Lonceng Sensor"Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku" (Ibr. 8:11). Dalam film Cinema Paradiso, ada seorang paderi berkebiasaan unik. Romo Adelfio, begitu namanya, seminggu sekali mendatangi bioskop di daerahnya. Sebelum sebuah film dipertontonkan untuk umum, ia akan memeriksanya. Bila tertayang adegan yang dianggapnya tidak senonoh – dalam hal ini adegan ciuman – ia pun segera membunyikan lonceng. Itu tanda bagi tukang proyektor untuk menggunting bagian tersebut. Begitulah, sejauh ini orang-orang daerah itu belum pernah menyaksikan adegan ciuman di layar bioskop setempat. Dalam melayani orang, tidak jarang kita menggunakan pendekatan semacam itu. Seperti dikatakan penulis Larry Crabb, dalam menghadapi suatu masalah kita kerap melontarkan salah satu dari dua pemecahan berikut ini: "Lakukan apa yang benar" atau "Perbaiki yang salah." Secara tidak sadar, kita berusaha menjadi sesosok "polisi moral." Kekristenan pun lalu tampak sebagai deretan perintah dan larangan belaka. Masalahnya, efektivitas pendekatan legalistis ini terbatas, dan bila terus-menerus diterapkan justru akan menghambat pertumbuhan rohani. Menurut Crabb, Perjanjian Baru memiliki cara yang lebih baik: "Bebaskan apa yang baik." Apa yang baik adalah Roh Kudus, yang sudah hidup di dalam diri kita, dengan semua sumber daya Allah di tangan-Nya. Dengan demikian, lebih perlu mendorong orang-orang percaya untuk belajar mengenali dan menaati bimbingan Roh Kudus daripada setiap kali mesti mendentingkan "lonceng sensor". Setuju? *** (23/9) Dimuat di: Renungan Malam, Desember 2003 © 2003 Denmas Marto |