|

Godot Telah Datang
(Libretto
3 Babak 12 Adegan)
Dramatik
Personae:
Godot - asalnya seorang pedagang keliling.
Bedul - teman Godot yang kemudian
berbalik merebut kekuasaan Godot dan
menyerahkannya kepada Kejat.
Sumuh - teman Godot yang bimbang dan selalu
bertanya-tanya.
Kejat - yang tidak menjadi orang kebanyakan
tapi akhirnya menjadi kebanyakan dan menjadi
Godot pula.
Seseorang - yang terdiri dari beberapa
orang, laki-laki dan perempuan.
Yang Sakit - yang terdiri dari beberapa
orang, laki-laki dan perempuan.
Anak Bersenjata - dua anak laki-laki dan
perempuan.
Anak-anak - beberapa orang laki-laki dan
perempuan.
Yang Berkupaluk - teman-temannya Godot
terdiri dari beberapa orang laki-laki dan
perempuan.
Kelompok Kejat -
teman-temannya Kejat terdiri dari beberapa orang
laki-laki dan perempuan.
Paduan Suara
- yang terdiri dari beberapa orang, laki-laki
dan perempuan.

Babak 1
Adegan 1
Hymne “Taklah Genap Jua”
Pentas
lengang. Begitu lampu padam tanda pertunjukan
dimulai, jika memungkinkan, di pentas hingga ke
auditorium tempat penonton dipenuhi oleh kerlip
kunang-kunang. Tak ada suara apapun, senyap,
dibiarkan beberapa saat. Pun ketika paduan suara
mulai melantunkan nyanyian pembukaannya, lampu
tak segera menjadi terang. Beberapa saat hanya
terdengar suara nyanyian saja, setelah beberapa
saat barulah cahaya sedikit demi sedikit
menyinari kelompok paduan suara.
Itu pun
tak sampai sepenuhnya terang.
Paduan Suara 1 : (akapela)
Sembilan nyawa
hilang
Melanjutkan riwayat
kesia-siaan
Jasad-jasadnya bungkam
Memendam ketidakmengertian
Jasad-jasadnya bungkam
Menelan ketidaktahuan
Sembilan nyawa hilang
Jadi korban kala siang
menjelang
Pagi, bersama untaian
senyum
Sang bapak masih sempat
menebar harapan
Pagi, bersama untaian
senyum
Sang ibu
menebar kasih dalam pelukan
Pagi,
bersama untaian senyum
Sang kakak
janji kan berkirim kabar
Kabar…. O,
kabar
O, kabar
duka yang kemudian tersebar
Kabar…. O,
kabar
O, satu
dentuman menggenapkan seribu luka
Kabar…. O,
kabar
Kala siang
menjelang,
Kemanakah
sang bapak membawa harapan
Kala siang
menjelang,
Pelukan
ibu menjadi kehangatan terakhir, bu…
Kala siang
menjelang,
Kabar…. O,
kabar,
Mengapa
kabar itu yang kakak pilih
Kabar…. O,
kabar….
Darah
kembali tercecer
Kematian
dan jerit kesakitan
Taklah
genap jua
Paduan Suara 2 :
(akapela)
Sepuluh tak berbilang
Susah pangan jadi riwayat di selatan
Tanah-tanah retak
Panas cuaca tak terperikan
Tanah-tanah retak
Belalang
tak lagi berkawan
Sepuluh
tak berbilang
Derita
lapar datang menjelang
Pagi,
kehilangan untai senyum
Sang bapak
tak bisa lagi menebar harapan
Siang,
kehilangan untai senyum
Sang ibu
menekuk lutut dalam pelukan
Malam,
kehilangan untai senyum
Sang kakak
pergi tak berkirim kabar
Kabar…. O,
kabar
O, kabar
duka yang kemudian tersebar
Kabar…. O,
kabar
O, kakak
jadi babu di negara orang
Kabar…. O,
kabar
O, kakak
yang diperkosa genapkan seribu luka
Kabar…. O,
kabar
Wabah
malah yang datang,
Penyakit yang entah terus bertebar
Wabah malah yang datang,
Manusia, ayam, sapi,
kambing, bahkan burung, oh…
Kabar…. O,
kabar,
Wabah
malah yang datang,
Kabar…. O,
kabar,
Alam telah
murka, murka, o, murka
Kabar…. O,
kabar….
Dari zaman
ke zaman
Kematian
dan jerit kesakitan
Taklah
genap jua
Paduan Suara 1 & 2:
(akapela)
Sembilan nyawa tak
menggenapkan yang tiga ratus
Tiga ratus
tak menggenapkan ratus ke tujuh
Ribu
bahkan menjadi tak berbilang
Juta
akhirnya hanya jadi bahan berita
Semuanya
berpindah jadi angka-angka
Bumi pun
meradang kesakitan penuh luka
Bunuh,
bunuh, bunuh, bunuh…
Riwayat
pembunuhan menjelma sederet angka
O,
Lihat pula di sana wabah
menyebar
Bergeser
pandang tampak bah yang amuk
Gunung di
utara tampak geram
Jauh ke
timur tanah kerontang
Barisan
babu kian memanjang di negeri orang
Berbaris
pula kala pulang dengan luka diperkosa majikan
Ada
pula yang termangu nanar sinar lampu neon
O,
Inilah kala penyairnya tak
lagi jadi penunjuk jalan
Satu, dua, dan sembilan
agamawannya mabuk kekuasaan
Ini kala negeri diurus
laiknya permainan
Rakyatnya hanya dihitung
sebagai bilangan
Satu, dua, dan sembilan
rakyatnya pun kehilangan ingatan.
Bait terakhir paduan suara 1 & 2 diulang-ulang
sambil mereka fade-out keluar pentas.
Pada peralihan adegan ini, Godot, Sumuh, Bedul,
dan orang kebanyakan masuk. Godot dibantu Sumuh
dan Bedul menata barang dagangannya.
Tak lama kemudian di pentas tampak seperti
kaki-lima atau situasi pedagang obat jalanan.
Sumuh dan Bedul bergabung dengan sejumlah
orang-orang yang mengelilingi Godot.

Adegan 2
Sang Pedagang Keliling
Godot : Wahai dunia,
Wahai
saudara-saudaraku
Unjuk kenal, namaku Godot
Godot si
tukang keliling
Saudara-saudaraku,
Kala angin Timur kubersama
terbitnya matahari
Kala angin Barat ke tempat
senjakala pula kumelangkah
Ke utara aku berguru ilmu
Di selatan kepada leluhur
aku belajar
Meraih kepandaian adalah
jalan hidupku
Sesekali suka juga
sampaikan ajaran
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya barang
yang kubawa
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya adalah
barang bermutu tinggi
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya barang
yang kubawa
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya harganya
amat pasti terjangkau
Sebagai pembuka
kuperkenalkan:
Kaos kaki untuk pelindung
kaki agar tak lecet
Cemerlang warna-warni
semuanya
Jangan ragu sesuaikan
dengan pilihan anda
Seseorang : (diucapkan
tapi tetap pada ikatan tempo dan irama musikal,
demikian seterusnya) Bolehkah saya
sesuaikan dengan warna partai pilihan saya?
Godot : Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya itu hak
anda, yes yes
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya terserah
anda memilih warna
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya
terserah pula untuk penyesuaiannya
Seseorang : Kalau saya sih lebih suka
warna favorit pacar saya, ada warna pink?
Godot : Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya warna
pink pun ada
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya sayangnya
sudah terjual habis
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya warna
pink atau hijau sama saja
Kejat : Ah, abang ini, tentu
lain dong! Lain warna lain maknanya, lain warna
lain kegunaannya. Lain warna lain pula orangnya.
Buktinya yang satu suka kuning dan lainnya bisa
lebih suka biru, tapi ada juga yang lebih suka
belang-belang.
Godot : Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya sama toh
kaos kaki juga
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya adalah
sama pembungkus kaki jua
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya warna
apapun juga
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya
harganya amat pasti terjangkau
Bedul : Wah, sungguh anda ini
jujur sekali. Belum pernah saya temukan pedagang
sejujur ini, menempatkan kedudukan pada fungsi
yang sebenarnya. Kaos kaki tetaplah ditempatkan
sebagai pembungkus kaki… terpujilah engkau,
Bang… siapa tadi? Oh, Bang Godot, ya!
Sumuh : Makanya jangan suka
curiga dulu, inilah kenyataan bahwa tidak semua
pedagang itu tidak jujur. Abang
ini buktinya… Ia berdagang dan berkata-kata apa
adanya…
Seseorang : Kalau begitu soal mutu itu
tadi mestinya bener juga, ya?
Mestinya Abang ini tidaklah bohong?
Kejat :
Belum tentu, semuanya harus dibuktikan dulu
lewat waktu.
Godot :
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya barang yang kubawa
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya adalah
barang bermutu tinggi
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya barang
yang kubawa
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya
harganya amat pasti terjangkau
(Nyanyian ini terus-menerus diulang-ulang sambil
meladeni para
pembeli. Godot tampak sibuk melayani, menerima
pembayaran atau
menyerahkan uang kembalian)
Bedul : (memulai
belanja kemudian diikuti yang lainnya.
Situasi berikutnya kelihatan sibuk sekali.
Dialog-dialognya pun bisa dikembangkan sesuai
dengan kesibukan ini)
Tuh, betul kan? Kalau begitu aku beli satu,
warna hitam saja agar tak cepat kotor. Harganya
berapa sepasang, bang?
Godot :
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya cukup lima ribu saja.
Seseorang : Lima ribu, ya, aku pun
satu warna kuning.
Sumuh : Saya minta yang
belang-belang saja, kelihatannya cocok untuk
main sepakbola.
Seseorang : Saya satu yang itu, tuuu…
yang ituuu… Ini uangnya, bang!
Seseorang : Eh, jangan itu sudah
pilihan saya…
Seseorang : Saya dulu bang… saya sudah
dari tadi menandai yang warna merah itu…
Seseorang : Nggak bisa, saya sejak
abang ini pidato sudah nandai yang itu…
(di tengah kesibukan ini, tampak Kejat ngeloyor
pergi dengan pandangan sinis sekaligus prihatin)
Seseorang : Eh, saya di sebelah sini
minta warna biru…
Bedul : Ya, saudara-saudara
kelihatannya kita harus sigap… lama baru kita
bisa ketemu lagi dengan abang yang jujur ini…
Jangan sia-siakan.
Seseorang : Saya sekalian dua pasang
saja, anak saya mestinya suka juga…
Sumuh : Suksesssss…
Seseorang : Saya satu…
Seseorang : Saya satu…
Seseorang : Saya satu…, dst.
Setelah semua terlayani, satu demi satu dari
Seseorang keluar pentas sambil mengamat-amati
kaos kaki yang dibelinya. Kini tinggal Godot,
Sumuh dan Bedul. Mereka membereskan sisa barang
dan kemudian bersama-sama ke salah satu pojok.
