Home | Renungan

Buli-buli Itu Harus Dipecahkan

"Aku berkata kepadmu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Mrk. 14:9)

Perempuan ini mendekati Yesus dengan sikap yang cukup mengejutkan. Ia tidak datang untuk meminta bantuan. Ia tidak mengharapkan kesembuhan. Ia juga tidak ingin melihat tanda-tanda dan mukjizat.

Ia datang untuk memberi.

Dan, ia memberikan sesuatu yang mahal harganya. Minyak narwastu murni yang ditempatkan di dalam buli-buli pualam.

Buli-buli itu melambangkan tubuh kita. Hidup kita – kedagingan kita. Kita mungkin menganggapnya indah dan merasa sayang untuk memecahkannya. Padahal, dengan berbuat demikian, kita menahan minyak narwastu murni yang tersimpan di dalamnya.

Yesus berkata, "Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalm dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:14).

Yesus mempercayakan Roh-Nya kepada kita. Ia memberi kita talenta, karunia-karunia rohani dan segala berkat rohani di dalam surga. Namun, itu semua tidak akan memancar keluar dari dalam kehidupan kita kalau kita tidak memecahkan buli-buli itu, yaitu kedagingan kita. Sayangnya, orang Kristen sering lebih menyayangi buli-buli itu dan tidak membiarkannya hancur. Karena itulah kita didorong untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (Rom. 12:1).

Setelah buli-buli itu dipecahkan, Injil Yohanes mencatat, minyak itu dicurahkan dan "bau minyak semerbak di seluruh rumah itu" (Yoh. 12:3). Baru setelah kedagingan kita dihancurkan, "bau" kita dapat tercium ke sekeliling kita, "menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana" (I Kor. 2:14).

Dan, Yesus menerima pemberian itu. Persembahannya yang dituduh orang sebagai pemborosan itu terus diberitakan di seluruh dunia sebagai bagian dari kabar baik. ***

© 2003 Denmas Marto

Hosted by www.Geocities.ws

1