Home | Renungan

Saat yang Tepat

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (I Tes. 5:18).

Hans Jacobus Wospakrik fisikawan cemerlang kelahiran Serui, Papua, dosen di ITB. Namun, ia terlambat memperoleh gelar Ph.D-nya di Universitas Durham, Inggris. Barangkali ada soal birokrasi yang sulit dijelaskan hingga keberangkatannya tertunda. Namun, ia tak menyalahkan siapapun.

"Saya datang di Durham pada saat yang tepat ketika profesor saya memikirkan metode matematika mempelajari soliton berdimensi-N," katanya santun kepada wartawan yang mewawancarainya. "Kalau lebih awal, saya tidak kebagian. Datang terlambat, sudah diambil murid lain."

Sebuah sikap hati yang penuh syukur. Sikap semacam ini memampukan kita melihat sisi cerah kehidupan. Seperti Hans melihat manfaat ketertundaannya, kita juga akan dapat menemukan hal-hal yang positif di tengah keadaan yang tampaknya negatif

Paulus sendiri menuliskan nas malam ini bukan karena ia hidup nyaman. Ia punya "duri dalam daging". Ia dianiaya secara hebat - dilempari batu di Listra, diusir dari Tesalonika, ditolak di Athena, dipenjarakan di Filipi, dibawa ke Roma, mengalami karam kapal di tengah jalan, dan akhirnya mati sebagai martir. Di tengah berbagai kemalangan itulah ia menguatkan jemaat untuk selalu bersyukur - untuk mempertahankan sikap yang positif.

Kalau kita memandang kehidupan ini secara negatif, kemungkinan besar karena kita terlalu banyak memandang hal yang keliru. Karenanya, kita perlu belajar menemukan hal-hal yang positif dan mengucap syukur dalam segala keadaan. ***

Dimuat: Renungan Malam, Januari 2004

© 2004 Denmas Marto

Hosted by www.Geocities.ws

1