Di pojok itu Godot menghitung-hitung
penghasilannya barusan.
Mereka terlibat pembicaraan, tampak pula Godot
membuka sebuah bungkusan yang berisi bekal
makanan mereka. Obrolan terus berlangsung sambil
makan dan minum. Saat itu, pentas bermetamorfosa
beralih ke gambaran suasana yang aneh,
introduksi musik untuk Sosok Hitam sudah
terdengar. Muncul Sosok Hitam dengan tampilan
kostum dan topeng yang fantastik.
Godot, Sumuh dan Bedul masih terus ngobrol
sambil makan di bagian pojok pentas.

Adegan 3
Setipis Garis
Sosok Hitam : Setipis garis
Yang mampu kau lihat
Itulah batas antara
Baik
dan buruk
Maka
manusia
Bisa
terkecoh
Silau penglihatannya
Buta pandangannya
Inilah kesempatan
Bagi kita untuk
menggoda
Mengajaknya jadi
sekutu
Mendiami kegelapan
Biarlah matanya
terpejam
O, maka gelaplah
Garis pun menghilang
Ooo……..
Jadilah kau sekutuku
Ooo……..
(break
atau musik improvisasi, rombongan Sosok Hitam
dengan kostum dan topeng yang sama masuk
membawakan tarian sampai bagian break ini
habis mereka keluar lagi tinggal Sosok Hitam
yang satu.
Berikutnya masuk Sosok putih, juga dengan kostum
dan topeng yang fantastik, Sosok Hitam diam di
tempat)
Sosok Putih : Setipis garis
Yang mampu kau lihat
Itulah
batas antara
Baik dan
buruk
Maka manusia
Bisa terkecoh
Silau penglihatannya
Buta pandangannya
Inilah tugasku
Agar manusia terjaga
Tak juga
terjerumus
Mendiami
kegelapan
Kujaga
matanya terbuka
O, awas penglihatannya
Garis pun terang
Ooo……..
Jadilah ia sekutuku
Ooo……..
Mereka, Sosok Hitam dan Sosok Putih, menghampiri
Godot, Sumuh dan Bedul. Tanpa sepengetahuan
mereka bertiga, Sosok Hitam dan Sosok Putih
berdiri tepat di belakangnya.
Godot :
Syukur, saudara syukur…
Sesyukur-syukurnya kita masih bisa makan
Syukur,
saudara syukur…
Sesyukur-syukurnya kita semua bebas dari lapar
Syukur, saudara syukur…
Sesyukur-syukurnya barang yang kita bawa
Syukur, saudara syukur…
Sesyukur-syukurnya
terjuallah dengan pantas harga
………….
Bagaimana kawan-kawan,
cukup memuaskan bukan hasil hari ini?
Sumuh : Ooo, huahem…
Aku Sumuh teman dan juga
pengikut setia
Tentu, abangku tentu…
Ke mana pun abang pergi ke
sana pula aku serta
Ooo, huahem…
Aku Sumuh teman dan juga
pengikut setia
Tentu, abangku tentu…
Kalau tak begini entah
bagaimana aku hidup
Ooo, huahem…
Aku Sumuh teman dan juga
pengikut setia
Godot : (tampak
memberikan beberapa lembar uang kepada Sumuh.
Setelah menerima, Sumuh tampak
menghitung-hitungnya dengan gembira)
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya aku
senantiasa bertanya-tanya
Jujur, saudara jujur…
Sejujur-jujurnya apakah
hidup begini selamanya
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya apa yang
kita bawa
Jujur, saudara
jujur…
Sejujur-jujurnya
semakin terasa bebannya
(tampak
memberikan beberapa lembar uang kepada Bedul.
Setelah menerima, Bedul tampak
menghitung-hitungnya dengan gembira)
Bedul :
Ooo, sahabatku…
Aku Bedul
yang bersahabat sejak dulu kala
Tentu, sahabatku tentu…
Sesungguhnyalah semua
harus berubah
Hanya batu yang tak
berubah
Berabad zaman tetaplah
batu
Ia dalam diam ia dalam
sepi
Ia ada tapi tak ada
Kita ini manusia dan bukan
batu
Berabad zaman dalam
perubahan
Ia tak diam ia berkelompok
Ia ada
dengan pikirannya
Berfikir
dan berfikirlah
Fikiran
yang mengubah diri kita
Berfikir
dan berfikirlah
Itulah
kita manusia
(tiba
pada bagian ini tampak Sosok hitam bereaksi
bermaksud mempengaruhi, tampak pula Sosok putih
berusaha menghalangi)
Ooo, sahabatku…
Kulihat selingkaran cahaya
di kepala
Ooo, sahabatku…
Kulihat engkau esok akan
jadi utama
Tentu,
sahabatku tentu…
Raihlah
kesempatan sebelum menghilang
Ooo,
sahabatku…
Aku Bedul pendamping sang
pemimpin.
Godot : Pemimpin?
Bedul : Betul, kulihat
sahabatku ini besok akan jadi pemimpin.
Godot :
Heh, mimpi apa kamu ini. Mana
mungkin pedagang keliling jadi pemimpin. Mimpin
apa? Kalau mimpin jajaran kaos-kaki yang
bergelantungan memang iya karena itulah
pekerjaan kita…
Bedul :
(tampak
sambil dibisiki oleh Sosok Hitam meski Bedulnya
sendiri tak menyadari)
Ooo, sahabatku…
Sia-sialah bersahabat
dengan Bedul
Kalau, sahabatku kalau…
Bedul tak mampu memoles
bakat terpendam
Ooo, sahabatku…
Aku melihat kesempatan itu
dekatlah sangat
Tentu, sahabatku tentu…
Kala ia datang menghampiri
Ooo, sahabatku…
Biarlah Bedul mengatur
segalanya
Sumuh : (tampak
sambil dibisiki oleh Sosok Putih meski Sumuhnya
sendiri tak menyadari) Kau ini
sebetulnya menyembunyikan rencana apa? Sudahlah
jangan mengharap durian jatuh, jual kaos-kaki
pun sudahlah cukup. Mengharap yang jauh malah
belum tentu, lagian kalau kita tidak siap malah
durian itu bisa menimpa di kepala.
Bedul : Ooo, sahabatku…
Pantaslah kau selalu jalan
di tempat
Tidak,
sahabatku tidak…
Hidup ini
harus terus dikejar dan ditangkap
Ooo,
sahabatku…
Aku
melihat kesempatan itu dekatlah sangat
Ya,
sahabatku ya…
Kala ia
datang menghampiri
Ooo,
sahabatku…
Biarlah
Bedul mengatur siasat
Tiba-tiba salah seorang dari Seseorang tadi
tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
Terengah-engah ia minta belas kasihan. Pada saat
Seseorang ini mulai berkata, tampak Sosok Hitam
membisiki Bedul dan Bedul membisiki Godot,
sementara Sosok Putih berusaha menarik tubuh
Sosok hitam)
Seseorang :
Bang, maafkan saya, bang… Sungguh tadi itu…
di luar perhitungan.
Bedul :
(berbisik
kepada Godot) Inilah dia kesempatan
itu!
Seseorang :
Tadi itu saya betul-betul terpesona oleh
abang hingga lupa bahwa anak-istri
saya itu semuanya dalam keadaan sakit. Uang
sedikit yang dibelikan kaos-kaki itu
sesungguhnya untuk membeli sedikit obat…
Bedul : (berbisik)
Itulah yang saya maksud bakat dalam diri
sahabatku ini! Dengan kata-katanya bisa membuat
orang lain lupa diri.
Seseorang : Oleh karena itu, maaf,
sekali lagi maaf, Bang… saya bermaksud
mengembalikan dua pasang kaos-kaki ini… Bisa kan
bang?
Godot : (setelah
sebelumnya dibisiki Bedul, menjawab dengan
memperlihatkan perilaku penuh belas-kasih)
O, saudara oh…
Sebesar-besarnya kasih
deritamu deritaku jua
O, saudara oh…
Sebesar-besarnya kasih tak
ada kebimbangan
O, saudara oh…
Sebesar-besarnya kasih
bawa sini itu kaos-kaki
O, saudara oh…
Sebesar-besarnya
kasih kukembalikan uang ini
Godot : Godot!
Seseorang : O, abangku Godot…
senyata-nyata abang ini orang yang penuh belas
kasih… terimakasih Bang Godot…
Bedul : Tidak itu saja, abang
kita ini bahkan bisa menolong orang… Doa-doanya
sungguh sejuk dan mujarab. Tadi saya dengar
saudara ini sedang dirundung malang, anak-istri
saudara dalam keadaan sakit? Percayakanlah itu
kepada Bang Godot.
Seseorang : Sudah kuduga… sejak
pertama berjumpa pun terasa Bang Godot ini
mestinya bukanlah orang biasa…
Abang kiranya dikirim dari langit untuk tiba di
kampung ini.
Bedul : Setipis garis
Yang tak kau lihat
Inilah orang sempurna
Baik dan bijak
Maka manusia
Kini ketahuilah
Telah datang menghampirimu
Orang berpandangan luas
Inilah kesempatan
Bagi kita untuk menyambut
Datangnya cahaya
Menyingkap kegelapan
Mata kita melihat
O, cerah cahayanya
Membangkitkan harap
Ooo……..
Jadilah kau sekutunya
Ooo……..
Sumuh : (berbisik
kepada Bedul) Heh, kamu ini apa
maksudnya? Apa itu tidak berlebihan?
Bedul : (juga
berbisik) Ah, kamu diam saja…
Permainan sedang kita mulai, kapan lagi kita
mengubah nasib… Inilah saat yang kita
nanti-nantikan itu.
Sumuh : Tapi…
Bedul : Tidak ada tapi-tapian…
aku yakin pada kemampuan Bang Godot… kita lihat
saja… Dan akulah yang akan mendampinginya selalu.
Sumuh : Tapi…
Bedul : Sudah aku bilang
tidak ada tapi-tapian… kamu ikuti saja. (Berbisik kepada Godot)
Godot : Sesungguhnya apa yang
terjadi di kampung ini?
Seseorang : O, abang, Bang Godot…
senyata-nyatanya derita sedang melanda kami.
Wabah penyakit merajalela, sementara tanah kami
pun mengalami kekeringan. Berkeliling ke
mana-mana kami sudah, tapi tak juga diketahui
penyakit apa sebenarnya yang menimpa. Kemiskinan
meraja-lela di mana-mana karena bertani atau
mencari nafkah tak mungkin lagi. Kami gelisah
sekaligus putus asa…
Sebesar-besarnya sabarlah
yang berharga
O,
sabarlah, sabar…
Derita dan
kegembiraaan sesungguhnya bukan milik kita
O,
sabarlah, sabar…
Berserah dirilah
senantiasa
O, sabarlah, sabar…
Bedul : O, betapa menyejukan…
(berbisik
kepada Sumuh) Tuh, dengar!
