Kepada pemain Opera

Pedangku pernah memenggal leher amarahmu
Darahnya tak tersimbah pun ke kaki
Sebaliknya topeng-topengmu terus bergantungan di dinding hayat
Engkau semakin galak menjerit,
memanggil-manggil penontong yang simpang siur do lorong hayat
Layarmu melambai-lambai.
Bibirmu mencuit naluri

Pedang kataku tak pernah kuendah lagi.
Saat kau tergelincir dalam lubuk itu,
kuhulurkan pedangku.
Aneh
Biar luka jemaroi keegoanmu,
kau sambut pedangku

sebelum ku angkat kau dari lubuk prasangka itu,
kau masih pandai bersuara:"Inilah lakonanku
yang terakhir sebab kemahuan pun tak pernah berhenti
mengalir..."

Aminhad, Kuala Lumpur, 1998


Laman Puisi 1