Film-film Natal Tanpa KristusDari Makna Hidup Sampai Sinterklas AsliSetiap tahun Hollywood selalu saja merilis film-film Natal atau berlatar Natal. Namun, kalau Anda mengharapkan film-film itu memaparkan atau mengacu pada kisah kelahiran Kristus, Anda hanya akan kecewa. Hollywood lebih memilih kisah-kisah yang memiliki daya tarik "universal" (baca: lebih bisa diterima oleh berbagai kalangan). Alhasil, sosok yang diasosiasikan dengan Natal pun bukan lagi Bayi dari Bethlehem, melainkan Sinterklas dari Kutub Utara. Toh, di tengah ilalang film-film Natal tanpa Kristus itu kita masih dapat menemukan beberapa butir gandum yang berharga. Berikut ini sejumlah film yang bisa menyemarakkan, dan semoga menambah nilai, perayaan Natal Anda.
George Bailey terpaksa melupakan impian masa mudanya dan tetap tinggal di Bedford Fall untuk melanjutkan usahanya ayahnya, membangun rumah murah bagi keluarga-keluarga kurang mampu. Suatu saat menjelang Natal, perusahaannya terancam bangkrut. Frustasi, ia nyaris memberi hadiah Natal yang muram bagi keluarganya: bunuh diri. Datanglah seorang malaikat membatalkan niatnya, dan memberinya sebuah kesempatan langka: Melihat keadaan kotanya seandainya ia tidak pernah dilahirkan. George pun tersadarkan bahwa kehidupannya ternyata telah menyentuh sekian banyak orang. Kesadaran akan makna hidup seperti ini tentunya tidak akan "bunyi" dalam dunia yang tidak mengakui keberadaan Sang Khalik, yang menciptakan dan menetapkan tujuan hidup kita. VCD-nya yang beredar di Indonesia (distributornya Tango, alamatnya kagak jelas) mengandung plus-minusnya sendiri. Plusnya, gambarnya versi asli yang hitam-putih (film ini telah public domain, dan kemudian ada yang "iseng" mewarnainya dan mengklaim copyright atas versi berwarna ini. Nah lo!) Minusnya, terjemahannya amburadul. Beberapa pengaruh film ini: Bert dan Ernie dalam Sesame Street konon diambil dari nama polisi dan sopir taksi di film ini; Back to the Future bisa disebut sebagai It's a Wonderful Life dengan pendekatan fiksi ilmiah; dan, film ini juga dikutip dalam Bruce Almighty.
A Christmas Story sangat populer di Amerika. Natal 2003 kemarin, misalnya, saluran kabel TNT memutarnya tujuh kali berturut-turut dari pukul 05.00! Menontonnya, Anda bisa membandingkannya dengan pernik-pernik suasana Natal tempo doeloe di tengah keluarga Anda sendiri.
Kisah agak muram ini menjadi riang saat dibawakan oleh tokoh-tokoh Disney. Selain Miki, ada Paman Gober sebagai Ebenezer Scrooge (nama Gober dalam bahasa Inggris adalah Scrooge!), Gufi sebagai hantu Marley, Donal sebagai Fred, dst. Setelah mengalami pertemuan dengan tiga hantu Natal, Scrooge mengalami perubahan dari kikir menjadi dermawan. Asyik untuk ditonton bersama anak-anak kecil.
Pesan kedua adalah pertarungan antara iman dan skeptisme. Semula isu ini hanya tampil dalam tataran pribadi, lewat sosok ibu tunggal yang membesarkan putrinya secara "lurus": tidak mempercayai mitos apa pun, termasuk Sinterklas. Isu ini lalu diangkat ke tataran massal ketika pada babak ketiga plot menikung tajam dengan membawa Kriss Kringle ke pengadilan. Kriss, yang mengaku dirinya Sinterklas asli, harus membuktikan bahwa dirinya tidak gila. Sinterklas di sini adalah simbol fenomena supranatural seperti mukjizat dan bahkan -- ya, keberadaan Tuhan. Ada hal-hal yang tidak bisa diterangkan dengan logika dingin penalaran manusia,
namun hanya bisa dipercayai dengan iman.
Isu serupa juga muncul dalam film fiksi ilmiah Contact. Ellie Arroway, tokoh utamanya, mesti membuktikan telah melakukan perjalanan antargalaksi, namun tak seserpih pun tanda dapat ditunjukkannya.
Contact memilih pendekatan plot terbuka. Sebaliknya, Miracle, meski dalam besutan komedi, melontarkan jawaban yang tegas dan telak. Menarik, terlebih kalau kita mengingat bahwa peristiwa Natal itu sendiri adalah sebuah Mukjizat Agung. Selain film-film Natal seperti di atas, ada pula film-film yang menggunakan Natal sebagai latar, seperti
Lethal Weapon (Richard Donner, 1987), Die Hard (John McTiernan, 1988)
dan Home Alone (Chris Columbus, 1990) serta sekuelnya. Dalam beberapa film, penggunaan latar Natal ini cukup signifikan.
Stalag 17 (Billy Wilder, 1953) menuturkan upaya para tawanan perang untuk tetap memelihara
moril, digarap dengan sentuhan humor yang memikat.
Perayaan Natal menyimbolkan sukacita dan pengharapan yang menyembul di
tengah kepengapan kamp penjara. Dalam Catch Me If You Can (Steven Spielberg, 2002), Natal melatari titik balik dalam diri Frank Abagnale Jr., si "anak hilang" yang menemukan figur ayah dalam diri polisi yang mengejarnya. Vinyet ketiga Meet Me in St. Louis (Vincente Minnelli, 1944)
memotret suasana Natal. Judy Garland menembangkan Have Yourself a Merry Little Christmas dan
'Tootie' menumpahkan rasa frustasi atas keputusan sang ayah untuk pindah
dari St. Louis dengan menghantami patung-patung salju
di halaman. Dan, siapa bisa melupakan Natal-Natal dalam Little Women
(Gillian Armstrong, 1994), khususnya saat Beth mendapatkan hadiah piano? *** Dimuat di Bahana, Desember 2004.
Diperluas.
© 2004 Denmas Marto
|