Home | Renungan

Melatih Otot Iman

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (Yak. 1:2-3)

Embrio ayam tentulah merasa "nyaman" berada di dalam kulit telur. Namun, pada suatu titik, ia akan merasa terkungkung oleh cangkang tersebut, dan mulai mematukinya. Ia bekerja keras, dan mendapatkan kekuatan dari pergumulannya ini. Kekuatan dan ketekunan ini diperlukannya untuk berhadapan dengan lingkungan baru begitu cangkang tersebut retak terbuka.

Apa yang akan terjadi bila ada orang yang berusaha untuk menolongnya dengan meretakkan cangkang itu sebelum waktunya? Ia justru akan membunuh anak ayam itu. Ya, karena ia telah melumpuhkan kemampuan binatang itu untuk menghadapi lingkungan barunya.

Semacam itulah tampaknya fungsi pencobaan bagi kehidupan iman kita. Tantangan-tantangan yang kita hadapi dapat kita anggap sebagai "barbel", yang selanjutnya kita manfaatkan untuk melatih otot-otot iman kita. Dengan demikian, alih-alih stres dan patah semangat oleh tekanan hidup, kita justru bertumbuh menjadi orang percaya yang semakin dewasa. Dalam uraian Yakobus, kita akan "menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Kesadaran ini kian penting di tengah zaman yang berlomba-lomba menawarkan berbagai jalan pintas, produk cepat saji dan fasilitas instan ini. Bagi pendewasaan iman, tawaran itu jelas tidak berlaku -- apa hebatnya kerohanian karbitan? Karenanya, seperti dinasihatkan oleh Yakobus, kita semestinya menyambut pencobaan itu sebagai "sahabat", dan belajar untuk bertekun menghadapinya. ***

Dimuat: Renungan Malam, Februari 2004

© 2004 Denmas Marto

Hosted by www.Geocities.ws

1