnya!

Sumuh :         Bukan sejarah tapi penjelasan…

Anak :           Tuh, kan, jangan sok tahulah…

Sumuh :         Jalan hidup itu ketika diajarkan jadilah ideologi… ideologi bisa bergumpal jadi mesin… mesin perang anak-anakku…

Anak :           Bukankah jalan hidup itu ada yang baik dan ada yang buruk?

Sumuh :         Baik dan buruk itu masih jelas ketika masih berada dalam diri kita masing-masing, ketika ia belum diberi nama. Tapi ketika ia telah diberi nama, dirumuskan, diidentifikasikan, diajarkan, jadilah ideologi, dikomunitaskan, dikelompokan, diorganisasikan, dilembagakan;  dua-duanya sama bisa menjadi mesin… Demikian pula halnya tentang kebenaran dan bahkan ketidakbenaran, itu tampak jelas ketika masih telanjang sebagai kebenaran atau ketidakbenaran. Setelah diberi baju, diberi emblem, diberi asesoris, dihiasi, dipidatokan; maka semuanya menjadi sama sekali lain. Bahkan bisa menjadi tampak terbalik-balik; kebenaran menjadi ketidakbenaran dan sebaliknya.  Dua hal yang sesungguhnya berbeda itu maka segera akan berubah hanya menjadi alat, kendaraan, atau tunggangan… kala itulah hal hakiki tersebut menjadi mesin… Sebagai mesin, kebenaran yang satu menjadi punya kemampuan untuk menggilas kebenaran lainnya… begitu seterusnya… menjadi mesin pembunuh bagi yang lainnya.

Anak :           Kamu ngerti?

Anak :           Sama sekali tidak mengerti!

Anak :           Jadi nama paman?

Anak :           Ya, Mesin Pembunuh itu tadi.

Anak :           Hushhh… Kamu ini gimana, masa namanya Mesin Pembunuh?

Sumuh :         Aku ini Godot!

Anak :           (berbarengan) Bukankah Godot sudah mati?

Sumuh :         Kita semua adalah Godot!

                      ……………………

                     

 

                      (Black out)

 

Tamat

 
Cibolerang-Giri Mekar, September-Oktober 2004

 

Saya pernah punya impian libretto ini kemudian score (lagu-lagu)nya itu ditulis oleh Harry Roesli. Eh, dia (Harry Roesli), tanggal 11 Desember 2004, malah pergi mendahului kita semua. Sebelumnya, naskah ini sudah kukirimkan ke [email protected]. Tapi entah, saya tak pernah tahu apakah naskah ini sempat dibacanya atau tidak.

Selamat jalan, Mas. Saya ikhlas dan akan selalu mengenang indahnya persahabatan kita.
Di sela masih situasi berduka, ihwal ini saya sampaikan kepada Mukti-mukti. Pada akhirnya Mukti-Mukti mencoba menuliskan score-nya, dan bisa menyelesaikan beberapa di antaranya.

 

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Tarian Terakhir
(Lakon Satu Babak)

 

Oleh: Herry Dim

 

 

Pelaku:

Lelaki, sekira usia 55an tahun.
Perempuan, penari, sekira 60an tahun.
Pengamen, sekira 20an tahun.
Beberapa orang dengan kostum polisi.

  

Pada sebuah beranda. Tampak sebuah kerai (tirai anyaman bambu) melatari pentas. Sore menjelang magrib. Lelaki dan Perempuan duduk pada sebuah bangku panjang sederhana.

 

Lelaki               : Saya jadi ingat kata-kata Kang Yatna…. Suatu ketika ia mengatakan; “kita ini seperti para biksu, berkeliling jalan kaki ke mana-mana menyuarakan kemanusiaan sambil membawa cawan pengasihan untuk sekadar bertahan hidup.”

Perempuan        : Apa yang dimaksud hidup seperti biksu?

Lelaki               : Mungkin ia menganalogikan dirinya sebagai orang panggung, pemain, sutradara drama atau teater…. Memang benar, kehidupan orang teater itu seperti para biksu. Pekerjaannya menggali segala hal tentang kemanusiaan secara mendalam, bekerja luar biasa keras, harus menjalani latihan berbulan-bulan…. Kemudian pentas… tapi dari pentas itu nyaris tak mendapatkan apa-apa kecuali satu cawan bubur pengasihan…

Perempuan        : Tidak seperti bintang-bintang hiburan?

Lelaki               : Ya, tidak seperti mereka.

Perempuan        : Gemerlap, hidup berlimpah, disanjung-sanjung, koran-koran pun selalu sibuk memperdagangkannya. Dan orang-orang kebanyakan pun selalu menyukainya…

Lelaki               : Orang-orang kebanyakan yang hidupnya seperti laron-laronlah yang menyukai mereka. Para penghibur itu memang seperti memancarkan sinar lampu neon…. dan galibnya laron, selalu menghampiri cahaya… ya, beramai-ramai merubung cahaya untuk mati bersama…

Perempuan        : Sementara orang-orang pentas teater?

Lelaki               : Hampir sama sekali berlawanan arah. Ia jarang terpesona oleh sinar palsu lampu neon, ia cenderung mencari yang paling hakiki. Di sanalah ia temukan hidup manusia yang paling pahit tapi sekaligus di sana pula ciri agung manusia… Pendeknya, ia bekerja untuk memperlihatkan siapakah diri manusia itu yang sesungguhnya….

Perempuan        : Dan…. Manusia kebanyakan atau manusia pada umumnya, itu cenderung enggan untuk melihat dirinya sendiri. Bahkan sebagiannya lagi ada pula yang takut untuk melihat dirinya sendiri. Maka mereka menjauhi dirinya untuk kemudian mencari-cari sinar imitasi, mereka katakan mencari hiburan…. Kemudian tenggelamlah di sana.

lelaki                : Seperti itulah… maka sedikit demi sedikit manusia pun semakin jauh dengan dirinya, semakin jauh dengan kata hatinya… bahkan semakin tidak memahami lagi kata-kata…

Perempuan        : Tegasnya, hidup manusia menjadi semakin dangkal?

Lelaki               : Betul! Saya kira sudah sulit sekali menemukan orang yang bisa menangkap sayap dan bayang-bayang kata Lorca (mengucapkannya seperti baca puisi)  “jam lima petang hari.”

Perempuan        : Jam lima sore adalah jam lima sore. Titik. Itu yang mereka tangkap?

Lelaki               : Begitulah… orang-orang sudah tidak bisa membedakan lagi ucapan atau kata-kata itu dari siapa dan siapa pula yang mengatakannya. Padahal, apa dan siapa yang mengatakan itu sangat menentukan makna yang diucapkannya.

Perempuan        : Kata-kata yang sama jika dikatakan oleh orang yang berbeda maka akan menghasilkan makna yang berbeda?

Lelaki               : Ya, empat patah kata “jam lima petang hari” dari Lorca, itu berbeda sekali dengan seseorang yang mengatakan kata-kata yang sama tapi tidak memiliki biografi dan sejarah apapun terhadap kata-kata tersebut kecuali sebagai penunjuk waktu.

Perempuan        : Sementara bagi Lorca?

Lelaki               : Itu menunjukan salah satu saat peristiwa penting dalam hidupnya sebagai penyair sekaligus aktivis. Maka “tanda peristiwa pada jam lima sore” itu pun sesungguhnya berkait dengan salah satu titik sejarah Spanyol. Dan kemudian, salah satu titik sejarah Spanyol itu tidak lain merupakan titik yang tidak bisa hilang dari keseluruhan sejarah Spanyol. Itulah bedanya.

Perempuan        : Saya faham. Tapi, mengapa tiba-tiba ingat kata-kata Kang Yatna itu? 

Lelaki               : Sesungguhnya tidak tiba-tiba, melainkan terus bergaung sejak awal mula diucapkan.

