Membuka Telinga"Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yes. 50:4) Mendengarkan tampaknya bukan kecakapan yang mudah diraih. Ungkapan "masuk telinga kiri, keluar telinga kanan" memperlihatkan betapa sembrononya kita dalam mendengar. Kita cenderung lamban dalam mendengar, dan terlalu banyak omong. Menurut Alkitab, ini bukan perkara sepele. Penulis Ibrani menyimpulkan, bangsa Israel gagal dalam pencobaan di padang gurun karena mereka tidak mendengarkan firman Tuhan dengan baik (Ibr. 4:2b). Dengan kata lain, firman itu sekadar numpang lewat. Berbicara tentang dengar-mendengar ini, pemazmur mengatakan, "Engkau telah membuka telingaku" (Mazmur 40:7). Kalau dibaca sepintas, tampaknya seperti pemaksaan. Seakan-akan Tuhan harus mengebor lubang telinga kita, supaya kita dapat mendengar dengan baik! Benarkah? "Membuka" atau "menusuk" telinga ini mengacu pada kebiasaan yang ditetapkan dalam Keluaran 21. Seorang budak Ibrani, setelah tujuh tahun bekerja, dapat keluar sebagai orang merdeka. Namun, kalau ia mengatakan, "Aku tidak ingin keluar sebagai orang merdeka karena aku mengasihi tuanku dan ingin melayaninya," maka tuannya harus membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, maka budak itu bekerja pada tuannya seumur hidupnya. Secara rohani, ketetapan itu masih berlaku. Tuhan akan menusuk telinga kita, membuka pendengaran kita, kalau kita memilih untuk mengasihi "Dia yang berbicara dari surga" dan memberi diri kita menjadi hamba-Nya. *** Dimuat: Renungan Malam, Agustus 2004 © 2004 Denmas Marto |