Mengasah KapakJika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat. (Pkh. 10:10) Dua orang pria bertanding menebang pohon. Peserta pertama berbadan tinggi, besar dan tegap. Peserta kedua berbadan biasa-biasa saja. Begitu peluit ditiup, peserta pertama segera menebang pohon demi pohon. Peserta kedua setiap kali selesai menebang satu pohon meluangkan waktu untuk beristirahat. Kebanyakan penonton menjagoi penebang pertama. Ternyata, pada akhir pertandingan, pemenangnya penebang kedua. Apa rahasianya? "Setiap kali beristirahat, saya mengasah kapak saya, sehingga tetap tajam. Teman kita itu tidak pernah mengasah kapaknya, sehingga setelah beberapa pohon, kapaknya sudah tumpul." Mengasah kapak, bila diterapkan dalam pelayanan, mengacu pada masa-masa pelatihan atau persiapan. Persiapan memang bukan sesuatu yang mudah dan menyenangkan, namun hal itu menentukan ketahanan dan kesuksesan pelayanan kita. Persiapan dapat bersifat praktis, seperti mempersiapkan bahan khotbah, berlatih memainkan lagu-lagu untuk pujian-penyembahan, atau mengikuti seminar. Persiapan juga dapat berupa pengembangan sikap dan karakter, misalnya kedisiplinan dalam ibadah pribadi, melayani sebaik-baiknya meskipun hanya berperan di balik layar, tidak patah semangat ketika dikritik. Firman Tuhan mendorong kita untuk tajam dalam kedua aspek ini (lihat misalnya Mazmur 78:72). Nah, kapan terakhir kali Anda mengasah kapak? Marilah malam ini kita meminta hikmat dan anugerah Tuhan untuk terus menajamkan kinerja pelayanan kita. *** Dimuat: Renungan Malam, Oktober 2003 © 2003 Denmas Marto |