Bukankah begitu hebat
kata-katanya… (kini
kepada Seseorang) Kalimat ajaib yang
bisa mengubah nasib kalian semua. Nyanyikanlah
kalimat penyejuk itu…
Sebesar-besarnya sabarlah yang berharga
O,
sabarlah, sabar…
Derita dan
kegembiraaan sesungguhnya bukan milik kita
O,
sabarlah, sabar…
Berserah dirilah
senantiasa
O, sabarlah, sabar…
Godot : Bagus. Nah, sekarang
silakan bapak kembali kepada keluarga. Jangan
lupa nyanyikan lagu itu, baik dalam hati untuk
diri sendiri atau pun dinyanyikan dengan suara
keras untuk orang lain… (merogoh
sebuah botol kecil dari buntalan
barang-barangnya kemudian mengisinya dengan air
dari wadah air tempat mereka tadi minum bertiga,
kemudian memberikan botol kecil yang telah
berisi air itu) Bawalah ini, katakan
dari Ki Bagus Godot, bagikan kepada seluruh
keluarga bapak yang sakit…
Godot : Eh, itu bukan… (Bedul menghalangi sambil menyilangkan telunjuk di bibirnya).
Seseorang : (dengan
sangat gembira segera berlalu)
Terimakasih Ki Bagus… terimakasih… mulialah Ki
Bagus Godot…
Sumuh : (setelah
Seseorang berlalu,
berbisik)
Kamu ini kelewatan…
Godot :
Dan lagi… Ki Bagus…?
Bagaimana bisa menjadi Ki Bagus?
Bedul : Ah, sudahlah… dengan
tambahan itu maka namamu menjadi lebih
berwibawa, bukan?
Godot : Itu berlebihan… dan
air itu… ah, kamu ini bagaimana…
Sumuh : Iya, kamu ini
bagaimana?
Bedul : Mereka itu sedang
susah, memerlukan sesuatu, memerlukan harapan,
sekecil apapun kemungkinan harapan itu. Air itu
tak ada artinya apa-apa… Kita pun tahu, air itu
sama dengan air yang kita minum, air yang kita
minta dari warung sebelum tiba di kampung ini.
Tapi dengan itu kita sudah memberikan harapan…
Jangan lupa, kita telah memberikan harapan.
Betapa berartinya arti harapan bagi orang yang
sudah begitu putus asa. Bukankah itu pun
kebaikan?
Godot : Ya, tapi mereka jadi
beranggapan lain terhadap air itu!
Bedul : Sekali lagi, air itu
tak punya arti apa-apa selain air belaka… yang
penting yang kita berikan itu bukan airnya, tapi
setitik harapan… apa salahnya jika orang
kemudian menjadi punya harapan… bukankah kita
semua tadi melihat wajahnya yang sangat putus
asa itu… dan kita pun kemudian melihat
perubahannya setelah ia menerima air… Ayo!
Mereka
membereskan barang-barangnya yang tadi agak
berserak untuk kemudian berlalu keluar pentas.
Paduan Suara : Setipis garis
Yang mampu kau
lihat
Itulah batas antara
Baik dan buruk
Kini manusia
Telah terkecoh
Silau
penglihatannya
Buta pandangannya
Sekalinya
melangkah
Sulit baginya
untuk kembali
Diserahkanyalah
kehidupan
Kepada kegelapan
Kini matanya
terpejam
O,
maka gelaplah
Garis pun menghilang
Ooo……..
Garis pun menghilang
Ooo……..

Babak 2
Adegan 4
Barak Orang-orang Sakit
Bahkan ketika cahaya belum lagi menyala,
terdengar suara penyiar radio atau pun televisi
menyampaikan berita tentang bom Bali atau bom
Kuningan atau peristiwa Sampit atau peristiwa
Ambon atau peristiwa di Aceh atau apapun yang
menyangkut peristiwa pembunuhan dengan jumlah
korban yang banyak. Berikut atau di bawah ini
sekadar contoh saja, penggarap bisa saja
menggantinya (dengan yang lebih aktual,
misalnya). Setelah potongan berita berlangsung
beberapa saat dalam keadaan gelap, cahaya
sedikit demi sedikit menjadi terang. Tampak di
pentas berjajar sejumlah tempat tidur sederhana,
tata pentas hendaknya memperlihatkan jajaran
tempat tidur ini penuh sampai ke batas
cakrawala. Sejumlah orang sakit berbaring di
atasnya.
Penyiar :
(Suara
saja. Pada contoh ini, berita diambil dari
Harian Kompas, 12 September 2004)
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia,
Sabtu (11/9) malam, memeriksa ES, salah seorang
yang pernah memiliki mobil boks Daihatsu Zebra,
yang diduga kuat digunakan untuk mengangkut bom
ke Kedutaan Besar Australia.
Namun, sumber itu menyatakan bahwa mobil itu
telah dijualnya sejak Maret 2004. Ia juga tidak
ingat kepada siapa mobil itu dijual karena saat
itu banyak calo yang berminat.
“Saya mau
dimintai keterangan polisi karena saya ingin
membantu polisi supaya bisa cepat menangkap
pelaku peledakan bom. Tidak banyak pertanyaan
yang diajukan dan saya menjawab secukupnya,”
kata ES seusai pemeriksaan.
Menurut dia, mobil
tersebut dibeli dari seseorang yang berinisial J
yang tinggal di Jembatan Besi, Jakarta Barat,
dengan harga Rp. 7 juta. Oleh ES yang saat ini
tinggal di Tambora, Jakarta Barat, mobil itu
dijual kembali seharga Rp. 10 juta setelah
diperbaiki.
“Mobil itu kondisinya
sudah rusak. Bunyi mesinnya juga sudah tidak
halus lagi. Karena itu, saya jual setelah saya
perbaiki,” kata ES yang sehari-hari berusaha di
bidang konfeksi.
Sementara itu dalam
konferensi pers di Media Centre Kasus Bom
Kedutaan Besar (Kedubes) Australia, Kepala
Kepolisian Negara RI (Polri) Jenderal (Pol) Da’i
Bachtiar menyatakan, polisi masih menganalisis
pecahan-pecahan dari bagian mobil Daihatsu
Zebra.
Menanggapi pertanyaan
apakah pelaku peledakan yang berada dalam mobil
sudah diketahui, Kepala Polri menyatakan, kalau
informasi yang dikantongi sudah pasti, pelaku
lainnya akan segera ditangkap.
Dalam
peristiwa ledakan bom tersebut, polisi
mengamankan dua jenazah dari lokasi kejadian.
Kedua jenazah yang sampai saat ini belum
dikenali itu diduga kuat sebagai pelaku.
Keduanya diduga kuat direkrut Dr. Azahari dan
Noordin M Top. Kedua warga negara Malaysia itu
adalah buron yang diduga kuat sebagai otak
peledakan bom di sejumlah wilayah Indonesia.
Dihubungi terpisah, Kepala badan Reserse
Kriminal Polri Komisaris Jenderal Suyitno
Landung menyatakan, polisi telah memperoleh
kemajuan berarti……. (suara
mulai tumpang tindih dengan ucapan, teriakan,
atau protes dari yang sakit)
Yang Sakit : Walah… apa tidak ada
berita lain?
Penyiar : Namun, ia tidak
bersedia menjelaskan apa yang dimaksud, termasuk
apakah benar bahwa identitas mobil boks….
Yang Sakit : Oy… gantiiii… dalam
keadaan begini malah disuguhi berita begituan…
berat dan jadi sulit bernafas kita ini.
Penyiar : Daihatsu Zebra itu
sudah dikenali. Alasannya, demi
kepentingan penyidikan.
Yang Sakit : Yang menghibur, yang bisa
membuat kita lega gitu… kok berita bom!
Penyiar : Da’i menyampaikan
belum dapat memastikan siapa anak buahnya, yang
disinyalir Menteri Luar Negeri Australia
Alexander Downer, telah memperoleh peringatan
dini akan adanya serangan…
Yang Sakit : Huuhhhh… adakah orang di
sana tolong, dong. Ganti itu beritanya.
Yang Sakit : Ya, betul, ganti lagu
gitu…
Yang Sakit : Atau wayang golek saja…
Penyiar : Peringatan dini itu
disampaikan melalui layanan pesan singkat (SMS)
saluran telepon genggam, terkait dengan
permintaan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir dari
penahanan polisi, 45 menit sebelum ledakan.
Yang Sakit :
Kacau… kacau… bom terusss…
Yang Sakit : Tapi rasanya itu perlu
juga… informasi bagi kita agar tahu…
Yang Sakit : Apa perlunya, kita
sendiri sedang sekarat… biar ketemu di aherat
saja sama yang ngebomnya…
Yang Sakit : Banyak juga, ya,
korbannya?
Yang Sakit : Kita juga korban, tahu?
Korban wabah… Kita semua terancam…
Penyiar : Bunyi ancamannya,
“Jika Ba’asyir tidak dibebaskan , maka kantor
kedubes negara-negara Barat, seperti Amerika
Serikat, Australia, dan Inggris, akan
diledakan.”
Yang Sakit :
Perutku yang meledak!
Puanasss…. Ini panas sekali… duhhhh!
Penyiar : Downer mengungkapkan
itu Jumat (10/9).
Yang Sakit : Ya… ya… sudah! Ganti
berita lain…
Penyiar :
Sebelum memberikan keterangan pers, Da’i
menayangkan rekaman video dari Plaza 89 yang
berada di seberang Kedubes Australia…
Yang Sakit :
Bagus… video… video… yang asyik, OK?
Penyiar :
Dan rekaman video Plaza Kuningan yang
terletak sederet di samping kanan Kedubes
Australia. Dari rekaman video
Plaza 89 dapat dilihat sebuah mobil boks
Daihatsu Zebra melintasi truk polisi di dekat
pintu gerbang Kedubes Australia.
Sekejap kemudian terlihat ledakan dan bola api
dari arah mobil tersebut. Asap putih
kemudian menyelimuti pandangan sesaat. Terlihat
kemudian reruntuhan kaca dari bangunan…
Yang Sakit :
Ini sih benar-benar penyiksaan…
Hoiii… pada ke mana sih orang-orang… pindah
tuh gelombang radionya… kami minta berita lain…
OK, kami tahu pemboman itu keji… tapi keji juga
kalau kami yang sakit ini dibom oleh
berita-berita itu… Tolong, please, ganti
dengan berita lain…
Seseorang : (masuk
dengan tiba-tiba, dan dengan tiba-tiba pula
suara penyiar hilang)
Ada berita
Berita bagus
Ada berita
Berita baik
Ada berita yang
menghembuskan harapan
Telah datang seorang
penyelamat
Penyelamat, penyelamat,
penyelamat,
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Dia
yang selalu keliling berdagang
Tapi ternyata menyamar…
Ia simpan rahasia dengan
rendah hati
Ia simpan kepandaian tanpa
terlihat
Tapi dialah sebaik-baiknya
orang
Yang akan
selamatkan kita
Telah
datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang yang akan
selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Dia
yang selalu keliling berdagang
Tapi ternyata menyamar…
Ia simpan rahasia dengan
rendah hati
Ia simpan kepandaian tanpa
terlihat
Tapi dialah sebaik-baiknya
orang
Yang akan
selamatkan kita
Telah
datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang yang akan
selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Yang Sakit :
Siapakah gerangan orang itu?
