Gempa

Kunyalakan radio
di tengah hiruk pikuk orang-orang.
Mengangkat puing-puing kesombongan
dan ambisi.
Dibantu oleh orang-orang suci
yang bekerja bukan karena
guci harta atau wanita
yang terjanjikan.
Tetapi pada air, bumi, udara
dan mistik di sekelilingnya.

Suara tak asing berbisik
berusaha menenangkan prahara
dengan kata-kata yang terdengar
terlalu manis. Puitis mungkin.
Seperti seorang putus asa.
Mencari pelarian.
Ia terus berkata.
Tentang rendah hati dan menolong.
Tentang hidup dan kehidupan.
Tentang budak-budak suci dan Tuhan mereka.

Dan terus berkata
sampai prahara berganti dengan suara musim semi
dan pemisah hancur.
Kemudian ia diam tertelan kebisuan.
Hilang tertelan kematian suci.
Noudie Christopher De Jong


Laman Puisi 1