Seorang Pengemis Dan Seekor Kucing Kurus
Setelah pesta keramaian yang penuh berahi itu berakhir
Ditengah malam yang kian memabukkan
Kucing yang kurus kempis itu pun datang
Memunggah sisa-sisa makanan
Luahan para hadirin tadi
Di tepi tong sampah
Yang hampir terjelir
Itulah julung kalinya
Hari-hari yang penuh mewah
Bagi sang kucing
Menguyah tulang-temulang
Yang sebenarnya tadi tiada harga bagi orang-orang tadi
Tapi sisa-sisa itu akan melenakan tidurnya malam ini.
Cuma pengemis pucat itu
Yang saban malam tidur berlantaikan kaki lima
Menyedari kehadiran kucinr itu
Yang sedang
Menyelongkar longgokan sampah itu
Dalam cahaya neon dinihari yang pucat
Dia melihat sang kucing itu
Seperti menguyah deritanya
Dan tiba-tiba
Dia mengais sama
Merasakan betapa enak bahagiannya
Dan kemudian ia begitu akrab dengan kucing itu.
Pengemis itu tiba-tiba diterjah rasa malu
Pada kucing dungu itu
Yang saban malam mengintip makanan
Dari segenap lorong
Sedangkan dia terus saja menadah tangan disini
Semangat kucing itu bagaikan teguh
Dan angkuhnya bangunan-bangunan pencakar langit
Sedangkan semangatnya sendiri
Sepucat bulan pada dinihari itu
Amran Sidin,padang Sena.