Merdeka!"Supaya kita benar-benar merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Gal. 5:1). Berapakah harga sebuah kemerdekaan? Kalau Anda menanyai Sir William Wallace, yang dikenal dengan julukan Braveheart (sudah nonton filmnya yang dibintangi Mel Gibson?), ia akan menjawab: lebih daripada nyawa. "Kalian boleh menghabisi nyawa kami," tantangnya pada tentara Inggris yang menyerobot tanah bangsanya, "tapi tidak kemerdekaan kami." Maka, ketika akhirnya ia menghadapi hukuman pancung, dan para algojo mendesaknya untuk minta ampun pada raja, agar siksaan terhadap dirinya diperingan, patriot Skotlandia ini memilih mengerahkan tenaga untuk mengeluarkan suara parau menggelegar, "Merdekaaa!" Meskipun kepalanya terpenggal dan tubuhnya dicincang-cincang, keberaniannya telah menyulut api dalam diri orang-orang sebangsanya. Salah seorang yang terbakar karenanya adalah Bruce, tuan tanah yang semula bimbang, namun akhirnya membulatkan hati untuk berdiri bersama-sama rakyat mendepak pasukan Inggris. Kristus juga telah membayar harga yang mahal untuk memerdekakan kita dari belenggu dosa: mencurahkan darah-Nya sendiri. Rasul Paulus mendorong orang-orang percaya untuk menanggapi anugerah ini dengan semestinya. Ia mengingatkan mereka untuk tidak menyalahgunakan kemerdekaan tersebut, melainkan mempergunakannya sebagai kesempatan untuk saling melayani di dalam kasih. Malam ini, marilah kita renungkan sikap kita dalam "mengisi" kemerdekaan yang telah Tuhan berikan. Mintalah bimbingan-Nya untuk dapat melayani Dia dan sesama dengan lebih tekun lagi. *** Dimuat: Renungan Malam, Agustus 2004 © 2004 Denmas Marto |