Ketika Harapan BerantakanKita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Rm. 8:28) Aku tersentuh dengan kisah Yusuf yang memperoleh visi dari Allah (Kej. 37). Aku membayangkan, bagaimana kira-kira perasaannya ketika tidak lama kemudian, dunia seakan-akan berbalik melawannya. Pada waktu berada di dalam sumur, seorang diri dan ketakutan, teringatkah dia akan mimpinya? Ketika dengan tangan terikat dia dijual sebagai budak, adakah terbersit di benaknya, "Bagaimana dengan mimpi itu? Mungkinkah itu hanya sekadar bunga tidur?" Bagaimana ketika dia berada di penjara karena fitnah, apa yang berkecamuk dalam pikirannya? Hari ini kehidupan Anda barangkali juga tidak menyenangkan. Hal-hal yang Anda harapkan sepertinya berantakan. Anda diliputi kebimbangan dan mulai bertanya-tanya, apakah hal-hal yang Anda pegang dan Anda yakini selama ini memang dari Allah atau hanya harapan kosong? Apapun yang Anda alami, nas malam ini mengingatkan, Allah turut bekerja di balik semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda, sepanjang Anda tetap berjalan di dalam rencana-Nya. Marilah kita belajar untuk meneguhkan hati kita di hadapan Allah. Meskipun keadaan tampaknya berlawanan, kita bisa memilih untuk tetap percaya kepada janji-janji Allah dan membiarkan kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita. Seorang nabi menghibur kita: "yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera"(Yes. 26:3). Ya, jangan kehilangan pengharapan! Seperti Yusuf, kiranya suatu saat kita bisa melihat bagaimana Allah telah mereka-rekakan semuanya itu untuk kebaikan kita. *** (Kolaborasi dengan Ester Bunawolo) Dimuat: Renungan Malam, April 2004 © 2004 Denmas Marto |