Seseorang :
Telah datang
Seorang
suci
Telah
datang
Orang
budiman
Telah
datang bagi kita semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
……………
Keluargaku semua sembuh hanya karena air yang
diberikannya.
Yang Sakit : Siapakah orang itu?
Seseorang : Ia begitu baik hati dan
sungguh rendah hati… menyamar jadi pedagang
keliling.
……………….
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Yang Sakit : (tak
sabar) Iya, siapakah dia itu?
Seseorang : Aku yang menemukannya,
tidak sengaja, tapi, eh, aku memang sudah
menduga sebelumnya bahwa ia itu bukan orang
sembarangan.
……………….
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Yang Sakit :
Iya, cepat katakan, siapa?
Seseorang : Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
……………..
Namanya Ki Bagus Godot!
Yang Sakit : Siapakah itu?
Seseorang : Sudah kubilang, ia
menyamar sebagai pedagang keliling, tapi
ternyata ia keliling kampung-kampung
sesungguhnya untuk menolong orang yang
kesusahan…
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Yang Sakit :
Di manakah ia sekarang?
Seseorang :
Ia ada di sini, di kampung kita, bagaimana
kalau saya jemput agar ia mau datang ke sini…
Yang Sakit : Atau sebaiknya kita saja
yang datang ke sana?
Yang Sakit : Gimana? Kita ini sakit,
apa sanggup pergi ke sana…
Yang sakit : Jauhkah?
Seseorang : Saya bilang, ia ada di
sini, di kampung kita… tapi biarlah saya yang
minta agar ia berkenan datang ke sini.
Yang Sakit : Mau?
Seseorang : Melihat kebaikan hatinya,
saya yakin mau…
Yang Sakit : (beberapa
orang hampir serempak) Setujuuuu….
Cepat undang beliau ke sini!
Yang Sakit : Betul, sebaiknya kamu
saja dan mudah-mudahan berhasil…. Dan
mudah-mudahan pula benar yang kamu ceritakan itu…
Air, ya? Hanya dengan air ia bisa menyembuhkan?
Seseorang :
Baiklah saudara-saudara… doakan saya…
Ki Bagus Godot akan saya jemput!
……………
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan kita, selamatkan kita, selamatkan
kita
(ia
pergi keluar).
Yang Sakit :
Ya, selamat bertugas… jangan sampai gagal…

Adegan 5
Nikmatnya Harapan
Yang Sakit : (seorang
saja untuk kemudian diikuti lainnya, bernyanyi
sambil tetap semuanya berbaring di tempat tidur)
Betapa nikmatnya…
Memiliki harapan
Meski
belumlah jelas
Hidup bersinar kembali
Dan kini ada kabar
Kabar bercercah
harapan
Ada
seorang bijak
Bisa
mengubah hidup kita
(Nyanyi
bersama, bangkit tapi tak keluar dari tempat
tidur, kemudian seperti melakukan
gerakan-gerakan tari dengan melambaikan dedaunan
dan bunga)
Dan si orang baik itu
Tak jauh, tak jauh dari
sini
Dan si orang baik itu
Di sini, di sini adanya
Dan manakala ia tiba
Kan kusambut ia dengan
cinta
Kembang tujuh warna
Kan kutaburkan di sana
Hendaknya tangisan
Tak lagi, tak lagi
terdengar
Dan segala kesulitan hidup
Berubahlah jadi keriangan
Bumi pun berubah
Kembali, kembali, kembali
jadi ramah
Memberikan lagi kasihnya
Bagi kehidupan kita
(mengulang
bagian di bawah ini berulang-ulang)
Hendaknya tangisan
Tak lagi, tak lagi
terdengar
Dan segala kesulitan hidup
Berubahlah jadi keriangan
Bumi pun berubah
Kembali, kembali, kembali
jadi ramah
Memberikan lagi kasihnya

………….
Ada berita
Berita bagus
Ada berita
Berita baik
Ada berita yang
menghembuskan harapan
Telah datang seorang
penyelamat
Penyelamat, penyelamat,
penyelamat,
(bersama)
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang yang akan
selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
(sendiri)
Dia yang
selalu keliling berdagang
Tapi ternyata menyamar…
Ia simpan rahasia dengan
rendah hati
Ia simpan kepandaian tanpa
terlihat
Tapi dialah sebaik-baiknya
orang
Yang akan
selamatkan kita
(bersama)
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Dia
yang selalu keliling berdagang
Tapi ternyata menyamar…
Ia simpan rahasia dengan
rendah hati
Ia simpan kepandaian tanpa
terlihat
Tapi dialah sebaik-baiknya
orang
Yang akan
selamatkan kita
(Godot
tampak masuk diiring oleh Bedul dan Sumuh.
Mereka kini tampak beda, baik kostum atau pun
sikap dan gerak-geriknya.)
Telah datang
Seorang suci
Telah datang
Orang budiman
Telah datang bagi kita
semua
Seorang
yang akan selamatkan kita
Selamatkan
kita, selamatkan kita, selamatkan kita
Yang Sakit :
(seperti
dikomando oleh salah satu yang kemudian diikuti
yang lainnya berbarengan) Ki Bagus…
Ki Bagus Godot… Mulialah Ki Bagus…
Mulialah engkau wahai orang suci… Mulialah sang
penyelamat… Kami muliakan Ki Bagus Godot yang
berkenan datang… Semulia-mulianya Ki Bagus jika
berkenan mengobati kami yang mengalami musibah…
Godot : Saudara-saudaraku…
Jangan sekali-kali
panggil aku Ki Bagus
Camkanlah, wahai
saudara-saudaraku
Tak perlu engkau panggil
aku Ki Bagus
Melainkan cukup panggil
saja namaku
Godot yang
sebenar-benarnya namaku
Yang Sakit : Menurut kawanku… yang
mulia lengkapnya bernama Ki Bagus Godot?
Seseorang : Memang bukan begitukah
menurut para sahabat yang mulia?
Godot : Jangan,
saudara-saudaraku, jangan
Cukup panggil saya Godot
saja
Dan mulai sekarang
saudara-saudaraku
Jangan panggil lagi saya
dengan sebutan itu
Itu cukup dan
sebaik-baiknya nama
Nama yang diberikan kedua
orangtuaku
Seseorang : Tapi yang mulia, kami
atau setidak-tidaknya saya memang ikhlas
memanggil yang mulia dengan sebutan Ki Bagus
Godot…
Yang Sakit : (bersahutan)
Betul yang mulia…. Betul Ki Bagus… Sebaiknya
memang Ki Bagus Godot… Sesuai dengan bagus dan
eloknya hati yang mulia…
Godot : Terimakasih,
saudara-saudaraku
Tapi tidak,
saudaraku tidaklah
Dan jangan pula panggil
saya
Dengan sebutan tambahan
yang mulia
Sungguh, saudara-saudaraku
sungguh
Cukup panggil saya… ya,
cukup panggil saya
Cukup panggil Godot saja….
Seseorang : Tapi kami jadi kehilangan
cara untuk menghormat…
Yang Sakit : Bila begitu saja jadinya
kami merasa kurang ajar…
Bedul : Apalah artinya sebuah
nama… Bunga mawar tetaplah harum jika diganti
dengan nama apapun… Bukankah begitu menurut
Shakespeare. Jangan ada rasa bersalah
saudara-saudaraku… memang demikianlah
kerendahhatian saudaraku Godot ini… (kemudian
berbisik kepada Godot, sementara Yang Sakit dan
Seseorang ber”ruburber” saling berbisik
antar-mereka) Kamu ini bagaimana… kok,
tiba-tiba menolak lagi sebutan itu… Mereka ini
sudah mau begitu… Itu satu langkah lagi untuk
maju lebih cepat ke depan… Kok, ditolak?
Godot : Aahhh, sudahlahhhh…
Menghadapi kenyataan banyak yang sakit ini saja
sudah berat, jangan lagi tambah bebanku dengan
nama yang begitu berat…
Bedul : Ini soal imej… soal
merk… soal brand image… Ini penting demi
langkah kita ke depan… Dengan
itu memudahkan kita menguasai mereka… Tetaplah
tersenyum dan pakailah citra yang mereka berikan
itu. Tokh mereka sudah mau…
Godot :
Urusannya bukan karena mereka mau… tapi
bagaimana menyembuhkan mereka sementara harapan
mereka sudah menggelembung begitu besar…
Bedul : Air… air… Tenang,
banyak air di kampung ini… Air yang sesungguhnya
milik mereka sendiri… Itu urusanku, tinggal
ambil saja di sembarang sumur…
Godot : Airmu sontoloyo…
sekarang urusannya bukan lagi hanya air…
Bedul : Tetap saja sama…
seperti saya bilang, minimalnya dengan air itu
kita memberikan harapan…
Godot : Itulah yang
sontoloyo…
Bedul : (menghindar
dari Godot, kembali ke Yang Sakit. Godot pada
akhirnya menghampiri Sumuh, mereka terlibat
pembicaraan dengan berbisik-bisik)
Nah, saudara-saudaraku… kebenaran yang
sebenar-benarnya itu memang tak pernah merasa
perlu sanjungan, tak merasa perlu diimbuhi
sebutan-sebutan besar… ia lebih suka bersuara
lirih tapi jernih, sejernih air yang paling awal
keluar dari mata air…
Yang Sakit & Seseorang :
Dan kami pun kian yakin
Beliau ini dikirim
dari langit, dari langit
Ya, kami semakin yakin
Begitulah sifat orang mulia
Tak pernah merasa perlu
Dengan sanjungan-sanjungan
Bedul : Syukurlah jika kalian
menyadari, memang begitulah sahabatku ini… Ia
sejernih air yang paling awal keluar dari mata
air… Bersih hatinya… sungguh menyejukan
kata-katanya… ke mana-mana tak pernah kehilangan
senyum… membawa kedamaian bagi kita semua. Jadi
kita terima saja kerendah hatiannya, tak usah
pakai embel-embel, cukup sebut Godot saja
katanya.
Yang Sakit & Seseorang :
Jangan anggap kami tak
hormat
Jika itu… jika itu…
jika itu
memang kehendak yang mulia….
Jangan
anggap kami tak hormat
Jika kami
menyebut hanya Godot saja
Biarlah
hanya dalam hati
Kusebutkan selalu Ki Bagus Godot yang mulia…
Yang mulia… oh, yang
mulia, mulia…
Godot : (seperti
hanya pada dirinya sendiri)
Tak kuduga begini jadinya
Sejuta harapan tertumpu di
pundak
Tak kuduga begini jadinya
Bagaimanakah,
bagaimanakah kusembuhkan
mereka
Adakah ini hanya kehendak
cerita
Kehendak cerita yang harus
kujalani
Kujalani… kujalani begitu
saja
Ooo… kujalani?
