Tamat

              (Diah Zhagarany)

 

Aku Olivia Dirga Zahara,tetapi semua orang memanggil aku Tingting. Panggilan itu ada sejak aku kecil,orang memanggilku Tingting karena rambutku yang keriting,jadi disingkat Tingting.

Panggilan yang sama sekali tidak wajar dan tidak bermutu,masa aku disamakan sama merk permen tetapi mau bagaimana lagi namanya juga nasib. Sekarang aku duduk dikelas 2 SMA,tepatnya SMA Nusantara.Akhir-akhir ini waktuku selalu tersita karena urusan Osis,apalagi sebentar lagi sekolahku akan mengadakan Pensi. Jadi itulah yang membuat aku selalu pulang sore,membuat berlembar-lembar proposal. Sebenarnya aku punya wakil namanya Dara tetapi sayang dia tidak bisa membantu tugasku karena dia lagi ikut pertukaran pelajar ke Bali. Namun beruntung aku tinggal dikomplek dekat sekolah,jadi walau pulang sore aku tidak akan terperangkap dengan macetnya Jakarta. Tinggal lari tibalah dirumah tercinta.

            Gemuruh petir merangkai melodi,percik air alunan syair. Perpaduan serasi disetiap sore yang kurasa sepulang sekolah. Kulihat jam yang melingkar cantik ditangan kiriku,“Hah .. astaga sudah jam 17.00,bagaimana bisa sudah sesore ini?”.  Aku segara mematikan komputer yang ada diruang osis,mengunci pintu dan bergegas untuk pulang. Aku baru tersadar  betapa sepinya sekolah itu. Suasana mencekam membuat jantungku terkena tsunami 7,8 skala richter tanpa pikir panjang lagi aku terus ambil tujuh ribu langkah menuju gerbang sekolah. Aku sangat ketakutan tanpa menoleh kiri dan kanan lagi aku terus saja berlari.

“Akhirnya tiba juga didepan gerbang sekolah ini” ujarku lega sambil berhenti sejenak dan mengatur pernapasanku yang berantakan.

            Aku pun meneruskan perjuanganku menuju rumah.“Kesana kemari membawa alamat ... Tingting aku penggemarmu!!” terdengar suara sayup-sayup,tampaknya seorang pria yang duduk ditepi jalan itu. Kembali jantungku terlanda tsunami ketakutan,terbesit dibenakku pikiran yang tidak-tidak. “Siapa orang itu, apakah dia preman disini. Sepertinya dia ingin berbuat jahat padaku bagaimana jika aku dibunuh dan lalu dimutilasi seperti disinetron? huaaaaaaaaaah tidak mau! Tuhan aku masih muda aku masih mau hidup”, tetapi untuk mengurangi rasa takut,aku purapura saja tidak dengar dan menambah kecepatan langkahku.

            Namun betapa terkejutnya aku ketika melihat pria itu mengikutiku. “Apa mau mu? mengapa kau ikuti aku ? jangan ganggu aku,mengerti!” tanyaku pada pria itu sambil setengah berteriak memberanikan diri. Dengan santainya pria itu menjawab “Tidak nona cantik tenang aku tidak akan menyakitimu,aku akan menjagamu dan mengantarkan kamu pulang dengan selamat”.

“Sudah jangan basa-basi,hari gini mana ada orang yang benar benar baik pada orang yang belum dikenal. Jika kamu mau uang akan kuberi tetapi tolong jangan ganggu aku,aku masih mau hidup!” ucapku.

“Tenang nona cantik,siapa bilang aku tidak mengenalmu aku sangat mengenalmu Olivia Dirga zahara anak semata wayang dari Bapak Direktur Widodo dan Ibu Sekar Hantira. Tinggal diKomplek Hijau  0999 Timur.Kelahiran Palembang 4 april 1994. “Aku tidak suka uangmu aku cuma ingin kamu jadi istriku nanti,ok cantik”pria itu tersenyum. Aku semakin kebingungan,sebenarnya siapa pria ini. Tetapi setelah aku perhatikan penampilannya tidak seseram yang aku pikirkan ia mengenakan kemeja biru abu abu yang sangat rapi dan memilki wajah yang lumayan tampan. Aku tetap berusaha untuk tidak memperdulikan pria aneh itu.

“Oh ya,aku Anggara Onando”,ucap pria itu. Tetapi aku tetap tidak memperdulikannya,sampai akhirnya tiba dirumah dan aku bergegas lari menutup gerbang rumah.

            “Ting tadi siang pacar kamu datang,dia beliin mama baju asli dari sofie paris. Kok tingting tidak cerita sama mama mana pacarannya sudah 3 tahun lagi,setiap hari dia selalu membawakan mama oleh-oleh. Kalau sama nak Anggara mama setuju sudah anaknya  ganteng dan baik pula” ujar mama senang. Apalagi ini pikirku,semakin membuat aku bingung delapan keliling.

“Mama Tingting tidak punya pacar,lagian siapa juga itu Anggara? mama kok aneh hari ini?” tanyaku semakin heran.

dan menuju kamarku,kututup pintu dan kuhempaskan tubuhku ke atas kasur kesayangan. Aku menatap langit langit kamar dan menerawang jauh karena ada tanda tanya besar dibenakku tentang siapa sebenarnya Anggara itu. Apakah dia orang sakit jiwa,tetapi mustahil orang gila bisa pergi ke Paris.

