|
Bimbingan Tauhid |
|
Tantangan
Muallaf kepada Pendeta
Pada tanggal 9 November 2002, diadakan dialog
Islam dan Kristen berlangsung di gedung ICMI Centre, Mampang,
Jakarta Selatan. Pihak Kristen diwakili oleh Pendeta Josias
Lenkong Mdiv MTh PhD, Rektor Institut Teologi Kalimatullah
(ITK), Jakarta. ITK telah memproklamirkan pengkristenan kepada
umat Islam dengan memperalat ayat-ayat al-Qur‘an. Hal ini
terang-terangan disebutkan dalam brosur ITK bahwa visi
institusi tersebut adalah “untuk membagikan kasih Kristus
(baca: ajaran dan doktrin Kristiani) kepada kaum Muslim dan
dialog antarpemeluk Islam dan Kristen”.
Bukti lainnya,
dalam makalah berjudul “Otentisitas Alkitab Berdasarkan
Kesaksian al-Qur`an” yang dimuat di majalah Pendidikan Syiar
Injil (Pensyil) no 34, Lengkong menyatakan, al-Qur’an sangat
potensial diperalat untuk menyebarkan misi Kristen kepada umat
Islam.
“Tujuan utama menyelidiki
referensi-referensi al-Qur`an yang menyaksikan tentang Alkitab
ialah: agar kita dapat mengenal serta mengerti dan
memanfaatkan potensi ayat-ayat al-Qur`an yang berguna bagi
kepentingan membagikan berkat Injil kepada kaum Muslim yang
kita cintai. Hal menyelidiki al-Qur`an bukanlah untuk
kepentingan pertumbuhan iman kita, tetapi semata-mata hanya
untuk menolong kaum Muslim” (hal. 8).
Pada bagian
penutupnya, Josias menulis, “Kesaksian al-Qur`an sangat
berguna untuk dijadikan jembatan atau sarana misi pekabaran
Injil Alkitabiah” (hal. 26). Dialog berlangsung selama
tujuh jam. Mulai dari pukul 09.00 WIB dengan disaksikan oleh
khalayak dari umat Islam dan Kriten dari berbagai kalangan
kurang lebih 90 orang.
Dialog Rel
Kereta Dialog berlangsung kurang menarik karena tema
yang disampaikan oleh kedua belah pihak tampak tidak sejalan.
Ibarat dua rel kereta api yang tidak saling bertemu dan
berjalan masing-masing. Pihak Kristen memaparkan makalah
seputar Alkitab (Bibel), sedangkan pihak Islam memaparkan
makalah seputar al-Qur’an. Dialog antar pembicara pun
berlangsung tidak begitu seru dan menarik.
Tantangan
Muallaf Yang menarik dalam dialog tersebut adalah sesi
tanya-jawab antara peserta dengan pembicara. H. Insan LS
Mokoginta (muallaf mantan Katolik) dari Tim FAKTA menyampaikan
pertanyaan dan tantangan yang cukup mecengangkan hadirin.
Disebutkan, salah satu bukti mukjizat al-Qur‘an adalah mudah
dihafal. Jutaan orang di dunia ini mampu menghafal al-Qur‘an
di luar kepala. Jutaan huffazh (penghafal al-Qur’an-red) itu
hafal al-Qur‘an dalam teks asli bahasa Arab, dari kalimat
sampai titik-komanya, meskipun mereka banyak yang tidak paham
bahasa Arab. Karena itu, seluruh kekeliruan cetakan al-Qur‘an
baik yang disengaja ataupun tidak, pasti dapat segera
dideteksi. Dengan demikian, otentisitas al-Qur‘an selalu
terjamin. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS al-Hijr:
9) Keistimewaan serupa tidak dimiliki oleh umat Kristiani.
Sampai saat ini, tak seorang pun yang hafal Alkitab (Bibel).
Muallaf FAKTA ini menantang Pendeta Lengkong dan seluruh
jemaat Kristiani yang hadir. Jika ada di antara mereka yang
bisa menghafal Alkitab satu lembar bolak-balik tanpa salah,
dia akan kembali masuk agama Kristen. Seluruh peserta dialog
(terutama kalangan Islam) kelihatan agak tegang dengan
tantangan ini, khawatir kalau ada umat Kristen yang
betul-betul hafal.