Sumuh : Sahabatku…
Janganlah tanyakan itu…
Jangan
tanyakan itu padaku
Sahabatku…
Dalam diam
sering kutanyakan
Kutanyakan segala hal hidup ini
Yang kembali selalu
pertanyaan
Wahai, sahabatku…
Tak sekali kuberkeinginan
Wahai, sahabatku…
Tapi yang datang sama
sekali lain
Awalnya kusepelekan saja
Tapi kemudian ternyata…
Ternyata itu diperlukan
juga
Adakah artinya kita ini
sesungguhnya tak pernah tahu
batas
antara keinginan dan apa yang kita perlukan
Ooo… aaaa…
oooo
Wahai,
sahabatku…
Maka
kubaca kehendak angin
Wahai,
sahabatku…
Kuikuti
selalu ke mana ia bawa tubuhku
Andaikan
sampai ke bibir tebing pun
Aku tak
bisa menolaknya lagi
Hei,
sahabatku…
Kita ini tak memiliki hak tolak
Heiiii….. ahhhhhh
Hei, sahabatku…
Andai bisa kutolak maka
kutolak kelahiranku
Dan akhirnya beginilah
kisah hidupku
Dalam ketakberdayaan
Dalam
ketakberdayaan terus melangkah
Hei,
sahabatku…
Kitaaaaa tak pernah tahu awal
Heiiii….. ahhhhhh
Wahai, sahabatku…
Maka tak tahu pula
bagaimana cerita akan berakhir
Yang kutahu hanya arah
angin
Itu pun…
Itu pun kerap tak terduga
Godot : (begitu
terdengar suaranya, ruburber atau
bisik-bisik Yang Sakit, Seseorang, dan Bedul
tiba-tiba terhenti. Semua terdiam menyimak.
Selintas tampak Kejat di antara orang-orang,
tapi setelah itu menghilang kembali)
Singkapkanlah tirai
Masa datang tampaklah
sudah
Berlalu
meninggalkan kepedihan
Tanda
perubahan telah datang
Gantilah seluruh tangisan
Tak ada lagi keluh semesta
Semua melangkah ke depan
Perubahan sedang kita buat
Mari melangkah bersama
Merapat saling
bergandengan
Mari melangkah bersama
Kita yang bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
(nyanyian
ini kemudian diikuti oleh semua, berulang-ulang
sesuai kebutuhan tempo. Yang Sakit pun bangkit
atau ada pula yang menyanyi sambil berdiri di
tempat tidur. Tampak Bedul membagi-bagikan air,
Sumuh ikut sibuk membantu. Fade Out)

Babak 3
Adegan 7
Orang-orang Bawah Tanah
Tempat
tidur yang berjajar tadi, kini tertutup kain
hitam hingga menyerupai gundukan-gundukan.
Awalnya, Kejat hanya terdengar suaranya saja,
belakangan ia muncul dari salah satu gundukan
itu. Ia menyanyi bagus sekali dengan nada perih
tapi tanpa kata-kata kecuali membunyikan suara
“aaa” atau “uuu.” Dengan nyanyian yang sama,
sesekali perilakunya seperti orang sedang
berpidato, sesekali merunduk seperti tafakur
atau menangis, sesekali tampak pula ia begitu
geram.
Saat itu semua berlangsung, tampak Bedul
memperhatikan dengan mengendap-endap. Di
penghujung nyanyian baru ia muncul menghampiri
Kejat. Ketika muncul Bedul mengenakan kostum
(penutup kepala seperti helm berbentuk aneh,
mereka menyebutnya “kupaluk”); sekilas mirip
“kacamata kuda” yang menutup kuping dan
membatasi pandangan hanya semata-mata ke depan,
sedikit di atas bagian kening terdapat sebentuk
jam, di bagian mulutnya terdapat cerobong
pengeras suara kecil berbentuk “horn.”
Pada awal
pertemuan, Kejat seperti menghindar bahkan ada
kesan agak takut.
Bedul : (membuka
kupaluknya, itu pun setelah melihat-lihat ke
berbagai arah. Ia takut oleh sesamanya karena
terlarang membuka kupaluk bukan pada saatnya)
Baik, kawan… jika kupaluk ini yang menjadi
masalah… baik, demi kamu saya buka. Bagaimana?
Dengan begini kamu jadi ingat saya bukan?
Masihkah kamu akan menjauh dari saya? (yang disapa hanya berdiri tak beranjak) Itulah
persoalannya, selama ini kamu selalu menjauh dan
tak lagi berkata-kata. Sejak Godot datang dan
kemudian diangkat menjadi pemuka rakyat, kamu
jadi menyendiri, tak lagi bersatu dengan orang
kebanyakan. Tak bisa, kawan… tak
bisa terus menerus begitu. Mari kita pecahkan
bersama. Jangan dikira diam itu tak mengganggu…
Banyak orang mulai gelisah oleh kebisuan kamu…
beberapa bahkan sudah mulai terbuka menyampaikan
seruan yang mengancam keselamatan kamu. Ayo,
bicara dong… (Kejat
tetap diam) Ah, mungkin kamu tidak
setuju dengan Godot yang kini menjadi pemuka
massa-rakyat… Bukankah kamu sendiri tahu, itu
bukan kehendaknya… rakyat sendiri yang
mengangkatnya ke tempat tinggi itu. Selama ini
rupanya terdapat kekosongan sosok yang bisa
dijadikan panutan… Boleh jadi serba kebetulan,
sahabatku yang pedagang keliling itu rupanya
hadir pada waktu dan tempat yang tepat… jadilah
ia pemimpin! Kenapa harus cemburu? (Kejat
tampak bereaksi, khususnya terhadap kata
“cemburu”) Yang penting, justru
setelah Godot mengatur kebijakan maka wabah
penyakit hilang, situasi jadi stabil,
perekonomian sudah jauh lebih baik,
berita-berita kekerasan semakin jauh berkurang,
orang-orang jadi tak bingung lagi karena kini
hanya ada satu-satunya kebenaran yaitu kebijakan
dari Godot (Kejat bereaksi lagi, khususnya terhadap kata “satu-satunya
kebenaran.” Tapi masih tetap tak meladeni Bedul).
Nah, saya mencari-cari dan menemui kamu untuk
menyatakan itu semua. Agar kamu tahu dan segera
bergabung… agar semua betul-betul bersatu dalam
satu kesatuan, dengan satu-satunya kebenaran,
setara dan sepenanggungan. Selama kamu tidak
bersatu, seperti saya bilang, banyak orang jadi
merasa terganggu… Kamu perhatikan kupaluk ini…
sungguh bukan benda sekadar hiasan. Ini pusaka,
keajaiban yang diciptakan sendiri oleh Godot.
(Sambil memeragakan kupaluk yang dipegangnya) Kamu
perhatikan dua sisi ini, dibuat untuk menutupi
kedua kuping agar tidak mendengar yang tak perlu
kecuali hanya mendengarkan dawuh Godot. Bagian
ini pun memanjang membatasi pandangan mata agar
tidak lagi larak-lirik kiri-kanan, melainkan
lurus ke depan dengan bimbingan Godot. Kamu
lihat pula pengatur waktu di bagian atas ini…
Sebelumnya, kita tahu negeri ini berantakan
karena tak ada keteraturan dalam berbagai hal,
dengan kupaluk yang sakti dan pengatur waktu ini
maka semuanya bisa diatur kembali dan menjadi
teratur kembali. Ini adalah alat bicara,
posisinya menutup mulut agar kita tak
sembarangan ngomong, sehingga yang keluar dari
mulut betul-betul hanya kata-kata yang terpilih,
kata-kata yang bersumberkan pada kebenaran yang
satu, kebenaran yang datangnya dari Godot
semata. Kata-kata itulah yang kemudian
diperbesar suaranya dan diperdengarkan kepada
khalayak… (berusaha
mengamati reaksi Kejat) Kamu faham,
kan? Ayolah, mari bergabung… lelah dan sepi
hidup menyendiri itu…
(samar-samar
terdengar serombongan orang-orang yang semuanya
berkupaluk masuk pentas. Bedul, dengan
terburu-buru, mengenakan kembali kupaluknya
lantas bersikap siaga. Kejat kembali menghilang
di gundukan-gundukan).
Rombongan :
(lewat di
pentas serta sebagian berupa silhouette
di latar belakang pentas)
Mari melangkah bersama
Merapat
saling bergandengan
Mari
melangkah bersama
Kita yang
bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
(berulang-ulang
sesuai kebutuhan tempo permainan)
Bedul :
(setelah
rombongan berlalu dan masih berkupaluk,
mencari-cari Kejat) Kawan, heh ke mana
kamu…. Mereka sudah lewat, mari
kita lanjutkan pembicaraan tadi. Itulah seperti
saya katakan, kalau sudah bergabung tak ada lagi
ketakutan seperti ini… kawan… (terdengar
nyanyian “aaa” atau “uuu” tapi dengan suara
orang banyak. Bedul keheranan tapi kemudian
meneruskan mencari.) Ayolah kawan…
Lihatlah tadi itu, mereka hanya sebagian kecil
saja. Kini tidak hanya masyarakat kampung ini
saja, dengan kesadaran sendiri kampung-kampung
lain pun sudah bergabung. (berbisik
ke penonton) Kalau bisa merekrut yang
satu ini, hadiahnya agak lain… lebih besar he he
he… (kembali
ke Kejat) Akhiri saja hidup menyendiri
itu, apa enaknya sih hidup sendirian… (dari
gundukan-gundukan itu muncul orang-orang serupa
Kejat sambil terus melanjutkan nyanyian “aaa”
atau “uuu.” Bedul terperangah dan agak
ketakutan. Mereka menyanyi sampai habis, setelah
itu diam dengan mata tajam menatap ke manapun
Bedul beranjak. Bedul jadi kebingungan sendiri)
Wah, banyak, ya… ternyata banyak… temannya
apa bukan… sorry itu tadi… saya kira tak
sebanyak ini. Wah, masih juga bertambah yang
muncul… Duh, sorry, deh… Itu terserah anda,
kawan… saya tak mau maksa… (membuka
kupaluknya) Baik… saya ingin bicara
dengan kawan yang memimpin kelompok ini tadi…
(mencari-cari
Kejat, ia bingung karena semua orang
berpenampilan sama) Mana, ya? Oh, ini…
bukan, ya? Mungkin yang ini? Duh, mana sih, kok
sama semua? Apa itu yang di belakang? (ke
belakang dan mengamati) Bukan, ya?