            Begitulah seterusnya,setiap aku pulang sekolah Anggara selalu mengikutiku,itu sudah berlangsung selama 3 bulan tanpa absen.  Kemanapun aku pergi pasti bertemu dengan pria aneh berjaket itu. Tetap saja aku berlaku acuh padanya. Tak jarang ia mengeluarkan leluconnya hingga membuat aku tak sanggup menahan tawa tetapi ia tak pernah mau cerita bagaimana ia bisa mengetahui semua hal tentang aku. Padahal seumur hidupku baru kali ini aku bertemu dengannya.

            Suatu sore seperti biasa aku pulang lewat jalan kaki,tetapi aku merasa aneh.Didalam hati aku bertanya “dimana Anggara yang setiap sore menemaniku berjalan kaki? Walaupun aku selalu bersikap acuh padanya tanpa disadari aku selalu tenang berada didekatnya.Apa dia lelah mengikuti aku tetapi aku selalu acuh padanya?” aku bergerutu dalam hati. Namun aku mencoba mengusir pertanyaan itu. Anggap saja aku tidak pernah bertemu dengan pria aneh itu.

            Sesampai di rumah aku langsung menuju kamar,betapa terkejutnya aku ketika melihat banyak sekali bunga sakura menghiasi kamarku dan juga di dinding tertuliskan “Selamat Ulang Tahun Cantik”. Baru kali aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa,aku pun memanggil mbak Lala,orang yang membantu beres beres di rumahku “Mbak ini cantik sekali,dari mama ya? Mama kok baik sekali ya mbak. Kemana mama mbak? wah Ting sayang mama ”.

“Ke Bogor non tempat rumah non semasa non SD,tetapi non ini bukan dari ibu tetapi mas Tamat,maksud saya Anggara” jawab mbak Lala terlihat sedikit gugup.“Anggara Anggara siapa dia mbak beritahu aku siapa dia?” desakku pada mbak Lala. “Baik non,mas Anggara itu sebenarnya mas Tamat teman non sewaktu non di Bogor yang 13 tahun yang lalu pergi ke Amerika. Bukankah non sudah ditunangkan dengan dia sejak kecil?”tutur Mbak Lala.

            “Tamata Agung? Mbak cowok yang Ting sayang dari 13 tahun lalu Ting tunggu? Tetapi kenapa dia mengganti namanya menjadi Anggara? ini aneh sekali mbak,apa mama sudah tahu tentang hal ini?”ujarku kaku.

“Untuk itu saya tidak tahu non,lebih baik non sekarang pergi kerumah non yang dulu.Sebelum terlambat semuanya saya kasihan sama non,” jawab Mbak Lala menahan tangis.

            Tanpa pikir panjang lagi aku langsung minta antar sopir pergi ke Bogor. Sampailah aku di rumahku yang dulu,beruntung aku masih ingat alamatnya. Namun aku merasa sangat heran kenapa di rumah Tamat yang dulu ramai sekali orang. Kulihat juga ada mobil mama dihalaman rumah itu. Kuberanikan diri masuk kerumah itu,tanpa sengaja di ruang tamu aku membaca sebuah papan duka “Selamat Jalan Tamata Agung” Aku bagai disambar petir disiang hari,tubuhku serasa lunglai tanpa tulang. Pacar kecil yang sangat aku sayang pergi untuk selama-lamanya. Aku langsung memeluk jenazah Tamat yang masih terlihat sangat tampan dan berwibawa. “Mama,tante kenapa kalian tidak cerita kalau Tamat menyamar sebagai Anggara? kalian jahat!” aku membrontak.

“Mama dan tante Adinda ibu Tamat langsung memeluk aku dan membawa aku kekamar yang dulu dipakai Tamat. “Nak dengar kan ibu! Tamat menyamar sebagai Anggara karena dia ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama Ting,tanpa merobek kebahagiaan dihati Ting karena Tamat sangat sayang pada Ting. Tiga bulan yang lalu Tamata diponis dokter terkena kanker otak stadium akhir. Lihat seluruh isi kamarnya terpenuhi dengan foto Ting,mulai dari kelas 1 SD sampai Ting sebesar dan seanggun ini. Sebenarnya ibu keberatan atas rencana Tamat itu tetapi mau bagaimana lagi itu adalah permintaan terakhir dari Tamat. Tamat titip pesan sama ibu,dia berharap Ting suka sama kejutan mawar putih terakhirnya dan Tamat juga minta maaf dia tidak bisa melihat Ting mengenakan gaun ungu itu. Ibu minta Ting sabar ya sayang ... kirim doa buat bang Tamat,ok harus semangat”. Penjelasan panjang dari ibu Tamat,yang membuat aku tak sanggup berkata sepatah kata pun kecuali berurai air mata.

Aku sangat menyesal atas kejadian ini,tetapi aku bangga pernah dicintai oleh orang setegar Tamata Agung. Aku pun belajar mengikhlaskan kepergian Tamat. Sekarang aku mengerti arti cinta sejati. Butuh kesetiaan dan pengorbanan besar,tidak semua cinta sejati itu berakhir dengan indah seperti disinetron.

 

 

Penulis : Diah Zhagarany