Ternyata, sampai acara selesai, tak
seorang pun yang hafal Alkitab meski hanya selembar dalam
bahasa Indonesia, bukan bahasa asli Alkitab. Pendeta Lengkong
menutupi kelemahannya dengan berkilah, “Kami umat Kristiani
tidak ditekankan untuk menghafal kitab suci. Kami hanya
menekankan pemahaman dan pengamalan, bukan hafalan.” Jawaban
ini hanyalah retorika untuk menutupi kelemahan kitab sucinya.
Sangat aneh jika pendeta (yang biasa mengkhutbahkan ayat
Alkitab) sarjana S-3 tidak hafal selembar Alkitab pun.
Padahal, jika Alkitab itu murni firman Tuhan, seharusnya mudah
dihafal. Karena Allah pasti memudahkan umat manusia untuk
menghafal firman-Nya.
Alhamdulillah, ketegangan hadirin
pihak Islam pun berubah menjadi kecerahan. Tantangan muallaf
tidak terjawab oleh sang pendeta. Insya Allah sampai akhir
hayatnya hidayah Islam tetap menyertainya. Meski tantangan
tersebut diperpanjang lagi sampai beberapa tahun, tetap tak
akan terjawab oleh pendeta. Sebab umat Kristiani sudah tidak
punya keseragaman kitab suci. Masing-masing penerbit berbeda
versi dan tiap tahun terjadi revisi.
Untuk
menelusuri asal-usul Alkitab yang asli, para teolog dan
sejarawan menemui kebuntuan, karena naskah Alkitab yang asli
memang sudah musnah. Alkitab yang ada saat ini adalah salinan
dari salinan-salinan naskah kuno. Stefan Leks, pakar
bibliologi mengakui hal tersebut. “Salah satu pertanyaan
dasariah yang sering kali dikemukakan para pembaca Kitab Suci
(Alkitab) menyangkut teksnya sendiri adalah: Sejauh manakah
teks itu pasti? Jangan-jangan teks itu sudah diubah dan
dimanipulasikan. Jangan-jangan ada teks-teks yang disingkirkan
oleh pihak tertentu, dan sebagainya. Di seluruh dunia tidak
usah dicari teks asli Kitab Suci, sebab teks itu memang tidak
ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari
salinan-salinan terdahulu, dan di antara bermacam-macam
salinan yang kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan”
(Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, Kanisius,
Yogyakarta 1992, hal. 73-74).
Seandainya ada orang yang
hafal Alkitab cetakan tertentu, pasti tidak sama dengan Alkitab
tertentu milik orang lain di tahun cetakan yang berbeda. Hal ini
menjadi kendala lain yang cukup berat bagi orang yang ingin
menghafal Alkitab.
Contoh perbedaan yang sangat mencolok
dapat kita lihat pada Alkitab tahun 1970 dengan Alkitab tahun
2000. Dalam Alkitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
tahun 2000, kitab II Samuel pasal 21 terdapat 22 ayat, pasal 22
ada 51 ayat, pasal 23 ada 39 ayat dan pasal 24 ada 25 ayat.
Jumlah seluruhnya, pasal 21-24 ada 127 ayat, termaktub kita-kira
tujuh halaman. Seandainya ada orang yang hafal ayat ini, tentu
akan sia-sia hafalannya. Karena dalam Alkitab versi lain, kitab
II Samuel pasal 21-24 itu tidak ada.
Alkitab versi Kitab Kudus
Perdjandjian Lama terbitan Arnoldus Ende-Flores tahun 1970
misalnya, tidak memuat 127 ayat tersebut dalam kitab Samuel.
Pada halaman 290 dijelaskan bahwa pasal 21-24 itu adalah
ayat-ayat tambahan saja. Bagi pembaca yang menginginkan copy
lampiran tersebut, bisa meminta kepada Tim FAKTA melalui
email, SMS, kontak HP atau surat via Po. Box.
Kalau
demikian, tantangan muallaf kepada pendeta tidak akan pernah
terjawab sampai kapanpun. Otentisitas al-Qur’an menguatkan
iman para pemeluknya terhadap Islam untuk selamanya.
Editing terakhir:
Selasa, 21 Januari 2003 11:23 |
|