Orang Indonesia Pertama ke Belanda adalah dari Acheh

Dari buku sejarah kita semua tahu nama-nama orang Belanda pertama yang mengunjungi Nusantara. Cornelis de Houtman, misalnya. Namun siapa orang Indonesia pertama yang mengunjungi Belanda? Mereka adalah sekelompok orang Acheh dipimpin oleh utusan pribadi sultan Acheh, Abdul Hamid,  yang meninggal dan dimakamkan di Middelburg, ibukota propinsi Zeeland di Belanda selatan.

Kisah Perjalanan
Bagaimana kisah perjalanan mereka  dari Acheh sampai ke Belanda selatan, yang saat itu merupakan pusat kekuasaan pemerintahan pangeran Maurits, penguasa Republik 7 Propinsi Belanda.

Pada tahun 1598, dua kapal Belanda, "de Leeuw"dan "de Leeuwin," berlayar menuju Acheh dengan tujuan dagang. Kedatangan mereka di Aceh, mengejutkan saingan mereka di pasar internasional saat itu: para pedagang Portugis. Orang Portugis yang berada di Acheh langsung mengambing-hitamkan para pedagang Belanda ini. Mereka menyatakan kepada Sultan Alaudin, bahwa orang Belanda adalah perompak, yang hanya datang untuk merampok habis Acheh.

Sultan Alaudin langsung menahan Frederik de Houtman, adik Cornelis de Houtman, beserta beberapa rekannya. Mereka yang lolos berlayar pulang ke Belanda dan meminta bantuan pangeran Maurits. Penguasa Belanda ini kemudian menulis surat kepada Sultan Alaudin, dalam bahasa Spanyol, dengan penjelasan maksud dagang Belanda.

Sebuah delegasi dikirim ke Aceh dengan berbagai hadiah antara lain senjata dan uang dalam jumlah besar. Setelah 7 bulan mereka sampai di Acheh pada  23 Agustus 1601. Hadiah dan surat pangeran Maurits mereka serahkan kepada Sultan Acheh. Dalam surat ini pangeran  Maurits menerangkan sikap anti Belanda bangsa Portugis. Mereka ini adalah bagian dari kerajaan Spanyol yang ketika itu sedang berperang dengan Belanda yang melepaskan diri dari kerajaan Spanyol. Dengan rendah hati pangeran Maurits meminta Sultan Acheh untuk membebaskan Frederik de Houtman dan rekan-rekannya. Beliau menandatangani surat untuk Sultan Alaudin dengan Maurits de Nassau, hamba baginda, yang mencium tangan Paduka Yang Mulia. 

Delegasi Aceh
Permohonan ini dikabulkan sultan Alaudin, yang membalas kunjungan delegasi Belanda dengan mengirim delegasi ke Belanda, bersama kapal-kapal dagang Belanda yang mendapat ijin untuk berdagang dan pulang bersama Frederik de Houtman dan teman-temannya.

Delegasi resmi Acheh dipimpin oleh Duta Besar Abdul Hamid, Sri Mohamad, laksamana kesultanan Acheh, dan Mir Hasan, seorang kemenakan sultan Acheh. Sayangnya duta besar Aceh Abdul Hamid meninggal kira-kira sebulan setelah sampai di Belanda. Ia dimakamkan dengan upacara kebesaran di Middelburg, yang saat itu adalah salah satu pusat VOC di Republik Belanda. Orang Belanda saat itu tentu belum tahu bagaimana memakamkan orang Islam. Duta besar Ahceh ini dimakamkan di dalam gereja, tradisi Belanda waktu itu. Para petinggi Belanda dan VOC mengantar jenazah dengan krisnya yang dimakamkan menghadap ke Mekah.

Sayangnya, gereja ini digusur pada  1833 karena tidak dipakai lagi. Makam duta besar Acheh di Belanda ikut tergusur. Pada  1978, atas inisiatif pangeran Bernhard, yayasan Peutjut yang mengurus pemakaman orang di Belanda asal Indonesia menempatkan prasasti di gereja Wandelkerk di Middelburg, untuk mengenang orang Indonesia pertama yang mengunjungi Belanda.

Laporan lengkap ihwal Acheh dan Middelburg bisa anda dengarkan dalam acara Citra Belanda, 21 November yang akan datang.

www.rnl.nl/ranesi

 

Hosted by www.Geocities.ws

1