Perempuan        : Ya, bukankah Kang Yatna telah meninggal lebih dari lima tahun lalu? Ujarannya tentu disampaikan jauh hari manakala ia masih hidup, artinya sudah lama sekali, tapi mengapa baru sekarang tiba-tiba diucapkan lagi.

Lelaki               : Betul juga. Baru tercetuskan lagi sekarang, mungkin karena kita sedang berada di puncak kondisi seperti apa yang dimaksudkan oleh Kang Yatna. Cawan pengasihan kita sedang kosong. Kita sedang di puncak kondisi menanti cawan pengasihan ada yang mengisi tapi tidak datang-datang juga seseorang yang mengisinya...

Perempuan        : Mengalami hidup yang begini sulit?

Lelaki               : Ya, aneh sekali. Sampai untuk ongkos angkutan umum pun kita tidak punya sama sekali.

Perempuan        : Nasi yang kita makan kemarin pun sumbangan dari Tuti, tetangga kita.... Hidup kita memang tidak mudah, dari hari ke hari, sepanjang usia hidup kita ini terus berjuang sekadar untuk bisa bertahan hidup. Saat ini memang paling parah. 

Lelaki               : Itulah dia. Aneh. Sejauh ini kita terus berjuang.... selalu bersama-sama untuk tidak menyerah. Tapi seperti halnya Sisyphus, manakala kita sudah hampir sampai ke puncak pengharapan, ketika itu pula kita menggelinding lagi ke bawah, kemudian kita mencoba bangkit lagi dan menggelinding lagi...

Perempuan        : Dengan pengamsalan itu, saya sepertinya menangkap nada bahwa kita akan menyerah?

Lelaki               : Tidak. Bukan begitu.

Perempuan        : Atau mencoba memeriksa, jangan-jangan ada yang salah dengan hidup kita ini?

Lelaki               : Itulah yang sedang dikpikirkan. Kita memang bukan malaikat meski sekaligus pula bukan pula iblis. Kita ini manusia yang rasanya terus berusaha menjaga hidup sebaik-baiknya, tak pernah mencuri dan bahkan diusahakan tak menyakiti hati orang lain. Juga tak pernah berfikir bahwa hidup ini sesuatu yang gratis atau berharap-harap ada yang jatuh dari langit, kita jalani hidup ini dengan keringat dengan kerja keras. Tapi hasilnya mengapa begini?

Perempuan        : Untuk makan pun berasnya dari sumbangan tetangga.

Lelaki               : Ya, bahkan untuk makan pun mendapat kesulitan.

Perempuan        : Padahal saya bekerja mengajar, pegawai negeri, punya gajih tetap… Tidak patut sesungguhnya hidup kita seperti ini… tapi memang kenyataannya uang yang kita dapat selalu tak pernah cukup, jauh dari cukup. Hidup boros? Ah, jauh sekali dari kemungkinan itu. Bahkan untuk bisa minum susu segar pun telah menjadi semacam upacara besar, harus menabung dulu baru kita merayakannya. Dan itu pun kini sudah tidak bisa kita laksanakan lagi….

Lelaki               : Ya, itulah anehnya….

Perempuan        : Makanya, mungkin ada yang salah dengan hidup kita?

Lelaki               : Carilah kesalahan itu agar kita bisa memperbaikinya…. tapi bukankah itu pun berulang hari, berulang bulan, berulang tahun selalu kita pertanyakan; tapi tidak juga kita temukan kesalahannya.

Perempuan        : Mungkin ada kesalahan manajemen?

Lelaki               : Apa yang harus dimanajemenkan? Hari ini pun kita sama sekali tak memiliki apa-apa yang bisa kita atur.

Perempuan        : Jadi?

Lelaki               : Entahlah... saya tak punya ide apapun untuk menghadapi hal yang terus berulang ini.

Perempuan        : Terpikirkan jika minta bantuan teman-teman, semacam minta pekerjaan, begitu?

Lelaki               : Akankah orang-orang percaya bahwa kita hidup seperti ini?

Perempuan        : Mengapa tidak?

Lelaki               : Jangankan orang lain... bukankah kita sendiri tak percaya bahwa kita ini bisa mengalami hidup seperti ini... Seperti yang kamu bilang, kamu sendiri punya gajih tetap, sementara aku sendiri.... ya aku sendiri seperti yang kamu lihat... tak pernah berhenti bekerja, tak pernah berhenti berusaha... meski tidak dengan menawar-tawarkan diri, aku ke sana dan ke mari sesungguhnya mencari kerjaan...

Perempuan        : Saya saksikan sendiri, tiap hari bahkan sampai larut malam... selalu saja ada yang kamu kerjakan...

Lelaki               : Ya, begitulah... hasil umumnya adalah pekerjaan-pekerjaan biksu, bantu sana dan bantu sini, tak menghasilkan apa-apa dalam bentuk imbalan uang... maka dari pekerjaan-pekerjaan itu tak ada lain selain menanti-nanti pengasihan...

Perempuan        : Kita ini terlalu bersamaan dalam hal hidup...

Lelaki               : Ya, kulihat hidupmu pun begitu. Menjadi guru, hanya lurussss sebagai guru... demikian halnya dengan menjadi penari lurus pula sebagai penari. Baik sebagai guru atau pun sebagai penari, kamu pun ke sana dan ke mari berbagi-bagi menyuarakan kemanusiaan...

Perempuan        : Betul, bahkan kemarin menari di Sukabumi, itu harus ditempuh dengan naik gunung, masuk ke sebuah desa... tanpa bayaran melainkan ongkos sendiri...

Lelaki               : Itulah kita!

                            (keduanya terdiam beberapa saat, tak ada gerak apapun kecuali sayup-sayup terdengar bunyi musik gaduh atau boleh juga suara orang berjualan yang biasa memakai mobil ke kampung-kampung menggunakan suara megafon)

 Lelaki               : (setelah suara menjauh dan hilang) Saya sedang berfikir bahwa ada yang salah dengan kalimat Kang Yatna itu.   

Perempuan        : Maksudnya?

Lelaki               : Bukan salah. Sebagai kata-kata mutiara tetaplah bagus dan memiliki kebenaran. Tapi, ini yang mungkin kita lupakan; Kang Yatna, kita, dan orang kebanyakan yang senasib itu bukanlah biksu. Kita ini manusia biasa yang seharusnya menjalani hidup seperti halnya manusia biasa.

Perempuan        : Kita tak pernah menjadi manusia dan bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi manusia?

Lelaki               : Kira-kira hampir seperti itu...

Perempuan        : Mungkin ada benarnya pikiran itu?

Lelaki               : Sudah seberapa sering kita duduk-duduk di sini?

Perempuan        : Rasanya sudah sepanjang usia perkawinan kita.

Lelaki               : Rasanya baru kemarin... Dulu, pohon nangka itu tidak ada...

Perempuan        : Kini pohon itu pun sudah menua, buahnya sudah tidak sebagus dulu...

Lelaki               : Tapi hidupnya pasrah dan selalu berserah diri... kala kemarau tak pernah terdengar berteriak-teriak protes minta air, pun ketika air hujan berlimpah tak pernah melonjak-lonjak berlebihan kegirangan. Andai aku sendiri adalah pohon yang cukup menjalani hidup ini dengan alam dan kesemestaannya...

Perempuan        : Menyesal menjadi manusia?

Lelaki               : Bukan itu maksudnya...

Perempuan        : Lantas?

Lelaki               : Justru sedang berfikir apa yang menjadi tugas dan hidup pohon dan apa yang menjadi tugas dan hidup manusia? Saya melihat bahwa seluruh hidup pohon itu tidak ada yang tidak bermanfaat, sementara hidup kita... bahkan sisa hidup kita ini... adakah manfaatnya bagi orang lain, bagi kehidupan? Bahkan kini untuk membela hidupnya sendiri pun mengalami kesulitan... Saya khawatir sisa hidup kita ini bahkan mubazir bagi hidup kita sendiri... (hening beberapa saat)

Perempuan        : Ah, rasanya kamu sedang menyesal menjadi manusia?