Ngomong dong… jangan biarkan saya kebingungan…
ayo ngomong dong? (balik
lagi ke tengah pentas sambil tetap mencari)
Anda barangkali? Bukan juga… jadi yang mana
dong? Mari kita bicara baik-baik… (Kejat
maju selangkah, Bedul langsung menghampiri)
Ah, anda, ya? (mengamati
dengan teliti) Ah, betul… saya ingat…
Betul ini dia kawan saya… Baik kawan, begini…
(Kejat
seperti semula tak bereaksi kecuali diam)
maksud saya begini, ah, bagaimana ya? Begini…
baik tentang anda dan kawan-kawan tidak akan
saya beritakan… kita urus persoalan ini dengan
persahabatan… mau anda apa sih sebenarnya…
katakan dong… Dengan diam tentu
saya jadi tak mengerti… Tapi baiklah… tentang
Godot, kebijakan, aturan, dan kekuasaannya itu…
(tiba-tiba
terdengar suara Sumuh yang mencari-cari. Bedul
cepat-cepat mengenakan kembali kupaluknya.
Orang-orang Kejat satu demi satu menghilang
kembali di balik gundukan).
Sumuh :
(kemudian
muncul di pentas, ia tampak kerepotan dengan
kupaluknya yang kebesaran, setiap hendak berkata
harus mengangkat bagian yang menutup mulutnya)
Bang Bedul… Bang Bedul… Bang Bedul… Bang
Bedul… Wah, di mana? Cepat, tugas pemurnian
sudah siap harus dilaksanakan… mereka menunggu
abang di lapang Icuru Citae Ubu…. Bang… (berjumpa
dengan Kejat) Ah, ternyata Bang Bedul
ada di sini… ayo cepat, bang. Mereka semua sudah
kumpul… Godot pun sudah siap tinggal menunggu
kedatangan abang. Upacara tak akan dilaksanakan
sebelum abang ada di sana… ayo, bang.
Bedul :
(sambil
larak-lirik mencari Kejat dan orang-orangnya
yang sudah tak tampak) Kamu duluan
saja… secepatnya saya menyusul…
Sumuh :
Wah, tak bisa bang… kita harus sama-sama.
Saya memang ditugaskan untuk mencari abang
sampai ketemu, tak boleh kembali kalau belum
ketemu abang.
Bedul :
Kalau begitu… (berfikir
sejenak) kamu ke rumahku dulu,
ambilkan tongkat upacaraku… sementara dari sini
aku akan langsung ke lapang Icuru Citae Ubu…
saya pastikan nanti kita tiba pada waktu
bersamaan…
Sumuh :
Kok, begitu sih, bang. Memangnya ada apa? Apa
tidak sebaiknya sama-sama saja ke rumah abang,
dan sama-sama pula nantinya ke lapang…
Bedul :
Ah, sudah laksanakan saja… nanti kita ketemu
di sana bersamaan, pasti bersamaan… ayo
berangkat ke sana…
Sumuh :
(masih
dalam bingung tapi tak bisa menolak perintah
Bedul) Baik, bang kalau begitu… tapi
jangan telat ya, bang!
Bedul :
Beres, pasti tepat… ayo pergi sana… (Sumuh
berlalu, Bedul cepat-cepat mencari-cari kembali
Kejat di antara gundukan. Yang dicari muncul
seorang diri, berbarengan dengan munculnya
nyanyian bersama “aaa” atau “uuu.” Diiringi
nyanyian itu tampak Kejat dan Bedul terlibat
pembicaraan. Setelah itu Kejat berlalu dengan
tergesa-gesa).

Adegan 8
Upacara Penyucian
Di tanah
lapang. Nyanyian “Singkapkanlah Tirai” bergema.
Hampir tepat di tengah pentas tumbuh satu bentuk
kurungan ayam berukuran besar berhiaskan
berbagai ornamen.
Benda itu memberi kesan sebagai benda yang
disucikan. Tampak sejumlah anak-anak sedang
bermain-main atau melakukan apapun dengan
kebahagiaan umumnya anak-anak. Bersamaan dengan
itu, satu demi satu orang-orang berkupaluk pun
berdatangan. Lama kelamaan terjadi kontras
antara orang yang bekupaluk dengan sikap resmi
dan kaku dengan sejumlah anak-anak yang bermain.
Nyanian “Singkapkanlah Tirai” terus bergema.
Kemudian dari suatu ketinggian, di tengah bagian
belakang pentas, Godot muncul dengan pakaian
kebesaran. Semua kegiatan terhenti, kecuali
nyanyian “Singkapkanlah Tirai” yang kian
semangat. Berikutnya orang-orang berkupaluk pun
bersama-sama menyanyi sambil mengikuti irama
dengan gerak-geraknya yang formal dan kaku.
Anak-anak kembali bermain. Sumuh dan Kejat
muncul pula, sibuk mengatur berbagai persiapan
sambil sesekali memperhatikan kelengkapan
orang-orang berkupaluk satu per satu.
Godot :
(setiap
kalimat nyanyiannya diikuti oleh semua
orang-orang berkupaluk. Saat itu pula Sumuh
dibantu dua orang berkupaluk membereskan
anak-anak agar teratur dalam sikap sempurna. Ada
juga yang membandel, lari, atau menghindar, tapi
segera dikejar dan ditangkap oleh orang
berkupaluk agar segera berbaris. Saat itu pula
Kejat dan kawan-kawannya bermunculan di
pinggir-pinggir pentas tanpa sepengetahuan
orang-orang berkupaluk, Godot, atau pun
anak-anak. Satu-satunya yang tahu adalah Bedul
yang kemudian menyelinap menghampiri Kejat. Di
tengah berlangsungnya semua peristiwa, kemudian
mereka berdua terlihat saling berbisik)
Singkapkanlah tirai
Masa datang tampaklah
sudah
Berlalu
meninggalkan kepedihan
Tanda
perubahan telah datang
Gantilah seluruh tangisan
Tak ada lagi keluh semesta
Semua melangkah ke depan
Perubahan sedang kita buat
Mari melangkah bersama
Merapat saling
bergandengan
Mari melangkah bersama
Kita yang bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
(Nyanyian
terus bergema. Satu demi satu anak dimasukan ke
kurungan lewat pintu kiri, begitu keluar di
pintu kanan sosoknya sudah berubah menjadi anak
yang berkupaluk dengan sikap tubuh yang sama
dengan orang berkupaluk sebelumnya.
Ada juga anak yang tidak mau, memberontak atau
pun ketakutan. Ia mencoba lari tapi kemudian
dengan sigap ditangkap oleh orang berkupaluk dan
segera dijebloskan ke dalam kurungan. Tapi dua
anak, laki-laki dan perempuan, berhasil lolos
kemudian dikejar oleh salah seorang yang
berkupaluk. Rupanya Sumuh yang mengejar, itu
kelihatan dari kerepotannya ngurus kupaluknya
yang kebesaran. Dua anak ini tak tertangkap,
menyelinap dan kemudian dirangkul dan dilindungi
oleh Kejat. Kecuali dua anak yang lari, akhirnya
semua anak habis dijebloskan ke kurungan dan
diubah menjadi orang berkupaluk.
Fade out,
semua keluar pentas. Di latar belakang,
silhouette, Godot diiringi oleh beberapa
orang berkupaluk.)

Adegan 9
Mulanya Nurani
Kejat
muncul sambil menuntun dua anak, kemudian
diikuti yang lainnya satu per satu bermunculan
pula.
Kejat :
Ini tak bisa dibiarkan
Fatwa
telah dijadikan mesin
Menyihir kebanyakan orang
Hingga hilang kesadaran
Tak ada
lagi jiwa dalam diri
Karena
telah dititipkan
Dititipkan
kepada…
Kepada sang pemimpin
O, hilanglah manusia
Hilanglah manusia…
O, hilanglah manusia… aaaa
Harus ada penyelesaian
Harus ada perlawanan
Harus ada gerakan yang
mengubah
Ubah manusia kembali jadi
manusia
Harus ada yang menggerakan
Harus ada yang memulai
Harus berangkat dari
nurani
Nurani kita sendiri
O, nurani…
O, nurani…
O, nurani…iii
(break
musik instrumental, Kejat berpidato sambil
sesekali terlihat dibisiki oleh Bedul yang
menyangking kupaluknya di ketiak. Pidatonya
tetap pada atau seirama dengan musik. Beberapa
saat dalam adegan ini, tampak pula Sumuh
menyelinap, jelas sekali di pandangan penonton,
tapi tak diketahui oleh orang-orang di pentas.
Ia pun masuk dengan kupaluk yang dicangking di
ketiak)
Saudara-saudaraku, atas nama nurani kita berdiri
bersama-sama di sini. Kita adalah sekelompok
orang yang tak mau menggadaikan nurani. Kita tak
pernah mau menjadi mesin dan diubah oleh mesin.
Kita adalah manusa… manusia, saudara-saudara.
Mari kita satukan diri kita… Kita bongkar mesin
yang telah mengubah manusia-manusia lain menjadi
benda-benda… Kita kembalikan mereka menjadi
manusia! Menjadi manusia kembali,
saudara-saudara… Ya, menjadi manusia kembali…
(kini
dinyanyikan bersama-sama, berulang-ulang sesuai
kebutuhan pengadegan)
Ini tak
bisa dibiarkan
Fatwa
telah dijadikan mesin
Menyihir kebanyakan orang
Hingga hilang kesadaran
Tak ada
lagi jiwa dalam diri
Karena
telah dititipkan
Dititipkan
kepada…
Kepada sang pemimpin
O, hilanglah manusia
Hilanglah manusia…
O, hilanglah manusia… aaaa
Harus ada penyelesaian
Harus ada perlawanan
Harus ada gerakan yang
mengubah
Ubah manusia kembali jadi
manusia
Harus ada yang menggerakan
Harus ada yang memulai
Harus berangkat dari
nurani
Nurani kita sendiri
O, nurani…
O, nurani…
O, nurani…iii
(fade
out, semua keluar pentas kecuali Sumuh yang
tinggal sendirian)
Sumuh : (kepada
dirinya sendiri) Kelihatannya akan
sama dengan awal cerita, hanya baju dan caranya
saja yang akan berbeda. Di dalamnnya adalah juga
sosok dengan kulit dan daging serta segumpal
otak di dalamnya:
…………..
Berabad kujalani hidup ini
Semuanya sama berulang
Diawali kesendirian yang
indah
Berlanjut pada pemassaan
yang kejam
Nero, Caligula, Hitler
Bencana Habil-Qabil,
Vietnam, Afganistan.
Ketakberakhiran di tanah
kelahiran Ibrahim
Desing peluru dan bom
berulang di mana-mana.
Atas nama revolusi,
reformasi, demokrasi…
Bahkan
memaknai merdeka:
Tandanya
berulang… darah!
Di
manakah sesungguhnya damai?
Di manakah sesungguhnya
manusia?
(fade
out, keluar sambil menggusur kupaluk)

Adegan 10
Penghancuran Mitos Dinding Penyucian
Pentas
bermetamorfosa, diiringi musik yang mencekam,
gambaran salah satu dinding kurungan penyucian
tumbuh memenuhi latar belakang pentas
sepenuhnya. Saat dinding ini tumbuh, tampak
berbentuk silhouette Sumuh yang melangkah
gontai sambil menggusur kupaluk. Ketika diding
itu sudah sepenuhnya jelas, musik tetap
berlangsung, masuk dua anak laki-laki dan
perempuan.
