Lagu Senja Simpang Empat
Daun angsana kering terakhir barangkali gugur sudah dari ranting rindu,
merdeka dari kepungan
asap knalpot seribu.
Sebuah doa yang kau baca merangkumnya,
menjelma cermin di hatimu
membingkai fajar rembulan.
Masih membekas jejak nama-nama,
napas tertahan,
sungai
terbendung,
ditarikan debu di pusar simpang empat.
Selintas pohon-pohon rohani
kecoklatan di atas kubur keikhlasan pada empat penjuru rabu,
ba�da tiga rakaat berpeluh itu,
dan rentep mimpi agak wangi diterkam ringkih cahaya merkuri.
Dan sempat kita pesan dua mangkuk supermi tanpa telur di ketiak kota,
luput dari
parfum made Italia.
Vina, rere, dan nana,
tersembur dari mulutmu belepot gelisah;
terlipat satu bab penuh kotak-kotak formula.
Barangkali payung di dadamu kelewat
mini hingga tak mampu menyembunyikan warna inginmu.
Dan senyummu belum lengkap
menyedu keringat dan doa.
Tapi biarlah, akan selalu ada yang
menggenang sisa.
Seperti kau dan aku dalam kalung senja.
Alasan agar kita kembali
menyalami segala bunga.
Segala cuaca.
Agus Manaji, 2001