Lelaki               : Sama sekali tidak! Berbeda sekali arti rasa khawatir dan menyesal itu! Saya khawatir, misalnya, bahwa hidup saya ini tidak berguna untuk kehidupanmu... buktinya tak juga mampu membahagiakan kamu melainkan terus-menerus menggusur kehidupanmu ke dalam kehidupan yang susah... Pernahkah kamu merasa bahagia sekali saja di sepanjang hidup bersama saya?

Perempuan        : Pernah...

Lelaki               : Hah... Kapankah itu?

Perempuan        : Saat kamu main memerankan Raja Lear, saya menikmati sekali pada saat-saat Raja Lear memasuki kegilaan. Terasa perih dan nyeri tapi indah sekali adegan itu... di dalam ruang antara perih dan indah itulah tiba-tiba saya rasakan ada sesuatu yang muncul yaitu kebahagiaan.

Lelaki               : (bersemangat ingin kembali membahagiakan) Maukah kamu menyaksikan kembali adegan itu?

Perempuan        : Maksudnya?

Lelaki               : Saya akan memainkannya lagi di sini, sekarang ini, maukah?

Perempuan        : Bagaimana mungkin? Bukankah adegan itu menjadi indah disebabkan ada adegan-adegan lain sebelumnya?

Lelaki               : Mainkanlah adegan-adegan lain di dalam pikiranmu, di dalam imajinasimu.... Bagaimana?   

Perempuan        : (diam tak menjawab kecuali menatap)

Lelaki               : (setelah mematut-patutkan rambut putihnya, sedikit membenahi pakaiannya, dan menggeser salah satu bangku duduk yang ada di sana, memainkan soliloqui tokoh Raja Lear dari drama Shakespeare)

                                   Angin, tiuplah, robek pipimu! Mengamuklah!
Hujan, banjir, curahkan air bah sampai kau benamkan
Tiap menara dan gada-gada! Hai, api belerang,
Pesat bagi pikiran; dan bentara petir yang galak
Menyambar pohon, hanguskan rambutku putih!
Dan kau guntur, penggoncang bumi, hantamlah sampai rata
Bundaran jagat yang padat ini! Hancurkan segala
Khuluk alam, tumpaskan segera segala
Benih manusia tak tahu budi!

                           (berganti ke peran Badut, masih dimainkan oleh Lelaki sendiri)

                           O paman, lebih baik air keramat dalam rumah kering daripada air hujan begini. Paman budiman, masuklah; mintalah sedekah anakmu; malam begini tak menaruh kasihan pada orang arif maupun badut.

                           (kembali ke peran Raja Lear)

                           Berdegarlah sampai muntah! Jilatlah, api! Mancarlah, hujan!
Bukan hujan, badai, guntur atau petirlah anak-anakku;
Unsur alam, dendamku tidak untukmu; kau tak pernah
Kuberi kerajaan dan kusebut anak; padamu
Tak kuminta rawatan, jadi sukarialah
Menimpakan kedahsyatanmu. Aku inilah
Budakmu, kakek miskin lemah, rapuh, terbuang,
Namun kusebut kau khadam penjilat, karena
Bersekutu dengan dua anak durjana, menyerang
Dari ketinggianmu atas kepala tua yang putih ini!
Oh! Oh! Jahat benar!

                           (berakhir karena kelelahan, tersungkur di pangkuan Perempuan yang kemudian memeluknya. Diam dalam pelukan beberapa saat)

 Perempuan       : (masih memeluk, berbisik ke telinga Lelaki) Terimakasih.... (Diam, kecuali berpelukan)

Lelaki               : (masih bersimpuh di pangkuan) Akulah Lear itu, pernah berjaya, membagi-bagikan kejayaan itu kepada sebanyak-banyaknya manusia, menjadi tua, dan kemudian dicampakan oleh kehidupan...

Perempuan        : Mungkin memang itulah tugas manusia yang bukan pohon nangka...

Lelaki               : (tiba-tiba bangkit dari pelukan dan mulai terdengar musik) Tidak! Itulah biksu! Manusia tidaklah seperti itu... Ia berada di antara malaikat sekaligus iblis!

Perempuan        : Jadi terkadang condong ke malaikat, tapi terkadang pula lebih dekat ke iblis?

Lelaki               : Itulah manusia!

Perempuan        : Jadi karena manusia biasa itu ada yang hidup dari mencuri, maka kita pun sebagai manusia biasa sebaiknya ikut mencuri?

Lelaki               : Nah, jangan-jangan justru itulah yang manusiawi itu, sesekali mengalami lebih dekat ke iblis. Sementara yang kita jalani ini tak lain dari jalan hidup seorang biksu, terus menerus lebih dekat ke malaikat.

 

Musik; sudah terdengar sejak dari luar panggung, dan kemudian masuk seorang pengamen dengan sebuah ukulele menyanyikan lagu. Pembicaraan Lelaki dan Perempuan terhenti.

 

Pengamen       : (Menyanyi)

 

Berujarlah orang itu kepada yang baru tiba
Di manakah kiranya kamu berada
Aku di sini dan aku di sana
Aku berada di antara

Aku berbisik kepada angin
Kata-kataku terbang terbawa
Aku berkata kepada angin
Sang angin tak mendengar
Sang angin tak bisa mendengar

Aku ada di luar melihat ke dalam
            Tak jelas lagi mana salah dan mana benar
            Kecuali kebingungan
            Mengepung diriku

Aku berbisik kepada angin
            Kata-kataku terbang terbawa
            Aku berkata kepada angin
           
Sang angin tak mendengar
            Sang angin tak bisa mendengar

Siapapun tak bisa menolongku
Maka jangan coba memahami
Jangan tambah aku dengan tanya
Jangan beri aku perintah juga petunjuk
Malah waktu semakin terbuang

Aku berbisik kepada angin
            Kata-kataku terbang terbawa
           
Aku berkata kepada angin
            Sang angin tak mendengar
            Sang angin tak bisa mendengar 

Berujarlah orang itu kepada yang baru tiba
            Di manakah kiranya kamu berada
            Aku di sini dan aku di sana

           Aku berada di antara

 Perempuan memberikan uang recehan, pengamen berlalu ke luar pentas.

 Perempuan        : (Sambil menatap pengamen yang berlalu dan nyaris seperti berkata kepada dirinya sendiri) Apa yang bisa dilakukan pengamen itu malah lebih berarti bagi hidupnya, sementara apa yang kita pelajari dan kita lakukan sampai setua ini; malah lebih banyak menyedot penghidupan ketimbang memberi kehidupan. Betul juga, saya pun merasakan betapa sia-sianya pengetahuan kita ini. Kita pernah nyinyir dengan kesenian-kesenian hedonis yang begitu banyak terlihat di televisi. Bukan hanya nyinyir, ilmu kita pun mengatakan bahwa itu adalah seni yang tak benar bagi pemanusiaan manusia. Tapi kesenian itulah yang makmur, sementara kesenian kita semakin sengsara dan semakin tidak berdaya.

Lelaki               : Kesenian kita semakin tak laku karena manusia semakin banyak yang memilih hidup menjadi laron. Mereka tinggalkan bumi tempatnya hidup, terbang menghampiri cahaya yang sebetulnya palsu… belum lagi tiba kepada impian cahaya, mereka pun mati secara bersama-sama. Bunuh diri secara bersama-sama…

Perempuan        : Kemudian manusia pun habis dan tidak ada lagi yang mau menonton kesenian kita. Tidak ada lagi yang mau melihat diri manusia karena memang sudah tidak ada lagi manusia…. Jika begitu, kenapa tidak ikut serta saja menjadi laron atau menjadi cahaya neon itu?