Tampak mereka dipersenjatai dan bersikap seperti
militer. Di tengah lagu, mereka berlatih
perang-perangan. Setelah beberapa saat seorang
yang berkupaluk masuk, dua anak tergesa-gesa
sembunyi di salah satu sudut pentas.
Yang Berkupaluk : Ada tanda-tanda
serangan… Perhatian, perhatian… ada tanda-tanda
serangan… (meniup
terompet atau apapun sebagai tanda bahaya)
Kumpullll… kumpul semua di lapangan Icuru
Citae Ubu yang kita sucikan ini. Kita
pertahankan tempat yang kita agungkan ini. Kita
jaga Sang Godot sampai titik darah penghabisan…
Kumpullll. (Yang
berkupaluk lainnya bermunculan) Ayo
sebagian ke sudut sana, perhatikan setiap
gerak-gerak aneh yang muncul di gerbang utara…
Sebagian lagi sedikit di ketinggian bukit, siapa
tahu serangan munculnya dari sana (dua
rombongan kecil begerak ke arah yang ditunjuk)
Pertahanan di sini diperkuat, pasukan
berperisai berjajar paling depan…
Yang Berkupaluk :
Siap laksanakan! (kemudian
berjajar tepat di muka dinding).
Yang Berkupaluk :
Lapisan berikutnya berjajar di belakang yang
berperisai…
Yang Berkupaluk :
Siap laksanakan! (berbaris
di belakang yang berperisai).
Sumuh :
(tiba-tiba
muncul tepat dan dekat sekali di muka penonton,
sementara kegiatan di pentas terus berlangsung)
Berabad
kujalani hidup ini
Semuanya
sama berulang
Diawali
kesendirian yang indah
Berlanjut
pada pemassaan yang kejam
(fade
out dan kemudian menghilang kembali)
Yang Berkupaluk :
Kalau sudah lengkap, semuanya dalam sikap
siaga… siaga satu! Kita tunggu aba-aba dari
Godot. Tapi, awas, pandangan mesti
seawas-awasnya, perhatikan semua lingkungan… ada
sedikit saja gerakan mencurigakan, babat saja!
Yang Berkupaluk :
(semua
berbarengan) Siap laksanakan!
Godot :
(suaranya
saja memenuhi ruangan)
Saudara-saudaraku, meski pilihan ini adalah
pilihan yang paling pahit… kita wajib
mempertahankan kedaulatan diri kita… kita tidak
bisa membiarkan kedaulatan dirusak oleh yang
bermaksud menghancurkannya…
Yang Berkupaluk :
(semua
bersamaan)
Mari melangkah bersama
Merapat
saling bergandengan
Mari
melangkah bersama
Kita yang
bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
Godot : Berrrrsatuuuu…… Kita
hadapi bersama-sama semua rongrongan di hadapan
kita, jangan biarkan apa-apa yang sudah kita
bangun ini dihancurkan oleh mereka…
Yang Berkupaluk : (semua
bersamaan)
Mari melangkah
bersama
Merapat saling
bergandengan
Mari melangkah bersama
Kita yang bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
Godot : Tak akan aku berikan…
tak akan kulepaskan apa yang telah aku miliki
ini, milik kita semua, segala sesuatu yang telah
dengan susah payah kita ajegkan ini… Akulah
Godot. Akulah sang kebenaran.
Yang Berkupaluk : (semua
bersamaan)
Mari melangkah
bersama
Merapat saling
bergandengan
Mari melangkah bersama
Kita yang bikin perubahan
Mulai kini ke depan
Jangan lagi kita terberai
Bersama, dengan bersama-sama
Kita bikin perubahan
(fade
out – fade in
suara Kelompok Kejat)
Kelompok Kejat : (suaranya
saja bersamaan, sementara itu semua yang
berkupaluk berubah ke sikap sangat siaga)
Harus ada
penyelesaian
Harus ada perlawanan
Harus ada gerakan yang
mengubah
Ubah manusia kembali jadi
manusia
Harus ada yang menggerakan
Harus ada yang memulai
Harus berangkat dari
nurani
Nurani kita sendiri
O, nurani…
O, nurani…
O, nurani…iii
(fade
out – fade in
suara Paduan Suara)
Paduan Suara : (Suaranya
saja. Di salah satu sudut pentas atau berupa
silhouette di latar belakang, tampak kembali
Sumuh yang menggusur kupaluk melintas. Kelompok
berkupaluk, di atas pentas, tampak dalam
persiapan perang, mereka bergerak dalam
koreografi tari, gerak-geraknya amat berlawanan
dengan nada atau irama yang dinyanyikan paduan
suara )
Sembilan nyawa hilang
Melanjutkan riwayat
kesia-siaan
Jasad-jasadnya bungkam
Memendam ketidakmengertian
Jasad-jasadnya bungkam
Menelan ketidaktahuan
Sembilan nyawa hilang
Jadi korban kala siang
menjelang
Pagi, bersama untaian
senyum
Sang bapak masih sempat
menebar harapan
Pagi, bersama untaian
senyum
Sang ibu
menebar kasih dalam pelukan
Pagi,
bersama untaian senyum
Sang kakak
janji kan berkirim kabar
Kabar…. O,
kabar
O, kabar
duka yang kemudian tersebar
Kabar…. O,
kabar
O, satu
dentuman menggenapkan seribu luka
Kabar…. O,
kabar
Kala siang
menjelang,
Kemanakah
sang bapak membawa harapan
Kala siang
menjelang,
Pelukan
ibu menjadi kehangatan terakhir, bu…
Kala siang
menjelang,
Kabar…. O,
kabar,
Mengapa
kabar itu yang kakak pilih
Kabar…. O,
kabar….
Darah
kembali tercecer
Kematian
dan jerit kesakitan
Taklah
genap jua
Godot :
(kini muncul di sebuah peninggian di hadapan dinding) Wahai
rakyatku… sudah dekat… sudah begitu dekat
gangguan itu menghampiri kita!
Siapkan semua senjata, semua daya, dan semua
diri kita untuk mempertahankan harta kita,
martabat kita, kedaulatan kita!
Yang Berkupaluk :
(serempak)
Siap laksanakan! Kami sudah
siap berabad-abad silam lamanya. Sejak berabad
lampau kami memang dipersiapkan untuk setia
kepada pemimpin, Sejak berabad lampau kami
memang dipersiapkan untuk berperang. Kami siap
melaksanakan!
Kelompok Kejat : (bermunculan
dari berbagai sudut)
Harus ada
penyelesaian
Harus ada perlawanan
Harus ada gerakan yang
mengubah
Ubah manusia kembali jadi
manusia
Harus ada yang menggerakan
Harus ada yang memulai
Harus berangkat dari
nurani
Nurani kita sendiri
O, nurani…
O, nurani…
O, nurani…iii
Yang Berkupaluk :
Awas saudara-saudara… siaga semua…
Kelompok Kejat :
Serbuuuu…….
Musik perang bergema. Peperangan pun terjadi
dalam bentuk koreografi. Adegan tidak hanya di
lantai pentas dan berupa silhouete, tapi
juga adegan-adegan perang yang bergelantungan
dan tetap dikoreografi dengan baik. Gambaran di
pentas, yang bergelantungan, atau pun
silhouette di latar belakang menggambarkan
betapa hebatnya peperangan ini. Seiiring irama,
korban di kedua belah pihak pun mulai
berjatuhan. Perang terus berlangsung, korban
terus bergelimpangan hingga akhirnya Yang
Berkupaluk semua mati. Kelompok Kejat bersisa
tinggal beberapa orang. Yang tersisa ini pun
kemudian merangsek ke muka menghancurkan dinding
yang terbentang. Tembok-tembok dinding runtuh
berguguran dan hanya tinggal kerangka serta
sedikit sisa-sisa temboknya. Tiba-tiba dari
reruntuhan itu muncul sejumlah anak-anak
laki-laki dan perempuan, semua telanjang tapi
berkupaluk. Mereka menghambur keluar, kemudian
melepas dan melempar kupaluknya ke sembarang
arah. Semua menjadi hiruk-pikuk tapi sebetulnya
terarah secara koreografis. Tiba-tiba terlihat
Godot yang lari dikejar oleh beberapa orangnya
Kejat. Setelah beberapa lama, Godot yang dikejar
muncul di peninggian yang kini tinggal rangka
itu.
Gema
musik tiba-tiba berhenti, semua tiba-tiba
terdiam. Pusat cahaya terarah ke tempat
peninggian. Godot kepepet tak bisa ke mana-mana
lagi, tampak Bedul naik tangga membawa senjata
menghampiri Godot.
Godot : Bedul… Ternyata
engkau… bagaimana bisa? Aku ini sahabatmu… Kita
ini bersama-sama sejak dulu kala. Berabad-abad
kita beriringan… Bagaimana mungkin? Tidak bisa,
tidak bisa berakhir seperti ini…
Bedul : (tidak
berkata-kata, melainkan mengangkat sejata dan
menghujamkannya ke tubuh Godot diiringi musik
gemuruh.
Godot berkelojotan kemudian mati di pangkuan
Bedul. Setelah beberapa saat gemuruh terhenti
dan sepi. Bedul berkata perlahan saja yang
kemudian diikuti orang banyak termasuk anak-anak
yang telanjang) Godot
telah mati!
Orang Banyak : Godot telah mati! Godot
telah mati! Godot telah mati! Godot telah mati!
Godot telah mati! Godot telah mati!
Kelompok Kejat : (di
tengah suasana suka-cita atas kematian Godot)
Harus ada
penyelesaian
Harus ada perlawanan
Harus ada gerakan yang
mengubah
Ubah manusia kembali jadi
manusia
Harus ada yang menggerakan
Harus ada yang memulai
Harus berangkat dari
nurani
Nurani kita sendiri
O, nurani…
O, nurani…
O, nuraniiii…iiiii
Sumuh : (menyeruak
di antara keramaian orang-orang yang suka cita
dan bernyanyi itu) Nurani? Betulkah
nurani? Kenapa nurani harus meminta darah? Di
manapun yang diucapkan sama: nurani! Semua pun
mengatas namakan: nurani! Duh, tampaknya aku pun
sudah tak bisa lagi mengenali nurani. Siapakah
nurani? Apakah gerangan nurani itu? Wahai Bedul…
siapakah engkau sebetulnya? Berabad-abad kita
bersama-sama, tapi sungguh tak pernah kukenali
engkau ini siapa sebenarnya.
Sosok Hitam : (tiba-tiba
muncul tepat di belakang Bedul)
Setipis garis
Yang mampu kau lihat
Itulah
batas antara
Baik
dan buruk
Maka manusia
Bisa terkecoh
Silau penglihatannya
Buta pandangannya
Inilah kesempatan
Bagi kita untuk
menggoda
Mengajaknya jadi
sekutu
Mendiami kegelapan
Biarlah matanya
terpejam
O,
maka gelaplah
Garis
pun menghilang
Ooo……..
Jadilah kau sekutuku
Ooo……..
