Melenyapkan Ketakutan"Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." (I Yoh. 4:18) Lazarus dikabarkan sakit parah. Setelah menunda selama dua hari, Yesus memutuskan untuk datang ke tempat Lazarus di daaerah Yudea. Murid-murid, teringat perlakuan penduduk kota itu sebelumnya, berusaha mencegah Yesus. "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" kata mereka (lihat Yohanes 11:7-8). Saat merenungkan kisah ini, saya mencoba memahami maksud Yesus. Apakah Ia sedang unjuk keberanian? Atau, membulatkan hati untuk berdiri bagi kehendak Allah, apapun rintangan yang menghadang? Saya mencoba merefleksikan situasi itu dengan kondisi pribadi. Pernah Anda membayangkan masuk kembali ke lingkungan orang-orang yang membenci Anda? Kita cenderung menghindari lingkungan seperti itu. Kita tidak ingin ditolak, kita tidak ingin disakiti lagi. Sebaliknya, ada orang yang dianggap berani -- atau mungkin lebih tepat, kalap -- dan ia akan berani melakukannya, namun dengan kegeraman serba siap membalas dendam. Ia bertindak seolah-olah pembela kebenaran dan keadilan! Yesus, sangat berbeda, mendekati kota itu -- dan kota-kota lain yang menolak-Nya -- dengan hati yang pedih. Di atas bukit Zaitun Ia meratapi kedegilan Yerusalem. Ia bahkan mau menyerahkan nyawa-Nya untuk orang-orang yang menyakiti diri-Nya. Ia datang bukan untuk menghakimi dan menuntut balas, melainkan untuk mengampuni dan menyelamatkan. Bukankah ini "kasih yang sempurna," yang melenyapkan ketakutan? *** Dimuat: Renungan Malam, Agustus 2004 © 2004 Denmas Marto |