Lelaki               : Kalau kita menjadi seperti mereka pun sudah terlalu tua. Tubuh kita sudah jauh dari molek, tubuh yang sudah renta ini tidak bisa lagi dijual ke televisi. Sudah sangat terlambat. (Tampak sang Perempuan melangkah ke luar pentas) Eh, mau ke mana?

Perempuan        : (Sambil terus ke luar pentas) Tunggu, ada yang mau saya ambil. Segera saya kembali lagi.

Lelaki               : (setelah Perempuan pergi, kepada penonton) Tak kuasa saya untuk menyampaikan semuanya kepada dia, maka sisanya dalam jumlah lebih banyak, saya simpan jauh-jauh di dalam hati, tak akan saya katakan padanya. Kasihan, hidupnya sudah terlalu berat. Sampai seumur ini belum juga bisa saya bahagiakan hidupnya. Andaikan dia itu tidak menjadi istriku, mungkin hidupnya tidak sesusah ini. Mungkin dia itu jadi istri seorang mentri, istri direktur perusahaan yang sukses, atau istri seorang pedagang yang kaya raya. Padahal, cita-citanya itu mulia sekali. Seringkali dia itu berangan-angan (menirukan suara dan cara bicara Perempuan) “kalau saya ini diberi kekayaan, tak akan saya biarkan orang-orang yang kesusahan itu. Kalau kaya, niscaya saya bisa berbuat lebih banyak lagi untuk membantu orang-orang.” (kembali ke dirinya) Kasihan sekali istri saya itu. Maka biarlah ia tak pernah tahu apapun yang terdapat di dalam hati dan pikiran saya ini. (Nyaris berbisik) Tahukah anda? Saya ini pernah tidak percaya lagi kepada doa, pernah pula tidak percaya lagi bahwa Tuhan itu ada. Jika Tuhan itu ada, benar-benar maha pengasih dan maha penyayang, tentu Dia tidak akan terus-menerus membiarkan orang-orang yang berhati baik dan terus-menerus berjuang seperti istriku itu terus-menerus pula hidupnya susah. Tuhan tentu akan memberikan penghidupan yang patut bagi orang seperti itu. Jika memang Tuhan itu ada dan lebih berpihak atau lebih mencintai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang; niscaya Ia tak akan membiarkan hal-hal yang berupa keburukan, ketidakadilan, dan kekejian terus-menerus berlangsung di muka bumi ini. Namun kenyataannya, keburukan selalu menjadi pemenang, Raja Lear yang penuh welas asih malah dibiarkan tercampak dan menjadi gila. (Menghela nafas dengan berat, dari jauh dan terdengar samar-samar sekali suara adzan boleh juga lonceng gereja atau tanda suara keagamaan lainnya) Tapi sudah lama saya menyerah… saya menyerah dan tidak lagi meniadakan Tuhan… Ketika Ia sudah ada, menyerah pula untuk tidak berseteru atau melawanNya. Pada akhirnya,  saya percaya Tuhan itu ada oleh alasan-alasan yang justru tidak bisa saya fahami. Berikutnya, saya fahami pula bahwa bumi atau dunia ini adalah tempatnya manusia, bukan tempat para dewa atau para malaikat, bumi ini bukan untuk diisi seluruhnya oleh para biksu… Ya, bumi ini sebagian besar untuk diisi oleh manusia yang sebagian dari dirinya adalah iblis dan sebagiannya lagi adalah malaikat. Sementara semakin hari, manusia menjadi semakin banyak yang lebih dekat kepada iblis… Jadi, bukan di sini tempatnya keadilan, kewelas-asihan, kemuliaan hidup… bukan di sini… (Perempuan terlihat masuk, Lelaki menghentikan kata-katanya lantas menyelinap ke luar pentas).    

 

Perempuan masuk, tampak di tangannya membawa setumpuk kain dan sebuah topeng di atasnya. Sementara sebelah tangannya lagi menggusur sebuah cangkul. Sejenak kelihatan ia mencari-cari Lelaki. Suara adzan di bagian penghujung terdengar lebih jelas lagi. Dengan penuh seksama Perempuan meletakan tumpukan kain, topeng, dan cangkul di tengah pentas. Setelah agak lama seperti tafakur, Perempuan membeberkan kain dan kemudian mengenakan busana pada tubuhnya. Ia pun kemudian berhias seperti halnya seorang penari menjelang pentas.    

    

Perempuan        : (Sambil berhias) ke mana dia? (Ke arah penonton) Apakah dia pun akan membuat kejutan seperti aku, sehingga tak bilang apa-apa dulu dan langsung menghilang? Ini tidak biasanya, meski pergi ke tetangga pun biasanya dia bilang dulu. Ah, biarlah, ini sudah waktunya dan tak bisa mundur lagi. Nanti juga mesti dia datang…

 

Perempuan melanjutkan berhias dan kemudian mematut-patutkan busana tarinya. Setelah itu semua berlangsung, Perempuan mencoba mencari-cari lagi Lelaki dengan tanpa beranjak dari tempat ia berhias.

 

Perempuan        : (Dengan suara bergetar) Purnama hampir tiba. Sayang sekali kalau dia tidak ada, padahal saya akan membawakan tarian terakhir yang semata-mata untuknya. Bukan untuk siapa-siapa, bahkan bukan pula untuk diriku. Semata-mata untuknya. Sebentar lagi purnama terbit, tepat seperti waktu yang sama ketika pertama bertemu dengannya tiga puluh tahun yang lalu…. Saat itu pun sedang purnama Kamis, bulan ke tujuh….

 

Kemudian Perempuan pun ancang-ancang untuk kemudian membawakan sebuah nomor tari topeng. Pada beberapa pengadegan setelah perempuan itu menari dengan mengenakan topeng, ia menjumput cangkul dan menjadikannya sebagai propreti tari tanpa mengubah pola tari topengnya. Tarian yang berlangsung tanpa musik dan tanpa bebunyian kecuali tembang yang digumamkan langsung oleh Perempuan. Sungguh mencekam karena dibawakan dengan kesungguhan yang luar biasa.

 

Perempuan        : (menggumamkan tembang)

                           Purnama bulan ke tujuh
                    Angin barat, timur, utara, selatan
                    Bersatulah dalam diri untuk menyapa semesta
                    Kenanga di puncak wilis
                    Melati di puncak galunggung
                    Bertemu harum mawar di astana gede

                           Barat tetap dengan baratnya
                           Timur senantiasa timur
                           Utara dan selatan tak mengubah diri
                           Karena itu maka ada pertemuan
                           Jumpa satu dengan lainnya yang berbeda
                           Wangi kenanga pun tak berganti melati
                           Tak berebut udara dengan mawar

                            

                           Purnama bulan ke tujuh
                           Kakiku telanjang menapak bumi
                           Tak beralas tidak juga tilam
                           Dinginnya tanah coklat
                           Gelitik kerikil di telapak kaki
                           Sapaan semesta sang pemberi hidup

                           Wahai purnama
                           Wahai pemilik semesta alam
                           Darimu aku bermula
                           Ke sana pula aku berpulang

                           Di atas kaki telanjang
                           Ini aku bersaksi
                           Tubuh ini tak punya daya apapun
                           Selain atas ruh dan tenaga kesemestaanmu
                           Beri tubuh ini kekuatan untuk berdiri
                           Beri tubuh ini kekuatan untuk bergerak

                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Untuk bersatu denganmu
                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Untuk semata-mata menghamba padamu
                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Agar tetap bisa merasakan nadi
                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Untuk merasakan bahwa punya nafas
                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Hingga pori terbuka
                           Memberi jalan bagi keringat
                           Bergerak
                           Bergerak, dan terus bergerak
                           Hingga tak lagi memiliki gerak
                           Luruh, sujud, di atas tanah coklat yang telanjang        

 

Di tengah tarian berlangsung, tiba-tiba terdengar gemuruh kaki yang berkejar-kejaran. Tampak di layar belakang silhouete seseorang yang dikejar serombongan orang lain. Berikutnya terdengar pula teriakan-teriakan. Yang menari tetap khusuk tak terganggu. Sesekali kelebat silhouete pun muncul kembali. Tarian “hening” terus berlanjut di tengah kegaduhan itu.