Sumuh : Sungguh, ternyata
engkau ini begitu asing bagiku… Dan
senyata-nyatanya pula kau pun sesungguhnya tak
pernah mengenal siapa aku ini…
(kepada
diri sendiri) Tak saling mengenal?
Kita ini satu sama lain tak pernah saling
mengenal, siapakah aku dan siapakah diri anda
itu… Engkau adalah hal asing bagi
diriku… Dan diriku adalah asing bagimu… Asing?
Dari mana pula asal-muasalnya perasaan asing itu?
Berabad-abad ternyata aku hanya berjalan di
lautan keterasingan ini. Mestikah kulanjutkan
kembali perjalananku mencari tahu siapakah
diriku ini dan mencoba mengenali siapakah anda
semua ini?
Bedul : (di
ketinggian dan masih memeluk Godot yang telah
mati) Tangkap orang itu… Jangan
biarkan ia berfikir dan mengumbar pikirannya… ia
berbahaya bagi keberlangsungan kita semua…
(maka
semua sigap mengepung kemudian mengejar-ngejar
Sumuh.
Adegan pengejaran ini tampak dalam gambaran
silhouette di latar belakang, di antara
rangka dan reruntuk dinding. Gambaran ini
berulang beberapa kali untuk menggambarkan bahwa
dalam waktu berabad-abad kejadian ini terus
berlangsung, sampai suatu ketika silhouette
itu memperlihatkan Sumuh yang melompat, disusul
adegan orang-orang yang mengejar celingukan
mencari-cari, kemudian berlanjut melakukan
perburuan.
Sementara itu Bedul tampak turun sambil
membopong mayat Godot. Hampir bersamaan, Kejat
pun maju ke tengah pentas. Mereka, Bedul dan
Kejat, bertemu di tengah pentas. Bedul
menyerahkan mayat Godot kepada Kejat sambil
berbisik)
Dengan ini maka engkaulah Godot itu! (mereka
pun berlalu ke luar pentas diikuti yang lain-lainnya,
kecuali mayat-mayat lain yang bergelimpangan)

Adegan 11
Anak di antara Mayat-mayat
Muncul
anak-anak telanjang. Dua di antaranya, laki-laki
dan perempuan, dengan berselempangkan senjata
bersama-sama mencari-cari jenazah orang tuanya.
Anak : Ayahku ikut
berperang, ini dia kupaluknya… tapi mana
mayatnya, ya?
Anak :
Kalau ibuku pas sedang pergi mencuci,
tiba-tiba perang terjadi. Sudah berabad-abad
kutunggu tak pulang-pulang juga…
Anak Bersenjata :
Paman, bukankah paman yang
memberikan senjata ini. Sekarang paman tidak
ada, mayat paman pun tak kutemukan… Lantas
senjata ini untuk apa…
Anak :
Yang tidak kumengerti,
mengapa mereka ini berperang, mengapa mereka ini
berbunuh-bunuhan… Bibi dan Mamangku di pihak
Godot, ayah dan ibuku di pihak Kejat… kini
semuanya mati…
Anak :
Ibuku pun mati, ini dia jenazahnya… tapi dia
tidak pakai kupaluk.. ia jadi temannya Kejat
rupanya. Nah ini bapakku, kalau bapakku pakai
kupaluk, mati juga…
Anak Bersenjata :
Aku malah tak kenal siapa
yang memberikan senjata ini, sekarang aku tak
tahu pula mesti dikasihkan siapa senjata ini…
Anak :
Kalau kamu di pihak
mana?
Anak :
Aku di pihak Godot! Kamu?
Anak :
Aku bersama ayah di pihak Kejat! Kita
berlainan, ya?
Anak :
Ah, sama-sama juga telanjang.
Anak :
Lagian Kejat dan Godotnya pun sudah tidak
ada.
Anak : Jadi kita
sama-sama lagi, dong?
Paduan Suara 1 & 2 :
(akapela
di latar belakang berupa silhouette.
Anak-anak meneruskan dalam pencarian, atau bisa
pula semua duduk terpaku di antara mayat-mayat)
Sembilan nyawa tak
menggenapkan yang tiga ratus
Tiga ratus
tak menggenapkan ratus ke tujuh
Ribu
bahkan menjadi tak berbilang
Juta akhirnya hanya jadi bahan berita
Semuanya berpindah jadi
angka-angka
Bumi pun meradang
kesakitan penuh luka
Bunuh, bunuh, bunuh,
bunuh…
Riwayat pembunuhan
menjelma sederet angka
O,
Lihat pula di sana wabah
menyebar
Bergeser
pandang tampak bah yang amuk
Gunung di
utara tampak geram
Jauh ke
timur tanah kerontang
Barisan
babu kian memanjang di negeri orang
Berbaris
pula kala pulang dengan luka diperkosa majikan
Ada
pula yang termangu nanar sinar lampu neon
O,
Inilah kala penyairnya tak
lagi jadi penunjuk jalan
Satu, dua, dan sembilan
agamawannya mabuk kekuasaan
Ini kala negeri diurus
laiknya permainan
Rakyatnya hanya dihitung
sebagai bilangan
Satu, dua, dan sembilan
rakyatnya pun kehilangan ingatan.
(Fade out. Pentas jadi gelap.)

Adegan 12
Epilog
Begitu
pentas terang kembali tampak Sumuh yang
kelelahan dihampiri dua anak, laki-laki dan
perempuan, telanjang tapi masing-masing membawa
senjata. Sumuh menyambut serta segera melucuti
senjata mereka, kemudian melemparkannya
jauh-jauh.
Sumuh : Sahabatku…
Janganlah tanyakan itu…
Jangan
tanyakan itu padaku
Sahabatku…
Dalam diam
sering kutanyakan
Kutanyakan segala hal hidup ini
Yang kembali selalu
pertanyaan
Wahai, sahabatku…
Tak sekali kuberkeinginan
Wahai, sahabatku…
Tapi yang datang sama
sekali lain
Awalnya kusepelekan saja
Tapi kemudian ternyata…
Ternyata itu diperlukan
juga
Adakah artinya kita ini
sesungguhnya tak pernah tahu
batas
antara keinginan dan apa yang kita perlukan
Ooo… aaaa…
oooo
Wahai,
sahabatku…
Maka
kubaca kehendak angin
Wahai,
sahabatku…
Kuikuti
selalu kemana ia bawa tubuhku
Andaikan
sampai ke bibir tebing pun
Aku tak
bisa menolaknya lagi
Hei,
sahabatku…
Kita ini tak memiliki hak tolak
Heiiii….. ahhhhhh
Hei, sahabatku…
Andai bisa kutolak maka
kutolak kelahiranku
Dan akhirnya beginilah
kisah hidupku
Dalam ketakberdayaan
Dalam
ketakberdayaan terus melangkah
Hei,
sahabatku…
Kitaaaaa tak pernah tahu awal
Heiiii….. ahhhhhh
Wahai, sahabatku…
Maka tak tahu pula
bagaimana cerita akan berakhir
Yang kutahu hanya arah
angin
Itu pun…
Itu pun
kerap tak terduga.
Anak :
Paman ini siapa?
Anak :
Hush, kau dengar tadi, katanya jangan
bertanya!
Anak :
Tapi, masa kita sama-sama
tapi tidak tahu nama masing-masing.
Anak : Paman ini siapa?
Anak : Heh, malah tanya
lagi.
Sumuh : Betul-betulkah kamu
ingin tahu siapa aku ini?
Anak : Betul! Siapa paman?
Anak : (akhirnya
ikut juga karena ia pun sesungguhnya ingin tahu
juga) Ya, paman, sekadar nama saja,
siapa?
Sumuh : Itulah persoalannya,
nak. Semuanya bermula dari nama… Bersama nama
nantinya ada pilihan-pilihan dan
ketentuan-ketentuan hidupnya masing-masing…
Pilihan dan ketentuan itu berubah menjadi jalan
hidup.
Anak : Panjang amat nama
paman ini… Pilihan dan Ketentuan bin Menjadi
Jalan Hidup!
Anak : Hush, dengar dulu…
Itu bukan nama tapi sejarahnya!
Sumuh : Bukan sejarah tapi
penjelasan…
Anak :
Tuh, kan, jangan sok tahulah…
Sumuh :
Jalan hidup itu ketika diajarkan
jadilah ideologi… ideologi bisa bergumpal jadi
mesin… mesin perang anak-anakku…
Anak :
Bukankah jalan hidup itu ada yang baik dan
ada yang buruk?
Sumuh :
Baik dan buruk itu masih
jelas ketika masih berada dalam diri kita
masing-masing, ketika ia belum diberi nama. Tapi
ketika ia telah diberi nama, dirumuskan,
diidentifikasikan, diajarkan, jadilah ideologi,
dikomunitaskan, dikelompokan, diorganisasikan,
dilembagakan; dua-duanya sama bisa menjadi
mesin… Demikian pula halnya tentang kebenaran
dan bahkan ketidakbenaran, itu tampak jelas
ketika masih telanjang sebagai kebenaran atau
ketidakbenaran. Setelah diberi baju, diberi
emblem, diberi asesoris, dihiasi, dipidatokan;
maka semuanya menjadi sama sekali lain. Bahkan
bisa menjadi tampak terbalik-balik; kebenaran
menjadi ketidakbenaran dan sebaliknya. Dua hal
yang sesungguhnya berbeda itu maka segera akan
berubah hanya menjadi alat, kendaraan, atau
tunggangan… kala itulah hal hakiki tersebut
menjadi mesin… Sebagai mesin, kebenaran yang
satu menjadi punya kemampuan untuk menggilas
kebenaran lainnya… begitu seterusnya… menjadi
mesin pembunuh bagi yang lainnya.
Anak :
Kamu ngerti?
Anak :
Sama sekali tidak mengerti!
Anak :
Jadi nama paman?
Anak :
Ya, Mesin Pembunuh itu tadi.
Anak :
Hushhh… Kamu
ini gimana, masa namanya Mesin Pembunuh?
Sumuh : Aku ini Godot!
Anak : (berbarengan)
Bukankah Godot sudah mati?
Sumuh : Kita semua adalah
Godot!
……………………
(Black
out)
Tamat
Cibolerang-Giri
Mekar, September-Oktober 2004
Saya pernah punya impian libretto ini kemudian
score (lagu-lagu)nya itu ditulis oleh
Harry Roesli. Eh, dia (Harry Roesli), tanggal 11
Desember 2004, malah pergi mendahului kita semua.
Sebelumnya, naskah ini sudah kukirimkan ke
[email protected]. Tapi
entah, saya tak pernah tahu apakah naskah ini
sempat dibacanya atau tidak.
Selamat jalan, Mas. Saya ikhlas dan akan selalu
mengenang indahnya persahabatan kita.
Di sela masih situasi berduka, ihwal ini saya
sampaikan kepada Mukti-mukti. Pada akhirnya
Mukti-Mukti mencoba menuliskan score-nya,
dan bisa menyelesaikan beberapa di antaranya. |