   

Seseorang        : (Di belakang layar) Belok kiri, sebagian hadang di jalan sebelah kiri....

Seseorang        : Ini goloknya dibuang, ini ketemu..

Seseorang        : Ambil untuk barang bukti.

Lelaki               : (Dengan suara mengerang di luar panggung) Aku hanya ingin hidup. Beri aku kesempatan untuk menjadi manusia….!

Seseorang        : Tuh suaranya, ke arah perumahan sebelah.

 

Pada layar tampak silhouete seseorang full screen dengan pakaian polisi  mengacungkan pistol ke udara, disusul dengan letusan tembakan peringatan. Segera tampak polisi itu lari meneruskan pengejaran. Yang menari tak terganggu.

 

Suara pada alat komunikasi polisi : Korban perampokan sudah dievakuasi ke rumah sakit, lukanya cukup parah. Lanjutkan pengejaran.

Suara pada alat komunikasi polisi : Siap laksanakan.

Seseorang        : Itu dia. Itu dia menyusur parit masuk ke kolong rumah yang melintas parit itu. Coba salah satu ke ujung rumah itu, cegat dia..

Seseorang        : Siapppp, kami berdua coba memutar ke ujung rumah itu. (Terdengar lagi suara tembakan peringatan)

 

Lelaki tiba-tiba muncul di pentas. Suara yang mengejar dengan derap kakinya terdengar di luar pentas.

 

Lelaki               : (Dengan suara tersengal-sengal. Yang menari tak terganggu, terus dengan tariannya) Lagi-lagi aku gagal, aku gagal, aku gagal. Bahkan sekali ini pun aku gagal. Padahal aku hanya ingin jadi manusia. Sekali ini saja aku mencoba menjadi manusia dan tidak menjadi biksu. Hanya sekali ini saja. Hanya sekali ini saja aku ingin membahagiakan istriku. Tapi juga gagal. Tuhannnnn....

Seseorang        : (Di luar pentas) Hoiii, itu dia ternyata lolos dari lolong parit itu. Itu dia, hei berhenti... (terdengar lagi suara tembakan peringatan. Lelaki sekilas menatap Perempuan yang sedang menari dan segera melanjutkan pelariannya) ternyata hanya seorangtua...

Lelaki               : (suara saja di luar panggung) Ya, inilah aku si tua renta yang tidak berguna, tidak pernah mampu menjadi apa-apa... bahkan sekali-kalinya ingin jadi manusia pun tidak bisa... Ayo kejarlah... dari waktu ke waktu aku memang terus berlari, dari waktu ke waktu kucoba mengejar hidup. Secepat itu aku lari, secepat itu pula kehidupan lari pergi. Kini rambutku sudah seluruhnya memutih, semakin kurang tenagaku untuk bisa menghentikan kehidupan agar aku bisa tenggelam di dalamnya, semakin tak mampu lagi mengejar dan menghentikan lari kencangnya. Maka, kini, hentikanlah aku... ya, hentikanlah aku, sudah lelah aku berlari, sudah lelah aku terus mencari, sudah lelah aku memanggul-panggul keinginan.... lihatlah, pundakku sampai melepuh dan menghitam. Bekerja, setelah itu bekerja, dan kemudian bekerja... itu selalu seiring bersamaku, maka jangan katakan aku pemalas yang kemudian jatuh miskin. Tidak. Bahkan kuhindari selalu bermelas-melas memohon belas kasihan orang-orang...

Seseorang        : (Di luar pentas) Hoiii, itu dengar malah pidato.

Seseorang        : Bukan pidato, itu orasi demonstrasi. Sudah jangan banyak cakap, kepung terus... Masa kalah dengan kakek-kakek...

Lelaki               : Jangan, saudara-saudara, jangan kalah dan jangan menyerah oleh kehidupan. Lawan terus sampai titik darah penghabisan... akan kubuktikan, aku akan terus melawannya, aku tidak akan pernah menyerah kecuali kalau ajal tiba.

Seseorang        : Wahhh pidato apa lagi...  (menembak) dor dor dor...

 

Sekali lagi tampak silhouete yang berkejar-kejaran, setelah itu suara derap kakinya menjauh. Perempuan mengakhiri tariannya. Kemudian, setelah melakukan tafakur penutup tarian, Perempuan itu dengan cangkulnya menggali lobang tanpa berkata-kata. Hening, kecuali suara cangkul. Adegan ini terus berjalan sampai lobang yang digali cukup dalam. Setelah itu, terdengar lagi suara tembakan. Perempuan memandangi dan melipat lagi kain-kainnya dengan amat sangat seksama. Kemudian Perempuan meletakan kain satu demi satu dan terakhir topengnya ke dalam lobang. Lobang itu pun ditimbun, ditaburi kembang yang ternyata sudah disiapkan. Sesaat ia melihat gundukan tanah yang mirip kuburan dengan penanda gagang cangkul. Perempuan dengan langkah berat, pergi ke luar pentas.

 

Lelaki               : (Masuk ke pentas dengan mendekap bagian punggungnya yang berdarah) Aku pulang. Aku pulang. Maafkanlah aku... (Roboh, tepat di samping gundukan tanah kuburan perlengkapan tari Perempuan)

 

Blackout. Selesai.

 

 

Cibolerang, 3 Desember 2007
Cibolerang, 21 Oktober 2008

*) naskah Tarian Terakhir ini akhirnya diserahkan secara pribadi kepada Yusef Muldiana, salah seorang aktor dan sutradara teater yang amat luar biasa, 22 Oktober 2008 di tengah situasi latihan drama Woyzeck produksi Teater Bel. Diberikan sebagai tanda hormat serta keharuan saya manakala melihat ke-aktor-an Yusef Muldiana yang begitu kuat, kesungguhan, serta kesetiaannya kepada teater. Intinya, saya merasa diberi kebahagiaan manakala menikmati ia berlatih peran Woyzeck dan saya tak memiliki apapun untuk berterimakasih atau mulang-tarima atas kenikmatan itu, kecuali menyerahkan naskah yang saya cintai ini.

   

Daftar Isi

Pengantar

Pengadilan Jawinul

Metateater: Dunia Tanpa Makna

Lipstik

Godot Telah Datang

Tarian Terakhir

“Berakhirnya Drama”
oleh Fathul A Husein

Berakhirnya Drama
 

Oleh: Fathul A. Husein

Eksistensi sastra drama (lakon) di Indonesia tidak begitu gempal. Salah-satu penyebabnya dimungkinkan oleh adanya semacam perlakuan dalam dunia sastra sendiri yang cenderung menganggap lakon sebagai “the other” dalam ranah sastra. Perbincangan tentang lakon cenderung ‘dibedakan’ dari perbincangan sastra itu sendiri. Sastra ya sastra, drama ya drama. Salah-kaprah lebih kentara manakala drama atau sastra lakon dikaitkan langsung dengan ranah teater. Padahal drama bertengger di wilayah seni sastra, sementara teater merupakan manifestasi seni pertunjukan. Keduanya berbeda ‘alam,’ kendati kerapkali peristiwa teater dibangun atas dasar sastra drama atau tampil sebagai peristiwa pemanggungan sebuah lakon. Selebihnya, teater melulu merupakan wadah yang juga menampilkan kandungan-kandungan yang bukan sastra drama atau tidak bertolak dari dramatic text seperti yang berlangsung pada teater-teater yang non-dramatik. Dalam tela’ah semiotik, hakikat teater hadir sebagai ranah performance text, terlepas dari apakah ia lahir dari interpretasi atas dramatic text atau tidak.

 

**

 

Konsekuensi yang mengemuka dari persoalan di atas jelas menimpa pembacaan sastra drama kita. Sastra drama kita hanya mungkin ‘dibaca,’ bahkan untuk sekadar diketahui, melulu manakala teks dramatik tersebut ditransformasi ke atas pentas (dipanggungkan). Kita tahu seorang pengarang menulis drama “A” lantaran drama itu kita tonton di atas pentas. Tanpa ada pementasan, langka sekali kita bisa menggamit pengetahuan bahwa sastra drama tersebut “ada.” Pola pemahaman lama masih sangat dominan, bahwa sastra drama adalah karya ‘setengah jadi’ yang menuntut perwujudan kongkretnya dalam sebuah pementasan. Siapa yang tahu kalau Yusef Muldiyana telah menulis puluhan lakon, bahkan konon berjumlah 90-an naskah, selain hanya beberapa buah lakon saja yang kita tahu karena Yusep sendiri telah mementaskannya. Bagaimana pula dengan nasib seabrek pengarang-pengarang lain yang terus bermunculan dari berbagai pelosok negeri, mereka yang sama sekali bahkan tidak pernah punya kesempatan mumpuni untuk bisa mementaskan lakon yang ditulisnya. Sangat memprihatinkan, dunia tidak pernah tahu eksistensi sang penulis maupun karya-karyanya. Langka sekali perbincangan-perbincangan sastra lakon di luar konteks sebuah pertunjukan. Sama langkanya dengan kemauan penerbit untuk mempublikasikan naskah-naskah drama sehingga karya-karya tersebut bisa dibaca dan diketahui umum di luar peristiwa pementasan. Dari minimnya apresiasi dan pengetahuan masyarakat terhadap sastra drama, bagaimana mungkin para pengarang drama bisa bermimpi mengharapkan durian jatuh berupa penghargaan-penghargaan sastra drama untuk mereka, kecuali hanya beberapa.

 

**

 

Maka sangat beruntunglah Herry Dim yang telah menemukan penerbit baik hati yang telah mau-maunya menerbitkan kumpulan lakonnya sehingga dapat hadir di depan pembaca budiman. Lima judul lakon dengan beragam pendekatan dan eksperimentasi yang berbeda, yang telah ia gubah dan ia tulis kembali dalam kondisi yang tidak mudah dan dalam rentang waktu yang relatif lama.

 

Herry Dim benar ketika membuat penjelasan kategori untuk kumpulannya ini: Antologi 3 Drama, 1 Libretto, I Metateater. Jika tidak, akan mengundang kesan problematis buat pembaca. Pengadilan Jawinul, Lipstik, dan Tarian Terakhir adalah bongkahan-bongkahan drama murni dengan pengujian dan eksperimentasi bentuk yang berbeda. Pengadilan Jawinul tampil sebagai komedi kritis yang menyembul dari endapan-endapan kelekatan Herry Dim saat bergumul langsung dengan estetika Suyatna Anirun (Studiklub Teater Bandung), terutama sejak paruh akhir tahun 1970-an. Refleksivitas komikal model Bertolt Brecht, Ben Jonson, atau pun Heinrich von Kleist pekat di sana. Lipstik merupakan pengujian dari prosedur imajinasi bisosiatif Herry Dim atas kredo The Invisible Theatre-nya Augusto Boal. Sedangkan Tarian Terakhir menggumpal sebagai bongkahan tragikomedi yang teramat pendek tapi pepal dan mengandung daya sergap luar biasa dalam menyeruakkan nasib kelam dan getir para seniman pertunjukan, yang dalam lakon ini diwakili oleh seniman tari topeng Cirebon. Dua yang lainnya adalah libretto (teks untuk drama musikal atau opera) bertajuk Godot Telah Datang, dan sebuah teater tanpa teks bertajuk Metateater: Dunia Tanpa Makna. Teater tanpa teks dalam antologi ini lebih merupakan pertanggungjawaban konseptual dari serangkaian pertunjukan improvisatoris dari kolaborasi seniman-seniman lintas bidang yang kala itu, di paruh akhir 1980-an, resah dan gelisah berat oleh pendekatan keamanan dan pola-pola represivitas rezim Orde Baru yang mematikan dan membumihanguskan kebebasan berpikir, berekspresi, dan berkreasi. Sedangkan Godot Telah Datang, pada level tertentu merupakan pembacaan tabrak Herry Dim atas teks Waiting for Godot-nya Samuel Beckett, tentu dengan penjungkiran persepsi dekonstruktifnya: Godot Beckett merupakan refleksi kritis-filosofis atas absurditas dan nihilitas berujud pupusnya pengharapan manusia dan kesia-siaan menyusul lenyapnya sandaran nilai terakhir/tertinggi (Tuhan). Godot Beckett konon merupakan seloroh filosofis atas sabda Friedrich Nietzsche “Tuan Telah Mati” (Godot=Gott ist tot). Pada libretto Herry Dim, Godot justru tampil sebagai sosok yang merepresentasikan kerinduan masyarakat tertindas atas pengharapan-pengharapan apokalipstik tentang akan datangnya “Juru Selamat,” “Ratu Adil,” ‘Imam Mahdi,” atau bahkan “Satrio Piningit.” Godot Herry Dim adalah titik nadir dari ambiguitas genealogi moral antara yang baik dan yang buruk. Itu makanya Godot Herry Dim yang Juru Selamat itu juga “dimatikan” di akhir cerita. Seperti Godot Nietzsche atau Beckett, ia dibunuh oleh praktik-praktik pengkhianatan dan kemaruk kemanusiaan yang ingin bebas menciptakan sandaran nilainya sendiri tanpa harus menyandarkan pada kekuatan apa pun di luar dirinya. Dan para pembunuhnya itu juga lantas menyebut dirinya Godot. Baik dan buruk menjadi bertumpuk dan paradoksal. “Setipis garis/Yang mampu kau lihat/Itulah batas antara/ Baik dan buruk,” cetus Sosok Hitam dalam libretto itu.   

 

***

 

Saat ini nasib sastra drama, juga pengarang drama, di seantero jagat memang menyedihkan. Terutama sejak spirit dekonstruksi postmodernisme mengumandangkan berbagai akhir (baca: “kematian”) dari berbagai bidang, dengan seluruh pemaknaan filosofisnya, sejak “The End of Philosophy,” “The End of History,” “The End of Art,” “The Death of the Author,” “The Death of Ideology,” “The End of Media,” hingga “The End of Humanism,” “The End of Character” atau bahkan “The End of Drama.” Istilah yang terakhir ini terkait langsung dengan gonjang-ganjing yang menggilas dan memporakporandakan struktur bangun dari eksistensi sastra drama, akibat dari gerakan pembongkaran teater postmodern, sebagai teater mutakhir/kontemporer, yang telah gilang-gemilang mengetepikan narasi-narasi tekstual dan logosentrisme (kebenaran tunggal).   

 

Seperti dikemukakan Stanley James Grenz (A Primer on Postmodernism, 1996)1, gerakan teater postmodern menyerukan agar terdapat kebebasan dalam penampilan. Penampilan tidak boleh diatur oleh otoritas apa pun. Naskah atau teks adalah otoritas yang menindas kebebasan. Mereka mengusung solusi baru dengan mengurangi naskah atau teks sehingga setiap penampilan menjadi spontan dan unik. Bahkan sutradara dianggap sebagai orang yang menindas kebebasan penampilan, sehingga mereka lebih menekankan improvisasi atau memakai sutradara lebih dari satu orang. Produksi teater bukan lagi produksi tunggal dan utuh dari seorang kreator. Mereka menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh Pencerahan.

Bisa dipahami karena postmodernisme sendiri memang mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme, seturut Grenz, telah menggantikan cita-cita Pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial yang melatarinya. Postmodernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu, kelanjutan dari modernisme yang sekaligus melampaui modernisme.

Maka karya-karya seni postmodern tampil sebagai ciri khas yang penuh makna ganda, ambigu, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi. Heterogenitas mutlak perlu demi pluralisme. Konsekuensinya, seperti diungkapkan Charles Jencks (What Is Post-Modernisme? - 1989), dalam mengolah seninya mereka kerap menggunakan salah-satu teknik campuran yang disebut collage yang menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan dan menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengarang/seniman tunggal. Teknik lainnya adalah bricolage, penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini. Panggung teater, seturut Jacques Derrida (Writing and Difference, 1978), tidak lagi menjadi tempat pengulangan suatu peristiwa atau suatu obyek, entah yang ada sekarang atau sebelumnya.

Karakteristik lakon teater postmodern sendiri berseberangan dengan mainstream lakon teater modern. Meringkas pemikiran Elinor Fuchs (The Death of Character, 1983), Dick Higgins (The New Humanism, 1979) dan Richard Schechner (The End of Humanism, 1979): Teater modern dicirikan oleh inti plot naratif yang jalin-menjalin secara logis, pola-pola berurutan seperti yang diperlihatkan oleh lakon-lakon Harold Pinter, Jean Paul Sartre, atau Edward Albee. Para aktor mengangkat peran-peran dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang berkisah tentang tragedi-tragedi kehidupan atau konflik-konflik eksistensial dan yang merentangkan tragedi atau komedi dalam bentangan garis linear dimulai dengan sebuah awalan dan berakhir dengan pungkasan adegan lakon. Sedangkan sasaran lakon teater postmodern adalah untuk mengubah cara-cara yang ada dalam hal mencerap dunia dan diri manusia. Lakon-lakon postmodern lebih digunakan sebagai peristiwa atau proses dalam hal mana penonton/benda-benda/obyek-obyek/ruang-ruang saling berinteraksi secara mental. Fokus utamanya adalah kesadaran atas pengalaman emosional, kritik politik, atau sekedar hiburan bersahaja. Intensi teater postmodern adalah mendekonstruksi realitas, bukan untuk menafsirkan atau menemukan kontak ‘otentik’ dengan penonton. Bahkan serpihan-serpihan pemikiran sang protagonis (tokoh utama), dalam teater postmodern, lebih untuk mencapai level setara dari dataran realitas dan menyuguhkan peran-peran separatis dari orang-orang yang menderita kekacauan kepribadian (personality disorder), atau orang yang mengalami disosiasi atau halusinasi, atau orang yang berada dalam pengujian psikoanalisis dengan dorongan-dorongan bawah-sadar yang menggilas habis kesadarannya. Sam Shepard (Myths, Dreams, Realities, 1984) mengungkap tokoh-tokoh dalam lakon teater postmodern memperlihatkan kisah-kisah yang tak selesai, bersifat khayal, mengundang kembali ingatan-ingatan pengalaman melalui sejenis visi tertentu. Mereka senantiasa retak, patah, terpecah, dan berantakan.

Seturut Higgins, pertimbangan pikiran dalam teater postmodern kerap hanya digunakan untuk teknik-teknik fragmentasi tertentu, lebih untuk mencari identitas yang lebih besar atau lebih luas, dan bukan untuk memecah atau memenggal personalitas (kepribadian). Seniman-seniman teater postmodern sebagai orang-orang dengan post-kognitif mutakhir, tidak perlu lagi banyak bertanya untuk melebur ke dalam multi-identitas sebagai seseorang yang polyvalent (orang dengan valensi banyak seperti vaksin yang bisa mengobati berbagai macam penyakit). Seseorang menemukan keluasan identitas dirinya dengan melakukan hal-hal yang beragam. Mereka berasumsi bahwa sebongkah jatidiri yang lebih besar --dalam hal keluasan skup dan kapabilitasnya-- secara kualitatif “lebih baik” ketimbang jatidiri yang tunggal. Sementara bagi Schechner, destruksi atau fragmentasi dari representasi diri merupakan aspek kunci dari teater postmodern. Dengan begitu, aspek narcisistik dari teater postmodern merupakan aspek narcisisme yang bukan bermakna egosentris, melainkan sebuah konsepsi untuk “aku” melihat dirinya sendiri yang terlibat penuh dalam refleksi atau kembarannya satu sama lain sebagai cerminan pengalaman postmodern. Untuk menyadari mutualitas dari kembaran antara dua diri tersebut, itulah makna dari “refleksivitas sebagai postmodernitas”. Dan bagi Schechner hal itu berbeda dengan sekedar upaya untuk melihat “aku” sebagai pusat dunia yang merupakan cerminan perasaan modern.

Raymond Saner (Postmodern Theatre: A Manifestation of Chaos Theory, 2001), menganggap teater postmodern sebagai bentara tentang peruntuhan besar dari seni antroposentrik menjadi bentuk baru seni trans-personal atau ritual pertunjukan post-kognitif di mana akal budi dan logika sehari-hari telah diperluas. Narasi normal teater modern telah dipecah ke dalam gugus gagasan, pencitraan-pencitraan, dan fragmen-fragmen dekonstruktif. Pertunjukannya senantiasa berubah dari satu pertunjukan ke pertunjukan yang lainnya. Tidak ada minat untuk mengulang lakon ke atas pentas secara konsisten dan metodologis seperti yang diajarkan oleh sekolah-sekolah teater modern Stanislavsky, Grotowski, atau Lee Strassberg. Peristiwa atau pertunjukan teater postmodern dipakai untuk menciptakan Gestalt baru yang dibuat dari perpaduan total seluruh ‘hal’ yang ada dan bergerak di atas pentas, pada satu sisi, dan pada sisi lain pikiran penonton yang secara selektif terseret ke dalam kepingan-kepingan informasi yang berbeda dan yang penonton inginkan. Teater postmodern adalah dunia intertekstualitas yang melebihi dunia dramatik yang senantiasa menjadi titik perhatian utama sang penulis (kreator tunggal).

Fuchs justru menilai daya kejut dan daya ganggu teater postmodern justru terletak pada pertunjukan yang tanpa narasi dan tanpa karakter (tokoh cerita). Sederetan tokoh cerita meletus dalam hentakan fragmen-fragmen skizoprenik. Cerita terputus di tengan kalimat. Tidak ada narasi yang selesai.

Dengan kata lain, teater postmodern beralih dari konstruksi modernis tentang individu sebagai subyek dan menempatkan kembali subyek atau individu dalam proses signifikasi yang tanpa akhir. Individu berada dalam persimpangan beragam aktivitas dan narasi yang berkompetisi untuk saling memperlihatkan diri. Individu adalah garis vektor dari aktivitas penandaan semiotik, pencetus makna dalam narasi sistem penandaan yang lebih besar. Teater postmodern tidak kenal kompromi. Lumrahnya mereka tampil tanpa kisah-kisah naratif, tanpa karakter-karakter psikologis yang bersifat personal, tanpa konteks historis lakon, dan tanpa garis kronologis dalam bingkai penceritaan, karena yang ada hanyalah penggalan-penggalan atau kepingan-kepingan.

Pikiran penonton diangkat untuk memaknai sendiri kepingan-kepingan informasi, impresi-impresi, suara-suara, aroma, cita rasa, dll. Partisipasi penonton mutlak diperlukan, sedangkan pemahaman atau pencerapan yang hanya mungkin diperoleh secara berangsur-angsur (osmosis) seperti dalam lakon-lakon ready made play adalah tidak mungkin. Apa yang mungkin malah dekonstruksi dan rekonstruksi dari potongan-potongan informasi yang tersedia.

 

***

 

“Berakhirnya drama” juga terjadi lantaran pendekatan-pendekatan kontemporer terhadap teater. Baik praktisi maupun teoritisi, telah banyak beralih dari pendekatan-pendekatan tradisional yang lumrahnya memperlakukan teks tertulis (sastra lakon) melalui penyelenggaraan hak-hak istimewa dalam kerja transformasi untuk mengubahnya menjadi teks pertunjukan. Pendekatan-pendekatan kontemporer cenderung ingin membebaskan pertunjukan dari relasi-relasi ketergantungan terhadap teks. Pada level yang paling bersahaja, para sutradara teater beserta timnya kerap mengambil jalan pemerdekaan diri dari dramatic text tanpa rasa sungkan untuk mengetepikan intensi-intensi pengarang. Alasan-alasan yang penting saat mereka mencipta teks-teks baru melalui kerja penyuntingan terhadap teks-teks aslinya, biasanya bukan melulu karena teks-teks tersebut terlalu panjang (untuk dimainkan), tetapi lebih karena ingin membuatnya kontemporer, atau ingin mengkontemporerkan teks-teks itu.

Otoritas pengarang sebagai sumber atau penyimpan makna asal, telah banyak diruntuhkan. “Pengarang telah mati,” kata kaum post-strukturalis. Bahkan lakon-lakon kontemporer cenderung merengkuh teater bukan sebagai medium yang melalui teks-teks tersebut ingin memunculkan ekspresi-ekspresi yang akurat. Teks-teks itu hanya merupakan gumpalan-gumpalan yang melaluinya karya-karya teater mereka bisa diciptakan. Mereka tentu meyakini sepenuh hati bahwa latihan-latihan adalah hal yang sangat vital dalam proses kreatifnya di mana teks-teks tersebut bisa terus mereka kembangkan dengan leluasa dan terbuka. Bahkan peristiwa proses itu sendiri adalah kesejatian dari teater yang memungkinkan segala perubahan, perbaikan, penafsiran-penafsiran terus-menerus, sepanjang latihan-latihan dan pada malam-malam pertunjukan. Itulah “teks” yang sesungguhnya, yang akan memberi kontribusi besar terhadap penciptaan teks pertunjukan (performance text). Apa yang dilihat penonton dari sebuah pertunjukan adalah “teks” yang lain, yang semestinya mampu memperkaya beragam makna yang diturunkan dari teks dramatik. Apa yang dilihat penonton pada malam perdana pertunjukan sesungguhnya adalah akhir dari rangkaian proses produksi sebagai substansi teater. Orang akan sangat terlambat untuk bisa mengamati kerja sutradara beserta timnya hanya dengan menonton mereka di malam perdana, atau pada malam-malam berikutnya, tanpa mengamati prosesnya.

Konsekuensinya, teks-teks kontemporer menuntut kolaborasi penuh antara sutradara dengan aktor dan desainer, terutama untuk merevisi dan mempreteli teks-teks tersebut untuk dieksplorasi sesuai kebutuhan-kebutuhan artistik mereka. Dengan kata lain, teater-teater kontemporer cenderung menebar kritisisme hebat terhadap proses produksi dengan meminggirkan sepenuhnya ‘orisinalitas’ teks-teks tertulis (sastra lakon). Tak pelak, relasi intertekstual antara teks tertulis dengan teks pertunjukan dihadapi dalam kerangka problematis, tidak mulus. (Terutama menyangkut transformasi yang menggunakan teks-teks dramatik konvensional).

Teori-teori mutakhir tentang teks sebagai produk budaya --yang telah memberi kontribusi terhadap perdebatan pelik antara seni tinggi dan seni rendahan, misalnya-- juga telah menggulirkan perdebatan yang lantas menggiring upaya-upaya untuk mempertimbangkan secara kritis apa yang disebut teks-teks non-literal (tidak sastrawi), dari peristiwa iklan hingga olah-raga, dari ranah sosial hingga politik, untuk ditelisik secara literal. Dampak dari teori-teori tersebut tentu sudah terasa juga dalam lapangan teater. Teks-teks “tak resmi” (tidak tertulis), teks-teks non-verbal, peristiwa-peristiwa dan tontonan-tontonan yang terjadi dalam kehidupan keseharian --jadi bukan hanya peristiwa-peristiwa teaterikal-- kini tercakup ke dalam aspek-aspek pengkajian praktika budaya, karena di dalamnya tersimpan sikap-sikap dan asumsi-asumsi budaya.

Dalam sastra drama mutakhir, salah-satu problem penting adalah persoalan penulis lakon untuk mengklaim pesan-pesan personal dalam teks-teks miliknya tanpa harus mencuatkan pandangan bahwa di sana terdapat makna tunggal yang sangat menentukan dan oleh karenanya menjadi otoritas penulis lakon. Cara tempuh penulis lakon untuk membangun pengaruh langsung terhadap pengguna teks-nya tentu tidak semulus cara tempuh penulis novel, misalnya. Seringkali sebuah karakter atau tokoh-tokoh cerita dalam lakon direka secara subtil oleh pengarangnya untuk mengarahkan pikiran-pikiran penonton dan untuk mengundang penafsiran lakon melalui perspektif mereka. Di sana ada seabrek muslihat penulis lakon, karena bahasa drama bukan melulu verbal. Di atas panggung teks verbal hadir menyertai laku (action). Itulah salah-satu penyebab penting mengapa sastra drama lebih rumit diciptakan.

Kebanyakan penulis lakon menggunakan arahan-arahan pentas secara lebih mendetail dan luas, atau yang diistilahkan Martin Esslin (The Field of Drama, 1987) sebagai ‘nebentext’ --yang berbeda dengan ‘hauptext’ (teks untuk diucapkan)-- untuk memberi gambaran yang tepat bagaimana sebuah dialog mesti dimainkan atau bagaimana gerakan-gerakan tertentu harus diperagakan di atas panggung. Namun semua itu masih belum bisa menjamin absennya pertanyaan-pertanyaan yang memunculkan interpretasi subyektif atau pembacaan-pembacaan beragam rupa atas sebuah teks lakon. Penonton kerap merespon makna-makna telanjang dari sebuah teks tertulis yang dianggapnya bersifat terbuka dan memungkinkan beragam jenis pembacaan atau penafsiran. Problem demikian akan selalu muncul seperti arus deras manakala sekelompok aktor atau sebuah grup teater tengah memancang proses kreatif yang intinya tak lain dari kerja kolaborasi. Maklum, teater adalah seni ensemble yang melibatkan banyak unsur kreator.

Terkait problem demikian, “fungsi pengarang” (meminjam istilah Michel Foucault) yang berbeda dari “pikiran pengarang” sebagai pewacana asal, patut diperdebatkan kembali dalam bingkai wacana paradigmatik yang baru. Bahkan mesti dicarikan tempatnya yang baru untuk mendudukkan kepengarangan. Sebuah persoalan yang bahkan sangat berefek pada praktik-praktik penulisan, penerjemahan, dan bahkan penyaduran lakon.

Alhasil, inilah saatnya ranah sastra drama memperlihatkan belantara padang pasir yang tak bertuan. Tatkala dewa-dewa kepengarangan yang berwajah tunggal “telah mati,” dan mayat-mayatnya diawetkan di langit ke tujuh, maka dewa-dewa baru yang berwajah plural akan merangsek ke permukaan bumi dengan seribu nyawa yang lain: ‘hidup’ dan ‘mati’ terus-menerus! ***

 

Fathul A. Husein

Sutradara teater. Dosen Jurusan Teater STSI Bandung dan Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan.
 

ke halaman sebelumnya

kembali ke halaman muka

ke halaman berikutnya

 

Semoga berkenan pula jalan-jalan ke:

Herry Dim
in a serial work about children the world of hope and peace
(http://www.geocities.com/herry_dim/)

Herry Dim & Badingkut
(http://www.geocities.com/reruntuk/)

gambarmotekar
(http://www.geocities.com/gambarmotekar/)

 

Hosted by www.Geocities.ws

1